Friday, December 09, 2005

Do'a

Syukuri Kebaikan Orang Lain dengan :

جزاك الله خيرا

« Jazaakallaahu khairaa ».

Semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan juga. (H.R. At Turmudzi).

بارك الله لك فى اهلك ومالك

« Baarakallaahu laka fii ahlika wamaalik »

Semoga Allah memberi berkah kepada engkau dan keluarga serta hartamu. (H.R. An Nassa’i– Ibnu Majah– Ibnus Sina)

Friday, December 02, 2005

Jihad Di Jalan Allah

Oleh : Furqon bin Amri


M akna Jihad

Jihad berasal dari kata jahada-yajhadu-juhdan yang maknanya kesukaran, daya dan tenaga yang dicurahkan untuk mencapai sesuatu baik dengan lisan atau perbuatan. Jalan Allah dalam Bahasa Arab disebut sabilullah yang berarti setiap perbuatan yang ikhlas yang dilakukan seorang muslim dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai : mengerahkan daya upaya dalam memerangi kaum kafir setelah mengajak mereka masuk Islam dan enggan membayar jizyah (pajak).[1] Pengertian inilah yang dimaksud dalam konteks Islam dari makna jihad yang terdapat dalam al-Qur'an dan hadis-hadis Rasulullah. Namun tidak selamanya jihad diartikan sebagai perang melawan kaum kafir dalam bentuk fisik. Tetapi jihad dalam arti yang lebih luas mencakup semua aspek dan daya seorang muslim dalam menghadapi musuh-musuhnya untuk mencapai cita-cita yang digariskan oleh al-Quran. “Musuh-musuh” yang dimaksudkan di sini adalah meliputi musuh dari dalam manusia itu sendiri seperti jihad melawan jiwa kita dengan membersihkannya dan menyucikan hati dari sifat-sifat yang rendah dan keji untuk diisi dengan sifat-sifat yang mulia dan terpuji; jihad melawan setan dengan melawan bisikannya di dalam hati yang senantiasa mengajak melakukan perbuatan maksiat dan mungkar.

Al-Kasani mengartikan jihad sebagai upaya mengerahkan segala upaya dan kemampuan dalam perang di jalan Allah dengan jiwa, harta atau lisan; dan hal itu dilakukan sampai batas tertinggi.[2]

Di dalam al-Qur'an dan hadis-hadis Rasul terdapat kata-kata jihad yang mengandung arti lebih luas dan lebih umum dari makna perang melawan kaum kafir sebagaimana firman Allah SWT :

فَلاَ تُطِعِ الكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَاداً كَبِيراً

"maka janganlah kamu mengikuti orang orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur'an dengan jihad yang besar". (al-Furqan, 52)

Ibnu Abbas menafsirkan (وجاهدهم به) yaitu berjihad dengan al-Qur'an[3]

Rasulullah juga bersabda ketika seorang sahabatnya meminta kepada Rasulullah untuk ikut jihad bersamanya . Beliau bertanya:

"Apakah kamu masih mempunyai orang tua?". Sahabat berkata, "iya". Kemudian Rasulullah bersabda, "maka berjihadlah (bersunguh-sungguhlah kamu) dalam menjaga dan memelihara orang tuamu" (HR. al-Bukhari, 10/403 dan Muslim, 4/1975).

Hukum Jihad

Jihad di jalan Allah hukumnya wajib kifayah yaitu jika dilakukan oleh sebagian orang muslim maka jatuhlah kewajiban tesebut bagi yang lainnya.[4] Namun kewajiban jihad tersebut akan menjadi wajib 'ain (menjadi wajib atas setiap orang muslim) dalam kondisi kondisi tertentu, diantaranya:

1. Jika sudah masuk dalam medan perang. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَار. وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

"Hai orang orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang orang yang kafir yang sedang menyerangmu maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)". (al-Anfal 15)

2. Jika musuh sudah masuk ke negeri umat Islam maka wajiblah warganya untuk memerangi kaum kafir tersebut. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

"hai orang orang yang beriman perangilah orang orang kafir yang disekitar kamu itu dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang orang bertaqwa".(at-Taubah, 123)

Hikmah Pensyariatan Jihad

Dari beberapa ayat yang mengandung seruan untuk berjihad terdapat beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari pensyariatan jihad, diantaranya :

1. Menegakkan syariat dan agama Allah diatas bumi ini, sebagaimana sabda Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat mengenai orang orang yang berperang demi harta rampasan dan orang-orang yang berperang untuk disebut-sebut (sebagai pahlawan) dan untuk memperlihatkan kedudukannya, maka siapakah diantara mereka yang berada di jalan Allah. Rasulullah menjawab, "barang siapa yang berperang demi menegakkan kalimat allah maka dialah di jalan allah".

2. Sebagai pertolongan untuk orang orang yang dizalimi dan tertindas sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa' ayat 75 yang berbunyi, "mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, 'ya Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau'" .

Keutamaan Jihad

Banyak sekali ayat al-Qur'an dan hadis Rasul yang menerangkan keutamaan dan kelebihan berperang di jalan Allah. Ia merupakan salah satu kunci menuju surga yang menjadi idaman setiap muslim. Allah SWT telah menjanjikannya melalui Rasul-Nya bagi mereka yang berjihad di jalan-Nya sebagai balasan atas pengorbanan jiwa dan harta mereka dalam menegakkan kalimat Allah SWT.

Allah berfirman dalam surat as-Shaff yang bunyinya, ''Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik di dalam surga dan itulah keberuntungan yang besar". (as-Shaff, 11-12)

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, "ya Rasulullah, tunjukilah kepadaku suatu amal yang dapat menandingi jihad'. Rasulullah menjawab, "saya tidak mendapatkannya". Kemudian beliau berkata, "apakah kamu sanggup ketika mujahid pergi untuk berperang lantas kamu masuk masjid sehingga kamu melaksanakan shalat tanpa merasa letih dan berpuasa tanpa berbuka hingga dia kembali?". Sahabat menjawab, "siapa yang sanggup melakukan hal itu?". (HR. Bukhari, 6/2785).

Penutup

Ketahuilah bahwa sesungguhya kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Ia hanya terjadi sekali. Seandainya kita jadikan kematian itu di jalan-Nya maka itulah keuntungan dunia dan akhirat dan ketahuilah sesungguhnya kalian tidak akan tertimpa sesuatu kecuali apa yang telah Allah tentukan
Nomor 15/Edisi IV/Th.I

haq Islam

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Catatan :

Hadits ini secara praktis dialami zaman kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, sejumlah rakyatnya ada yang kembali kafir. Maka Abu Bakar bertekad memerangi mereka termasuk diantaranya mereka yang menolak membayar zakat . Maka Umar bin Khottob menegurnya seraya berkata : “ Bagaimana kamu akan memerangi mereka yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah sedangkan Rasulullah telah bersabda : Aku diperintahkan…..(seperti hadits diatas)” . Maka berkatalah Abu Bakar : “Sesungguhnya zakat adalah haknya harta”, hingga akhirnya Umar menerima dan ikut bersamanya memerangi mereka.

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
  1. Maklumat peperangan kepada mereka yang musyrik hingga mereka selamat.
  2. Diperbolehkannya membunuh orang yang mengingkari shalat dan memerangi mereka yang menolak membayar zakat.
  3. Tidak diperbolehkan berlaku sewenang-wenang terhadap harta dan darah kaum muslimin.
  4. Diperbolehkannya hukuman mati bagi setiap muslim jika dia melakukan perbuatan yang menuntut dijatuhkannya hukuman seperti itu seperti : Berzina bagi orang yang sudah menikah (muhshan), membunuh orang lain dengan sengaja dan meninggalkan agamanya dan jamaahnya .
  5. Dalam hadits ini terdapat jawaban bagi kalangan murji’ah yang mengira bahwa iman tidak membutuhkan amal perbuatan.
  6. Tidak mengkafirkan pelaku bid’ah yang menyatakan keesaan Allah dan menjalankan syari’atnya.
  7. Didalamnya terdapat dalil bahwa diterimanya amal yang zhahir dan menghukumi berdasarkan sesuatu yang zhahir sementara yang tersembunyi dilimpahkan kepada Allah.

Do'a

Bila Mendengar Petir Ucapkanlah:

اللهم لا تقتلنا بغضبك، ولا تهلكنا بعذبك وعافنا قبل ذلك

“Allaahumma laa taqtulnaa bighadlabik, walaa tuhliikna bi’adzaabik, wa’aafinaa qabla dzaalik”.

Ya Allah janganlah Engkau membunuh kami karena kemarahanMu, dan janganlah Engkau merusak binasakan kepada kami karena siksaanMu, dan jagalah kami sebelum yang demikian itu.
(H.R. At Turmudzi)

Friday, November 25, 2005

Shalawat

Oleh : Agus Syarif Hidayatullah


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (al-Ahzab, 56).

Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa makna shalawat disini adalah pemberkahan atas Rasulullah SAW. Al-Mubarrad menegaskan bahwa kedudukan shalawat adalah simbol kasih sayang, sedangkan dari Allah merupakan rahmat dan dari malaikat berupa kerendahan diri sekaligus permohonan rahmat dari Allah untuk Nabi akhir zaman, Muhammad SAW.

Oleh karena ayat di atas turun kepada Rasulullah SAW, maka Allah SWT memerintahkan para sahabat Rasulullah agar memberi salam kepadanya semasa hidupnya juga kepada umatnya saat menziarahi kuburannya atau saat nama Rasullullah Muhammad SAW disebut.

Salam mempunyai tiga pengertian :
  1. "Selamat kepada engkau ya Rasulullah" yang berarti keselamatan menyertaimu.
  2. As-Salam melindungimu dan memeliharamu. As-Salam adalah satu diantara nama-nama Allah yang baik (Asma'ul Husna)
  3. Salam yang berarti penyerahan dan ketundukan.

Hukum memberikan shalawat kepada Rasulullah SAW adalah wajib sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah. Menurut Imam Syafi'i yang diwajibkan adalah ketika di dalam shalat (dalam tasyahud akhir) sedangkan lainnya merupakan ibadah sunnah. Imam Malik masih memberi kelonggaran. Apabila tidak mengucapkan shalawat dalam tasyahud maka shalatnya sah, karena itu hanya sunnah saja, walaupun meninggalkankannya adalah tidak bagus.

Baginda Rasulullah SAW mengajari umatnya waktu dan tempat yang terbaik untuk membaca shalawat kepadanya. Saat beliau mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dan tidak bershalawat kepadanya, beliau mengatakan; “secepat itukah!”, lalu beliau bersabda: "apabila salah seorang dari kamu berdoa dan shalat maka ucapkanalah kalimat hamdalah/tahmid kemudian bershalawatlah dan setelah itu berdoalah sesuka hatimu”(HR. Abu Dawud).

Umar ibn Al-Khattab RA berkata, “Doa dan shalat menggantung di antara bumi dan langit. Keduanya tidak akan naik kepada Allah sampai pelakunya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW". ( H.R. Turmudzi).

Ibnu Atha' mengatakan, “Doa mempunyai rukun, sayap, sebab dan waktu. Apabila tercukupi rukunnnya maka kuatlah, apabila kuat sayapnya maka akan terbang keatas langit, apabila tepat waktunya beruntunglah, dan apabila dilakukan sebabnya maka sukseslah. Rukun berdoa adalah kehadiran hati, kerendahan diri, ketenangan, kekhusyukan dan bergantungnya hati kepada Allah SWT. Sedangkan sayap doa adalah kejujuran dan waktunya adalah ketika sahur (sepertiga malam terakhir) dan sebabnya adalah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW".

Di antara waktu sunnahnya bershalawat kepada Rasulullah SAW adalah ketika mendengar namanya disebut, ditulis atau setelah azan berkumandang. Ini sesuai dengan sabdanya, “betapa pelitnya seseorang apabila disebut namaku dan tidak bershalawat kepadaku” (HR. Turmudzi).

Saat memasuki mesjid, seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat lalu dilanjutkan dengan membaca doa masuk mesjid “Allahummagfirli dzunubi, waftah li abwaba rahmatik”: Ya Allah ampunilah dosaku dan bukalah pintu-pintu rahmat-Mu. Juga bershalawat sunnah dilakukan saat melakukan tasyahud (tahiyyat) dalam shalat dan takbir kedua pada shalat janazah. Shalawat juga sudah menjadi kebiasaan umum dilakukan dalam penyampaian khutbah jum'at dan tulisan-tulisan keagamaan. Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa menulis shalawat kepadaku dalam karyanya, tersebutlah malaikat memohonkan ampun selama namaku ada dalam tulisan itu” (HR. Thabrani).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar adzan ucapkanlah apa yang diucapkan muazin (orang yang azan) dan bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali saja maka Allah bersahalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah bagiku, karena itu adalah tempat di surga yang tidak diperuntukan kecuali bagi hamba-hamba Allah dan aku berharap Aku berada disana. Barang siapa yang menjadikanku wasilah, ia akan mendapat syafaat (pertolongan)-ku di hari akhir". (HR. Muslim). Wallahu A’lam bisshawab.

Nomor 14/Edisi IV/Th.I

Do'a

Mohon Keturunan Yang Baik

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين إماما.

"Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa".

Wahai Tuhan kami, berilah kami pendingin mata dari isteri kami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang taqwa.
(Q.S Al Furqaan: 74)

Mintalah Kepadaku

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun . Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

  1. Menegakkan keadilan diantara manusia serta haramnya kezaliman diantara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.
  2. Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.
  3. Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.
  4. Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.
  5. Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.
  6. Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat-Nya dan taufiq-Nya.
  7. Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.
  8. Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa