Friday, June 09, 2006

Hakikat Musibah

Oleh : Husnul Amal Mas'ud

“Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata inna lillah wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”. (QS. al-Baqarah ayat 155-156)

Ada sementara orang, seakan tidak merasa berdosa, membuat istilah yang kurang proporsional atau tidak ada kaitannya dengan musibah yang menimpa. Mereka menyatakan bahwa musibah terjadi akibat alam sudah bosan, atau karena Allah telah murka. Bahkan mereka tidak risih memvonis bencana sebagai azab.

Kita harus bijak dan arif dalam merespon dan menyikapi apapun peristiwa yang terjadi di dunia.

Musibah apapun yang menimpa umat Rasulullah, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara :

Pertama, sebagai ujian keimanan. Allah berfirman dalam al-Quran Surat al-Ankabut ayat 1-2, “Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji?! Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang benar (dengan keimanannya) dan orang-orang yang berdusta”.

Firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 31, “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benarberjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu”.

Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan kepadanya. Dalam al-Quran, Hadis dan Sirah Nabawiyah (sejarah nabi) banyak kita temukan kisah musibah yang menimpa para nabi. Nabi Nuh misalnya, selama 950 tahun

berdakwah hanya mendapatkan sedikit orang yang beriman, sementara kebanyakan umatnya kufur bahkan memperoloknya (QS. Al-Ankabut ayat 14), Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrudz (QS. Al-Anbiya` ayat 57-70), Nabi Ayub yang diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (QS. Shad ayat 41), dan Rasulullah yang diejek dan disakiti orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh.

Rasulullah pernah ditanya oleh Shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya, beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi”. (HR. al-Hakim dan al-Thabrani).
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim terkena duri, atau lebih dari itu, kecuali Allah mengangkat baginya satu derajat, dan menghapuskan darinya satu dosa”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, sebagai bukti cinta Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)

Keempat, sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Allah bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.

Dan sabdanya yang lain, “Umatku umat yang dirahmati, di mana tidak ada atas mereka siksaan di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa dan pembunuhan”. (HR. Abu Dawud)

Dan dalam sebuah Hadis yang dari Ummul Mukminin Aisyah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika dosa seorang hamba sudah sedemikian banyak, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghapusnya, maka Allah mengujinya dengan kesusahan agar dosanya terhapuskan”. (HR. al-Bazzar)

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, Dia mengujinya dengan bala (musibah). Dan ketika Allah menguji hambanya, Dia memberatkannya”. Saat para sahabat bertanya maksud dari memberatkannya”, Rasulullah bersabda, “Allah tidak meninggalkan baginya keluarga dan harta”. (HR. al-Thabrani)


Kelima, sebagai teguran atau peringatan. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian melanggar ketentuan (Agama) kemudian disegerakan siksaannya (sebagai hukuman), kecuali siksa itu menjadi kafarah (penebus dosanya). Dan siapa yang siksanya diakhirkan, maka urusannya dikembalikan kepada Allah; Kalau Allah menghendaki, Dia merahmatinya (mengampuni kesalahannya). Dan kalau Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya” . (HR. Ibn Hibban)

Dalam sebuah Hadis yang yang lain Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka disegerakan baginya hukuman (di dunia ini) atas dosanya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan hukuman dosanya di dunia, sehingga disiksa-Nya pada hari Kiamat.” (HR. al-Hakim)

Keenam, sebagai siksa Allah di dunia. Dalam al-Qur`an Allah menjelaskan bahwa ketika kemaksiatan dan kejahatan merajalela, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar, maka siksa Allah (musibah) akan menimpa mereka secara keseluruhan, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. al-Anfal ayat 25)

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud)

Dan sabdanya yang lain, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sungguh kamu akan menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, atau kamu akan dikirimkan siksa dari Allah, kemudian kamu berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan” (HR. al-Tirmidzi)

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan hamba-hambanya yang senantiasa bertaqwa dan bersabar menghadapi segala musibah. Amiin.
Nomor 30/Edisi VIII/Th. I

Cintailah Saudaramu

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah e dari Rasulullah e, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana diamencintai dirinya sendiri.(Riwayat Bukhori dan Muslim)
  • Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.
  • Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.
  • Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
  • Anjuran untuk menyatukan hati.

Do'a

menjenguk atas kelahiran bayi

بارك الله لك فى الموهوب وشكرت لك الواهب

“ Baarokallaahu laka fil mauhuubi wa syakartul waahib”
Semoga Allah memberkati apa yang diberikan kepada engkau, dan aku bersyukur kepada dzat Yang Memberinya

Friday, June 02, 2006

Belajar Dari Gempa

Oleh : Dedy W. Sanusi


KETIKA kita dihadapkan dengan panorama bencana: mayat-mayat berserakan, rumah-rumah runtuh, orang-orang terluka dan para pengungsi ‘kleleran’, apa yang berjumpalitan di benak kita?. Apakah yang kita rasakan?.

Sakit.

Itulah yang terjadi berulang-ulang di tanah air kita dua tahun belakangan ini: sejak gempa di Nabire, Tsunami di Aceh dan Nias, --kini—gempa di Yogyakarta dan Gunung Merapi yang masih mengeluarkan asap panas. Ketika panorama itu diputar berulang-ulang, apakah yang kita rasakan?.

Lebih sakit.

Guncangan gempa, hempasan Tsunami dan gelegak lahar itu terus-menerus menggempur hati kita, meninggalkan luka yang masih menganga. Apakah kita mesti mengeluh, “mengapa yang terus datang adalah derita demi derita, gelap di atas gelap?”.

Gelap --yang seperti pakaian-- membalut tubuh bangsa kita. Gelap yang kita sendirilah penyebab pekat dan ketakberanjakannya. Hutan-hutan kita tebangi tanpa keseimbangan; tambang-tambang kita gali habis-habisan; korupsi jadi kebanggaan; moral bangsa hanyut dibawa banjir bandang. Tindak aniaya adalah kegelapan. Demikian pesan al-Qur’an.

Akan tetapi, gelap adalah juga tempat melatih kebeningan, mempertajam perenungan dan –dengan jujur—mengakui kesalahan-kesalahan. Malam menjelang subuh adalah saat terintim manusia dengan Tuhannya.

*

LANTAS, bagaimana kita mesti belajar dari gempa?.

Kalau kita melihatnya hanyalah sekedar peristiwa alam, ilmu pengetahuan memberikan jawaban. Akal yang bekerja disini –mengutip Dr. Taha Abdurrahman, filosof Maroko-- disebut akal mulki ; akal yang menghasilkan pengetahuan.

Akal macam ini memberi kita pengetahuan bagaimana gempa bumi terjadi; bagaimana membuat sistem peringatan dini sebelum ia terjadi; bagaimana mengkonstruk bangunan tahan gempa; bagaimana menyiapkan masyarakat untuk tepat bertindak menjelang, ketika dan setelah gempa terjadi; bagaimana menyiapkan capacity building sistem penangananbencana yang kokoh-efekif ; dan seterusnya. Pemerintah dengan segala perangkat dan fasilitas yang dimilikinya paling bertanggung jawab menyediakan semua ini.

Negara-negara sekuler dan lembaga-lembaga internasional biasanya melihat bencana dari perspektif ini. Dalam konteks bencana alam, reaksi mereka bisa dirunut: ikut belasungkawa, memberi bantuan kemanusiaan (barang atau uang), memperingatkan negara korban agar membangun early warning system dan membantu negara bersangkutan untuk rekonstruksi pasca bencana. Selepas itu, kondisinya kembali ke status quo: aktivitas mereguk habis-habisan kenikmatan dunia kembali dibuka; struktur dunia yang tidak adil tetap lestari dan dunia kembali berputar dengan segala perangkat dan nilainya yang berlaku de facto.

Namun kalau kita melihat gempa dari perspektif nilai (akal malakuti), persoalannya menjadi lain. Akal macam ini mengantarkan seseorang pada keimanan. Bahwa segala peristiwa di dunia ini adalah ayat (tanda yang mengandung nilai) Allah SWT untuk mengajar manusia yang mau menggunakan kecerdasan otak dan hatinya (ulul albab).

Gempa –dalam perspektif ini—bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan alam terhadap keserakahan dan kezaliman manusia; sebagai warning system proteksi Allah SWT terhadap manusia --bahwa dengan kekuasaan-Nya manusia bisa diserang kehancuran kapan saja, oleh banjir, angin topan, gunung meletus dan lain-lain--; sebagai media untuk menguji kesabaran dan kekokohan mental sebuah komunitas untuk meraih masa depan yang lebih baik. Semakin dalam perenungan dengan akal malakuti, semakin banyak makna dan kearifan yang bisa digali.

Orang beriman melihat musibah sebagai ujian. Ia akan keluar menjadi sosok yang lebih kuat setelah musibah berlalu. Kalau ia harus kembali menghadap Penciptanya sekalipun, semboyannya adalah innalillah wa inna ilahi raji’un, segalanya berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Musibah yang menjadi ujian itu memberikan kesempatan kepada orang beriman untuk introspeksi; jangan-jangan ada yang salah dengan dirinya. Bisa jadi ia kurang bersyukur, kurang serius mengabdi kepada Allah, banyak melabrak larangan-larangan-Nya dan seterusnya.

Perenungan macam ini mau tidak mau akan mengantarkan sang empunya untuk kembali kepada-Nya, bertaubat, meneguhkan keimanan dan beramal saleh. Ini adalah perlajaran paling berharga yang bisa dipetik orang beriman dari bencana yang dihadapinya.

*

SIKAP mental dan perilakunya pasca bencana pasti lebih baik dari sebelumnya. Karena bisa jadi gempa adalah medium revolusi spiritual baginya untuk menapaki tangga demi tangga menuju puncak nilai keluhuran manusia.

Bisakah kita, bangsa Indonesia, belajar serius dengan mata nurani dari rentetan bencana yang menghantam negeri kita tahun-tahun belakangan ini?.

Bukankah setelah subuh, gelap pasti berlalu digantikan cahaya mentari; membuka hari baru yang cerah dan menjanjikan?. Bisakah kita merengkuhnya?.
Nomor 30/Edisi VIII/Th. I

Do'a

Adab ketika terkena bala’ atau bencana

بسم الله الرحمن الرحيم ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Bismiiaah rahmaanir rahiim, walaahaula wala quwwata ilaa billaahil ‘aliyyil ‘adhim.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.

انا لله وانا إليه راجعون اللهم أجرني في مصيبتى واخلف لي خيرا منها

Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raajiun allaahuma jurnii fii mushiibatii akhliflii khairan minhaa

Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan kembali padanya. Ya Allah berilah pahala padaku dalam musibahku dan berilah ganti untukku yang lebih baik dari padanya. (H.R Muslim)

Friday, May 19, 2006

Pendidikan Manusia Yang Seutuhnya

Oleh : Irwansyah Asa


يأ يّها الذين أمنوا أستجيبواللّه ولرّسول إذادعاكم لمايحييكم واعلمواأنّ الّله يحول بين المرء وقلبه وأنّه إليه تخشرون.

Hai orang- orang yang beriman , penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadanyalah kamu akan dikumpulkan. ( Q.S al Anfal 24)

Bagaimanakah Pendidikan manusia itu seutuhnya? Pertanyaan ini sangat lazim dilontarkan oleh para mahasiswa, juga para audiens yang ketika berada didalam ruangan, atau didalam suatu seminar, yang ditujukan kepada para dosen ataupun kepada para nara sumber, mungkin juga pertanyaan ini sudah dilontarkan kepada kita semua, yang mana para penanya mungkin sudah menganggap kita mampu untuk menjawab pernyataan ini. Maka untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan menguraikan beberapa argumen tentang masalah seputar pendidikan yang saat ini menuntut agar kita selalu bersiap siaga menghadapi Era- global, yang semakin membawa kita kepada zaman yang serba modren dan canggih.

Secara rasional–filosofis tentang pendidikan yang sudah berkembang semenjak beberapa abad yang lalu, maka sistem pendidikan untuk membentuk manusia yang seutuhnya harus diarahkan kepada dua dimensi, yakni, pertama ;dimensi dialektikal horisontal , dan yang kedua ; dimensi ketundukan vertikal. Pada dimensi pertama pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan yang konkret, yakni kehidupan manusia dalam hubunganya dengan alam ataupun lingkungan sosialnya. Dalam dimensi inilah manusia dituntut untuk mampu mengatasi berbagai tantangan dan kendala dunia konkretnya , melalui pengembangan teknologi dan sains. Sedangkan dalam dimensi kedua, yakni ketundukan vertikal, pendidikan sains dan teknologi, selain menjadi alat untuk memanfaatkan, dan melestarikan sumber daya alam juga menjadi jembatan untuk memahami fenomena dan misteri kehidupan dalam mencapai hubungan yang hakiki juga abadi dengan sang khalik . berarti bagaimanapun pesatnya perkembangan sains dan teknologi ia harus disertai dengan pendidikan hati.

Firman Allah dalam Surah al- Anfal ayat 24 diatas menjadi landasan yang sangat kuat, yang intinya ialah Allah mengingatkan kita supaya disamping kita beriman kepada-Nya kita juga harus mampu hidup yang bermakna secara horisontal sekaligus vertikal, itulah manusia yang seutuhnya, dari hasil sistem pendidikan yang kita kehendaki pada saat ini. Didalam diri manusia seutuhnya terdapat kesatuan kualitas iman kepada Allah, Ilmu, dan amal shaleh. Keseluruhan aspek yang tercakup dalam konfigurasi tersebut merupakan dataran bagi pembentukan kerangka ideal manusia seutuhnya yang digapai melalui sistem pendidikan, yakni manusia yang bertakwa kepada Allah , yang cerdas, kereatif, inovatif, trampil, dan jujur, (shiddiq, amanah, istiqomah).

Singkatnya, manusia seutuhnya adalah yang menjadi rahmatan lilàlamin. Yang mempunyai kemampuan cipta, rasa, kan karsa, atau manusia yang kognitif, efektif, dan konatif-psikomotorik pada zamanya. Itulah blue print manusia masa depan yang memiliki zikir, fikir dan amal saleh. Di samping itu ada beberapa causa pertanyaan yang harus mampu kita menjawabnya, yang mana dengan causa inilah nantinya kita akan mentransfer ke dalam proses pendidikan manusia dalam konteks ruang serta waktu. Causa pertanyaan itu adalah ¨ 1. Causa eficiens (bagaimana), 2.Causa formalis (menurut rencana apa), 3. Causa materialis (dengan apa), dan Causa finalis (untuk apa kita di didik).

Kita jawab terlebih duhulu causa eficiens, bagaimanakah kita memperoleh pendikan?, pertanyaan ini sangat mudah untuk kita jawab, yang mana pendidikan itu sebenarya sudah kita dapatkan pertama sekali semenjak ada didalam kandungan ibu kita, hal ini apabila kedua orang tua kita mengerti pokok-pokok ajaran agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad s.a.w. Yang ketika itu ia menyerukan kepada para seluruh umatnya melalui sebuah sabda yang intinya ialah; “menuntut ilmu itu semenjak dari ayunan sampai keliang lahat”. Yang kita garis bawahi disini ialah menuntut ilmu semenjak dari ayunan. Sebenarnya kalau kita menterjemahkan kata-kata ayunan disini tentunya masa yang dimaksud adalah (masa didalam rahim seorang ibu) atau didalam kandungan ibu kita. Disinilah seorang ibu harus mampu mendidik seorang bakal anak yang akan meneruskan generasinya, dengan berbagai cara yang sehingga anaknya itu nanti akan menjadi seorang yang benar-benar berakhlak mulia dan menjadi rahmatan lilàlamin.

Salah satu contoh pendidikan dalam fase ini adalah : seorang ibu hendaknya mampu mengajak dan memberitahu selalu isi kandunganya kepada semua hal kebaikan, misalnya pergi beribadah kepada Allah. Disinilah janin yang dikandungnya itu akan merekam semua aktifitas induknya yang selalu mengingatkan juga sekaligus mengajaknya. Di samping itu juga kedua orang tuanya, jangan sekali-kali mengkonsumsi makanan yang haram dan subhat, karna ditakutkan janin ini akan tercipta dari darah daging yang haram dan subhat, na’ujubillahi mindjalik. Hal inilah sebenarnya pendidikan yang pertama sekali harus benar-benar kita perhatikan bersama, karna menyangkut moral dan aqidah seorang anak nantinya.

Yang selanjutnya Causa formalis, menurut rencana apa kita melakukan pendidikan ?. jauh sebenarnya sebelum seseorang melakukan hal ini, ia sudah mempunyai planing yang jitu dan matang sebelumnya, baik bercita-cita atau berangan untuk menggapai masa depan yang cerah serta gemilang. Tapi banyak diantara kita perencanaan itu sudah menjurus kebanyak hal yang kurang positif, misalnya mereka dengan mendapatkan pendidikan hanya semata-mata untuk memperoleh pekerjaan yang layak nantinya, hal itulah yang sebenarnya membuat manusia menjadi dialis, karna ia merasa tinggi dan ditinggikan. Menurut kaca mata Islam sebenarnya tidak demikaian, karna ia banyak memberikan konsep tentang perencanaan yang semestinya benar-benar menjadi cermin bagi kita. Diantara konsep itu ialah; carilah pendidikan (ilmu) itu karena ia merupakan pembeda antara orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang jahl (bodoh) disekelilingmu. Jadi perencanaan kita semestinya ialah, kita harus mampu mengarahkan diri kita dahulu dalam memperoleh pendidikan tersebut, tujuannya untuk dapat membedakan kita dengan orang yang tidak berpendidikan baik dari segi pengetahuan, akhlaq, (hablumminallah juga hablumminas). Singkatnya, kita harus mampu tampil beda didalam kehidupan masyarakat kita.

Yang ketiga Causa materialis, dengan apa kita memperoleh pendidikan tersebut?. Disini baru kita merasa agak kesulitan, karna banyak diantara kita yang hendak mencari ilmu atau pengetahuan yang tinggi, namun terhambat bahkan tidak sedikit yang gagal. Penyebab utamanya ialah karna kekurangan modal sebagai penunjang pendidikan tersebut, sehingga membuat mereka tidak bersemangat dan tidak jarang diantara mereka yang sampai berputusasa. Sebagai flash back kendala seperti diatas sering terjadi, ketika semasa di SMU dahulu saya pribadi merasa bingung hendak kemana sebenarnya setudi dan pendidikan ini akan saya lanjutkan? Karna melihat kondisi dan situasi materi kedua orang tua jauh dari apa yang saya perkirakan, disamping itu juga banyak kendala-kendala lainya yang masih belum terselesaikan.

Disinalah kita harus benar-benar mengerti apa makna dari perkataan orang bijak, “hilangkan dari kehidupanmu rasa keputus asaan, bangun dan sing-singkan lengan bahumu, dekatkan dirimu selalu padanya, bekerjakeraslah untuk mencari sesuatu yang kau inginkan, sebagai pedoman yang nyata bahwa dunia itu tidak hanya selebar daun kelor”. salah satu pesan moral yang dapat kita petik yaitu, sebenarya dalam mencari ilmu atau pendidikan itu kita jangan hanya berpikir akan materi, karna ternyata semangat, berusaha, dan kerja keras itu lebih diutamakan. Disinilah mungkin banyak yang salah persepsi, karna hanya dibayangi persaan was-was dan takut (khasyiah wa khauf) bila tidak mempunyai materi tersebut bagaimana nantinya pendidikan itu akan berhasil, perlu kita ingat masing-masing materi dalam pendidikan itu adalah kebutuhan primer juga, tetapi kita jangan mudah merasa takut dan putus asa karna ketiadaannya, yang perlu adalah usaha, kerja keras, ikhtiar, dan diiringi do,a insya Allah ia akan datang dalam mengiringi apa yang kita maksud dan yang kita tuju.

Yang terakhir ialah Causa Finalis untuk apa kita sebenarnya di didik? Kalau kita menjawab secara simple dan singkat, tantu saja kita di didik untuk mengurangi kebodohan dan menghindari buta hurup di sekeliling atau disekitar kita. Dalam kaca mata Islam hal inilah yang terutama menjadi problematik besar sehingga benar-benar harus menjadi pusat perhatian bersama khususnya kepada para pemimpin bangsa dan negara, karna sangat banyak rakyat jelata yang buta huruf, dan tidak mengerti sedikitpun tentang pokok-pokok ajaran agama Islam. Disamping itu, disinalah kita harus mampu terjun kelapangan sebagai salah satu diantara merekayang terpilih sebagai pendidik, dengan tidak merasa rendah diri dan tidak tinggi hati, karna ilmu yang kita dapatkan atau titel yang diperoleh lebih tinggi dari mereka. mudah-mudahan dengan beberapa jawaban dan causa pernyataan di atas bermanfaat bagi penulis khusunya dan kepada para pembaca secara umumnya. Wallahu’alam bisshawab.
Nomor 28/Edisi VI/Th. I



Friday, May 12, 2006

Lakukan, Dan Capailah Dengan Niat Ikhlas

oleh : M Ali Hanafi

Sebagai orang muslim dalam artian sebenarnya, seyogianya yakin dengan niatnya. Niat adalah pemicu benar tidaknya suatu perbuatan, suci dan bersinya suatu amalan. Dan sangat mendasar sekali, sebagai landasan di setiap amalan, baik amalan dunia atau amalan akhirat.

Niat adalah perbuatan hati yang diselaraskan dengan amalan. Dan suatu amalan akan mencapain tujuan yang dikira jika niatnya telah dipatrikan sejak awal dilancarkan suatu amalan

Menurut Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihyaa Ulumuddin niat adalah “sifat egaliter berupa keinginan, yang tumbuh dari hati kemudian diatur oleh kingingan dan kecenderungan kepada hal yang selaras dengan tujuan, baik spontan atau pun yang akan datang”.

Sehingga, masih pada hakikat niat yang diutarakan oleh Imam Al Ghazali, bahwa tidak ada suatu perbuatan yang diinginkan (terpilih) kecuali perbuatan itu akan melingkupi tiga hal, pertama dengan pengetahuan, keinginan dan kekuatan (kemampuan).

Dan silogisnya, tidak ada suatu perbuata yang dilakukan kecuali perbuatan itu sudah diketahui, dan jika keinginan akan suatu pekerjaan tidak ada maka tidak akan ada pula pekerjaannya, maka dari itu dua komponen inilah yang sangat urgen dalam berniat dan ketika kedua komponen niat tadi sudah ada maka komponen ketiga menjadi pelengkap yaitu komponen kekuatan atau kemampuan dalam bekerja.

Keutamaan niat, tentunya tidak terlepas dari dasar-dasar yang sangat autentik, dan harus diimani oleh setiap muslim, dalam AL qur’an Allah berfirman :

ولا تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشى يريدون وجهه
“dan janganlah kalian mengusir orang-orang yang berdoa meminta kepada Tuhannya pagi dan petang, karena menginginkan ridaNya”, dan yang dimaksud dengan iradah (keinginan) yang terletak pada kata yuriduna (menginginkan) itulah niat.

Rasulullah sallallahualaihiwasallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات ولكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai dengan niat, dan setiap manusia memiliki niat, barang siapa berniat hijrah kepada Allah dan rasulNya niscaya hijrahnya itu kepada Allah dan RasuluNya, dan barangsiapa hijrahnya adalah dunia maka dia akan mencapainya, dan barangisapa niatnya adalah perempuan yang akan dinikahinya niscaya dia akan menuju kepada apa yang ditujuan untuk dicapainya”. (Hadis muttafaqun alaihi, diriwayatkan bukhari di bidiil wahyi hadis 1, dan Muslim di al Imarah hadis 155)

Untuk itu dalam berbuat hendaknya landasan niat menjadi hal yang utama apalagi juka sudah mengetahui pekerjaan dan tujuannya, karena jika suatu pekerjaan tanpa niat maka amal itu akan sia-sia, niat adalah milik orang yang sadar akan perbuatannya dan memiliki knowledge akan detail perbuatan itu, meski kedua komponen itu belum bisa mencapai tujuan akhir kecuali dilandasi dengan syarat berniat yaitu tulus dan ikhlas.

Sehingga amat tepat ungkapan umum “lakukanlah suatu perbuatan dengan niat iklas”, disini tersirat betapa kedua sifat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, dan disini pula, kita bisa melihat betapa suatu perbuatan setelah niat mesti disertai dengan ke iklasan, bak iklas ini adalah filter untuk mengeluarkan sesuatu (baca:amalan) yang murni “saafi lillahita’ala”. Lebih tegas lagi Allah s.w.t berfirman:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
“dan kalian tidak diperintahkan menyembah Allah kecuali dengan tulus ikhlas”. Maksud dari perintah menyembah disini adalah dengan pengetahuan, keinginan dan kemampuan dan diperkaya dengan nilai iklas, sebagai titik tolak dari suatu perbuatan itu sendiri. Iklas lillahita’ala, terlepas dari rasa dunia (baca materi) dan merasuki kepada yang lebih dalam, yaitu ruhi maknawi, dan diatas segalanya, yaitu Al Khaliq, Allah Maha Besar (Allahu Akbar).

Pekerjaan yang baik ada yang dilakukan secara individu dan ada juga yang bersifat team (kelompok), untuk amalan baik yang individualis itu akan diganjar bagi person yang melakukannya dengan niat iklas, dari semua amalan yang akan dan telah dilakukannya itu hal ini sudah sangat benar dan sudah dapat dipahami.

Adapun untuk pekerjaan yang bersifat team akan diganjar kepada semua anggota team, namun disinilah kebesaran Sang pemberi nafas (Allah) kepada makhluknya untuk berkarya sebaik mungkin, dan bagi-Nya tidak ada Rahasiah yang bias tersembunyi. Dalam konteks keislaman, niat orang pada amalan yang bersifat team ternyata bisa tersampaikan kepada semua orang, dengan syarat yang simple, dimana orang yang tidak sempat ikut andil secara langsung pada amalan team itu hendaknya meniatkan secara murni ingin ikut melakukannya, karena dengan itulah maka dia akan dianggap telah ikut dalam amalan tersebut, kita simak hadis Nabi Rasulullah Sallallahualaihiwasallam “tidak dari perbuatan kita merentas walang-walang, menggegerkan suatu daerah kafir, dan kita tidak ada modal dibelanjakan serta tidak ada point yang dicapai kecuali masyarakat Madinah ikut andil sementara mereka ketika berada di Madinah, lalu ada yang bertanya “bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah? Beliau menjawab “karena halangan yang menahan mereka untuk ikut andil, namun niat baik mereka telah menjadikan mereka ikut andil”. (Diriwayatkan Muslim di : alimarah, hadis 159)

Begitulah barangkali, niat ini dipandang secara umum, berikutnya bisa lebih dirasakan dalam pendalamannya pada saat suatu amalan itu dilaksanakan, dan untuk tidak dilupakan bahwa niat ini senantiasa harus pada amalan yang baik dan untuk sebuah ketaatan, karena amalan yang bukan untuk ketaatan adalah amalan yang abas (sia-sia), semoga Allah senantiasa menghidayai kita kepada amalan yang baik dalam rangka mencapai ridha-Nya, dan dalam rangka mengimplementasikan niat dan keiklasan.

Sebagai penutup untuk memantapkan nilai niat kita marilah sama-sama merenungkan kembali tiga hal ini:
- amalan dengan niat yang ikhlas tidak perna menuggu balasan yang indrawai, hasil dunianya adalah hikmah dari niat ikhlas itu sendiri.
- penuhi sekitarmu dengan amalan niat yang ikhlas sebagai pancaran dari jiwa.
- untuk mencapai niat yang ikhlas bersihkanlah hatimu terlebih dahulu.
Walahualam bisshawab..
Nomor 27/Edisi VI/Th. I