Friday, March 23, 2007

Al Qur'an Yang Dilafalkan Burung

Oleh: Asep Sutisna

Ketika alam semesta menjadi tanda kebesaran Allah s.w.t dan kisah umat terdahulu sebagai teladan tentu akan membawa kita kepada sebuah hakikat kebenaran baik yang telah dikabarkan al quran maupun yang telah disaksikan kehidupan manusia. Dan iman yang kuat adalah buah dari hidayah (petunjuk) dan hikmah dari apa yang kita pelajari.

Mendengar berita tentang seekor burung yang bisa belajar melafalkan dan menghafal beberapa ayat al quran mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayainya apalagi dengan didasari oleh pemahaman bahwa burung dan hewan lainnya hanya mampu bersuara yang tidak bisa dipahami manusia, kalaulah kisah tentang percakapan Nabi Sulaiman a.s dengan burung hud hud itu tidak dikabarkan al quran.

Si makhluk bersayap yang istimewa diatas adalah seekor burung beo asal Pakistan yang dilatih pemiliknya dalam tempo sembilan bulan ternyata mampu melafalkan beberapa ayat al quran, basmalah dan shalawat. Ketika dia memulai bicara layaknya suara manusia dia mulai dengan bismillahirrahmanirrahim ( dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) kemudian diikuti oleh surat al ikhlas dan surat al fatihah dan diakhiri dengan shalawat kepada Rasulullah s.a.w. seperti yang telah diberitakan TV al jazirah dan belakangan videonya sudah beredar di situs youtube.

Subhanallah, bagi saya itu adalah sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa, suaranya yang khas dan alami sangat menggetarkan hati, dan jujur saja, kalau boleh saya gambarkan perasaan saya ketika pertama kali mendengar suaranya, saya merasa sedikit takut, ada penyesalan dan malu. Saya jadi ingat masa kecil yang nakal, setiap sore selalu dicari orang tua agar pergi ke surau untuk belajar al quran tapi saya selalu bersembunyi di bawah meja atau di bawah ranjang dan kadang dibalik pintu, kemudian saya malu karena dengan kemalasan itu saya menjadi termasuk orang yang lambat bisa membaca al quran, dan saya merasa takut itu akan waktu kosong saat ini yang saya habiskan begitu saja di depan layar computer, layar Hp dan layar TV akan menjauhkan saya dari al quran, naujubillahimindzalik.

Semoga kisah ini bisa kembali menyegarkan khususnya saya sendiri akan gairah membaca al quran dan pembaca bulletin umumnya untuk bersama-sama kembali kepada al quran dan jalan lurus yang dibawa al quran menuju tali agama Allah s.w.t. dan tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca al quran dan bagi yang telah menguasainya mari kita hiasi dan perindah lidah kita dengan mengamalkannya, semoga kita semua termasuk orang yang diberikan syafaat (pertolongan) al quran oleh Allah ta’ala di akhirat kelak, amien ya rabbal alamin

Rabat, 23-3-2007. 07.28am

Thursday, March 15, 2007

Ratu Saba' : Kisah Dan Ibrah

Oleh : Iman Mursalin

(Burung Hudhud berkata kepada Nabi Sulaiman): Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang megah.

Banyak kisah yang bisa diambil sebagai pelajaran -‘ibrah- juga hikmah di setiap lembar halaman Al-Quran. Sebagian besar bercerita tentang kaum terdahulu yang ingkar terhadap penyembahan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Lalu bagaimana kaum itu dimusnahkan oleh adzab Allah setelah datang kepada mereka risalah keimanan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Dan di antara sekian banyak kisah dalam Al-Quran, tersebutlah kisah Ratu Saba dan masyarakatnya yang hidup di zaman kenabian Nabi Sulaiman. Kisah ini agak unik mengingat kaum ini merupakan satu di antara segelintir kisah tentang orang-orang yang mau beriman kepada Allah dengan sepenuh hati. Dan lebih jauh lagi, banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini.

Kerajaan Saba

Kerajaan Saba merupakan salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang hadir pada jauh sebelum Masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ibu kotanya adalah Ma’rab, sebuah kota di dekat Sana’a. Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Etiopia dahulunya masuk ke dalam kawasan kekuasaan kerajaan Saba.

Yang menjadikan kerajaan ini masuk ke dalam catatan sejarah Al-Quran adalah adanya salah satu ratu yang memerintahnya. Walaupun Al-Quran tidak secara pasti menyebutkan siapa nama ratu tersebut, di kalangan sejarawan dan umat Islam pada umumnya dikenal sebuah nama: Balqis. Namun banyak di antara ahli tafsir yang mengatakan bahwa nama tersebut masuk ke kalangan umat Islam dengan media israiliyyaat, dongeng turun temurun orang Israel yang mereka akui bersumber dari kitab Taurat.

Ratu Saba’

Terlepas dari hal itu, Balqis menjadi orang ketujuh-belas yang memerintah kerajaan Saba’. Yang memerintah sebelumnya adalah ayahnya, raja Hadhad bin Syarhabil. Para sejarawan berasumsi bahwa Balqis menaiki tahta menggantikan ayahnya disebabkan tidak adanya anak putra yang dilahirkan untuk menggantikannya.

Dalam masa pemerintahannya sebagai kepala kerajaan, Balqis banyak menerima cobaan dan ujian berat. Semua itu kelak membuktikan kepiawaiannya sebagai ratu yang berhak dan berkompeten untuk memimpin kaum dan rakyatnya. Pada awal diangkatnya sebagai ratu, para ahli dan pembesar kaumnya meingingkari kepemimpinan seorang wanita. Belum lagi hasrat yang dipendam oleh raja-raja di sekitar Saba untuk menaklukkan dan menguasai kerajaan ini. Salah satunya adalah raja ‘Amr bin Abrahah yang dijuluki dengan Dzul Adz’ar.

Maka datanglah Dzul Adz’ar dengan segenap bala tentaranya untuk menaklukkan kerajaan Saba’ dan menawan ratunya. Namun berkat kelihaian dan pengawasan yang tajam yang dimiliki Balqis, dia berhasil lolos dan kabur dengan penyamaran dalam pakaian orang badui. Pada point ini para sejarawan berbeda pendapat mengenai lanjutan kisahnya. Namun mereka semua sepakat bahwa dengan kecerdikan, kematangan jiwa dan ketabahan yang terdapat dalam dirinya, Balqis akhirnya dapat merebut kembali kerajaannya.

Dzul Adz’ar tewas dengan gorokan pisau di lehernya. Dan semenjak itu Balqis memerintah kaumnya dengan penuh hikmah, adil dan bijaksana. Dalam kekuasaannya, Saba meraih kegemilangan. Salah satu capaian yang diukir oleh Balqis adalah direnovasinya bendungan yang terkenal sad Ma’rab. Nama kerajaan ini menjadi terkenal di kawasan Arabia dan sebagian Eropa. Dalam sejarah Yunani kuno disebutkan bahwa pada zamannya terjadi transaksi perdagangan di antara tajir-tajir Saba dan Yunani. Bahkan para pedagang Yunani yang telah mengunjungi kerajaan Saba menyebutkan bahwa masyarakat Saba merupakan masyarakat berperadaban paling maju di era itu.

Ratu Saba dan Nabi Sulaiman

Pada saat kerajaan Saba di bawah pemerintahan ratunya sedang berada dalam puncak kegelimangan, Nabi Sulaiman alaihissalam telah menjadi salah satu raja terkenal di antara bani Israil di kawasan Palestina (Syam). Sulaiman dikaruniai Allah kemampuan untuk berkomunikasi dan menaklukkan golongan hewan dan jin. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dari skala bala tentara, jumlah yang dimiliki Sulaiman lebih besar daripada bala tentara Saba.

Kisah ini tersebut dalam firman Allah surat An-Naml ayat 20-44. Alkisah –dalam sebuah penafsiran- bahwa pada suatu kesempatan Nabi Sulaiman mengutus burung Hudhud untuk mencari sumber air tambahan. Lama tak jua kembali ternyata Hudhud sampai ke daerah Yaman dan menemukan sebuah kaum (rakyat Saba) yang diperintah oleh seorang ratu. Yang menarik perhatian Hudhud adalah ketika dilihatnya kaum ini musyrik dengan menyembah matahari seraya berkorban sesajen kepadanya.

Nabi Sulaiman naik pitam sebab keterlambatan ini dan berjanji akan menghukum Hudhud sesegeranya ia tiba, kecuali Hudhud terlambat dengan alasan yang masuk akal. Maka berkata Hudhud sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” Q.S. An-Naml: 22

Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kematangan akal dan hikmahnya tidak merespon kecuali dengan berkata: "Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Lalu Nabi Sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada Balqis ratu Saba yang berisi ajakan untuk hanya menyembah Allah S.W.T.

Isi surat Nabi Sulaiman ini tertera dalam Quran sebagai berikut: “Dari SuIaiman dan sesungguhnya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri"

Balqis dan Musyawarah

Manakala ratu Balqis menerima dan membaca surat dari Sulaiman, segera ia kumpulkan para menteri dan para pembesar di antara kaumnya. Balqis meminta agar mereka memusyawarahkan perihal surat Sulaiman ini. Hal ini diabadikan oleh Al-Quran sebagaimana Balqis berkata: "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)"

Saat itu kerajaan Saba telah terkenal di antara raja-raja lainnya sebagai salah satu kerajaan terkuat dengan bala tentaranya yang tangguh. Maka para menteri ketika membaca surat itu menganggap bahwa Sulaiman meremehkan mereka. Maka para menteri itu berkata: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih perang daripada berserah diri kepada kekuasaan Sulaiman.

Namun ternyata Balqis memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan, tatkala dia berkata bahwa raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya. Dan mereka menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Disini letak kepiawaian dan kecerdasan Balqis. Dia lebih menganjurkan untuk terlebih dahulu mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, dengan harapan semoga Sulaiman bisa lunak hatinya bahkan berubah pikiran sama sekali. Para pembesar menyetujui usulan Balqis. Maka diutuslah beberapa pembesar untuk menghadap Sulaiman seraya membawa persembahan hadiah.

Sesampainya para utusan di depan Sulaiman, utusan Allah ini berkata: "Apakah patut kamu mengulurkan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya”

Maka tatkala Balqis mendengar jawaban yang disampaikan para utusannya, tahulah ia siapa dan betapa kuatnya Sulaiman dan bala tentaranya. Maka dikumpulkannyalah seluruh tentara dan pengawal pribadinya untuk menuju Syam demi menemui Sulaiman.

Sementara itu ketika Sulaiman mengetahui bahwa Balqis akan dating, beliau kumpulkan semua pembesarnya seraya meminta untuk mendatangkan singgasana Balqis ke Syam sebelum mereka datang. Alhasil, seorang pembesar yang memiliki pengetahuan mendalam akan Taurat menyanggupi untuk mendatangkannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip. Setelah itu dimintanya agar singgasana itu dirubah sedemikian rupa agar Balqis tidak mengenalinya. Hal ini untuk menguji sejauh mana kecerdikan dan ketajaman Balqis sehingga ia memang patut untuk memerintah kaumnya.

Ketika Balqis dan tentaranya sampai dan telah duduk di singgasananya sendiri, Nabi Sulaiman bertanya: “Seperti inikah singgasanamu?” Maka Balqis menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” Dan ini bukti lain dari kecerdikan Balqis, sebab ketika ia menjawab dengan pertanyaan itu sesungguhnya dia tidak yakin bahwa bagaimana mungkin singgasana dapat berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat. Namun dalam keraguan itu dia tidak memungkiri bahwa singgasana itu mirip dengan kepunyaannnya. Dan memang sesungguhnya singgasana adalah miliknya hanya telah dirubah atas perintah Sulaiman.

Pada saat yang sama Balqis segera teringat akan sebuah kenabian yang menyebutkan bahwa akan datang padanya seorang nabi Allah yang sanggup memindahkan singgasananya dalam sekejap mata. Pada saat itulah Balqis segera sadar bahwa dirinya dan kaumnya telah berlaku zalim dengan mempersekutukan Allah. Saat itu pula Balqis menyeru seluruh kaumnya untuk memeluk agama yang dibawa oleh Sulaiman.

Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam"

Pada akhirnya, kisah ratu Saba dan Nabi Sulaiman ini akan selalu abadi di dalam Al-Quran hingga ke akhir zaman. Hal ini tidak lain agar setiap ulil albab yang membacanya bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran-pelajaran berharga.

Friday, March 02, 2007

Angka Dan Hari Kiamat

Oleh: Med Hatta.
‎“Bilakah Hari Qiamat Itu?...” Kalimat sederhana ini tentu bukan sekedar sebuah ‎pertanyaan sambil lewat saja melainkan ungkapan Al-Qur'an pada ‎‎14 abad lalu yang menegaskan tentang eksistensi waktu‎.

Dalam sejarah peradaban manusia bahwa angka pertama yang dikenal manusia ‎dalam kehidupan adalah “waktu”. Seorang ilmuawan berkebangsaan Turki, ‎Harun Yahya, menegaskan bahwa "penemuan-penemuan ilmu pengetahuan ‎modern telah membuktikan bahwa waktu bukanlah kenyataan mutlak seperti ‎yang diyakini para materialis, melainkan hanya merupakan persepsi relative…"

Menarik untuk disimak bahwa fakta waktu yang ‘dijahili’ oleh sains hingga abad ‎kedua puluh satu ini diproklamirkan Al-Qur’an kepada manusia empat belas ‎abad yang lalu. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an menegaskan mengenai ‎relativitas waktu ini‎.

Fakta ilmiah membuktikan bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang ‎bergantung pada peristiwa, latar, kondisi. Dan hal ini dapat disaksikan di banyak ‎tempat dalam Al-Qur’an, Misalnya seperti yang diilustrasikan oleh Allah SWT, ‎seluruh kehidupan seseorang sangat singkat, Allah berfirman:

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk”. (QS: 10/ 45).

Al-Qur’an juga menjelaskan dibeberapa ayat yang lain bahwa manusia melihat ‎waktu berbeda-beda satu sama lainnya. Dan terkadang manusia menganggap ‎waktu yang sangat singkat ini terasa lama. Dialog antara Tuhan dan hamba ‎di akhirat kelak sebagaimana diceritakan dalam ayat berikut menjadi cerminan ‎dalam kasus ini‎:

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung". Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (Q.S: 23/ 112-114).

Ayat-ayat ini dan masih banyak lagi ayat yang lain di dalam Al-Qur’an ‎merupakan ungkapan manifestasi yang real tentang relativitas waktu. Fakta ‎bahwa informasi yang baru saja disadari oleh ilmuwan abad kedua puluh satu ‎ini telah diinformasikan kepada manusia 1428 tahun yang lalu di dalam al-‎Qur'an, merupakan tanda bahwa wahyu ini adalah dari Allah, yang meliputi ‎keseluruhan waktu dan ruang. Dia-lah (Allah) Yang menciptakan waktu, dan ‎tidak dibatasi oleh waktu itu sendiri‎.

Ada indikasi, waktu yang sungguh menakjubkan ‎tersurat di dalam Al-Qur’an tentang hari kiamat; tanda-tandanya, dan bahkan ‎secara inplisit Al-Qur’an mengisyaratkan angka dengan digit tertentu kapan ‎datangnya kiamat‎.

Kalau Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu telah mengumumkan kepada manusia ‎umur dunia telah berjalan selama 18.000.000.000 (delapan belas milyar) tahun ‎dan fakta ini telah dibenarkan pula oleh seorang ilmuawan Perancis, JC. Batler, ‎tahun 1982. (Lihat: Sayyidul Ayyaam Nomor 12/Edisi IV/Th. I)‎.

Dan, Subhanallah kalau tesis ini benar, Ternyata Al-Qur’an juga sejak jauh-jauh hari telah ‎mengumumkan kepada manusia akhir perjalanan bumi fana ini yang disebut ‎dengan hari kiamat. Dalam sebuah ayat Allah menceritatakan bahwa ‎sekelompok manusia bertanya tentang bila datangnya kiamat, lalu Allah ‎menjawab dalam Al-Qur’an pada surat Al Qiyamah:

Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?; Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan...” (Q.S: 75/ 6-9).

Sepintas ayat ini hanya bercerita tentang tanda-tanda datangnya kiamat besar ‎saja, tetepi kalau dicermati secara mendalam bahwa ayat ke-9 dari surat Al ‎Qiyamah diatas menyingkapkan sebuah simbol ajaib yang paling rumit ‎disimpulkan oleh manusia selama ini‎.

Allah mengisyaratkan bahwa pada hari itu matahari dan bulan dikumpulkan jadi ‎satu, tetapi tidak dijelaskan secara detail dalam ayat tersebet bagaimana dua ‎gejala alam itu dikumpulkan, disatukan dan kapan waktunya?‎

Ternyata, simbol super rumit ini dijabarkan oleh Allah pada ‎ayat yang lain di dalam Al-Qur’an, surat Al Kahfi secara gamblang menjelaskan ‎sebagai berikut‎:

“..Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”

Apakah rahasia dari kalimat tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun? Kenapa Allah tidak menyebutkan langsung bahwa mereka berdiam di dalam gua selama 309 tahun? Ternyata dalam konteks Al Qur’an menyingkap rahasia dua penanggalan yang lumrah dipakai oleh umat manusia sekaligus yaitu Hijriyah dan Miladiyah (Baca: kalender islam dan kalender Masehi).

Jika dihitung dalam kalender Miladiyah, maka Asshabul Kahfi (penghuni gua) berdiam di dalam gua selama 300 tahun. Sementara kalau dihitung dalam kalender Hijriyah, maka mereka berdiam di sana selama 309 tahun. Penjelasannya adalah :

• 300 tahun Miladiyah = 300 x 365,2422 hari = 10.9572,66 hari
• 300 tahun Hijriyah = 300 x 354,36056 hari = 10.6310,11 hari

perbedaan jumlah hari keduanya adalah 3262,55 hari, maka jumlah tahun bagi keduanya adalah sebagai berikut:

@ 3262,55 : 354,36056 = 9,20669 tahun Hijriyah (9 Tahun)
@ 3262,55 : 365,2422 = 8,93256 tahun Miladiyah (88,9 atau 9 tahun).

Dengan kata lain tahun Hijriyah lebih maju 10 hari dibandingkan dengan tahun Miladiyah setiap tahunnya, lebih sederhana lagi bahwa sitiap 33 tahun Miladiyah sama dengan 34 tahun Hijriyah. Dan jika tahun Miladiyah dimajukan 330 tahun kedepan, maka tahun Hijriyah akan menjadi 340 tahun…

Aneh bin ajaib… Bahwa jikalau kedua calendar ini dimajukan secara parallel ‎kedepan, misalnya 2007 + 330 dst… dan 1428 + 340 dst… maka keduanya akan ketemu pada angka mistik yaitu "21114"‎.

Sungguh Maha Benar Allah dalam Firmannya: “dan matahari dan bulan dikumpulkan..”, bahwa kiamat akan datang ketika matahari dan bulan dikumpulkan jadi satu…

Kesimpulannya Bahwa kelak tahun 21114 Miladiyah akan berkumpul dengan ‎tahun 21114 Hijriyah (21114 M/ 21114 H)‎... "Selamat Menyambut Hari Kiamat"

Subhana Ka Ya Allah, kami tidak memiliki pengetahuan sedikitpun kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, Kalau indikasi ini benar adanya, maka ini adalah dari Allah. Kalau salah, maka ini adalah dari syaithan dan dari diriku sebagai manusia yang serba kekurangan. Wallahu'alam bisshawab.

Saturday, December 16, 2006

SARIPATI KISAH ASHABUL KAHFI

Oleh : Syariful Hidayat

Ashabul kahfi merupakan sebuah cerita teladan yang disebutkan di dalam al-Quran pada surat al-Kahfi ayat 9 sampai dengan ayat 26 dari 110 jumlah ayatnya. Cerita ini mengkisahkan beberapa penghuni gua yang mengandung i’tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.

Cerita ini bermula dari sebuah kota, terletak di antara dataran luas yang sangat subur.Kebanyakan mata pencaharian penduduk negeri ini adalah bercocok tanam dan perkebunan dengan menanam pohon kurma, buah-buahan jeruk, anggur dan semangka. Sebagian penduduk yang lainnya beternak hewan seperti sapi, kambing, biri-biri dan onta, sehingga mereka hidup makmur, mereka makan hasil buminya dengan nikmat dan hidup damai sejahtera.

Agama yang dipeluk penduduk ini dan keyakinan mereka, sebagaimana penduduk negeri-negeri lain di dunia ini adalah bermacam-macam. Sebagian mereka ada yang beriman kepada Allah dan RasulNya, tetapi sebagian besar mereka adalah penyembah berhala, patung dan menyembelih hewan kurban untuknya.

Yang memerintah negeri yang subur nan makmur ini adalah seorang Raja yang lebih condong kepada agama berhala penyembah patung dan mengajak orang lain dengan paksa agar turut menyembahnya, bila tidak mengikuti kehendaknya, rakyat mengalami penyiksaan yang sangat kejam.

Keadaan dan kondisi ini telah berlangsung puluhan tahun lamanya di bawah kepemimpinannya, banyak diantara kamu muslimin mendapatkan siksaan yang luar biasa, sehingga tiada satu haripun bila ada berita yang sampai kepadanya tentang keberadaan seorang mukmin atau mukminah, pasti ditegakkan hukuman dengan menyiksanya atau menyembelihnya di depan umum, sehingga ia yakin benar dapat mencabut benih-benih iman dari dada penduduknya yang telah lama beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan kondisi politik & sosial yang sangat menyudutkan kaum yang beriman kepada Allah inilah, masih ada beberapa orang yang beriman kepada Allah SWT secara sembunyi-sembunyi, karena mereka lebih takut kepada siksa Allah yang lebih kejam di hari kiamat kelak. Mereka dengan lantang penuh keberanian mendeklarasikan sikap untuk mengabaikan perintah pemimpin mereka. Mereka mampu menguasai diri, sebab mereka memiliki keoptimisan yang dibingkai ruh mas'uliyah (tanggung jawab), ruh isti'la (merasa tinggi) dan sosok kepemimpinan.
Sikap yang mereka lakukan adalah dengan tetap memegang teguh iman kepada Allah SWT dan mengucilkan diri pada sebuah gua sebagai tempat berlindung seraya berdoa : “Wahai tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini”.

Namun, kehendak Allah menginginkan lain, Allah menidurkan mereka dan menutup telinga mereka dari segala kebisingan. Lalu setelah 309 tahun (Qomariyah) lamanya, Allah kembali membangunkan mereka.

Akhirnya, terbukalah segala keajaiban setelah mereka terjaga, terlebih setelah salah satu diantara mereka meminta kawannya untuk membeli sesuatu untuk mengganjal perut yang kosong, mereka sadar, bahwa mereka berada di alam yang bertolak belakang dengan kenyataan lama, mereka berada di lingkungan masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama islam dan mereka yakin, bahwa mereka adalah pelaku sejarah yang dapat menambah keimanan mereka dan kaum mukminin semua.

Demikianlah akhirnya, sesuai dengan janji Allah SWT, bahwa : “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik” (al-Kahfi : 30). Sehingga mereka pun bergabung menjadi bagian dari masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama islam.
***
Kita tahu, bahwa bukti dan tanda kekuasaan Allah begitu banyak dan menuntut untuk direnungi serta diambil pelajaran ('ibrah). Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Itu dipaparkan dalam berbagai bentuk dan cara, dimaksudkan agar manusia tidak bosan dan agar sadar serta segera mengakui kewahdaniyahan(keesaan)-Nya. Dan Ashabul kahfi adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. yang dipaparkan dalam bentuk kisah yang menarik dan patut direnungi, karena di dalamnya terdapat pelajaran bagi sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini.

Barangkali kita harus sepakat, bahwa sesungguhnya sejarah manusia itu akan terulang dari masa ke masa, meskipun perbedaan waktu, tempat dan pelaku, namun substansinya akan tetap sama seperti yang telah terjadi sebelumnya.

Nah, Karena pentingnya memahami dan menyadari substansi kisah ini, Allah sendiri tidak menyebutkan siapa nama pelaku-pelakunya, sebagaimana Allah tidak menyebutkan juga jumlah dan kapan terjadinya secara pasti. Yang jelas tujuannya agar manusia mengambil pelajaran, kemudian menjalani kehidupan dengan hidayahNya. Tujuan seperti inilah yang juga melatarbelakangi sebagian besar mufassirin dalam menyikapi kisah ini, semisal Ibnu Katsir, At-Thabari dll.
***
Diantara saripati yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah ashabul kahfi adalah : Tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Menurut para Ulama, tauhid (mengesakan) kepada Allah SWT. terbagi menjadi tiga macam, pertama, tauhid al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah, yaitu meyakini, bahwa beribadah itu hanya ditujukan kepada Allah dan karena-Nya semata.

Kedua : Tauhid ar-Rububiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah lah sang maha pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.

Ketiga : Tauhid al-Shifat, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam sifat-Nya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Ta’ala dalam Dzat maupun Sifat.

Nah, pilihan para Ashabul kahfi untuk mengasingkan diri pada sebuah gua itu merupakan panggilan dari lubuk hati agar senantiasa dapat mempertahankan keyakinannya tentang islam, sekaligus menjalankan keyakinan itu pada tempat yang terhindar dari penglihatan manusia jelata. Sebab mereka yakin, bahwa penguasa yang sebenarnya adalah Allah SWT. bukan seorang raja yang sedang berkuasa di zamannya. Sebagaimana mereka juga sadar, bahwa segala keangkuhan sang raja, hanyalah gertakan sambal goreng yang dapat sirna dengan berlalunya zaman.

Pengasingan diri yang mereka lakukan, juga merupakan wujud pengorbanan untuk meninggalkan segala kenikmatan duniawi untuk tujuan ukhrawi. Mereka rela meninggalkan keluarga, harta dan tanah air demi menyelamatkan aqidah serta khawatir akan fitnah. Untuk itu bukan tidak mungkin kisah ini menjadi inspirasi bagi hijrah Rasulullah saw. Bersama Abu Bakar ra ke Madinah dan Hijrah pertama kaum muslimin ke Habsyah.

Pengasingan itu pula merupakan metodologi seorang rakyat menolak kebijakan pemimpinnya yang terbukti dengan kedzaliman & kerakusan akan kepemimpinan & kekuasaan. Tentunya, manakala jumlah ashabul kahfi mencukupi, gelombang reformasi pun pasti akan terjadi.

Dan terakhir, mengikuti kronologi kisah Ashabul Kahfi mengantar kita kepada satu titik tujuan utama kisah tersebut yaitu meyakinkan kepada umat manusia terhadap keimanan kepada hari kiamat, hari bangkit di alam mahsyar. Sebab dalam suatu riwayat, pada saat sebelum ashabul kahfi dibangkitkan, masyarakat setempat terpecah kepada dua kubu. Ada yang meyakini adanya hari bangkit di akhirat nanti dan ada yang tidak percaya sama sekali. Bagi seorang mukmin, aqidah ini merupakan sebuah aksiomatis yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Karena keimanan terhadap keduanya ini memacu kita untuk berbuat kebajikan selama di dunia dan menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi dihadapan mahkamah Allah Swt.

Akhirnya, penggalan kisah ini adalah bagian pertama dari empat kisah lainnya yang terdapat dalam surah Al-kahfi. Semoga dengan kisah ashabul kahfi ini mendorong kita untuk mendalami dan mengkaji kisah-kisah selanjutnya yang terdapat di dalam al-Quran dan tentunya yang teramat penting adalah transformasi nilai ke dalam diri kita lewat skenario kisah tersebut, agar kita menjadi mukmin yang mendapat legalisasi keimanan yang benar dari Allah Swt.

Friday, December 08, 2006

Mencari Kebagagiaan

Dedy W Sanusi

Allah SWT Berfirman :

لإن شكرتم لأزيدنكم و لإن كفرتم إن عذابي لشديد

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim, 7).

Tema kebahagiaan telah menjadi bahan pikiran para filosof jauh sebelum agama Islam datang. Ada yang mengatakan, Plato misalnya, kebahagiaan adalah kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang diperoleh dengan menjaga kebersihan jiwa dan menghiasinya dengan kualitas-kualitas terpuji, seperti kemulyaan, keberanian dan kearifan. Bagi kelompok ini, kelezatan material justru mencederai kebahagiaan. Karena kebahagiaan letaknya di jiwa, bukan di badan, maka kebahagiaan hakiki hanya dapat diperoleh ketika jiwa lepas dari badan, setelah kematian.

Ada juga yang mengatakan, sebagaimana Aristoteles, kebahagiaan adalah proses menuju kesempurnaan. Kebahagiaan yang mengendarai dua kendaraan ; badan dan jiwa. Kelezatan material, bagi kelompok ini, bisa dikondisikan untuk juga mendapatkan kelezatan immaterial, kelezatan jiwa. Menurut kelompok ini, sepanjang manusia hidup di dunia ini, berbuat baik, berpikir benar, terus berusaha mendapatkan sifat-sifat terpuji, baik untuk dirinya maupun keluarganya dan berusaha untuk membumikan perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah dalam masyarakatnya, maka orang ini adalah orang yang berbahagia.

Kelompok ini merinci kebahagiaan pada lima tempat : Pertama, kesehatan badan dan kelengkapan fungsi panca indera. Kedua, harta yang digunakannya untuk berbuat kebaikan. Ketiga, memiliki citra yang baik dihadapan orang lain, karena perbuatannya yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Keempat, sukses dalam cita-citanya. Kelima, memiliki pikiran dan keyakinan yang benar dan lurus, baik dalam agamanya maupun urusan-urusan yang lain, selamat dari kesalahan dan kekeliruan dan pikiran-pikirannya menjadi rujukan orang lain dalam memutuskan segala sesuatu.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya : al-Wabil as-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib mengemukakan tiga cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Menurut beliau, kehidupan ini tidak lepas dari tiga kondisi : pertama, kita mendapat kenikmatan. Kedua, kita mendapat musibah. Ketiga, kita kadang-kadang tergelincir berbuat dosa. Seorang hamba Allah, bisa mendapatkan kebahagiaan dalam tiga kondisi ini, asal dia tahu bagaimana cara menghadapinya.

Firman Allah dalam Al Quran :

لإن شكرتم لأزيدنكم و لإن كفرتم إن عذابي لشديد

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim, 7).

Kondisi pertama, ketika kita berhadapan dengan nikmat, kita mesti menghadapinya dengan bersyukur. Sebab jika tidak, nikmat ini tidak lagi memberi kita kebahagiaan, tetapi bahkan menjadi sumber kesengsaraan. Syukur adalah cara kita menjadikan nikmat yang kita peroleh tetap berada dalam jalur yang benar. Jalur yang diterangi oleh akal yang sehat dan petunjuk agama yang benar dan lurus.

Syukur tersusun dari tiga bagian. Pertama adalah kesadaran bahwa segala nikmat yang kita peroleh adalah semata-mata karunia Allah SWT. Kenikmatan ini, mencakup seluruh sumber kebahagiaan, baik yang material maupun immaterial. Kalau Allah mengambil kesehatan kita misalnya, betatapun harta kita banyak, kita tidak akan bisa menikmatinya. Maka kesadaran bahwa kenikmatan dari Allah, adalah sikap mental yang harus kita bangun di hadapan kenikmatan tak habis-habis yang Allah berikan kepada kita. Kedua, kalau kita mesti menyatakan, karena kita berinteraksi dengan orang lain, setidaknya lidah kita berucap Alhamdulillah terhadap nikmat yang kita peroleh. Ketiga, menggunakan kenimatan yang kita dapatkan untuk mendapatkan ridla Allah SWT. Kita keluarkan hak badan dan harta kita sesuai dengan dengan perintah Allah. Ayat di atas sangat jelas mengecam kita untuk jangan coba-coba menggunakan kenikmatan yang kita peroleh untuk semata-mata memenuhi hawa nafsu kita. Azabnya amat pedih, cepat atau lambat.

Banyak orang dengan senang hati menyembah Allah dalam kondisi lapang dan serba ada. Tetapi tidak banyak dari mereka yang tetap menyembah Allah dalam kondisi sulit dan serba kekurangan. Padahal, dalam kondisi terakhir ini, Allah memberikan keistimewaan kepada hambanya, kalau ia tetap mempertahankan bahkan menambah kekuatan hubungannya dengan Allah SWT. Maka kewajiban kita ketika kita berhadapan dengan cobaan, ujian dan musibah adalah bersabar.

Bersabar mengajarkan kita untuk memutus hubungan hati dengan selain Allah. Betapapun kita mencintai harta dan keluarga, akan tiba saatnya, kita mesti berpisah dengannya. Tetapi kapan dan dimanakah kita bisa berpisah dari Allah?. Oleh karena itu, sabar menjadi sarana bagi kita untuk tetap dalam rel agama ketika kita ditimpa bencana. Sabar tersusun dari tiga unsur, pertama: menahan diri untuk tidak menyalahkan keputusan Allah atas musibah yang menimpa kita. Kedua, manahan lidah untuk tidak mengeluh. Ketiga, menahan badan untuk tidak berbuat dosa. Kalau kita dapat berlaku sabar dengan tiga unsur ini, insya Allah, --sebagaimana kata Ibnu al-Qayyim—kita bisa merubah cobaan menjadi anugerah, ujian menjadi pemberian dan sesuatu yang kita benci menjadi sesuatu yang kita cintai. Contoh gampangnya adalah seorang petinju mau mukanya sakit dan benjol biru, demi mendapatkan hadiah uang yang banyak. Bukankah dalam ayat al-Qur’an Allah berfirman:

إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (az-Zumar, 10)

Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap disiplin beribadah kepada Allah, baik dalam kondisi lapang atau sempit, senang atau susah.

Friday, December 01, 2006

Haruskah Ku Mengingat Ajalku…

Oleh: Firmansyah Waruwu

"Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)


Sejenak kita mengingat dan bercermin serta meratap selama satu hari berapa kali kita teringat dengan kematian yang pasti akan kita jalani nantinya, Allah berfirman “ Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati.”


Betapapun bencinya manusia dengan kematian, tidak satupun yang sanggup mengelak darinya. Kematian laksana pintu yang setiap orang akan memasukinya. Kenyataan bahwa sebab kematian begitu mudah, seringkali tak menggugah kesadaran bagi orang yang sedang mabuk kepayang dengan hiasan dunia. Kita menyaksikan dan mendengar sebab kematian orang-orang, ada yang mati di usia muda, ada yang mati di saat sedang tidur, terpeleset atau bahkan ketika makan bakso, Betapa ajal begitu dekat.

Faedah Mengingat Mati


Ad-Daqaaq berkata, "Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu bersegera untuk bertaubat, qanaahnya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa tiga musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah."


Ketika seseorang menyadari bahwa kematian akan menjemputnya, niscaya ia akan mengingat pula persiapan untuk menghadapinya, dia akan segera ingat dengan dosa-dosa yang nantinya akan dimintai tanggung jawabnya. Hal ini mendorongnya untuk segera bertobat. Ia juga akan berbuat qanaah, tidak serakah terhadap dunia karena dia sadar bahwa itu tidak akan dibawa mati. Selanjutnya dia akan mengalihkan perhatiannya untuk mempersiapkan kematian dengan beribadah. Kalaupun dia mencari harta, tujuannya adalah untuk memuliakan akhiratnya.


Berbeda halnya dengan orang yang malas mengingat mati. Dia akan sibuk mencari kenikmatan dunia, bernafsu melampiaskan syahwatnya dan bergelimang dengan dosa-dosa. Karena dia tidak sadar bahwa kelak kematian akan menghampirinnya dengan tiba-tiba, di saat ia belum memikirkan bekal untuk menghadapinya. Tak terpikir olehnya untuk bertaubat, atau dia merasa masih punya banyak waktu untuk menebusnya sehingga dia berangan untuk menunda taubatnya hingga waktu yang dia sendiri tidak tahu apakah nyawa masih setia bersamanya. Dia juga tidak merasa perlu untuk bersegera melakukan ibadah karena merasa belum saatnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah: "Tiada seorang pun yang panjang angan-angannya melainkan pastilah buruk amal-amalnya."


Mengingat mati adalah obat mujarab untuk melunakkan hati yang keras dan membersihkan karat hati. Telah datang seorang wanita kepada ibunda ummul mukminin Aisyah RH mengadukan akan kerasnya hati yang ia rasakan. Maka Aisyah RH berkata, "Perbanyaklah mengingat mati niscaya hilang penyakit di hatimu!" Akhirnya wanita itupun mengerjakan wejangan itu dan hilanglah penyakit di hatinya, lalu ia datangi kepada ibunda Aisyah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.


Yang Diingat Dalam Kematian:


Jika kita mengetahui faedah mengingat mati, lalu peristiwa manakah yang perlu kita ingat? Banyak peristiwa mengerikan yang dapat kita renungkan dalam peristiwa kematian, yang dengannya hati menjadi lembut, rasa takut bermaksiat semakin bertambah dan semangat ibadah semakin memuncak.


Pertama, bahwa kematian datang secara mendadak. Malaikat maut datang tanpa bisa dicegah, tanpa permisi dan tanpa peduli apa yang sedang dan akan kita kerjakan., baru selesai membangun rumah mewah namun belum sempat menempatinya, atau telah bekerja keras dan hampir saja mendapatkan upahnya, ajal datang tanpa ampun dan tanpa kompromi, atau baru lulus kuliyah tapi tidak dapat menikmati keberhasilannya, itulah kematian.


Betapa banyak kita dapatkan seseorang berangkat ke kantor naik mobil mewah, namun siangnya harus naik keranda roda manusia? Betapa banyak orang yang paginya memakai pakaian indah berdasi lalu siangnya harus orang lain yang melepaskan bajunya untuk diganti dengan kafan? Betapa banyak orang tua yang pagi harinya memandikan anaknya namun siang harinya dia harus dimandikan orang lain sebelum dikafan dan dishalatkan?


Inilah realita yang setiap hari kita dengar dan saksikan, namun keadaan kita seperti yang digambarkan Ar-Rabi bin Barrah: "Aku heran dengan manusia, bagaimana mereka lupakan kejadian yang pasti terjadi? Mereka lihat dengan matanya, mereka menyaksikannya, dan hatipun meyakininya, mengimaninya, dan membenarkan apa yang dikabarkan oleh para Rasul, namun kemudian mereka lalai dan mabuk dengan senda gurau dan permainan."


Kedua, hendaknya kita juga mengingat bahwa kematian itu ada masa sakaratnya. Seperti yang difirmankan Allah "Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (Qaaf: 19)


Ketika kematian menjemput Amru bin ‘Ash RA, putranya berkata, "Wahai ayah, Anda pernah berkata, "Sesungguhnya aku heran terhadap seseorang yang di ambang kematiannya, sedangkan akalnya masih lekat, lisannya pun masih sehat namun bagaimana dia tidak mau bercerita?" Maka Amru bin ‘Ash berkata, "Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk dikatakan! Akan tetapi baiklah, aku ceritakan sedikit tentangnya, demi Allah seakan-akan di atas pundakku ada gunung Radhwa dan Tihamah…Seakan aku bernafas dengan lubang jarum...Seakan di perutku ada duri yang runcing…Dan langit seakan menghimpit bumi, sedangkan aku berada di antara keduanya..."

Maka marilah kita memperbanyak doa:
"Ya Allah, tolonglah aku untuk menghadapi penderitaan tatkala mati dan sakaratnya."

Kapan mengingat Mati dilakukan


Dzikrul maut (mengingat mati) dapat dilakukan ketika kita mengantar jenazah. Dengan melihatnya kita membayangkan bagaimana jika jenazah yang diusung itu kita.

Ketika Umar bin Abdul Aziz mengurus jenazah, mayat sudah dikubur, diapun berbalik kepada orang-orang sembari berkata: "Seakan kubur itu berkata kepadaku, wahai Umar maukah kuberitahu apa yang aku perbuat terhadap orang ini? Aku bakar kafannya, ku robek badannya, ku sedot darahnya, ku kunyah dagingnya, aku cabut telapak dari tangannya, tangan dari lengannya dan lengan dari pundaknya. Lalu ku cabut pula lutut dari pahanya dan betis dari lututnya dan telapak kaki dari betisnya" kemudian Umar pun menangis.


Dzikrul maut bisa juga dilakukan di keheningan malam, dan bisa juga dengan ziarah ke kuburan, banyak hal yang harus dipahami batas-batasnya. Tidak boleh menentukan waktu tertentu, atau mengkhususkan kuburan tertentu, tidak ada amal tertentu selain ucapan salam, mendoakan si mayit atau untuk mengingat mati.


Dengan mengingat mati kita akan lebih terkendali. Dan memiliki rem untuk tidak melakukan maksiat. Kita pun akan lebih terarahkan untuk melakukan hanya yang bermanfaat saja. Kalau kita lihat para 'arifin dan salafus shalih, mengingat mati bagi mereka, seperti seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Di mana seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Menjelang kematiannya, Sahabat Hudzaifah berkata lirih, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemuimu”, jadi kita di anjurkan tuk mengingat kematian yg akan kita alami.

Semoga dengan tema kematian pada jumat ini lebih mendekatkan diri kita kepada sang pemilik Alam dan seisinya Amin

Friday, November 24, 2006

Keseimbangan Antara Dunia Dan Akhirat

Oleh: Med Hatta

Masalah ekonomi umat Islam rata-rata pada saat sekarang belum menggembirakan, meskipun terdapat banyak negara Islam yang dianugerahkan sumber daya alam yaitu minyak dan gas bumi yang berlimpah-ruah, terutama di Timur Tengah, belum ada satu negara Islam pun yang layak digolongkan dalam kategori negara maju. Hanya ada lima negara Islam, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 6 juta jiwa yang saat ini dikategorikan sebagai negara yang berpendapatan tinggi akan tetapi masih jauh dari kategori negara maju. Sedangkan lebih dari 20 negara Islam dengan jumlah penduduk melebihi 600 juta jiwa, tergolong dalam kategori negara berpendapatan rendah dan terbelenggu dalam kemiskinan. Ini mengindikasikan bahwa cuma setengah persen dari total 1200 juta umat Islam saja yang bisa dikatakan kaya sementara lebih dari 50 persen umat Islam berada dalam garis kemiskinan. Kemudian pertanyaan, adakah fenomena ini sejalan dengan ajaran Islam? atau apakah Islam itu sendiri menginginkan umatnya hidup dalam keadaan zuhud?

Kalau kita kembali membuka lembaran sejarah Islam masa lalu, sungguh kita akan tercengang betapa Islam telah mampu merubah nasib umatnya yang dahulunya mundur, naik pada peringkat teratas hingga menjadi sebuah masyarakat yang sangat tinggi tamaddunnya. Masyarakat Islamlah yang telah mencapai puncak kemajuan di berbagai bidang, terutama dalam memperluas dan mendalami berbagai disiplin ilmu, misalnya sains, matematika, astronomi, kedokteran, sastra, filsafat, mantik, ilmu politik, kemiliteran, pembangunan ekonomi dan sebagainya. Masyarakat Islam jugalah yang telah berjaya dalam mengarungi samudera dan menjelajahi bumi bukan sekedar memperluas wilayah dan daerah jajahan saja akan tetapi lebih dari itu menyebarkan Islam dan ilmu pengetahuan di bumi Allah dimana saja mereka berpijak.

Akan tetapi apa yang telah terjadi pada umat Islam saat sekarang, terutama setelah dijajah selama berkurun waktu yang mengakibatkan pudar keunggulannya. Masyarakat Islam menjadi loyo, letih dan lesu, bagaikan seekor burung yang sayapnya patah yang tidak mampu lagi untuk bangkit dan mengepakkan sayapnya, tidak mampu untuk mengembangkan apa yang pernah diraihnya.

Sekarang faktor apa yang paling dominan menyebabkan kemunduran umat Islam pada saat sekarang ini? Apakah hanya faktor penjajahan saja – seperti disebut di atas - atau ada faktor lain? Mungkinkah karena umat Islam hanya lebih mementingkan kehidupan akhirat saja dan sudah melupakan kehidupan duniawinya? Apakah umat Islam sudah melalaikan ajaran Islamnya sendiri yang notabene sebagai agama atau cara hidup yang sempurna?

Untuk menjawabnya mari kita berpijak dari firman Allah SWT "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniwi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qashash: 77).

Untuk menjelaskan ayat di atas saya akan mencoba menguraikannya ke dalam 3 kategori utama sesuai dengan makna kandungan ayat, yaitu:

1. Kehidupan Akhirat Adalah Tujuan

Allah SWT berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat".

Di sini terlihat dengan jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman: "Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya" (QS. Al-Ankabut: 64).

Lalu, apa arti kita hidup di dunia?... Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat. Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan. Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi. Bila demikian tabiat dunia, mengapa kita terlalu banyak menyita hidup untuk keperluan dunia? Diakui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya bisa dipastikan terkuras habis oleh kegiatan yang berputar-putar dalam urusan dunia.

Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Tapi mengapa kita lalaikan itu semua. Detakan jantung tidak pernah berhenti. Kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati. Tapi kita sengaja atau tidak selalu melupakan hal itu. Kita sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanja kita dengan nikmat-nikmatNya, kita sering kali memalingkan ingatan. Akibatnya kita pasti akan lupa akhirat. Dari sini dunia akan selalu menghabiskan waktu kita.

Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia dibangun semata sebagai keperluan. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan. Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu. Begitu juga sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sementara akhirat dikesampingkan.

Kemudian bagaimana mensinkronkan atau menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat? Mari kita ikuti kategori ke dua sebagai sambungan penjelasan ayat di atas.

2. Berusaha Memperbaiki Kehidupan Dunia

Allah SWT berfirman: ”Dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu".

Ayat di atas dengan jelas bahwasannya Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat, tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia ini. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara tetapi tetaplah penting dan agar tidak dilupakan, sebab dunia adalah ladangnya akhirat.

Masa depan — termasuk kebahagiaan di akhirat — kita, sangat bergantung pada apa yang diusahakan sekarang di dunia ini. Allah telah menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat. Allah juga telah menjadikan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling baik hati dan niatnya.

Allah mengingatkan perlunya manusia untuk mengelola dan menggarap dunia ini dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan kehidupan manusia dan keturunannya. Pada saat yang sama Allah juga menegaskan perlunya selalu berbuat baik kepada orang lain dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Allah mengingatkan: ”Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah menurunkan untuk kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman: 20).

Untuk mengelola dan menggarap dunia dengan sebaik-baiknya, maka manusia memerlukan berbagai persiapan, sarana maupun prasarana yang memadai. Karena itu maka manusia perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, setidaknya keterampilan yang mencukupi dan profesionalisme yang akan memudahkan dalam proses pengelolaan tersebut.

Meskipun demikian, karena adanya sunatullah, hukum sebab dan akibat, tidak semua manusia pada posisi dan kecenderungan yang sama. Karena itu manusia apa pun; pangkat, kedudukan dan status sosial ekonominya tidak boleh menganggap remeh profesi apa pun, yang telah diusahakan manusia. Allah sendiri sungguh tidak memandang penampakan duniawiah atau lahiriah manusia. Sebaliknya Allah menghargai usaha apa pun, sekecil apa pun atau sehina apa pun menurut pandangan manusia, sepanjang dilakukan secara profesional, baik, tidak merusak dan dilakukan semata-mata karena Allah.

Allah hanya memandang kemauan, kesungguhan dan tekad seorang hamba dalam mengusahakan urusan dunianya secara benar. Allah SWT menegaskan bahwa:”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kedudukan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah kondisi, kedudukan yang ada pada diri mereka sendiri (melalui kerja keras dan kesungguhannya” (QS. Ar-Ro’d: 11).

Allah juga mengingatkan manusia karena watak yang seringkali serakah, egois /sifat ananiyah dan keakuannya, agar dalam mengelola dunia jangan sampai merugikan orang lain yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah (perang) antar sesamanya. Manusia seringkali karena keserakahannya berambisi untuk memiliki kekayaan dan harta benda, kekuasaan, pangkat dan kehormatan dengan tidak memperhatikan atau mengabaikan hak-hak Allah, rasul-Nya dan hak-hak manusia lain. Karena itu Allah mengingatkan bahwa selamanya manusia akan terhina dan merugi, jika tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah (hablun minallah) dan dengan sesamanya-manusia (hablun minannaas).

Inilah landasan yang penting bagi terciptanya harmonisme kehidupan masyarakat. Ia juga merupakan landasan penting dan prasyarat masyarakat yang bermartabat dan berperadaban menuju terciptanya masyarakat madani yang damai, adil, dan makmur.

3. Menjaga Lingkungan

Sebagai sarana hidup, Allah SWT melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Mereka boleh mengelola alam, tetapi untuk melestarikan dan bukan merusaknya. Firman Allah dari sambungan ayat di atas: "Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Allah SWT menyindir kita tentang sedikitnya orang yang peduli pada kelestarian lingkungan di muka bumi, firmanNya; "Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil " (QS. Huud ayat 116).

Dalam kaidah Ushul Fikih dikatakan, Ad-dlararu yuzalu: segala bentuk kemudharatan itu mesti dihilangkan. Nabi SAW bersabda : "La dlarara wala dlirara", artinya ialah tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.

Dari sini dapat dibuat peraturan teknis untuk mencegah kerusakan lingkungan yang pada akhirnya membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Pelanggaran terhadap hal itu, di samping berdosa juga harus dikenai hukuman ta'zir; mulai dari denda, cambuk, penjara, bahkan hukuman mati tergantung tingkat bahaya yang ditimbulkannya.

Karena itu, bila kita ingin terhindar dari berbagai bencana harus ada revolusi total tentang pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Cara pandang kapitalistik dan individualistik yang ada selama ini harus diubah. Ini karena menganggap alam sekitarnya sebagai faktor produksi telah membuat orang rakus, serakah, dan sekaligus oportunis.

Pandangan hidup untuk berkompetisi berdasarkan pada teori Survival on the fittes membuat manusia merusak harmoni kehidupan. Ketidak percayaan pada nikmat Allah yang tiada terhitung membuat manusia membunuh sesama makhluk Allah demi memuaskan kebutuhannya.