<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565</id><updated>2011-11-21T16:05:41.967Z</updated><title type='text'>Sayyidul Ayyaam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-684265249688433942</id><published>2008-09-27T17:49:00.002Z</published><updated>2011-03-25T07:42:33.124Z</updated><title type='text'>MERAIH CITA-CITA RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Oleh: Helmi Basri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di saat menjalani kehidupan dunia kita haruslah memiliki sebuah cita-cita. Hidup tanpa cita-cita adalah hidup yang tidak terarah, hidup yang tidak punya prioritas dalam beraktifitas, bahkan hidup yang tidak mampu mengharga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;i makna dari kehidupan itu sendiri. Kalau memang demikian, maka pada hakekatnya perjalanan waktu dalam kehidupan ini hanya merupakan p&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-1ApbGz1sMVk/TYxG8zpvzeI/AAAAAAAAABI/kQF7LOuqYAc/s1600/ramadhan%2Bmubarak.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1ApbGz1sMVk/TYxG8zpvzeI/AAAAAAAAABI/kQF7LOuqYAc/s320/ramadhan%2Bmubarak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587919248131345890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;roses menuju pencapaian cita-cita tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sebagai seorang muslim haruslah memiliki cita-cita yang islami, sebuah cita-cita yang tidak dimonopoli oleh dan untuk kepuasan pribadi serta bersifat sesaat, akan tetapi cita-cita yang selalu berorientasi jauh kedepan serta mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Untuk itu cita-cita kita haruslah religius sekaligus humanis. Cita-cita seperti itulah yang diharapkan dari setiap individu muslim melalui pelaksanaan ibadah Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Cita- Cita Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di dalam al Qur’an terdapat lima ayat secara berurutan yang berbicara secara lengkap tentang ibadah puasa dalam pengertian terminologi Syar’i, yaitu pada surat Al Baqaroh dari ayat 183 sampai ayat 187. Rangkaian ayat-ayat ini merupakan satu-satunya ayat al Qur’an yang berbicara secara lengkap dan terperinci tentang berbagai permasalahan ibadah puasa, mulai dari hukum dan tujuan pelaksanaannya, cara dan batas waktunya, pantang larang yang harus dihindari saat melaksanakannya, serta bagaimana cara mengganti puasa bagi orang yang tidak sanggup mengerjakannya. Siapa yang ingin memahami permasalahan puasa secara utuh maka pahamilah lima ayat tersebut dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Salah satu sisi terpenting dari kandungan lima ayat tersebut adalah muatan cita-cita yang diharapkan dari pelaksanaan ibadah puasa, yang dalam hal ini bisa kita kelompokkan menjadi tiga cita-cita besar, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama: لعلكم تتقون" “ (menjadi insan bertaqwa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sasaran utama yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah melahirkan sosok- sosok pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT. Taqwa adalah upaya untuk selalu membentengi diri dari berbagai bentuk penyimpangan dari aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, agar tidak terjerumus dan terlanjur salah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Taqwa adalah suatu kondisi iman dan semangat spiritual yang harus selalu terpatri dalam jiwa seseorang, agar secara berkesinambungan ia selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap gerak langkah aktifitas yang dilakukannya, sehingga dengannya ia termotivasi untuk tetap taat dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana ia juga akan selalu berusaha untuk menghindari duri-duri di jalan kehidupan. Betapa indahnya perumpamaan yang diberikan oleh Ubay bin Ka’ab ketika beliau ditanya oleh Umar bin Khattab tentang hakikat taqwa. Ketika itu Ubay balik bertanya: “wahai Amirul mukminin, apa yang anda lakukan di saat anda melewati jalan yang penuh duri? Umar manjawab: saya akan meneguhkan pandangan agar langkah kakiku tidak menginjak duri, lalu Ubay berkata: wahai amirulmukminin itulah taqwa.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apabila sifat taqwa itu sudah tumbuh subur dalam jiwa seseorang maka ia akan selalu rela dan senang untuk menerima dan melaksanakan aturan Allah, apapun konsekwensi yang akan dihadapinya, meskipun akan mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai, atas nama cinta kepada Allah dan Rasulnya. Jika itu berhasil ia lakukan, maka saat itu ia sedang merayakan puncak kemenangan spritualnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semangat ketaqwaan seperti itulah yang diciptakan oleh ibadah puasa, karena dengan berpuasa seseorang dituntut untuk selalu dalam suasana jiwa yang dekat kepada Allah SWT, sebagaimana ia dituntut untuk menghargai waktu agar bisa meraih sekecil apapun peluang ibadah, serta menghindari sekecil apapun peluang dosa yang akan bisa mengurangi atau merusak nilai-nilai puasa. Bahkan dari yang mubah sekalipun jika tidak mendatangkan manfaat apa apa. Oleh Karena itulah Rasulullah membahasakan bahwa “puasa adalah sebagai perisai.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua: “لعلكم تشكرون “ ( menjadi insan bersyukur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagaimana yang terdapat pada firman Allah SWT: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“ (QS Al Baqoroh: 185) ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, serta mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu menjadi orang yang bersyukur.&lt;/span&gt; (QS: Al Baqaroh: 185). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ini adalah cita-cita kedua yang diharapkan dari pelaksanaan ibadah puasa, karena puasa akan selalu menggiring seorang muslim untuk selalu ingat kepada Allah dalam setiap detik waktu, dengan meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah siang dan malam dengan cara sholat, baca alquran, tasbih, istigfar dan lain sebagainya. Sebagaimana ibadah puasa akan mengajak seseorang untuk bersimpuh mengakui sekaligus mensyukuri nikmat dan karunia yang datang dari Allah SWT. Pengakuan dan rasa syukur tersebut sangatlah penting adanya, karena apabila seseorang telah mau mensyukuri dan mengakui bahwa apa yang didapatkan nya adalah karunia dari Allah, maka ia akan selalu berusaha menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepadaNya, bukan untuk maksiat atau pembangkangan terhadap hukum dan aturan Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Jika seseorang sudah mampu untuk selalu zikir dan syukur, apalagi jika hal itu sudah menjadi bagian yang tak terpisah dari diri dan kehidupannya, maka itu adalah indikasi dari emosional yang terkendali, sehingga dengannya ia akan selalu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan tenang dan percaya diri, dan itu adalah puncak kemenangan emosional. Bandingkan dengan seseorang yang selalu lupa kepada Allah serta tidak mau bersyukur terhadap karunia yang didapatkannya dari Allah, maka ia akan selalu dihimpit oleh berbagai problem kehidupan, khususnya problem kejiwaan yang tak jarang mereka selesaikan dengan cara mereka sendiri. Ada yang dengan cara bunuh diri, ada lagi dengan cara menelan obat-obat atau pil yang mereka anggap akan mampu menenangkan jiwa mereka, dan lain sebagainya. Maka ibadah puasa akan selalu berusaha untuk menutup rapat-rapat pintu yang akan membawa seseorang menuju kekacauan emosional dengan cara zikir dan syukur tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dengan zikir dan syukur ini jugalah seseorang akan mampu menghargai orang lain seperti menghargai dirinya sendiri, dan menilai segala sesuatu secara profesional dan proporsional. Karena ia telah menyadari bahwa segalanya sudah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Sehingga dengannya kelebihan yang ia miliki tidak serta merta menyebabkan dia sombong, sebaliknya kekurangan yang ada pada dirinya juga tidak akan menyebabkan dia merasa minder, karena pada hakikatnya semuanya sama di hadapan Allah dalam hal hak dan kewajiban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rasa syukur yang dibangun oleh ibadah puasa mengajak kita untuk tidak sibuk menilai sisi kelebihan dan kekurangan tersebut. Justru yang ada adalah ajakan untuk merasa satu atau memiliki satu perasaan. Inilah salah satu dari rahasianya kenapa zakat fitrah itu diwajibkan kepada semua orang, yang miskin sekalipun. Supaya semua kita pernah merasakan nikmatnya memberi, minimal sekali dalam setahun. Inilah salah satu bentuk didikan yang kita dapatkan dari ibadah puasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketiga: " لعلهم يرشدون" ( menjadi insan cerdas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara rangkaian ayat-ayat puasa itu adalah firman Allah SWT yang berbunyi: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ( QS Al Baqoroh: 186) "...فليسجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون "   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Artinya: hendaklah mereka mereka memenuhi sagala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, supaya mereka selalu (cerdas) berada dalam kebenaran. (QS Al Baqoroh: 186).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ini adalah harapan lain yang ingin dicapai dengan melaksanakan puasa, yang akan melengkapi dua cita-cita sebelumnya, yaitu membangun kecerdasan intelektual (al rusyd). Cerdas intelektual adalah salah satu sifat positif yang harus dimiliki oleh setiap individu muslim, karena ia akan memberikan keseimbangan pada diri, pemikiran, perasaan dan naluri. Sebagaimana ia akan menjauhkan kita dari fenomena jati diri yang kabur dan tak berkepribadian yang jelas, yang cendrung tak berbobot lagi egois.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Namun ada satu hal harus kita pahami, bahwa terminologi kecerdasan intelektual dalam Islam tidak mesti berbanding sama dengan teori kecerdasan yang dipahami oleh banyak orang. Selama ini, banyak orang yang mengukur kecerdasan lewat pencapaian- pencapaian angka dalam batas tertentu. Sehingga seorang anak dikatakan cerdas apabila nilai rata-ratanya di sekolah sembilan atau sepuluh. Seorang mahasiswa dianggap cerdas ketika ia sudah mampu menghafal banyak diktat perkuliahannya, begitu seterusnya. Sementara di dalam Islam kesuksesan dan kecerdasan diukur secara proporsional antara kwalitas dan kwantitas. Kecerdasan ada pada mereka yang menempatkan ilmu di hati bukan sekedar di lidah dan retorika saat berdiskusi. Inilah makna ayat di atas bahwa kecerdasan (al rusyd) ada pada mereka yang istijabah dan selalu memupuk keimanan. Dengan demikian seoarang anak dianggap cerdas bukan semata-mata karena ia telah meraih angka 9 atau 10, akan tetapi diukur sejauh mana pelajaran–pelajaran itu berpengaruh positif dalam kehidupannya. Seorang dianggap cerdas bukan sekedar sudah mengetahui bahwa 1 kg itu sama dengan 10 ons, akan tetapi dianggap cerdas ketika pengetahuan itu diterapkannya di saat ia menjadi seorang pedagang. Sistem pendidikan seperti inilah yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, sehingga beliau memutuskan untuk mengirim Mush’ab bin `Umair menjadi duta dakwah ke Madinah, padahal Mush’ab ketika itu bukanlah orang yang paling banyak hafalan al Qur’annya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kecerdasan intelektual dalam perspektif Islam ditandai dengan apabila: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Selalu bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Selalu mempertimbangkan antara manfaat dan mudharat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Selalu mengerti akan hak dan kewajiban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kecerdasan seperti inilah yang selalu ingin dibina oleh ibadah puasa pada setiap pribadi muslim. Karenanya, puasa selalu menuntut kita untuk selalu hati-hati dalam bertindak, bersikap dan berucap, agar tidak menodai nilai-nilai puasa yang sedang dikerjakan. Kalau tidak bisa maka seseorang tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya selain menahan lapar dan haus saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Inilah tiga cita-cita besar yang diharapkan terwujud secara nyata dalam setiap pribadi muslim melalui pelaksanaan ibadah puasa. Sebagai seorang muslim yang setiap tahun melaksanakan ibadah Ramadhan, harus selalu menginstropeksi dirinya di setiap penghujung hari Ramadhan, agar ia tahu sudah sejauh mana cita-cita dan harapan dari puasa (kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual) itu sudah berhasil diraih. Intropeksi itu menjadi penting untuk dilakukan agar Ramadhan tidak menjadi sebatas rutinitas tahunan. Wallahua’lam bish Showaab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-684265249688433942?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/684265249688433942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=684265249688433942' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/684265249688433942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/684265249688433942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/09/meraih-cita-cita-ramadhan.html' title='MERAIH CITA-CITA RAMADHAN'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1ApbGz1sMVk/TYxG8zpvzeI/AAAAAAAAABI/kQF7LOuqYAc/s72-c/ramadhan%2Bmubarak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-5337643458111849021</id><published>2008-08-22T12:27:00.000+01:00</published><updated>2008-08-24T12:35:31.969+01:00</updated><title type='text'>DI AMBANG PINTU SORGA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Helmi Basri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan salah seorang sahabat yang bernama Abu Umamah datang kepada  Rosulullah s.a.w lalu bertanya: “ &lt;em&gt;wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila saya kerjakan saya akan masuk sorga, Rosulullah s.a.w menjawab: lakukanlah ibadah puasa karena ibadah puasa tidak ada yang bisa menandinginya&lt;/em&gt;”(al-hadits).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita cermati petikan riwayat di atas dengan baik maka akan kita dapati Rosulullah s.a.w sedang menggambarkan betapa besarnya hikmah dan kebaikan yang terkandung di dalam ibadah puasa. Penggambaran tersebut bukan hanya untuk Abu Umamah , akan tetapi juga untuk semua umatnya. Bagi kita umat Islam hari ini riwayat di atas akan sangat berarti untuk diingat dan direnungkan kembali, mengingat kita sekarang berada di penghujung bulan sya’ban, untuk kemudian menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Sebuah bulan yang jauh berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, ia bagaikan bonus kehidupan, karena detik- detik waktunya serta kebaikan yang dilakukan di dalamnya selalu dihitung berkelipatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Puasa yang dalam bahasa rosul pada riwayat di atas adalah sebuah ibadah yang tiada tandingannya ( &lt;em&gt;la matsiila lahu&lt;/em&gt;) dan akan berhadiah sorga. Dengan demikian sangantlah tepat untuk dikatakan bahwa kita sekarang sedang berada di ambang pintu sorga. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita akan terhanti sampai di depan pintunya saja, ataukah kita akan menjadi bagian dari hamba Allah yang dikaruniakannya untuk langsung melangkahkan kaki memasuki sorga tersebut?. Jawabannya ada pada keseriusan kita dalam memanfaatkan celah- celah kebaikan dan peluang pahala dalam rangka meraih keampunan Allah s.w.t selama menjalani ibadah Ramadhan nantinya. Oleh karena itu tekadkan mulai dari sekarang bahwa Ramadhan kali ini harus betul-betul akan bermakna dan membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi kehidupan kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini manusia akan terbagi kedalam dua kelompok besar yaitu: kelompok yang benar-benar menjalani ibadah Ramadhan dengan penuh semangat dan keimanan, sehingga ia tak berminat untuk mengabaikan setiap peluang kebaikan yang ada. Setiap detik dari waktunya selalu diisi dengan pendekatan diri kepada Allah s.w.t, siangnya diisi dengan berpuasa, sedangkan malamnya dihidupkan dengan sholat, baca alQuran, zikir serta memohon keampunan kepada Allah dari segala noda dan dosa. Orang-orang inilah yang dikatakan oleh Rosul dalam sebuah ungkapannya:  “&lt;em&gt;siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu&lt;/em&gt;” (HR Bukhori). Juga dalam ungkapan yang lain beliau katakan: &lt;em&gt;“ siapa saja yang menghidupkan malam Ramadham dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampuni dosa-dosanya yang  telah lalu&lt;/em&gt;” (HR Bukhori dan Muslim).  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi adalagi kelompok kedua yaitu golongan yang Ramadhannya hanya sekedar menahan lapar dan haus, puasanya tidak mendatangkan keberkahan serta tidak mampu untuk menggiring dia ke dalam sorga Allah. Dalam sebuah riwayat Rosul berkata: “&lt;em&gt;berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar dan haus&lt;/em&gt;” (HR Ibnu Majah). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung, ia bagaikan seorang tamu agung yang akan mengunjungi kita. Coba kita bayangkan apa yang akan kita lakukan di saat kita tau ada tamu besar –katakanlah pejabat tinggi seperti gubernur, walikota dan lain sebagainya- akan berkunjung ke rumah kita atau ke daerah kita, pastilah persiapannya akan sangat maksimal, bahkan jauh sebelum kedatangannya persiapan itu sudah dimulai. Sekarang Ramadhan yang akan menghampiri kita jauh lebih mulia dari semua itu, karena kemuliaan Ramadhan adalah kemuliaan yang tanpa cacat, keagungannya datang dari yang maha agung.  Alangkah bahagianya ketika Allah SWT masih memilih kita untuk menikmati indahnya keberkahan Ramadhan kali ini, karena dengan demikian berarti Allah masih memberikan kepada kita kesempatan untuk membersihkan diri.  Dalam sebuah riwayat dikatakan: “&lt;em&gt;dari Jum’at ke jum’at berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya bisa menghapus dosa&lt;/em&gt;”(al-hadits). Tentu saja dosa itu tidak akan terhapus secara otomatis begitu saja, akan tetapi haruslah dengan usaha.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya alangkah meruginya orang-orang yang telah dipanjangkan umurnya sampai memasuki bulan Ramadhan tetapi pancaran sinar Ramadhan tak berarti apa- apa bagi kehidupan mereka. Rosul mengatakan orang seperti itu termasuk kedalam kelompok orang-orang yang celaka dan telah jauh dari rahmat Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang bisa diadikan alasan bahwa kesuksesan seseorang dalam mengisi Ramadhan akan berhadiah sorga. Alasan itu antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama: ibadah ramadhan akan membersihkan hati dan jiwa dari sifat sombong, hasad, iri dan lain sebagainya. Bukankah di antara tujuan puasa adalah untuk memupuk sifat taqwa (la’allakum tattaquun)? , sedangkan taqwa sebagaimana yang dikatakan rosul ada pada hati, artinya bersih tidaknya hati seseorang adalah menjadi standar ketaqwaannya. Premisnya adalah jika Ramadhan akan memupuk ketaqwaan sementara taqwa itu fokusnya pada hati maka konklusinya adalah Ramadhan akan membersihkan hati dan jiwa seseorang. Dan siapa yang hatinya selamat dari penyakit itu maka ia adalah penghuni sorga. Kesimpulan ini ditarik dari sebuah kisah salah seorang sahabat yang dijamin masuk sorga, tiga  kali ungkapan jaminan itu terucap oleh rosul untuk beliau, ternyata setelah di deteksi oleh ibnu umar orang tersebut bukanlah termasuk orang yang banyak sholat dan sedekahnya, dia adalah orang biasa-biasa saja, bahkan namanya pun tak tersohor di kalangan para sahabat. hanya saja ada satu hal yang beliau miliki bahwa hatinya selalu bersih dari rasa hasad, iri dan dengki.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua:  ibadah Ramadhan akan selalu mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Di saat melaksanakan ibadah puasa kita akan merasakan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang lebih, terkadang banyak hal-hal yang kita malu mengerjakannya di depan orang banyak, tapi kalau sudah sendiri perasaan malu itu bisa hilang, kecuali dalam Ramadhan. Meskipun kita dalam keadaan sendiri namun hal itu tetap tidak kita lakukan karena kita tau bahwa kita sedang berpuasa. Orang seperti itu berarti ia sedang dekat dengan Allah. Dan siapa saja jika ia semakin merasa dekat dengan Allah maka ia akan semakin jauh dari kemaksiatan, dan apabila seseorang sudah jauh dari yang berbau maksiat maka berarti ia semakin dekat dengan sorga. Dalam penggalan sebuah hadits qudsi dikatakan: “&lt;em&gt;siapa yang berusaha mendekati Allah dengan berjalan maka Allah akan mendekatinya dengan berlari,dan siapa yang mendekati Allah dengan jarak sehasta, maka Allah akan mendekatinya dengan sejengkal&lt;/em&gt;”. Begitulah adanya, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan niscaya Allah akan membalasnya dengan kebikan yang lebih besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: pada hakekatnya puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi puasa yang sesungguhnya adalah mempuasakan seluruh anggota tubuh dari bentuk-bentuk kemaksiatannya masing-masing. Ibnul qoyim mengistilahkan dengan shiyamul jawarih. Lidah harus berpuasa dari berbohong dan ghibah, tangan harus dipuasakan dari mengambil yang bukan haknya, akal fikiran juga harus dipuasakan dari berfikiran yang negatif dan lain sebagainya. Kalau tidak berarti ia baru sekedar menahan lapar dan haus. Dalam sebuah hadis Rosul bersabda: “&lt;em&gt;barang siapa yang tidak menahan diri dari berdusta maka sedikitpun Allah tidak sudi menerima puasanya, meskipun ia menahan diri dari makan dan minum&lt;/em&gt;” (HR. Bukhori). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah keagungan ramadhan yang apabila dicermati baik-baik maka wajar prestasi yang diraih dengannya akan meraih reward sorga. Tentunya kita berharap semoga Ramadhan kali ini benar-benar mampu kita manfaatkan sebaik-baiknya dalam merobah diri kepada yang lebih baik, serta mendapat reward yang dijanjikan. &lt;em&gt;Wallahu waliyyuttaufiq&lt;/em&gt;!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-5337643458111849021?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/5337643458111849021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=5337643458111849021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5337643458111849021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5337643458111849021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/08/di-ambang-pintu-sorga.html' title='DI AMBANG PINTU SORGA'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-4815019183008971023</id><published>2008-05-29T12:44:00.000Z</published><updated>2008-05-29T12:53:36.332Z</updated><title type='text'>DON’T CRY OVER SPILT MILK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Oleh: Yulima Ozeni Yusnita S.Ag&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Jangan disesali apa yang telah terjadi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;itulah kira-kira arti ungkapan di atas. Apa yang telah terjadi tak perlu disesali karena sudah terlanjur terjadi, kita tak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; pernah bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Kita takkan pernah bisa mengembalikan waktu muda kita, semuanya sudah berlalu hanya tinggal kenangan baik ataupun buruk. Karena salah satu sifat waktu menurut DR.Yusuf Qardhawi adalah bila sudah berlalu,tak kan pernah bisa kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Betapa berharganya waktu! sampai Allah banyak bersumpah dengan waktu di dalam Al-Qur’an. Ini bisa kita lihat di dalam surat Al-Lail ayat 1-2, surat Adh-Dhuha ayat 1-2, surat Al-Fajr ayat 1-2, surat Asy-Syams ayat 1-2, surat Al-Ashr ayat 1 dan surat Al-Insyiqaq ayat 16. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Waktu adalah nikmat Allah yang termahal yang diberikan kepada kita. Di dalam seluruh ritual Islam juga banyak berhubungan dengan waktu seperti sholat,puasa, zakat ataupun haji harus dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh Allah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Waktu, adalah kekayaan berharga yang diberikan Allah kepada kita. Bukankah pepatah Inggris mengatakan time is money, dan orang Arab mengatakan al-waktu kassaif in lam taqthaqhu qathaaka (Waktu itu seperti pedang, Jika anda tidak memakainya untuk memotong, dia akan memotong anda). Betapa banyak orang yang menyesali waktu muda mereka ketika sudah tua. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sebuah cerita tentang seorang bapak tua yang menangis ketika masuk mesjid, dia melihat beberapa anak muda di dalamnya. Ketika ditanya mengapa dia menangis,dia mengaku selama ini tidak terbiasa shalat di mesjid kecuali setelah berusia lanjut. Ketika dia melihat mereka yang masih muda, dia menyesali telah menyia-nyiakan umurnya. Syukurlah si bapak tua bukan hanya menyesali,tapi dia mau berbuat meskipun terlambat untuk mengejar ketinggalannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Hasan Al-Bashri, seorang tabiin setiap terjaga dari tidurnya di pagi hari, dia akan menyeru: “Hai manusia,aku adalah harimu yang baru yang menjadi saksi atas perbuatanmu. Pergunakanlah dengan baik dan jadikanlah bekalmu. Sebab bila aku telah pergi,aku tidak akan pernah kembali hingga hari kiamat.”&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Betapa mulianya agama kita yang mengajarkan pemeluknya untuk menghargai waktu, sayang banyak sekali yang menyia-yiakannya. Mereka hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe, atau menghabiskan waktu dengan percuma. Mari renungkan hadits Rasulullah Saw &lt;i&gt;“Pada hari kiamat tidak seorangpun hamba yang diprkenankan meninggalkan posisinya kecuali setelah ditanya tentang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; perkara. Tentang penggunaan umurnya, masa mudanya, kekayaannya darimana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan dan apa yang ia lakukan terhadap ilmunya.”&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(HR. At-Tirmidzi : 2416) &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kita lihat bagaimana generasi terdahulu begitu menghargai waktu. Banyak dari mereka yang berumur singkat, tapi diabadikan sejarah hingga ratusan tahun. Usamah bin Zaid memimpin pasukan muslimin ketika masih berusia 16 tahun. Muhammad Al-Fatih berusia 23 tahun sudah berhasil menaklukan konstantinopel yang mempunyai pertahanan yang sangat kuat. Kemudian Sa’d bin Mu’adz yang memeluk Islam diumur 30 tahun kemudian wafat di umur 37 tahun, dengan waktu 7 tahun begitu banyak sumbangsih yang diberikan untuk Islam, sampai ketika dia meninggal Rasulullah berkata ”&lt;i&gt;Arsy bergetar sebab kematian Sa’d bin Mu’adz” &lt;/i&gt;(HR.Muslim:6295). Imam An-Nawawi,pengarang kitab “Riyad Ash-Shalihin” meninggal saat berusia 40 tahun dan belum sempat menikah sebab kesibukannya dengan ilmu. Dia telah mengarang 500 buah buku. Sedang Ibnu ‘Aqil telah menulis buku besar “Al-Funun” dengan jumlah 800 jilid, Ibnu Rajab telah menulis lebih dari 2.000 jilid buku, yang bila dibagi seluruh karyanya dengan usianya, ternyata Ibnu Rajab menulis 9 buah buku perharinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menyisihkan waktu kita untuk beramal sholeh dan memberikan sumbangsih untuk Islam? Saat ini kita sedang berlomba dengan waktu untuk mengumpulkan bekal dengan berbuat kebaikan. Simaklah hadits Rasulullah Saw : &lt;i&gt;“ Bersegeralah melakukan aktivitas kebajikan sebelum dihadapkan pada tujuh rintangan. Akankah kalian menunggu kefakiran yang menyusahkan, kekayaan yang melupakan, penyakit yang menggerogoti, penuaan yang menidak mampukan, kematian yang niscaya, ataukah dajjal, kejahatan terburuk yang pasti datang atau bahkan kiamat yang amat dahsyat?”&lt;/i&gt;(HR.At-Tirmidzi)&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Semua yang disebutkan Rasulullah dalam hadits di atas sudah pasti akan datang. Jangan sampai kita hanya menyesali, karena sesalan takkan berguna. Don’t cry over spilt milk! Karena setiap kita akan mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“&lt;i&gt;demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. AL-Asr:1-3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=""&gt;Wallahu’A’lam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-4815019183008971023?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/4815019183008971023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=4815019183008971023' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/4815019183008971023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/4815019183008971023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/05/dont-cry-over-spilt-milk.html' title='DON’T CRY OVER SPILT MILK'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-5906048660849342424</id><published>2008-05-16T12:33:00.001Z</published><updated>2008-05-29T13:55:18.337Z</updated><title type='text'>NYAMAN</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN"&gt;Oleh: Asep Sutisna&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"  style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Ketika jamuan resepsi pernikahan Putri sulungnya, alm Raja Hassan II berbisik lirih di telinga menantunya "jangan kecewakan putriku, kalau tidak kamu yang kecewa", jawaban sang menantu malam itu hanya menganggukan kepala sebagai tanda persetujuannya, dan selanjutnya resepsi pernikahan putri Lala Maryam dan Fouad Filali berlangsung meriah dan berakhir bahagia sampai dikaruniai dua orang anak, Lala Soukaina dan Maulay Idris. Namun, di tahun 1999 tepat pada tahun meninggalnya sang ayah pernikahan antara keduanya pun berakhir. beragam spekulasi muncul waktu itu, semua media masa di Maroko menyoroti perceraian elit itu, dan yang paling mengesankan saya adalah ungkapan pendek Fouad Filali di majalah al Ayyaam "Pernikahan adalah kesepakatan rasa nyaman dua insan untuk terus bersama".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tahun lalu, sebulan setelah tamat kuliah, salah seorang rekan saya menelpon, dengan semangat sekali ia mengabarkan berita kalau dia sudah diterima kerja di Departemen Pertahanan Maroko. Chimo -begitu biasa saya panggil dia- dengan senang hati menceritakan semua proses yang dilaluinya sampai ia diterima, dari mulai pendaftaran dan mengikuti tes tulis, tes lisan dan uji fisik sampai mengucurkan dana sebanyak 20 ribu dirham untuk memuluskan langkahnya, dan alhamdulilah ungkapnya dia sekarang sudah ditugaskan menjaga istana raja di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ifrane dengan gaji yang cukup besar. Namun, sebulan yang lalu dia kembali menelpon saya, dengan lemas dia mengatakan kalau dia sudah berhenti, ketika saya tanya kenapa, dia hanya menjawab pendek, "istri saya tidak nyaman dengan pekerjaan saya".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Mungkin bila kita lihat selintas pengalaman di atas terkesan sedikit &lt;i&gt;klise&lt;/i&gt;, dan terlalu sulit untuk mendapatkan kepastian sebab musababnya, hanya tidak bisa dipungkiri akan letak peran rasa nyamannya si tokoh adalah sebabnya. Meskipun sebenarnya kita sendiri sering terjebak dalam situasi dan kondisi yang tidak nyaman seperti itu, baik di rumah, di sekolah di pasar atau di kantor. Karena nyaman adalah sebuah kondisi dimana kita bisa beradaptasi dengan lingkungan kita dengan baik. Dan timbul dari diri kita sendiri setelah berinteraksi dengan lingkungan kita sampai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuat kita mampu bertahan lebih lama di dalamnya .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bila dihubungkan kembali kepada kehidupan berkeluarga, maka kata &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt;-lah yang tepat untuk menggambarkan arti sebuah kenyamanan, karena istilah &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; digunakan al Qur'an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Kata &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; diambil dari akar kata yang sama dengan kata &lt;i&gt;sakanun&lt;/i&gt; yang berarti tempat tinggal, sekaligus merupakan tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana nyaman dan tenang &lt;i&gt;(mawadah wa rahmah).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sehubungan dengan kata &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; tersebut, beberapa ayat al Quran yang ditafsirkan mengandung kata nyaman, pertama &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; al Baqarah ayat 248:&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:11;" lang="AR-SA" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آَيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آَلُ مُوسَى وَآَلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, "sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;tabut&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kepadamu, yang di dalmnya terdapat ketenangan (sakinah) dari Tuhanmu dan sisa peninggalan dari keluarga Musa dan Harun, yang dibawa oleh malaikat, sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran allah) bagimu, jika kamu orang yang beriman.&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:10;color:black;"  lang="EN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tabut&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt; adalah peti tempat menyimpan Taurat, ayat tersebut menggambarkan di dalam peti tersebut terdapat ketenangan (sakinah) yang berarti tempat yang nyaman, tenang, aman dan kondusif untuk menyimpan sesuatu, termasuk dapat diartikan tempat tinggal yang tenang bagi manusia. Kedua dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; al Fath ayat 4 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:11;" lang="AR-SA" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;هُوَ الَّذِي&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;أَنْزَلَ السَّكِينَة فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;عَلِيمًا حكيما.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt; Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi dan dialah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-style: italic;" lang="FR"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-size:10;color:black;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;/span&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di sini, &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; adalah rasa ketenangan yang sengaja Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin, ketenangan tersebut merupakan suasana psikologis yang melekat pada setiap orang yang mampu melakukannya, dan suasana batin yang hanya bisa diciptakan sendiri. Tidak ada jaminan buat seseorang yang mampu menciptakan suasana tenang bagi orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Untuk itu di mana pun kita berada, membangun sebuah kenyamanan tetap dimulai dari diri kita terlebih dahulu, yang nantinya kenyamanan bersama akan terasa dari beberapa individu yang telah mendapatkannya, sehingga terpancar suasana yang indah sekaligus membuat kita betah, baik di rumah atau di manapun kita berada. kebersamaan keluarga akan muncul menjadi nilai yang menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan yang lebih luas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketiga dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ar Rum ayat 21:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan di antara tanda-tanda kebesarannya-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Ar Rum:21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebenarnya, Ayat ini bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah SWT, dan kekuasaan-Nya. Dari mulai penciptaan langit dan bumi sampai diciptakan manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi kesinambungan hidup yang membawa kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merasa tentram menjalaninya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kata &lt;i&gt;litaskunuu ilaihaa&lt;/i&gt;, dalam ayat tersebut dapat diartikan agar kau berteduh -wahai para suami- kepada istrimu. Kata &lt;i&gt;litaskunuu&lt;/i&gt; diambil dari kata &lt;i&gt;sakana yaskunu&lt;/i&gt; yang artinya berdiam atau berteduh. Seperti di atas tadi kata &lt;i&gt;sakana&lt;/i&gt; ini merupakan akar kata untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; (nyaman). Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang dan nyaman, namun pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar nyaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Syaikh Ibn Asyur dalam tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata &lt;i&gt;litaskunuu&lt;/i&gt; dengan tiga makna:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, &lt;i&gt;lita’lafuu&lt;/i&gt; artinya agar kamu saling mengikat hati, seperti uangkapan &lt;i&gt;ta’liiful quluub&lt;/i&gt;. Dalam surah Al Anfal: 63 Allah berfirman: &lt;i&gt;wa allafa baina quluubihim&lt;/i&gt; (&lt;b&gt;Dialah Allah yang telah mempersatukan hati di antara mereka&lt;/b&gt;). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, &lt;i&gt;Tamiiluu ilaihaa&lt;/i&gt; artinya kau condong kepadanya. Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti akan terjadi keterpaksaan dan ketidak harmonisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, &lt;i&gt;Tathma’innuu biha&lt;/i&gt; artinya kau merasa tenang dengannya. Dalam surah Ar Ra’d:28 Allah berfirman: &lt;i&gt;alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub&lt;/i&gt; (&lt;b&gt;Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram&lt;/b&gt;). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tentunya memang hal yang paling menyenangkan dan memberi kenyamanan jika kita bisa sama-sama saling mengajak sesama untuk mengingat Allah. Dan tidak luput mengakhiri tulisan ini, saya pun ingin mengajak pembaca yang sudah berkeluarga untuk tidak lupa mambaca do’a yang diambil dari hadits ini agar nyaman bersenggama:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;”&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    Dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;“&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau salah seorang hendak mendatangi istrinya- hendaknya ia berdoa,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;em&gt; ‘&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkan syetan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami.’ Karena jika ditakdirkan antara keduanya seorang anak, maka anak tersebut tidak akan dicelakakan oleh syetan selama-lamanya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-5906048660849342424?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/5906048660849342424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=5906048660849342424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5906048660849342424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5906048660849342424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/05/nyaman.html' title='NYAMAN'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-5669179085151194784</id><published>2008-05-12T23:06:00.002Z</published><updated>2011-03-25T07:48:08.439Z</updated><title type='text'>WANITA CANTIK DAN SHOLEHAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pm0SMF4Ggok/TYxIkq_-_dI/AAAAAAAAABQ/z_NZxgZTXfM/s1600/wanita%252Bsolehah.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pm0SMF4Ggok/TYxIkq_-_dI/AAAAAAAAABQ/z_NZxgZTXfM/s320/wanita%252Bsolehah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587921032515091922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Mengenang hari Kartini)&lt;br /&gt;Oleh : Yulima Ozeni Yusnita S.Ag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.” (HR. Ibnu Majah) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap tanggal 21 April di setiap daerah di Indonesia, di kantor-kantor ataupun sekolah-sekolah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan perlombaan untuk memperingati hari Kartini, salah seorang pejuang nasional pembebas kaum wanita.Mulai dari anak-anak sampai perlombaan untuk orang dewasa. Peragaan busana kebaya lengkap dengan konde di kepala, sambil berlenggang-lenggok di atas pentas, mereka bergaya bak Kartini muda.Itu diantara perlombaan yang kerap diadakan. Kartini sebagai pahlawan yang memperjuangkan emansipasi wanita,memperjuangkan bagaimana wanita bisa bebas dari kebodohan, punya hak yang sama dalam pendidikan. Ini semua bisa dengan tuntas kita baca dalam kumpulan surat-surat Kartini kepada kawannya,yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap terbitlah terang”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang dilakukan oleh Kartini,ia sebenarnya hanya sedikit meneruskan apa yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad Saw belasan abad yang silam. Wanita di masa sebelum Islam hanya menjadi budak pemuas nafsu, dijajah, dihina dan disamakan dengan syetan (karena telah ikut membujuk Adam untuk memakan buah khuldi sehingga mereka dikeluarkan dari syurga oleh Allah SWT). Wanita tidak mendapat haknya, malah disamakan dengan barang sehingga bisa diwariskan dan diperjual belikan. Di tanah Arab, sang ayah akan malu bila istrinya melahirkan anak perempuan, sehingga mereka akan tega mengubur anaknya hidup-hidup. Lalu ketika agama Islam datang yang dibawa oleh manusia pilihan Nabi Muhammad, kedudukan wanita diangkat dan dimuliakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa kita kita lihat dalam beberapa haditsnya : “ Sesungguhnya Allah mengharamkan padamu durhaka kepada ibu dan mengubur hidup-hidup anak perempuan.” (HR Bukhari) “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw sambil bertanya: Ya Rasulullah,siapa gerangan yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Beliau menjawab: ibumu. Ia bertanya lagi, lalu siapa? Beliau menjawab: ibumu. Ia bertanya lagi, lalu siapa?Beliau menjawab: ibumu. Ia bertanya lagi lalu siapa? Beliau menjawab: bapakmu.” (HR.Bukhari dari Ab Hurairah) “Sesungguhnya syurga itu di bawah kedua kaki ibu.” (HR.An-Nasa’I dari Mu’awiyah bin Jahimah Al-Salami)&lt;br /&gt;Kemudian di dalam Al-Qur’an, Allah membuat khusus dalam salah satu surah-Nya yaitu surat An-Nisa’, yang memuat diantaranya tentang pembagian warisan yang menjadi hak wanita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah! Betapa agungnya Islam yang memuliakan wanita, saudara kandung laki-laki. Wanita diberikan hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam beribadah kepada Allah dan beramal sholeh, sehingga dijanjikan pahala yang sama-sama dengan laki-laki yang juga bertakwa dan beramal sholeh. “Siapa yang melakukan perbuatan yang baik, dari laki-laki dan wanita, dan dia itu beriman, niscaya Kami akan memberinya kehidupan yang baik, dan akan Kami balas mereka dengan pahala yang baik sebaik apa yang pernah mereka lakukan.” (QS.An-Nahl:97) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wanita di masa Rasulullah juga ikut dalam majelis ilmu yang diadakan oleh Rasulullah. Mereka tidak segan-segan juga bertanya tentang permasalahan agama yang tidak mereka pahami. Begitulah posisi wanita yang telah diangkat dan dimuliakan oleh Islam. Apapun posisi dan kedudukan seorang wanita dalam pekerjaannya jangan sampai membuat fitrah kewanitaannya berkurang. Emansipasi yang digaungkan oleh yang bukan Islam, banyak membuat wanita kehilangan fitrah dan jati dirinya. Karena bagaimanapun seorang wanita sebagai seorang hamba Allah, dia punya hak dan kewajiban kepada Allah. Wanita juga ketika sebagai seorang istri, walaupun ketika dia bekerja, gaji atau posisinya lebih tinggi dari suaminya,tidaklah membuat wanita berubah menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Dia tetap harus memenuhi hak dan kewajiban sebagai seorang istri. Karena bagaimanapun kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan kaum laki-laki terhadap kaum wanita (baca selengkapnya di QS.An-Nisa’ ayat 34). Wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya juga adalah seorang ibu bagi anak-anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah perhiasan dunia, yang indah, menyilaukan dan melenakan siapapun yang melihatnya. Siapapun ingin menjadi wanita cantik yang mempesona. Sehingga banyak yang merubah penampilan aslinya. Yang kulit hitam berusaha memutihkan kulitnya dengan kosmetik pemutih, yang pesek ingin mancung, yang gemuk melangsingkan tubuhnya dan sebagainya. Karena dalam dunia iklan digambarkan yang cantik itu hanya yang berkulit putih, rambut digerai,tubuh semampai dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan wanita yang diberi Allah kulit yang hitam atau yang gemuk atau yang wajahnya biasa-biasa saja? tak pantaskah ia diperhatikan? Tentulah tidak! Karena kecantikan bukan hanya yang terpancar secara lahir saja, kecantikan yang sebenarnya apa yang terpancar dari dalam batin seorang wanita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana caranya agar seorang wanita bisa cantik batinnya? Yang pertama : Harus mempunyai keimanan yang tinggi kepada Allah. Berusaha untuk selalu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wanita yang senantiasa mencuci mukanya dengan air wudhu’ dan selalu memakai pakaian taqwa. Kedua : Mempunyai sifat sabar, penyayang dan mempunyai sifat malu Ketiga : Mempunyai kecerdasan bukan hanya IQ tapi juga kecerdasan Spritual dan kecerdasan Emosional. Yang Keempat: Wanita yang selalu menjaga kehormatan dirinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memperingati hari Kartini tidaklah salah, namun jangan sampai setiap tahun kita hanya memperingati tanpa kesan untuk meneladani semangat Kartini. Menjadi wanita yang cantik lahir batin juga sholehah harus menjadi cita-cita setiap wanita. Karena wanita adalah tiang Negara, bila baik wanitanya maka baiklah bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroko, Musim semi 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-5669179085151194784?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/5669179085151194784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=5669179085151194784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5669179085151194784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5669179085151194784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/05/wanita-cantik-dan-sholehah.html' title='WANITA CANTIK DAN SHOLEHAH'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pm0SMF4Ggok/TYxIkq_-_dI/AAAAAAAAABQ/z_NZxgZTXfM/s72-c/wanita%252Bsolehah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-2697512734212040599</id><published>2008-04-18T15:32:00.000Z</published><updated>2008-04-18T15:46:50.764Z</updated><title type='text'>Berdoalah….!!!</title><content type='html'>Oleh: Fauzan Adzim Fauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Allah berfirman dalam al Qur`an:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ... غافر: 60&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan&lt;/em&gt;…" (Ghafir 60).&lt;br /&gt;Banyak ayat-ayat dalam al-Qur`an yang memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah SWT. Karena secara naluri, ketika seseorang mengenali dengan sesungguhnya akan kelemahan dirinya, dan menyadari serta meyakini akan adanya Dzat yang Maha Kuasa, maka ia tidak akan segan-segan untuk selalu meminta dan berdoa kepada Dzat yang Maha Kuasa tersebut. Justru sebaliknya, sangat sombong ketika ada seseorang yang enggan bahkan tidak pernah menengadahkan tangannya untuk meminta dan berdoa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang mukmin berdoa, maka doanya tidak akan pernah sia-sia dan pasti akan dikabulkan, sebagaimana janji Allah yang disebutkan pada ayat di awal pembuka tulisan ini. Dalam beberapa referensi disebutkan, bahwa Allah SWT mengabulkan doa seorang mukmin melalui tiga cara. &lt;strong&gt;Pertama;&lt;/strong&gt; Allah mengabulkan doa seperti yang diminta. Tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, doa yang kita panjatkan akhirnya dikabulkan persis seperti apa yang kita minta atau yang kita harapkan. &lt;strong&gt;Kedua;&lt;/strong&gt; Allah mengabulkan doa tidak seperti yang diminta, namun menggantinya dengan yang lebih baik dari yang diminta. Doa-doa yang dipanjatkan, terkadang membuat seseorang bertanya-tanya, mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan? Namun Allah Maha Tahu, bahwa ada yang lebih baik dari apa yang dimintanya, lalu Allah mengabulkan doanya dengan memberikan yang lebih baik dari apa yang dimintanya. &lt;strong&gt;Ketiga;&lt;/strong&gt; bahwa doa-doa yang dipanjatkan tidak akan sia-sia begitu saja, kalau memang doa-doa yang dipanjatkan itu tidak dikabulkan di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan balasan-balasan kebaikan nanti di akhirat. Oleh karena itu, jangan enggan untuk berdoa, menengadahkan kedua tangan untuk meminta kepada Allah SWT. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Orang yang Berdoa Harus Suci Lahir Bathin.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dua hal yang harus diperhatikan dalam berdo`a adalah, bahwa orang yang berdoa sebisa mungkin untuk suci lahir dan batin. Suci dari segala macam dosa dan maksiat. Sebab dosa dan maksiat yang masih dilakukan akan menjadi penghalang doa itu untuk dikabulkan Allah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasululah SAW dalam sebuah sabdanya:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يا رب يا رب ! و مطعمه حرام و مشربه حرام و ملبسه حرام و غذي بالحرام فأنى يستجاب لذلك (رواه مسلم&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bercerita tentang seseorang yang dalam perjalanan panjang lalu memanjatkan tangannya ke langit sambil berdoa mengucap, "Ya Tuhan. Ya Tuhan". Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mengkonsumsi barang yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR Muslim).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Antara yang Diminta dan yang Diberikan&lt;/strong&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT, tentu kita meminta sesuatu yang menurut pandangan subjektif kita dirasa sangat dibutuhkan. Namun kita pun jangan melupakan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang tertutup dari mata kita. Bisa jadi Allah SWT sebelumnya akan memberikan musibah kepada kita yang kita tidak sadari, lalu tiba-tiba kita meminta sesuatu yang lain. Maka atas kebijakan-Nya, Dia tidak memberikan apa yang kita minta melainkan membatalkan musibah yang seharusnya Dia timpakan. Dan tentu hal itu jauh lebih bermanfaat buat kita tanpa kita sadari. Atau boleh jadi ketika Allah SWT mengabulkan doa kita, ternyata pemberian-Nya bukan akan semakin membuat kita dekat kepada-Nya, justru yang terjadi sebaliknya semakin menjauh. Misalnya seseorang berdoa minta rezqi yang banyak dan terus mengalir. Bukan Allah SWT pelit tidak mau memberi, namun sangat boleh jadi bila harta itu diberikan, kita justru tidak pernah berdoa lagi kepada-Nya, semakin jauh dari-Nya dan semakin lupa kepada-Nya. Maka Allah SWT membiarkan kita miskin agar selalu ingat dan zikir serta meminta kepada-Nya. Hingga sampai batas waktu tertentu barulah Allah SWT mengabulkannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10 sebab doa kita tidak dikabulkan.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Di bagian akhir tulisan sederhana ini, akan disajikan 10 sebab mengapa doa-doa yang sering kita panjatkan, terasa terbentur tembok tebal dan berakhir sia-sia tanpa ada jawaban baik dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Seorang ulama dan raja di masa keemasan Islam, bernama Ibrahim bin Adham, dengan dikelilingi sekian ratus pengawalnya, ia mengadakan inspeksi ke pasar-pasar rakyat di daerah kekuasaannya. Tiba-tiba salah seorang pengunjung pasar mendekatinya dan berkata, "Wahai paduka raja, mengapa do’a kami tidak dikabulkan oleh Allah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).&lt;br /&gt;Ibrahin bin Adham menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah dimatikan dengan sepuluh perkara, yaitu :&lt;br /&gt;1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu. Apa kewajiban kamu kepada Allah, yaitu kamu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya&lt;br /&gt;2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?&lt;br /&gt;3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan isi al Qur`an yang telah kamu baca itu, bukankah dalam al Qur`an banyak berisi petunjuk untuk kebahagiaan hidupmu di dunia dan akhirat, tapi engkau tidak mengamalkannya. Engkau berkata, "Sami’na wa aththa’na" (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.&lt;br /&gt;4. Engkau menginginkan dan mengharapkan syurga, bercita-cita syurga akan menjadi tempat tinggal terakhir kamu, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?&lt;br /&gt;5. Engkau berikrar bahwa takut akan neraka Allah SWT. tapi sebaliknya prilaku engkau di dunia justru menjerumuskan kamu ke neraka yang menyala-nyala itu.&lt;br /&gt;6. Setiap saat engkau merasakan kenikmatan dan anugerah yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya, justru malah menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah.&lt;br /&gt;7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kamu tidak musuhi syetan dan justru malah bersahabat dengannya.&lt;br /&gt;8. Kalian sibuk mengurus kejelekan orang lain, dan lupa mengurus aib diri kamu sendiri. Bagaimana mungkin doamu akan diterima.&lt;br /&gt;9. Setiap kali ada yang meninggal di antara kamu, kamu hantarkan jenazah merek, namun tidak sedikitpun pelajaran yang kau ambil dari jenazah yang baru kamu hantar.&lt;br /&gt;10. Kamu meyakini bahwa kematian itu ada, namun apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi kematian itu. Sejauh mana bekal yang akan kau bawa untuk menghadapi kematian yang pasti akan datang pada setiap seorang di antara kamu. &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut dikabulkan. Bertaqwalah kepada Allah, ikhlaskan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.&lt;br /&gt;__________________________&lt;br /&gt;Kami Redaksi Sayyidul Ayyam dan Keluarga Besar PPI Maroko mengucapkan, "Selamat kepada Sdr. Ahmad Ridho al Rasyidi al Mundziri telah menyelesaikan studi Program Strata 3 (Doktoral) di Kulliyah Adab wa al Ulum al Insaniyah Muhammad V Agdal Rabat, semoga ilmunya bermanfaat, Amien".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-2697512734212040599?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/2697512734212040599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=2697512734212040599' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/2697512734212040599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/2697512734212040599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/04/berdoalah.html' title='Berdoalah….!!!'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-2785424034972319824</id><published>2008-03-14T13:13:00.000Z</published><updated>2008-03-14T13:24:44.607Z</updated><title type='text'>Kesederhanaan dalam Hidup</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Oleh: Ahmad Suprapto&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Agama Islam menganjurkan agar umatnya sentiasa hidup sederhana dalam semua tindakan, sikap dan amal. Islam adalah agama yang berteraskan nilai kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah satu ciri yang umum bagi Islam dan salah satu perwatakan utama yang membedakan dari umat yang lain. Ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 143:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;yang artinya: "&lt;i&gt;Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia&lt;/i&gt;."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Atas prinsip inilah, maka umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Merekalah yang akan menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Satu perkara yang harus kita sadari sebagai umat Islam yaitu konsep sederhana meliputi aqidah (keyakinan), aspek ibadah dan cara melaksanakannya, akhlak dan cara hidup, berinteraksi antar sesama dan segala sesuatu yang menyentuh persoalan kehidupan dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Rasulullah s.a.w. telah bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;yang artinya : “ &lt;i&gt;Sebaik-baik perkara ialah yang paling sederhana&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah S.A.W. Budaya sederhana dan sentiasa mendaulatkan prinsip keadilan serta kemanusiaan inilah yang membentuk generasi Islam yang begitu mantap dan berkualitas. Generasi yang dididik oleh Nabi Muhammad S.A.Wdengan ciri kesederhanaan dan penghayatan memahami Islam yang sejati berlandaskan cahaya al-Quran itulah yang akhirnya berhasil mengangkat panji-panji Islam ke seluruh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Kita telah menyadari akan pentingnya dan manfaat kesederhanaan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun permasalahannya ialah bagaimana hendaknya kita memupuk sifat kesederhanaan dan menjalani hidup secara sederhana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Dua hal di antara cara untuk menerapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita. &lt;b&gt;Yang pertama&lt;/b&gt; adalah dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengawal serta menundukkan hawa nafsu yang bergejolak dalam diri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Allah S.W.T dan Rasulullah S.A.W sering mengingatkan kita agar mengawal hawa nafsu dan tidak berlebihan di dalam melakukan sesuatu. Ini adalah karena hawa nafsulah yang selalu menjeruskan manusia ke kancah kebinasaan. Firman Allah S.W.T di dalam ayat 71 Surah Al-Mukminun:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;yang artinya: "&lt;i&gt;Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;beserta isinya&lt;/i&gt;." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Disebabkan karena gagal untuk mengawal hawa nafsu ini, Kita sering melakukan pemborosan dan berlebihan. Kita berbelanja lebih daripada keperluan kita yang kita butuhkan, sedangkan masih banyak lagi yang lain yang lebih memerlukan bantuan untuk menopang kehidupan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pemborosan itu hanyalah mendekatkan kita kepada syaitan dan menjauhkan kita dari Allah S.W.T. Firman Allah di dalam Surah Al-Isra` ayat 27 : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Yang artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Yang kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt; yaitu menjiwai sifat kesederhanaan. Kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus bijaksana dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Dengan sikap tersebut kita dapat mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang lebih memerlukan perhatian dan tumpuan masa, tenaga ataupun uang. Tanpa mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang harus didahulukan maka kita akan lebih cenderung untuk mengikut hawa nafsu sehingga mengakibatkan kita untuk gagal di dalam mengimbangi urusan kehidupan. Rasulullah S.A.W pernah bersabda dalam haditsnya&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;yang artinya: “&lt;i&gt;Tidak akan susah bagi siapapun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sederhana dalam perbelanjaan&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Rasulullah S.A.W telah menerangkan bahawa orang yang bersederhana dalam perbelanjaan tidak akan hidup kesusahan. Bagaimana tidak, Mereka membelanjakan harta mereka dalam jalan yang benar. Mereka merancang perbelanjaan mereka. Mereka bukanlah orang yang kikir. Mereka pula bukanlah orang yang suka belanja mengikuti keinginan hati. Inilah sifat hamba-hamba Allah yang sejati. Allah S.W.T telah berfirman di dalam surah Al-Furqan Ayat 76 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;“&lt;i&gt;Dan mereka (Hamba Allah) apabila berbelanja tidak berlebihan dan mereka bukanlah pelit dalam berbelanja. Merekalah yang seimbang di antara dua perkara ini&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Harta yang ada adalah nikmat Allah S.W.T. Setiap nikmat yang Allah berikan harus digunakan dengan penuh kebijaksanaan dan hikmah. Janganlah kita menjadi golongan yang sombong, kikir dan juga tamak akan harta dunia sehingga lupa bahwa Allah lah yang memberikan kita nikmat ini. Jangan pula kita menjadi golongan yang terlalu berlebihan dalam berbelanja, sehingga kita menjadi orang yang boros. Agar kelak tidak akan mendapat kerugian di dunia dan di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Allah S.W. T telah berfirman dalam surah Al Isra’ Ayat 29, yang menerangkan mengenai dua golongan yang rugi ini: “&lt;i&gt;Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu Pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kejayaan di akhirat adalah merupakan impian &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;setiap orang yang beriman. Sifat kesederhanaan merupakan kunci bagi kejayaan kita nanti di dunia ini dan di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:black;"   lang="IN" &gt;Marilah sama-sama kita terapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita dan kelaurga. Semoga dengan sifat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita menjadi umat yang seimbang serta bahagia di dunia dan di akhirat kelak.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-2785424034972319824?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/2785424034972319824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=2785424034972319824' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/2785424034972319824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/2785424034972319824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/03/kesederhanaan-dalam-hidup.html' title='Kesederhanaan dalam Hidup'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-7425266691554376250</id><published>2008-02-29T10:35:00.000Z</published><updated>2008-02-29T10:38:29.419Z</updated><title type='text'>Memantapkan kembali eksistensi Agama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Arwani Syaerozi&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah menjadi maklum, bahwa peradaban modern telah memetakan umat manusia menjadi dua kelompok besar. Pertama; komunitas relegius meyakini ajaran agama dan mengamalkannya. Kedua; komunitas hedonis hanya mengedepankan kelezatan duniawi, tidak mengindahkan norma-norma agama, bahkan cenderung meragukan eksistensi Tuhan dan kehidupan di akhirat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hidup menurut kacamata hedonisme, hanya berorientasi pada terpenuhinya kebutuhan jasmani, biologis, dan menyangkut reputasi. Hidup - menurut kacamata ini - telah sempurna dan mencapai klimaks dengan terpenuhinya kebutuhan jasmani baik yang berskala primer, sekunder maupun tersier. Pandangan hedonisme ini menggiring kita untuk tidak peduli dengan apapun yang berkaitan dengan doktrin agama, seperti hari akhir, kehidupan akhirat, atau pembalasan atas amal perbuatan, sebab hal-hal seperti ini tidak bisa dinilai dengan materi dan tidak bisa dinalar dengan akal. Parahnya, bicara tentang agama dianggap &lt;i&gt;“Jadul”&lt;/i&gt; (jaman dulu) bahkan dianggap sebagai obrolan primitif. Seirama dengan kaum hedonis, bapak sosialis Karl Mark memvonis agama sebagai candu bagi umat manusia yang harus diperangi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Beranjak dari sudut pandang ini, kita - sebagai komunitas relegius - menjadi bertanya-tanya; sebenarnya apa tujuan hakiki dari hidup ini? mengapa agama didisposisikan “tragis” oleh sebagian manusia? Bukankah agama telah berperan menciptakan manusia yang beretika? Dan bukankah hanya&lt;span style="" lang="FR"&gt; agama yang selama ini mengisi kehampaan makna bagi kehidupan umat manusia ? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Agama dan kehidupan dunia:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Bahwa Islam adalah satu dari tiga agama samawi (yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada para utusan-Nya) adalah premis yang tidak bisa dimentahkan, bahkan Islam adalah sebagai penutup dari agama-agama samawi tersebut, &lt;i&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”&lt;/i&gt;. (Ali Imran : 19), Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda : &lt;i&gt;“Perumpamaan diriku dan para nabi sebelumku adalah ibarat seseorang yang membangun sebuah rumah, dia menyempurnakan dan memperindah bangunannya, hanya tinggal satu batu bata belum terpasang di sudut bangunan, orang-orang pun mengelilingi bangunan tersebut dan terkagum-kagum, mereka berkata : segeralah batu bata itu diletakkan agar bangunannya sempurna, Rasulullah Saw menjawab: saya-lah batu bata itu, dan sayalah penutup para nabi”&lt;/i&gt; (HR. Bukhori dan Muslim) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Sebagai agama pamungkas dan paripurna, Islam memiliki konsep yang jelas dalam memandang kehidupan. Lantas bagaimana Islam menawarkan solusi bagi problem kehampaan makna kehidupan? Dalam hal ini, Islam mengarahkan para pemeluknya untuk saleh ritual dan saleh sosial, dimana dua kesalehan ini berimplikasi pada kepuasan jasmani dan ruhani yang merupakan tujuan kehidupan di dunia menurut perspektif Islam. Untuk mencapai tujuan ini, kita dituntut untuk memperhatikan tiga hal, yaitu; &lt;i&gt;Iman&lt;/i&gt; (kepercayaan), &lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt; (kepasrahan) dan &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; (kebajikan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Detail tiga kerangka kehidupan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Tiga hal berupa iman, islam dan ihsan yang akan membuat kehidupan manusia menjadi bermakna, sejatinya terinspirasi dari hadits Jibril As yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Yaitu peristiwa saat Rasulullah Saw berkumpul dengan para sahabatnya, kemudian secara tiba-tiba didatangi oleh malaikat Jibril yang menyamar sebagai sosok manusia tak dikenal di kalangan para sahabat yang hadir saat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt; ; Iman, adalah point yang dijadikan skala prioritas, sehingga bapak sosiolog Ibn Khaldun (w : 1406 M) dalam bukunya &lt;i&gt;al mukaddimah&lt;/i&gt; menegaskan: akidah adalah inti dari ajaran Islam. Kata “Iman” di sini adalah kepercayaan kita di dalam hati yang dibarengi dengan perilaku dan tindakan secara kasat mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kita dituntut untuk mengimani enam hal yang terangkum dalam rukun Iman, yaitu, percaya akan ke-esa’an Allah, iman kepada para Rasul, percaya pada kesucian kitab-kitab Allah, meyakini keberadaan para malaikat, iman kepada hari akhir, dan percaya kepada ketetapan Allah. Dengan tuntutan untuk meyakini enam hal ini, perjalanan hidup umat manusia tidak hanya terbatas pada sisi lahir, tidak berhenti pada hal-hal yang kasat mata saja. Akan tetapi, kerangka pemikiran kita jauh melampaui hal-hal yang bersifat materi, kehidupan ini akan menjadi penuh makna, sebab dibalik wujud kebendaan yang kasat mata, hati kita terpatri pada rukun iman yang bersifat ruhani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Namun kita pun bertanya, apa indikasi kevalidan iman seseorang, sehingga bisa dikatagorikan sebagai mukmin dan berimplikasi pada kedamaian ruhani ? Dalam hal ini Rasulullah SAW menjawab : &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, sampai keinginan (hawa nafsunya) mengikuti apa yang telah saya bawa yaitu al Qur’an dan as Sunnah”.&lt;/i&gt; (HR. Ibn. Abi ‘Ashim). Dari jawaban ini, kita menjadi faham bahwa validitas iman seseorang bukan hanya pada level kepercayaan dalam hati dan penuturan lisan saja, akan tetapi teruji pada prilaku dan perbuatannya, &lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;, Islam, arti kata « Islam » di sini adalah; secara sadar dan tidak terpaksa menjalankan lima hal yang biasa disebut dengan rukun Islam. Kewajiban ibadah atas seorang muslim yang terangkum dalam rukun Islam yang lima ini, di samping sebagai inti penciptaan manusia, juga merupakan momen refresing dari kesibukan aktivitas kita. Melalui &lt;i&gt;taqarrub ilallah&lt;/i&gt; (ibadah-ibadah) ini, segala kesibukan, beban persoalan dan setumpuk pekerjaan yang kerap membawa kepenatan akan dinetralisir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Bagaimanapun, melalui pengucapan kalimat syahadat insan relegius akan tersadar bahwa lisan memiliki peran yang vital dalam kehidupan, insan relegius akan menemukan ketenangan jiwa saat melakukan sholat bermunajat kepada Allah, insan relegius akan merasakan kepuasan bathin saat mendengar bahwa dalam hartanya terdapat hak bagi kalangan yang kurang beruntung, insan relegius akan menjadi peka terhadap situasi saat satu bulan penuh harus menahan lapar dan dahaga di waktu siang, dan insan relegius akan tahu diri bahwa atribut keduniaan tidaklah berarti di hadapan illahi saat datang kesempatan mengenakan kain ihram untuk menunaikan ibadah haji.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;, Ihsan, sebab terpenuhinya dua tahap di atas yaitu &lt;i&gt;Iman&lt;/i&gt; (percaya) dan &lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt; (sadar dan pasrah menjalankan aturan) belum dikatagorikan sempurna apabila kita tidak melengkapinya dengan tahap ketiga, yaitu &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; (kebajikan). Dalam hadits Jibril As dijelaskan bahwa &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; adalah: « Dengan menyembah Allah seakan-akan kalian melihat-Nya, kalaupun kalian tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allah selalu melihat kalian ». (HR. &lt;/span&gt;Muslim)&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Saat melengkapi diri kita dengan &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; (kebajikan), kita didorong untuk memupuk etos berkarya selama hidup. Maka, tanpa &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; (kebajikan) Iman dan Islam kita akan pincang, dalam al Qur’an ditegaskan: &lt;i&gt;“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”&lt;/i&gt; (Qs. &lt;/span&gt;Ali Imran: 148)&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Tahap &lt;i&gt;ihsan&lt;/i&gt; (kebjikan) juga telah disinggung oleh Rasulullah Saw, pada satu kesempatan beliau membenarkan ucapan Salman al Farisi kepada Abu Darda Ra, yaitu saat Abu Darda meremehkan hal-hal yang bersifat duniawi dan kurang memperhatikan kondisi keluarganya: &lt;i&gt;« &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sesungguhnya dirimu, Tuhanmu, tamumu, keluargamu, memiliki hak atasmu, berikanlah hak pada setiap orang yang memilikinya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt; «&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt; (HR. al Bukhori)  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kesimpulan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Setelah kita memahami kerangka beragama yang terdiri dari &lt;i&gt;Iman&lt;/i&gt; (keyakinan dalam hati yang dibarengi dengan aplikasi tindakan), &lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt; (sadar dan pasrah menjalankan perintah dan menjauhi larangan) dan &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; (berbuat kebajikan), di mana kerangka beragama yang demikian ini bisa menjadi jawaban atas kritik dari kalangan yang sinis terhadap agama, juga menjadi penegasan bagi kalangan yang skeptis akan keagungan Allah dan eksistensi syari’atnya, maka menjadi benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW lima belas abad yang silam bahwa: &lt;i&gt;“Bahwa agama adalah nasihat, bagi Allah SWT, kitab suci, Rasulullah, para pemimpin dan seluruh umat Islam”&lt;/i&gt; (HR. &lt;/span&gt;Muslim)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Dengan demikian, di tengah gencarnya proyek globalisasi dalam segala lini kehidupan, di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan media informasi, dan di tengah derasnya perubahan pola berfikir umat manusia, ternyata Agama tetap bertahan sebagai satu-satunya otoritas Ruhani yang menjadi harapan umat manusia untuk mengisi kehampaan makna kehidupan. &lt;i&gt;Wallahu A’lam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-7425266691554376250?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/7425266691554376250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=7425266691554376250' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/7425266691554376250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/7425266691554376250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2008/02/memantapkan-kembali-eksistensi-agama.html' title='Memantapkan kembali eksistensi Agama'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-9137142813599638223</id><published>2007-11-02T15:41:00.000Z</published><updated>2007-11-02T15:46:54.601Z</updated><title type='text'>Islam dan Pengentasan Kemiskinan</title><content type='html'>Oleh: Ahmad Ridlo&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami peningkatan. Jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2006 lebih besar dari bulan Februari 2006. Menurut Milan Brahmbatt -ekonom senior Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik- penyebab kemiskinan di Indonesia adalah kebijakan pemerintah melambungkan harga BBM, terutama minyak tanah tiga kali lipat, pada Oktober 2005 dan melangitnya harga beras sebesar 33 persen pada kurun waktu Februari 2005 sampai Maret 2006. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan tidak hanya melanda umat Islam Indonesia, tapi juga menjangkiti mayoritas umat Islam di seluruh penjuru dunia. Terdapat lebih dari 60 negara berpenduduk Muslim mayoritas memiliki penduduk miskin. Kemiskinan yang parah menerpa negera Somalia, Jibouti, Kashmir, Afganistan, Uganda, Mali, Kamerun, Gaban, Niger, Kosovo, dan banyak lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Kemiskinan&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita melihat sumber kemiskinan hanya pada pendidikan rendah, akses ke sumberdaya ekonomi terbatas, kurang modal, dan "mental miskin". Mental miskin biasanya diartikan sebagai suatu cara hidup dan cara pandang sekelompok orang yang gampang puas dan tidak mempunyai cita-cita untuk meraih masa depan yang lebih baik dan budaya malas. Semua ini memang menjadi sumber kemiskinan. Tapi yang harus diingat, kemiskinan juga ditentukan nilai-nilai dan struktur sosial yang ada. Kemiskinan yang mendera seorang manusia tidak terpisahkan dari sistem sosial di mana ia berada. Kenapa kemiskinan menghampiri manusia padahal Allah telah memberi garansi keamanan rezeki? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kemiskinan timbul karena ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya (QS Ali 'Imran [3]: 180) sehingga si miskin tidak mampu keluar dari lingkaran kemiskinan. Kedua, kemiskinan timbul karena sebagian manusia bersikap zalim, eksploitatif, dan menindas sebagian manusia yang lain, seperti memakan harta orang lain dengan jalan yang batil (QS at-Taubah [9]: 34) dan memakan harta anak yatim (QS an-Nisa' [4]: 2, 6, 10. Ketiga, kemiskinan timbul karena konsentrasi kekuatan politik, birokrasi, dan ekonomi di satu tangan. Hal ini terlukis dalam kisah Fir'aun, Haman, dan Qarun yang bersekutu dalam menindas rakyat Mesir (QS al-Qashash [28]: 1-88). Keempat, kemiskinan timbul karena gejolak eksternal seperti bencana alam atau peperangan sehingga negeri yang semula kaya berubah menjadi miskin. Contohnya adalah kaum Saba (QS Saba [34]: 14-15). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanggulangi kemiskinan, pertama, Islam menganjurkan umatnya agar rajin bekerja, seperti perintah untuk bertebaran di muka mencari rezeki (QS al-Jumu'ah [62]: 10). Perlu ditegaskan di sini, bahwa bekerja dalam Islam bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan perut. Lebih dari itu, bekerja dalam Islam adalah memperoleh ridha Allah Swt. Bekerja juga bukan hanya untuk memuliakan diri, atau untuk menampakkan sisi kemanusiaan, tetapi juga sebagai manifestasi amal saleh (karya produktif), karenanya memiliki nilai ibadah yang sangat luhur. Penghargaan hasil kerja dalam Islam kurang lebih setara dengan iman, bahkan bekerja dapat dijadikan jaminan atas ampunan dosa. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di sore itulah ia diampuni dosa-dosanya," (HR Ibnu 'Abbas). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Islam melarang riba dan berbuat zalim, baik fisik maupun ekonomi kepada orang lain. Larangan riba sangat efektif mengendalikan laju inflasi sehingga daya beli masyarakat terjaga dan stabilitas perekonomian tercipta. Larangan berbuat zalim dan perintah untuk berbuat adil kepada siapa saja (QS al-Maidah [5]: 8) akan menciptakan struktur sosial yang bersendikan keadilan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengentasan Kemiskinan&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya angka kriminalitas selalu bergandengan tangan dengan kemiskinan. Kemiskinan adalah sumber segala tindak kriminalitas kerena membuat orang cepat hilang kesabaran, emosional, berpikir pendek, membenci mereka yang hidup mapan, dan pada akhirnya akan melahirkan tindakan-tindakan radikal; seperti kekerasan dan aksi terorisme. Kemiskinan jiwa dan mental plus miskin harta membuat orang buta dalam melihat kebenaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pengentasan kemiskinan harus juga dijadikan akar untuk menolak terorisme. Demikian juga, berbagai ideologi radikal akan sangat mudah ditanamkan dan menjamur dalam masyarakat yang miskin. Rasa frustasi dan kekecewaan atas keadaan dan struktur sosial yang tidak bisa memenuhi kebutuhan perut adalah pupuk bagi tumbuh suburnya ideologi radikal tersebut. Karena itu, pengentasan kemiskinan harus cepat dilakukan pemerintah, bukan hanya sebagai syarat mutlak mewujudkan bangsa yang makmur, menurunkan angka kriminilitas, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman teror, tapi juga memberikan suasana kondusif bagi terlaksananya ajaran agama dengan sempurna. Perut lapar membuat masyarakat tidak khusyuk beribadah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam, sebagai umat mayoritas di negeri ini, harus membantu usaha pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Tentunya umat Islam tidak ingin anak-anak mereka hidup miskin sehingga gampang terjerumus pada tindakan-tindakan yang dilarang agama dan negara. Mari kita tutup pintu kemiskinan dengan kerja keras dan menegakkan keadilan sosial.(ahraar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-9137142813599638223?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/9137142813599638223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=9137142813599638223' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/9137142813599638223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/9137142813599638223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/11/islam-dan-pengentasan-kemiskinan.html' title='Islam dan Pengentasan Kemiskinan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-1887979311528260666</id><published>2007-10-26T14:07:00.000Z</published><updated>2007-10-26T14:16:55.259Z</updated><title type='text'>Haruskah Perempuan berjilbab?</title><content type='html'>Oleh: Maryam elwahdah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan perempuan sebagai ciptaan Allah SWT ini selalu didera dengan berbagai polemik yang kurang menyenangkan. Dari persoalan private hingga public, perempuan selalu masuk dalam lingkaran wacana. Kalau boleh saya katakan dengan ungkapan lain perempuan bernasib simalakama sehingga maju kena mundur pun kena artinya serba salah. Tentu saja ini hal yang sangat tidak adil, perempuan diciptakan dari jenis yang sama dengan laki-laki sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. an-nisa': 1:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia bertakwalah pada tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari nafs yang satu" . (An-nisa': 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengisyarakatkan bahwa Allah Swt menciptakan makhlukNya tidak untuk mendiskriminasikan satu sama lain diantara perempuan dan laki-laki bahkan bertujuan untuk saling mengisi, saling menolong dan saling melengkapi bukan sebagai penindasan dan pelecehan satu sama lainnya. Seperti tercantum dalam ayat berikut:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يأيها الناس إنا خلقنكم من ذكر و أنثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعرفوا إن أكرمكم عند الله أتقكم إن الله عليم خبير&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi mengenal. (Q.S. Al-hujjurat: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun persoalan perempuan yang sering dimunculkan dalam permukaan diantaranya mengenai poligami, karir dan jilbab. Tiga hal ini –poligami, karir dan jilbab- merupakan persoalan yang mencuat heboh pada kehidupan modern saat ini. Dari tiga hal tersebut tulisan ini hanya akan terfokuskan pada Jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan mengenai jilbab sudah ada sejak lama, apalagi kalau sudah dikaitkan dengan perempuan akan terasa hidup karena timbul kontroversi dari berbagai kalangan. Di sini penulis menggunakan kata jilbab untuk mengadaptasikan diri dengan kata yang dikenal bangsa Indonesia. Sementara bangsa arab untuk makna yang sama menggunakan kata hijab. Hal tersebut bukan persoalan yang esensi meskipun jika secara bahasa akan ditemukan titik perbedaan namun masyarakat sudah menyamakan makna jilbab dan hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus arab kata jilbab berasal dari kata jalbaba mufrod dari jalabib maknanya baju panjang atau jubah. Sementara kata hijab berjamak hujub bermakna tudung atau penghalang. Jika kita memperhatikan dua kata tersebut –hijab dan jilbab- tentu berbeda, kalau jilbab itu adalah baju sedangkan hijab itu kerudung/tudung kepala, namun demikian maksud dari keduanya satu yakni menutup aurat. Sekali lagi dalam tulisan ini kata jilbab digunakan sebagai alat untuk menutup kepala dengan kata lain mengambil alih makna hijab dikarenakan bangsa Indonesia memaknainya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana Jilbab dan perempuan kalau boleh diibaratkan dengan istilah ada gula ada semut maka ada jilbab ada perempuan. Mayoritas orang jika sudah membicarakan tentang aurat perempuan akan menyinggung jilbab begitu juga sebaliknya, sehingga muncul pertanyaan, apakah jilbab itu sebuah keharusan bagi perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan di atas tentunya kita sebagai muslim dikembalikan pada sumber segala sumber yakni al Qur'an. Firman Allah Swt tentang jilbab yang tercantum dalam al Qur'an adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;قل للمؤمنات يغضضن من أبصرهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;« Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya ». (Q.S. An-nur : 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut menjadi dalil andalan bagi pihak yang menekankan bahwa memakai jilbab adalah sebuah kewajiban/keharusan. Lalu apakah dengan ayat tersebut tidak ada yang kontra ? Kontroversi itu alamiyah, toh Allah swt menciptakan langit dan bumi yang berposisi atas dan bawah. Kata atas berlawanan dengan bawah, jadi kalau ada yang mewajibkan maka ada juga yang akan tidak mewajibkannya. Berdasarkan asumsi tersebut, apa yang menyebabkan orang mewajibkan dan tidak mewajibkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang mewajibkan, mayoritas berdasarkan dalil-dalil agama, seperti ayat di atas merupakan dalil untuk mewajibkan pemakaian jilbab. Dan dijelaskan juga didalam Q.S.al-ahzaab:59, kurang lebih terjemahannya “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu dan putri-putrimu dan isteri-isteri orang beriman “hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka”, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pihak kedua tidak hanya berpegangan pada dalil agama tetapi juga lebih mempertimbangkan aspek social dan budaya. Ini dapat terlihat terhadap pembacaan ayat-ayat al Qur’an di atas. Pihak pertama (mewajibkan) memaknai ayat-ayat di atas secara tekstual (sebagaimana yang tertulis). Pihak ini tidak melihat konteksnya, yang mereka tekankan bentuk dhohirnya, bagi mereka pemakaian jilbab sangat menguntungkan perempuan dalam berbagai aspek dan kondisi meskipun kondisi (konteks)nya sudah berbicara lain (tidak sesuai). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan cara-cara pihak ini untuk melegalkan pemakaian jilbab bagi perempuan kadang terkesan memaksa dan mengada-ada, misalnya dengan mengibaratkan perempuan dengan kue donat yang terbungkus rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli (diungkapkan ustadz jefri al buchari). Dan juga tiga alasan yang dilontarkan salah satu walikota bahwa Pertama, karena daerah itu bersuhu dingin. Dengan jilbab, perempuan-perempuan di sana tak lagi kedinginan dan masuk angin. Kedua, sejak diturunkanya perda jilbab, menurutnya, tidak terdengar lagi kasus penjambretan. Perempuan-perempuan pun tidak perlu lagi memakai perhiasan. Ketiga, pelajar putri yang selama ini tak mampu memiliki perhiasan, tidak perlu malu lagi masuk sekolah. Ungkapan ustadz jefri dan alasan walikota itu perlu dibenahi kembali, perempuan itu manusia berakal seperti halnya laki-laki maka jika memberikan argument harus rasional. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pihak kedua (tidak mewajibkan jilbab) pembacaannya dengan makna kontekstual, sehingga mereka berpendapat bahwa kata dzâlika adnâ an yu’rafna (supaya lebih mudah dikenal) dan fa lâ yu’dzayna (maka tidak diganggu) ini melihat situasi pada saat turunnya ayat tersebut yakni adanya kaum budak dan kaum merdeka, sehingga untuk membedakannya harus memakai jilbab. Meskipun Islam sendiri tidak mendeskriminasikan satu kaum dengan kaum yang lain akan tetapi kondisi arab saat itu memang cukup deskriminatif. Kemudian khalifah Abu bakar asshiddiq membebaskan perbudakan sehingga pada zaman sekarang tak ada perbedaan antara budak dan merdeka, kedua-duanya sama-sama manusia yang memiliki posisi sama dihadapan pencipta kecuali tingkat ketakwaannya. Dengan begitu menurut pihak kedua, pemakaian jilbab tidak lagi sebuah kewajiban atau keharusan karena untuk memuliakan perempuan bukan dalam simbolik melainkan diperlakukan manusiawi dengan memberdayakan akal budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita meninjau ulang dua ayat di atas, al Qur’an hanya memberikan anjuran untuk kemaslahatan umatnya jika memang perempuan tanpa jilbab itu mendapatkan ketenangan dan keamanan maka tidak harus diwajibkan untuk memakai jilbab tentunya dengan tetap menjaga busana yang sopan sesuai dengan budaya setempat. Namun sayang, perempuan selalu dijadikan penyebab ketidakamanan dan ketidaktenangan, mereka selalu menyalahkan perempuan ketika terjadi pemerkosaan dengan dalih perempuan yang tak berjilbab bahkan berpakian seksi menggugah nafsu laki-laki sehingga perempuanlah yang harus ditutup rapat agar laki-laki tidak bernafsu atau ‘nakal’. Kenapa harus perempuan yang ditutup rapat ? kenapa kaum laki-laki tidak bisa berfikir jernih dan bersih sehingga tidak muncul pikiran-pikiran kotor penyebab keluarnya nafsu ?sehingga pemerkosaan pun tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan merupakan makhluk hidup yang tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai manusia yang berhak partisipasi dalam menjunjung kemanusian dan keadilan di dunia. Perempuan bukan hanya sebagai pelengkap laki-laki di dalam rumah tangga dan dianggap perusak ketenangan laki-laki sehingga harus ditutup rapat dengan jilbab padahal dengan jilbab tersebut perempuan tidak menemukan ketenangan dan kebebasannya. Untuk sebagian perempuan mungkin menemukan kebebasan dan ketenangan dengan jilbab tetapi bagi sebagian perempuan lain yang posisinya tidak memungkinkan untuk berjilbab karena benturan dengan sosial, budaya dan politik, apa yang harus diperbuat oleh perempuan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Keharusan memakai jilbab bagi perempuan dengan tanpa melihat kondisi dan aspek-aspek yang melatar belakanginya hanya akan membuat kesengsaraan dan keresahan perempuan semata. Pemakaian jilbab bukan hanya simbolik tapi harus penuh dengan kesadaran terhadap kemaslahatannya ditinjau dari berbagai aspek demi tercapainya ketenangan dan keamanan serta kebebasan perempuan. Pemahaman dan pengertian termasuk kunci kemaslahatan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-1887979311528260666?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/1887979311528260666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=1887979311528260666' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1887979311528260666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1887979311528260666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/10/haruskah-perempuan-berjilbab.html' title='Haruskah Perempuan berjilbab?'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-1472596249091397483</id><published>2007-09-29T20:45:00.000Z</published><updated>2007-10-07T00:37:29.025Z</updated><title type='text'>Antara Usaha, Do’a dan Pasrah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh: Arwani Syaerozi, MA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Berdo’a tanpa usaha bagaikan pengemis, berusaha tanpa do’a bagaikan komunis”, adagium ini sangat merakyat, di sisi lain kita pun mendengar seruan bernada pasrah dalam menjalani kehidupan “Hidup matiku ada di tangan Tuhan”, saya yakin kebanyakan dari kita pernah mendengar ungkapan tersebut. Lantas apa pesan dari kalimat-kalimat sederhana yang sarat dengan makna ini? Sehingga gaungnya benar-benar merambah ke segenap penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sadar atau tidak, ternyata hari-hari kita selalu diliputi dengan beragam keinginan dan angan-angan, timbul silih berganti tidak pernah hilang, semakin hari semakin bertambah, karena inilah sebenarnya yang dinamakan dengan tabiat manusia. Potensi “tidak puas” adalah sifat dasar yang selalu melekat dalam diri kita. Munculnya keinginan erat berhubungan dengan adanya ketidak puasan, Allah SWT berfirman: “ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (Qs. al Maarij: 19). Kalau kenyataanya demikian, bagaimanakah Islam menyikapi sifat dasar yang melekat dalam diri setiap manusia ini? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keinginan dan angan-angan di sini sifatnya universal, mencakup cita-cita dan harapan. Seorang pedagang berkeinginan sukses dalam berbisnis, stok dagangannya laku kemudian meraup keuntungan, komunitas pelajar berharap lulus saat ujian sehingga cita-citanya dapat tercapai, para pemikir berangan-angan mewujudkan tatanan sosial masyarakat yang damai sejahtera agar tercipta baldatun thayibah wa rabbun ghafur (gemah ripah loh jinawi). Ujung dari semuanya akan berhubungan dengan “keberhasilan” atau “kegagalan (predikat berhasil atau gagal)”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada deskripsi singkat tadi, apakah hanya dengan berusaha kita bisa meraih target yang diinginkan? Adakah unsur-unsur lain yang sekiranya penting diperhatikan dalam menyikapi derasnya angan, keinginan, harapan dan cita-cita? Sebab, bukankah kita sering mendengar kabar kegagalan seorang negarawan dalam menjalankan tugasnya, padahal dia telah mencurahkan segala kemampuan. Atau kita sering mendengar kabar buruk para pelajar dalam menghadapi ujian, padahal mereka telah belajar maksimal, bahkan kita juga sering mendengar cerita orang-orang yang frustasi dan berakhir dengan bunuh diri akibat depresi saat menghadapi kegagalan. Disinilah ajaran Islam datang memberikan solusi atas fenomena di atas, dalam Islam kita dikenalkan anjuran berdo’a dan berpasrah di samping kita dituntut untuk berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makna berusaha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;“Dan katakanlah; bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” (Qs. at Taubah: 105), spirit berusaha dan berikhtiar terkandung dalam ayat ini. perintah untuk bekerja artinya perintah untuk berusaha keras dalam menggapai suatu tujuan baik duniwai maupun ukhrowi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Berusaha adalah langkah pertama yang harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan, tanpa unsur “usaha” jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannnya. Rasulullah Saw sebagai suri tauladan telah memberi contoh konkrit dalam hal ini, yaitu dengan terjun berbisnis sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri&lt;/em&gt;” (Qs. ar Ra’d : 11) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya, Allah SWT tidak akan merubah keadaan kita selama kita tidak berusaha merubah sebab-sebab kemunduran. Kalaupun terjadi “kesuksesan” tanpa dilalui dengan proses usaha, maka hal itu termasuk dalam katagori anugerah khusus dari Allah, bagaimanapun jika Allah SWT berkehendak maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya; jadilah ! maka terjadilah&lt;/em&gt;” (Qs. Yasin : 82)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makna berdo’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam segala aktivitas, kita dianjurkan untuk berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT. al Qur’an menjelaskan;“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku” (Qs. al Baqarah: 186).&lt;br /&gt;Menjadi jelaslah bahwa Allah akan mendengar setiap permintaan para hamba-Nya, dan bahkan akan mengabulkan segala permintaanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji&lt;/em&gt;” (Qs. Ali Imran: 9)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang dimaksud dengan pengabulan setiap do’a di sini? Apakah Allah akan menuruti setiap permintaan kita (sesuai bentuk, kualitas dan kuantitas) dari apa yang kita inginkan saat berdo’a, atau memiliki makna yang lebih luas? Pakar tafsir Muhamad bin Ali as Syaukani (w: 1250 H) dalam bukunya fath al Qadir menjelaskan; pengabulan do’a bisa seketika, bisa juga ditunda, bisa sesuai dengan apa yang terlintas saat berdo’a, atau bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi si pendo’a Rasulullah Saw bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ الله َبِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحْمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يَجْعَلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يُدَخٍّرَ لَهُ فِيْ الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يُصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوْءِ مِثْلَهَا.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“&lt;em&gt;Tidak ada seorang muslim yang berdo’a memohon kepada Allah, yang do’anya tidak mengandung unsur dosa dan pemutusan hubungan persaudaraan, kecuali Allah akan mengabulkan dengan tiga kemungkinan; memberikan apa yang dinginkan, disimpan (pahalanya) hingga di alam akhirat, atau diselamatkan dari bahaya yang mengancam“. (HR. Bukhori).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Makna berpasrah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di antara ayat al Qur’an yang menjelaskan tentang urgensi tawakkal (berpasrah) bagi pribadi muslim dalam menjalani kehidupan adalah firman Allah dalam surat at Talaq: &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya, sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (Qs. at Talaq: 3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dikisahkan, sufi besar Ibrahim bin Adham bertemu dengan seorang pemuda yang tampak gelisah, beliau berkata: saya akan bertanya tentang tiga hal: 1- apakah ada sesuatu di alam ini terjadi tanpa kehendak dari Allah?, Pemuda menjawab: tidak ada. 2- apakah rizkimu bisa berkurang dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah?, Pemuda menjawab: tidak, 3- apakah ajalmu bisa berkurang dari tanggal yang telah ditetapkan oleh Allah? Pemuda menjawab: tidak mungkin, kemudian Ibrahim bin Adham berkata: kalau begitu kamu harus mengkhawatirkan apa? Namun, tawakal (berpasrah) harus diposisikan setelah proses usaha dan berdo’a, hal ini sebagai antisipasi agar kita tidak berburuk sangka terhadap Allah SWT (atas segala ketetapan-Nya), dengan berpasrah saat menunggu hasil jerih payah dan usaha keras, kita diarahkan kepada dua hal positif, yaitu; bersyukur saat menemukan kesuksesan, dan bersabar saat menghadapi kegagalan. Di sinilah Rasulullah Saw bersabda: “saya kagum dengan keadaan orang Islam, semuanya istimewa; ketika sukses mereka bersyukur, dan ketika gagal mereka bersabar” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa; dalam menjalani kehidupan di alam fana, kita dianjurkan berusaha keras untuk merealisasikan keinginan dan cita-cita, hal ini tentunya dibarengi dengan berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT, kemudian apapun hasil dari usaha keras yang telah kita curahkan, semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. Saat usaha kita berhasil kita tidak lupa daratan, begitu juga saat usaha gagal, kita tidak dihinggapi rasa frustasi dan kekecewaan. Yang demikian inilah sebagai bentuk penyelarasan antara tiga hal yang ditekankan dalam ajaran Islam; yaitu berusaha, berdo’a dan berpasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya, lapangkan jiwa dalam menghadapi keputusan Tuhan. Janganlah bersedih karena kejadian yang menyakitkan, sebab segala peristiwa di dunia tidak ada yang kekal. Dan jadilah dirimu manusia yang kebal terhadap cobaan dan ancaman, namun sikap perilakumu tetap pemaaf dan setia“ (Imam Syafi’I (w: 204 H) )&lt;br /&gt;Wallahu A’lam &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-1472596249091397483?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/1472596249091397483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=1472596249091397483' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1472596249091397483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1472596249091397483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/09/antara-usaha-doa-dan-pasrah.html' title='Antara Usaha, Do’a dan Pasrah'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-6084018774843591488</id><published>2007-09-23T16:30:00.000Z</published><updated>2007-10-07T00:39:35.121Z</updated><title type='text'>Reaktualisasi  Konsep  Pelarangan Kemunkaran</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh: Arip Rahman, DESA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satu ciri ummat Islam dinyatakan sebagai ummat terbaik adalah karena ummat ini memiliki kewajiban risalah dakwah - amar ma’ruf dan nahi munkar- yang tidak dimiliki oleh ummat lainnya (QS-3 :104). Dalam Islam barometer keimanan seseorang diukur berdasarkan kepada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, antara lain terutama dengan menjalankan kewajiban risalah dakwah tersebut (QS- 49 : 13). Berbeda dengan Yahudi yang mendeklarasikan sebagai bangsa pilihan karena mereka berasal dari keturunan utama para Nabi yang diutus ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya seseorang akan menjadi muslim paripurna apabila selalu menjalankan risalah dakwah di atas, bukan hanya untuk kepentingan individu tetapi juga bagi kepentingan kolektif. Namun dia juga harus memiliki perhatian dan sensitif tinggi untuk saling menasehati dan bersabar dalam ketaqwaan, guna meningkatkan dan membentuk perbaikan mutu kesabaran dan ketaqwaan sesama ummat tetap terjaga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita cermati beberapa kandungan ayat suci Al-Quran terutama yang berkaitan dengan topik kali ini, Allah SWT memuji para pelaku penegak risalah dimaksud, dan sebaliknya Dia mencela orang-orang yang tidak mengindahkan anjurannya. Allah SWT berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan melampuai batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS - 4 : 78-79).&lt;br /&gt;Semua yang dibenci dan diharamkan Syari’at adalah kemunkaran. Berkenaan dengan pelarangan kemunkaran adalah menarik sekali untuk reaktualisasi pemahaman konsep tersebut terutama pemahaman konsep nahi munkar yang terdapat dalam sebuah hadist yang cukup populer di masyarakat, berbunyi : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ،فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya : “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, maka barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan tangannya), hendaklah ia mengubah dengan ucapannya, dan barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan ucapnya), maka hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman&lt;/span&gt;” (HR. Muslim). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktepatan pemahaman hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini terjadi di kalangan umum yang memandang bahwa pengubahan kemunkaran merupakan kewajiban setiap muslim sesuai dengan tartib dan urutan teks hadist, yaitu: tangan, lisan dan hati. Ringkasnya, setiap muslim hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk menghentikan kemunkaran dengan tangannya. Apabila tidak mampu dengan tangan, maka dengan lisannya dan apabila tidak mampu juga, maka cukuplah hati kita mengingkari dan menolaknya, bukan justru mendukungnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang perintah amar ma’ruf nahi munkar hukumnya wajibul ain. Namun pemahaman tersebut, tampaknya perlu dikaji ulang karena terdapat kesalahan pada saat mengamalkannya hadist ini, walaupun niat awalnya benar. Namun tidak semua niat yang benar membuahkan hasil yang benar dan diterima di sisi-Nya. Misalkan dengan berlandaskan hadist ini, sekelompok melihat pusat tempat kemunkaran kemudian mereka melakukan sweeping dengan membawa bermacam senjata tajam untuk menghancurkan tempat tersebut dengan kekuatan tangan–perubahan dilakukan dengan tangan sesuai tartib teks hadist-. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kejadian dimaksud harus dibayar mahal karena selain menyebabkan anarkhi sehingga menelan korban dan stabilitas negara terganggu seperti yang dilakukan oleh beberapa oknum kelompok tertentu. Payahnya, disamping mencoreng reputasi ummat terutama pasca peiliputan media lokal maupun internasional pada saat anarkhi, sekilas terkesan seolah-olah ummat Islam lebih mengutamakan kekerasan dalam pengampaian sasaran dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk menghindari hal yang tidak diharapkan, seyogyanya bentuk perintah dari hadist di atas adalah untuk -مِنْكُمْ- di antara kalian- yaitu pengkhususan. Contohnya, barang siapa di antara kalian melihat orang sakit, maka obatilah - tentunya setelah ada arahan dan anjuran dari dokter. Atau barang siapa yang melihat mobil melaju kencang melebihi batasan kecepatan yang ditentukan, maka polisi berkewajiban menghentikan aksi tersebut. Mungkin salah satu syarat penerapan hadist ini adalah hendaknya seseorang memiliki kemampuan untuk melarang kemunkaran dengan ketiga media tersebut. Jadi tidak semua orang dapat menerapkan hadist di atas sekehendak hati ber-nahi munkar dilakukan secara tartib agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tangan lebih kuat dari pada lisan, lisan lebih kuat dari pada hati, tampaknya tidak selalu tepat dengan ke nyataan. Padahal yang namanya keimanan sejatinya bersemayan dalam hati dan refleksinya dalam perbuatan anggota tubuh, baik itu dengan menggunakan tindakan tangan maupun ucapan lisan. Dengan demikian, maka hati lebih kuat dari pada keduanya (tangan dan lisan) karena hatilah yang mengerakan keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kembali kepada hadist di atas secara utuh, dapat disimak bahwa isim isyarah/demonstrative pronouns َذَلِكَ yang bermakna itu bukan ini, menunjukan kepada yang jauh-lil ba’id yaitu tangan- bukan kepada yang dekat –lil qhorib-, yaitu hati. Kenapa demikian? karena sesungguhnya hati yang terkuat jika berkaitan erat dengan Allah SWT, maka pada saat seorang berdoa akan dikabulkan doanya antara lain apabila niat dalam hatinya kuat/khusyu’. Dengan demikian hati harus lebih kuat dan lebih berpengaruh melebihi kekuatan tangan dan lisan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman untuk masalah ini, tidak selamanya media pelarangan nahi munkar dilakukan secara tartib. Hal itu disesuaikan dengan kadar besar kecilnya kemunkaran, bisa jadi langsung dengan tindakan ucapan (lisan), kemudian hati dan terakhir dengan mengunakan aparat Pemerintah (tangan), yang tentunya memerlukan proses dan pengamatan yang lebih arif sesuai dengan kondisi dan media mana yang harus diutamakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun pelarangan kemunkaran dapat dilakukan secara tartib–tangan, lisan dan hati-, tentunya harus sesuai dengan klasifikasi yang telah ditentukan oleh ulama. Yaitu dengan landasan bahwa bentuk isim mausul dan istifham inkari/kata sambung -مَنْ man- tidak ditujukan untuk semua kelompok dalam satu paket dapat menggunakan media pelarangan kemunkaran. Adapun klasifikasi orang yang dapat bertindak dengan ketiga media tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;: kalimat ‘hendaklah ia mengubah dengan tangannya’ adalah dikhususkan penguasa atau pemerintah, &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;: kalimat ‘maka barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan tangannya) hendaklah ia mengubah dengan ucapannya’ ini ditujukan bagi ulama termasuk tholibul ilmi –yang memahami agama dengan baik- dan &lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;: kalimat ‘barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan ucapnya) maka hendaklah ia mengubah dengan hatinya’ ini dapat dilakukan oleh semua unsur ummat tanpa pengecualian asal memenuhi syarat taklif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bahwa kadar atau ukuran kemunkaran kecil dan besar serta pengaruhnya tentunya akan berbeda. Misalkan kewajiban bapak memerintahkan anaknya yang berusia 10 tahun untuk mendirikan sholat fardhu. Apabila si anak dalam usia tersebut belum terbiasa sholat –meninggalkan sholat adalah bentuk kemunkaran- maka si bapak sesuai perintah Rasulullah SAW dapat memukul (pukulan yang tidak menyakitkan) anak tersebut jika meninggalkan kewajiban sholat. Dalam kasus semisal itu, dapat digunakan ketiga media nahi munkar karena kadar kemunkarannya tidak terlalu besar karena semua orang tua kemungkinan besar dapat bernahi munkar yang dilakukan anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun berkenaan dengan kemunkaran kolektif (Bar dan Night Club) yang kadar kemunkarannya sangat besar menurut pandangan Syari’at, maka yang memiliki otoritas bertindak untuk mengubah kemunkaran tersebut adalah yang memiliki kemampuan, yaitu penguasa atau pemerintah. Apabila dalam kemunkaran semacam ini yang bertindak perorangan atau sekelompok non-pemerintah, dikuawatirkan akan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar, dan justeru dalam pencegahan terhadap sebuah kemunkaran menimbulkan fitnah yang lebih besar dan dapat memicu pertumpahan darah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, ketidaktepatan memahami hadist di atas telah menyebabkan jatuh korban manusia dan mengakibatkan adanya ancaman rasa takut akibat berbagai aksi kekerasan. Untuk itu diperlukan reaktulisasi pemahaman hadist di atas secara profesional, agar masa kelabu ummat Islam pada saat sekarang, kiranya tidak akan dialami lama dan gelar predikat Sebaik-Baiknya Ummat tetap layak disandang oleh ummat ini sebagai pelaku utama pengemban misi dakwah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-6084018774843591488?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/6084018774843591488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=6084018774843591488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/6084018774843591488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/6084018774843591488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/09/reaktualisasi-konsep-pelarangan.html' title='Reaktualisasi  Konsep  Pelarangan Kemunkaran'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-1883859747985990968</id><published>2007-09-14T17:18:00.000Z</published><updated>2007-09-14T17:24:54.429Z</updated><title type='text'>Hadits dan Ekonomi</title><content type='html'>Oleh : Muhammad Yusuf Siddik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas terasa sedikit aneh jika kita menggandengkan antara Hadis Rasul yang selalu dikenal sebagai acuan kita dalam beribadah dengan ekonomi yang lebih condong kepada keduniaan. Keterasingan ini memang memiliki alasan tersendiri karena umat Islam Indonesia pada khususnya dan umat Islam global pada umumnya terlalu lama dipaksa atau terpaksa memisahkan Islam dari segenap kehidupan bisnis dan ekonominya. Namun jika ditelusuri lebih dalam, banyak sekali nilai yang disampaikan oleh Rasulullah berkaitan erat dengan upaya peningkatan taraf hidup masyarakat guna tercipta moslem society yang berperadaban dan memiliki ekonomi maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rasulullah mengenalkan istilah itqan yang lebih tepat jika diterjemahkan dengan profesionalitas. Kita dituntut untuk mampu bersaing di kancah perekonomian dunia yang semakin hari semakin mengglobal dan tanpa batas. Kita akan terpuruk oleh desakan negara-negara maju jika kita tidak memiliki profesionalitas tinggi dan selalu mengandalkan tenaga profesional asing dan barang impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rasulullah juga melarang umatnya hidup dengan cara « konsumtif /berlebihan». Ini juga termasuk yang paling vital dalam membangun taraf hidup masyarakat. Sebab cara hidup yang berlebihan membuat manusia tidak mampu memilah kebutuhan dan mengklompokkannya ke dalam skala prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hidup yang produktif. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu bekerja untuk keduniaan seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya. Beliau menggandengkan 3 kata yaitu ; kerja keduniaan, hidup dan selama-lamanya (masa depan) yang berarti, kita tidak hanya dituntut untuk bekerja, tapi bekerja yang menghasilkan (produktif) dan berwawasan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rasulullah menganjurkan kita untuk membagi perut menjadi 3 bagian, 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk pernafasan. Anjuran ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi jika kita terapkan dalam kehidupan finansial seseorang. Penghasilan kita hendaknya dibagi kepada 3 yaitu, 1/3 untuk kebutuhan primer, 1/3 untuk kebutuhan skunder dan 1/3 untuk menabung (bernafas/kebutuhan insidentil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Beliau juga mewanti-wanti kita agar tidak terjerat hutang, dan berupaya semaksimal mungkin untuk segera melunasi. Bahkan dalam sebuah haditsnya beliau mengajarkan kita untuk meminta perlindungan Allah SWT dari sifat pengecut, bakhil, lemah, pemalas dan terbelit hutang. Pesan ini jika benar-benar direnungkan olah penguasa negeri kita tercinta, Indonesia akan mampu melepaskan diri dari krisis ekonomi yang melanda. Sebab faktor utama penyebab terpuruknya Indonesia ke dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, adanya tunggakan hutang yang berupa dolar, sementara rupiah jatuh pada posisi yang paling rendah sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Rasulullah juga menganjurkan kita untuk berpetualang, menjelajahi dunia dan mengenal bahasa asing sebagai anjuran agar kita memiliki orientasi ekspor dalam berdagang. Hal ini tidak hanya dianjurkan beliau dalam kata-kata, namun dibuktikan dalam perbuatan saat beliau berdagang dari Mekkah ke Syam dengan membawa dagangan saudagar « Khadidjah ». Pesan ini juga hendaknya menjadi renungan kita, sebab menurut catatan Econit pada semester awal 2001 laju pertumbuhan impor Indonesia tak kurang dari 30 persen sementara pertumbuhan ekspor hanya 7-8 persen. Adanya net ekspor yang negatif ini sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada umumnya (Republika, 5/9/2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Baginda Rasul juga melarang kita membiarkan lahan terbengkalai, mati tanpa dimanfaatkan dengan bercocok tanam. Bahkan lahan yang belum dikenal pemiliknyapun boleh kita tanami, selagi belum ada yang mengakui kepemilikannnya. Ironis sekali, Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan yang sangat luas, namun ternyata untuk kebutuhan sehari-hari saja masih mengimpor dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Beliau juga menganjurkan kita berbisnis, bahkan dalam hadits beliau yang dikutip Mawardi « usaha yang paling diberkati Allah adalah berdagang ». Dan ini terbukti, bisnis adalah lahan yang paling menguntungkan dan menjanjikan.&lt;br /&gt;Masih banyak prinsip-prinsip ekonomi yang gariskan oleh Rasulullah lewat hadits-hadits beliau yang tidak mungkin dijabarkan dalam artikel kecil, namun perlu dibahas lebih mendalam oleh ekonom-ekonom yang berwawasan keislaman. Wallahu a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-1883859747985990968?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/1883859747985990968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=1883859747985990968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1883859747985990968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1883859747985990968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/09/hadits-dan-ekonomi.html' title='Hadits dan Ekonomi'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-8518679301852593807</id><published>2007-09-08T02:38:00.000Z</published><updated>2007-10-07T00:42:39.425Z</updated><title type='text'>"Generasi Rabbani", Generasi Anti Kekerasan</title><content type='html'>Oleh : A. Ridho Al Mundziry, DESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca-tsunami di Aceh dan sekitar yang disusul dengan berbagai bencana di beberapa daerah di Tanah Air, paling tidak ada dua "penderitaan" yang dialami oleh bangsa Indonesia, khususnya anak-anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; kemiskinan konvensional. Penderitaan anak-anak Indonesia disebabkan orangtuanya miskin secara ekonomi. Kekurangan sandang, pangan, dan papan menyertai kehidupan sehari-harinya. Usia yang mestinya mereka gunakan untuk belajar di sekolah-sebagaimana yang dialami anak-anak pada umumnya-mereka gunakan untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; menderita karena musibah. Pasca-tsunami di Aceh dan sekitarnya, di beberapa daerah di Tanah Air diterpa bencana berupa kekeringan, banjir, gempa, gunung meletus, dan lain-lain. Inilah deretan peristiwa yang datang tiba-tiba. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa orang-orang miskin, tetapi juga orang kaya. Anak-anak yang semula berlimang kesenangan dalam "pelukan" orangtua yang ekonominya mapan, tiba-tiba jatuh miskin. Sedikit banyak, bencana-bencana itu menimbulkan keprihatinan dan trauma. Secara psikologis, perasaan dan ketenteraman jiwa anak-anak akan terganggu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fitrah Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dua "penderitaan" yang kini dialami oleh anak-anak Indonesia harus segera diatasi agar perkembangan dan pertumbuhannya berjalan normal, terutama soal pendidikannya. Mereka harus dilatih dan dididik menurut minat dan bakat. Anak-anak harus disiapkan menjadi penerus perjuangan bangsa dengan berbagai ketererampilan yang kelak bisa menopang kehidupannya. Menyiapkan generasi muda yang tangguh merupakan kewajiban orangtua dan seluruh komponen bangsa. Bahkan kita harus khawatir jika kelak meninggalkan generasi yang lemah, baik mental maupun moralnya (QS An-Nisa [4]: 9). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan bahwa mencintai anak dan harta benda merupakan fitrah manusia serta anak dan harta yang "disalehkan" akan bisa dipetik manfaatnya (QS Al-Kahfi [18]: 46). Itu semua merupakan tabungan yang akan kita dapatkan kelak di akhirat. Harta yang disedekahkan dan anak-anak yang didik menjadi saleh akan menjadi kebajikan yang sangat istimewa. Keistimewaan anak saleh terletak pada doa dan permohonan ampun mereka untuk kedua orangtuanya. Lain halnya dengan anak yang durhaka. Mereka bukannya akan mengangkat kedudukan orangtua, malah jadi beban pertanggungjawaban kelak di akhirat.&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran terdapat kisah mengenai cita-cita dan harapan istri Imran terhadap anaknya ketika masih dalam kandungan (QS Ali Imran [3]: 35). Nazar mulia istri Imran adalah tekadnya untuk menjadikan anak yang dikandungnya kelak itu lahir, akan ia jadikan muharrar, seorang anak saleh, yang tidak disibukkan oleh persoalan-persoalan duniawi, tetapi secara khusus mengonsentrasikan diri mendalami agama ("ulama"). Inilah sebuah cita-cita dan harapan orangtua yang patut kita teladani. Oleh karena itu, di antara sekian banyak anak yang kita miliki, salah satunya harus ada yang mengkhususkan diri untuk mempelajari agama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Generasi Rabbani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Generasi yang memiliki ilmu yang memadai dan kepribadian yang saleh, dalam bahasa Al-Quran itu disebut "generasi rabbani" (QS Ali Imran [3]: 79). Tidak banyak memang orang yang mampu menyiapkan generasi berilmu dan bertakwa. Bahkan banyak yang mengabaikan. Banyak orang yang bercita-cita memiliki generasi yang baik, yang bisa melanjutkan perjuangan membangun bangsa dan negara, namun sedikit sekali yang sukses. Langkah-langkah mendidik anak yang sehat jasmani dan sehat rohaninya, paling tidak bisa kita temukan dari pola yang diterapkan oleh Luqman Al-Hakim. Ia adalah seorang bijak yang namanya diabadikan dalam Al-Quran berkat nasihat-nasihatnya terhadap anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada empat langkah yang ditempuh Luqman Al-Hakim dalam mendidik anak, yaitu:&lt;br /&gt;  (a) menanamkan dan memantapkan nilai-nilai akidah serta terbebas dari kemusyrikan. ini        adalah landasan utama keberagamaan generasi kita (QS Luqman [31]: 13),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(b) menyuruh berbuat baik kepada orang tua (QS Luqman [31]: 14), &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;(c) menyuruh salat dan menganjurkan bersabar dalam beramar makruf nahi munkar (QS Luqman [31]: 17), dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;(d) menanamkan sikap-sikap dan perangai terpuji, seperti tidak boleh sombong dan angkuh baik dalam ucapan maupun tindakan (QS Luqman [31]: 18-19). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah dasar-dasar dan tahapan-tahapan pendidikan yang diajarkan Luqman kepada anaknya. Semuanya itu memang sangat sistematis. Mulai dari yang utama, yaitu mengenai dasar-dasar keimanan, hingga akhlak sehari-hari, cara berjalan dan bertutur kata. Jika seorang anak telah memiliki dasar iman yang kuat dan sifat-sifat pribadi yang terpuji, maka generasi rabbani yang kita dambakan akan terwujud. Dengan demikian, masa depan bangsa hanya dapat dipercayakan kepada anak-anak yang cerdas, terampil dan bermoral. Jika selama ini pendidikan hanya berorientasi pada kecerdasan dan keterampilan, harus ditambah dengan orientasi pada keluruhan budi pekerti. Sebab, carut marutnya bangsa ini bukan karena manusia Indonesia tidak cerdas atau tidak terampil, tetapi karena sedikitnya orang yang bermoral atau punya nurani. Penekanan pada pendidikan yang bermoral agama menjadi sangat penting dan karena itu pula, cita-cita istri Imran dan pola pendidikan terhadap anak yang dipraktikkan Lukman seperti yang telah dijelaskan di atas patut kita teladani dan terapkan. Generasi kaum Muslim yang dapat dijadikan panutan dan dambaan umat masa depan adalah mereka menguasai iptek, kuat imtak, dan anti-kekerasan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-8518679301852593807?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/8518679301852593807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=8518679301852593807' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/8518679301852593807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/8518679301852593807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/09/generasi-rabbani-generasi.html' title='&quot;Generasi Rabbani&quot;, Generasi Anti Kekerasan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-4077583410836300312</id><published>2007-09-08T02:24:00.000Z</published><updated>2007-10-07T00:44:46.379Z</updated><title type='text'>Pesiapan menyambut Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Achmad Suprapto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bulan Sya’ban akan meninggalkan kita. Insya Allah, pada kamis depan, kita akan menyambut bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Maka dari itu marilah kita menilai, apakah persiapan kita untuk menghadapi bulan Ramadhan? Apakah persediaan kita untuk menyambut bulan puasa?&lt;br /&gt;Allah s.w.t berfirman dalam surah Al-Baqarah, ayat 183:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يأيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat di atas, jelas untuk kita bahwa Allah s.w.t mensyariatkan puasa pada bulan Ramadhan, tujuannya adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Maka perlu kita buat persediaan agar apabila tiba bulan Ramadhan, dan kita menunaikan kewajiban berpuasa, kita akan menjadi orang yang bertaqwa. Janganlah sekali-kali kita menyangka bahwa dengan berpuasa saja pada bulan Ramadhan, tanpa membuat persediaan, kita akan menjadi orang yang bertaqwa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah persiapan yang perlu kita lakukan untuk menghadapi bulan Ramadhan? Apakah persiadaan untuk menyambut kehadiran bulan yang penuh dengan keberkahan ini? Persiapan pertama adalah persiapan fisik. Ia perlu karena kita akan menggunakan tenaga kita untuk berpuasa sepanjang hari pada bulan Ramadhan. Perut kita tidak akan diisi pada siangnya. Dan kita akan menggunakan tenaga untuk mengerjakan sholat Terawih pada malamnya. Juga, selama sebulan lamanya, kita akan bangun sebelum Subuh untuk makan sahur. Perubahan-perubahan ini memerlukan persiapan fisik yang baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berapa ramai dari kalangan kita yang merasa berat berpuasa pada awal-awal Ramadan. Tetapi hilang perasaan tersebut pada akhir-akhir Ramadan. Ini adalah kerana pada awal Ramadan tubuh badan kita masih lagi belum cukup bersedia untuk menghadapi perubahan yang dituntut untuk berpuasa. Manakala pada akhir Ramadan pula, tubuh badan kita sudah membuat penyesuaian fisik untuk ibadat puasa. Sehinggakan kita tidak merasa berat untuk berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, apakah persiapan fisik yang boleh kita lakukan? Pertama, latihkan diri memakan sarapan seawal mungkin. Beratkan sedikit sarapan tersebut. Ini sebagai persiapan untuk sahur kelak ketika Ramadhan. Kemudian, apabila tiba waktu makan siang hari, kurangi kawuntitas makanannya. Ambilah makan siang hari yang ringan. Ini agar membiasakan perut kita untuk menghadapi puasa kelak. Dan akhirnya, untuk makan malam, jangan makan terlalu berat atau terlalu banyak. Karena apabila kita berpuasa kelak, Islam menganjurkan agar kita berbuka puasa dengan makanan ringan. Ini agar dapat membantu kita melaksanakan ibadat pada waktu malam. Makanan yang berat bukan saja menyebabkan kita merasa malas untuk mengerjakan ibadat, malah juga akan membawa mudarat atau bahaya pada jasmani kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita juga boleh melatih diri kita dengan tidur lebih awal, dan bangun sebelum waktu Subuh. Waktu tidur perlu dijaga. Janganlah kita jadikan bulan Ramadhan kelak sebagai alasan untuk kita merasa lelah atau ngantuk pada siang harinya, lantaran tidak cukup tidur. Mereka yang tidak cukup tidur adalah bermula dari kekurangan mereka sendiri. Karena mereka tidak melatih diri mereka tidur lebih awal. Sedangkan mereka nanti perlu bangun lebih awal untuk makan sahur. Apabila seseorang itu tidur lewat, dan kemudian bangun lewat sehingga makan sahur, maka itulah yang menyebabkan seseorang itu merasa letih pada siang harinya. Karenab mereka berpuasa tanpa bekal makanan di perutnya. Rasulullah s.a.w bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;تسحروا فإت في السحور بركة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Makan sahurlah, karena pada sahur itu ada keberkahan". (Hadith riwayat Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan kedua yang perlu kita lakukan adalah persiapan mental. Ini termasuk menyematkan dalam diri kita keyakinan bahwa kita akan mampu berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sukses. Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang khusus untuk kita, umat Nabi Muhammad s.a.w. Bulan yang datang hanya setahun sekali saja. Maka kita tanamkan dalam diri kita kegembiraan menyambut bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sudah mengetahui persiapan fisik dan mental, dan kita berkomitmen untuk melaksanakannya, ketahuilah bahwa persiapan-persiapan tersebut tidak akan sukses tanpa seizin dan keberkahan dari Allah s.w.t. Maka, untuk menjadikan persiapan-persiapan fisik dan mental itu sukses dilaksanakan, kita perlu juga membuat persiapan ketiga. Iaitu persiapan rohani. Malah, inilah persiapan yang paling penting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Persiapan rohani artinya, kita mensucikan jiwa kita dari segala kotoran. Dan menghiasinya dengan segala kebaikan. Orang yang menyambut kehadiran Aidilfitri akan membersihkan rumahnya. Dan menghiasinya dengan perhiasan. Sekiranya itu yang dilakukan untuk sesuatu benda di dunia ini, yang akan ditinggalkan apabila mati kelak, apatah lagi hati dan jiwa kita yang akan kekal bersama kita sehingga mati kelak? Tidakkah terlebih penting untuk kita membersihkan dan menghiasi hati kita untuk menyambut bulan Ramadhan?. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membersihkan hati boleh dilakukan dengan melakukan taubat atas dosa-dosa yang lalu. Dan penghiasan hati boleh dilakukan dengan meningkatkan lagi kwalitas dan kuantiti ibadat kita. Semoga dengan demikian, Allah s.w.t akan membantu kita menjalani ibadat dalam bulan Ramadhan dengan lebih baik lagi dari tahun-tahun yang yang lalu. Dan semoga dengan demikian, kita akan mengakhiri bulan Ramadhan sebagai orang-orang yang bertaqwa, yang sukses dunia dan akhirat, amiin. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-4077583410836300312?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/4077583410836300312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=4077583410836300312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/4077583410836300312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/4077583410836300312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/09/pesiapan-menyambut-ramadhan.html' title='Pesiapan menyambut Ramadhan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-1230760190265281386</id><published>2007-08-24T13:07:00.000Z</published><updated>2008-08-24T13:10:43.490+01:00</updated><title type='text'>Link Penting Di Maroko</title><content type='html'>&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.indonesie.ma/"&gt;KBRI Rabat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.habous.gov.ma/ar/multimedia.aspx"&gt;Kementrian Agama Maroko&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.darhadit.ac.ma/"&gt;Darel Hadits el Hassania University&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.daouatalhaq.ma/"&gt;Da'watul Haq Magazine&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.dourous-hassania.org.ma/"&gt;Durus al Hassania&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.almajlis-alilmi.org.ma/ar/index.aspx"&gt;Majlis I'lmi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.mernissi.net/"&gt;Fatema Mernissi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.attaliblog.com/"&gt;Jacques Attali&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.flm.ucam.ac.ma/"&gt;Universitas al Qodi Iyyad Marrakech&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.aui.ma/"&gt;Al Akhawayn University Ifran&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.emi.ac.ma/"&gt;Université Mohammed V Agdal&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.um5s.ac.ma/"&gt;Université Mohammed V Souissi&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.uh2c.ac.ma/"&gt;Université Hassan II Casablanca&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.uae.ma/welcome/index.php?accueil=1"&gt;Université Abdelmalek Essaâdi Tanger&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.fst.ac.ma/emg/"&gt;Abdelmalek Essaadi University Tetouan&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.univh2m.ac.ma/"&gt;UNIVERSITE HASSAN II MOHAMMEDIA&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.4icu.org/reviews/9369.htm"&gt;Université Sidi Mohamed Ben Abdellah Fés&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.univ-oujda.ac.ma/"&gt;Université Mohamed Premier Oudja&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.univ-ibnzohr.ac.ma/"&gt;Ibnou Zohr University Agadir&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://web.ucd.ac.ma/"&gt;Chouaib Doukkali University Eljadida&lt;/&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-1230760190265281386?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/1230760190265281386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=1230760190265281386' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1230760190265281386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1230760190265281386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/08/link-penting-di-maroko.html' title='Link Penting Di Maroko'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-605556482991495480</id><published>2007-04-27T08:15:00.000Z</published><updated>2007-04-27T08:22:57.470Z</updated><title type='text'>TIGA POTENSI MANUSIA</title><content type='html'>Oleh : Khoirurrijal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah s.w.t telah memuliakan manusia dari makhluk-Nya. Manusia dimuliakan Allah s.w.t dengan dilengkapi dengan tiga potensi yang urgen berupa hati, akal dan jasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati, manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang indah dan mana yang buruk Jika hati manusia bersih, maka ia akan selalu menerima yang haq, menerima yang benar dan menerima yang indah, dan begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akal, manusia dapat mencari ilmu pengetahuan, dapat menemukan dan menciptakan segala sesuatu. Akal yang sehat akan selalu melahirkan ilmu yang bermanfaat, dan menciptakan segala sesuatu yang mempunyai kemashlahatan bagi manusia lainnya, dan begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jasad, manusia dapat beramal sholeh.  Manusia yang sholeh selalu berusaha apa yang dilakukannya bisa mendatangkan manfaat, baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, agamanya, nusa dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga potensi yang dianugerahkan Allah s.w.t tersebut hendaknya kita aktualisasikan dalam kehidupan kita di dunia ini sebagai wujud syukur kita kepada Allah s.w.t. Bukankah Allah s.w.t telah menciptakan manusia di muka bumi ini untuk beribadah kepada-Nya ? Nah, amal sholeh merupakan cerminan dari ibadah kita kepada Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah harus didasari dengan keikhlasan dalam pelaksanaannya. Orang yang ikhlas dalam beribadah akan beruntung. Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;و ما  أمروا إلاّ ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء - سورة البينة : 5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan dalam (menjalankan) agama yang lurus&lt;/strong&gt;….  (Q.S. Al-Bayyinah : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ikhlas akan terasa berat bagi orang yang belum mendapatkan hidayah dari Allah s.w.t.  Oleh karena itu kita selalu memohon kepada Allah s.w.t untuk selalu diberikan hidayah (petunjuk) kepada jalan yang lurus. Allah Hadi Ila Shirath al-Mustaqim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم و لا الضالّين -سورة الفاتحة : 6-7&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tunjukilah kami ke jalan yang lurus,( yaitu) jalan orang-orag yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat&lt;/strong&gt; (Q.S. Al-Fatihah : 6-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayah Allah s.w.t akan diberikan kepada hamba-Nya yang benar-benar pilihan. Hamba yang terpilih untuk mendapatkan hidayah Allah s.w.t adalah hamba yang beruntung. Siapakah orang-orang yang beruntung itu ? Allah s.w.t berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;و العصر. إن الإنسان  لفي خسر إلاّ الذين  آمنوا و عملوا  الصالحات و تواصوا بالحق و تواصو ا بالصبر  - سورة العصر : 1-3&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran&lt;/strong&gt; (Q.S. Al-Asyr : 1-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut jelaslah bahwa manusia yang beruntung itu adalah Pertama: Manusia yang beriman kepada Allah s.w.t. Nah, keimanan itu paling tidak harus diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan. Orang yang beriman dan tidak mau beramal, maka keimanannya belum sempurna. Orang yang beriman hanya diyakini dalam hati saja, maka keimanannya belum sempurna. Orang yang beriman hanya diucapkan saja, maka keimanannya belum sempurna. Kedua: Orang-orang yang beramal sholeh. Amal sholeh adalah amal kebaikan. Orang yang selalu beramal sholeh, maka hidupnya akan mulia. Oleh karena itu hiasilah hidup ini dengan amal sholeh. Ketiga: Nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Nasehat itu sangat diperlukan. Seseorang itu tidak bisa terlepas dari nasehat.  Dengan nasehat, seseorang bisa terselamatkan dari kesesatan dan kedholiman. Dan dengan nasehat pula seseorang bisa meningkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, semua orang  menginginkan hidupnya beruntung. Untuk mendapatkan keberuntungan itu tentu melalui perjuangan yang tidak mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan. Orang yang beruntung harus mau berkorban. Pengorbanan itu memerlukan latihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurbanan itu banyak macam dan ragamnya; pengorbanan dalam bentuk waktu, pengorbanan dalam bentuk tenaga, pengorbanan dalam bentuk harta dan bahkan pengorbanan dalam bentuk jiwapun diperlukan  untuk menegakkan kalimatullah al-haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sadari, bahwa manusia hidup di dunia ini hanyalah sementara. Maka janganlah kita terpedaya dengan kehidupan dunia yang penuh dengan macam ragamnya. Maka janganlah kita salah dalam memilih macam ragam kehidupan dunia. Kita harus menentukan, mana yang baik, mana yang haq itulah yang harus kita dekati dan kita ambil. Dan mana yang jelek, mana yang batil itulah yang harus kita jauhi dan kita tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadikan kehidupan di dunia yang sementara ini untuk mencapai kehidupan akherat  yang kekal abadi. Seorang yang beriman, tentunya akan berfikir panjang, karena ia tahu bahwa nanti ia akan berjumpa dengan kehidupan akherat. Ia selalu berhati-hati dalam berbuat, berucap dan bertingkah laku di dunia ini. Karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah s.w.t dalam kehidupan akherat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang beriman, akan berbeda dengan orang yang tidak beriman. Perbedaannya yang nampak jelas adalah orang yang beriman itu memiliki orientasi yang jauh yaitu akherat, sedangkan orang yang tidak beriman orientasinya hanyalah dunia saja dan mengesampingkan kehidupan akherat. Ia lebih banyak mengejar materi saja, dan melupakan rohaninya. Padahal, kebahagiaan itu meliputi kebahagiaan dunia dan akherat, kebahagiaan jasmani dan rohani. Orang yang hanya mementingkan kebahagiaan dunia saja, maka kebahagiaannya tidak seimbang. Orang yang hanya mementingkan materi saja, maka kehidupannya tidak seimbang. Seharusnya kebahagiaan dunia akherat dan kebahagiaan jasmani rohani harus ada dalam diri seseorang yang mencari kebahagiaan yang hakiki.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah s.w.t menciptakan kehidupan dunia ini adalah sebagai ujian bagi manusia untuk menentukan siapa yang  paling baik amalnya dan siapa yang bisa menjaga ketiga potensi yang diamanatkan Allah s.w.t berupa hati, akal dan jasad. Bagi orang-orang yang bisa menjaga amanat yang Allah s.w.t berikan, maka ia akan menjadi mulia di sisi Allah s.w.t, dan begitu  pula sebaliknya. &lt;em&gt;Wallahu A’lam&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-605556482991495480?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/605556482991495480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=605556482991495480' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/605556482991495480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/605556482991495480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/04/tiga-potensi-manusia.html' title='TIGA POTENSI MANUSIA'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-3574757206472945921</id><published>2007-04-20T08:01:00.000Z</published><updated>2007-04-27T08:10:59.077Z</updated><title type='text'>Islam Dan Emansipasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Mukhlas Al Bastamy&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;strong&gt;Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan para wanita: “Mengapa dalam Al-Qur’an disebutkan para laki-laki sementara para wanita tidak?” Maka turunlah ayat ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jauh Sebelum mempoklamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajad wanita dari masa pencampakan wanita di era jahiliah ke masa kemulaian wanita. Dari ayat di atas kita bisa melihat betapa Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki. Semua sama di hadapan Allah.swt, dan yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangnnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita dengar pemahaman emansipasi wanita yang selalu digembar-gemborkan orang-orang barat yang mengatasnamakan hak asasi manusia, bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan hak dengan kaum pria, padahal tidak semua hak wanita harus disamakan dengan pria, karena Allah.Swt telah menciptakan masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. Persamaan hak untuk dilindungi oleh hukum, mendaptkan gaji yang setara dengan laki laki jika berada di kedudukan atau kemampuan yang sama, dan lain sebagainya adalah segelintir contoh dibolehkannya persamaan hak dengan kaum pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum menyadari makna dari emansipasi wanita itu sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural menjadi serba keliru. Belenggu budaya itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan R.A. kartini dan R.Dewi Sartika dalam medobrak keterbelengguan peribumi oleh penjajah merupakan pergerakan yang spektakuler bagi wanita Indonesia saat itu. Sebuah perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, akan tapi adu otak, adu harga diri. Tak berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga kita sebut sebagai jaman Kebangkitan Nasional, tidak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi juga meruncingkan pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik di forum diskusi maupun di media cetak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di hari Kartini ini, mari kita meneropong kebelakang melihat kembali wanita-wanita yang berjaya pada awal-awal berdirinya Islam, mereka adalah Aisyah binti Abu Bakar(wafat 58 H), Hafsah binti Umar (wafat 45 H), Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H), Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH), Maimunah binti Harits (wafat 50 H/670 M), Ummu Salamah (wafat 57 H/676 M), Zainab binti Jahsy (wafat 20 H), Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H), Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M), Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.) dan lain sebagainya. Merekalah yang telah memberikan suri tauladan yang sangat mulia untuk keberlangsungan emansipasi wanita, bukan saja hak yang mereka minta akan tetapi kewajiban sebagai seorang wanita, istri,anak atau sahabat mereka ukir dengan begitu mulianya. Seperti telah disinggung di atas, dalam pandangan Islam wanita yang baik adalah wanita yang seoptimal mungkin menurut konsep al-qur’an dan assunnah. Ialah wanita yang mampu menyelaraskan fungsi, hak dan kewajibannya:&lt;br /&gt;- Seorang hamba Allah ( At-Taubah 71 )&lt;br /&gt;- Seorang istri ( An-Nisa 34)&lt;br /&gt;- Seorang ibu ( Al-Baqoroh 233 )&lt;br /&gt;- Warga masyarakat (Al-furqan 33)&lt;br /&gt;- Da’iyah ( Ali Imran104 -110) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Islam juga telah mengabadikan nama wanita yang dalam bahasa Arab An-nisa (النساء) ke dalam salah satu surat dalam Al-quran, dan islam juga tidak melarang wanita untuk berperang atau berjihad di jalan Allah.Swt melawan orang-orang kafir, dalam hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat wanita terkemuka Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ra berkata :&lt;br /&gt;“Kami pernah bersama nabi SAW dalam peperangan, kami bertugas memberi minum para prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke Madinah.” Ummu Haram ra, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra , dimana ia berkata:&lt;br /&gt;“Nabi SAW bersabda : “Sejumlah orang dari ummatku menawarkan dirinya sebagai pasukan mujahid fi sabiliLLAH. Mereka mengarungi permukaan lautan bagaikan raja-raja di atas singgasananya.” Lalu tiba-tiba Ummu Haram ra berkata: “Ya RasuluLLAH, doakan saya termasuk diantara mereka itu.” Lalu Nabi SAW mendoakannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam Al- Qur’an bahwa musuh-musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara agar kita mengikuti millah (sistem hidup) mereka, hingga mereka ridha (QS Al-Baqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi Islam dan segala yang berbau Islam, kalau dapat memurtadkan kita dari Islam (Al-Baqoroh 217 dan Alburuuj 8). Sungguh Maha Benar Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini (kebanyakan telah menyimpang jauh dari Allah dan RasuINya), dan kehilangan jati dirinya sebagai muslimah adalah hasil dari rekayasa mereka yang menghendaki ajaran Islam itu kabur, sulit difahami dan terkesan kolot (terbelakang) serta menghambat kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung semua itu merekapun merekayasa, para ‘cendekiawan muslim’ yang lemah iman untuk mendukung program mereka dan menimbulkan keraguraguan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wanita yang dalam Islam sangat dihormati dan dimuliakan digugat. Aturan-aturan Islam yang tinggi dan sempurna dituding sebagai biang keladi ‘terbelakangnya’ para wanita Islam. Musuh-musuh Allah yang lantang meneriakkan isu hak asasi, kebebasan, modernisasi, dan persamaan inipun menyerang masalah poligami,hak menthalaq, hak warisan, masalah hijab, dan sebagainya sebagai hal-hal yang melemahkan Islam. Islam dikatakan telah merendahkan harkat dan martabat wanita, sedang Barat lah yang mengangkat dan memuliakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bandingkan dunia Islam dan dunia Barat, pada satu sisi mereka maju di bidang duniawi yang pernah dimiliki kejayaan islam, tapi kita lihat hubungan – hubungan sosial mereka ( hubungan antara masyarakat, suami dan istri orang tua dan anak dan lain sebaginya ) Islam lebih gemilang dengan hal-hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kita sebagai wanita mulimah untuk selalu menyiapkan dan meningkatkan kualitas keislaman kita, agar kita tidak terpengaruh dengan slogan- slogan barat yang akan menghancurkan pilar-pilar Islam dan menyilaukan mata kita.&lt;br /&gt;Selamat hari Kartini semoga wanita Indonesia bisa lebih meningkatkan khazanah keislamannya dan menghasilkan karya-karya besar untuk kemajuan Indonesia dan Islam pada umumnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-3574757206472945921?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/3574757206472945921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=3574757206472945921' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/3574757206472945921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/3574757206472945921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/04/islam-dan-emansipasi.html' title='Islam Dan Emansipasi'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-8566930770439174030</id><published>2007-04-13T08:11:00.000Z</published><updated>2007-04-27T08:14:42.884Z</updated><title type='text'>Maulid Nabi dan Semangat Perjuangan</title><content type='html'>Oleh : Med Hatta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SEBAGAI pembuka wacana, ada baiknya kita kutip amanat Presiden Soekarno pada peringatan maulid Nabi Muhammad saw. di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, tanggal 6 Agustus 1963 (Penerbitan Sekretariat Negara No. 618/1963).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sore-sore saya dibawa oleh Presiden Suriah Sukri al-Kuwatly ke makam Salahuddin. Lantas Presiden Kuwatly bertanya kepada saya, apakah Presiden Soekarno mengetahui siapa yang dimakamkan di sini? Saya berkata, saya tahu, of course I know. This is Salahuddin, the great warrior, kataku. Presiden Kuwatly berkata, tetapi ada satu jasa Salahuddin yang barangkali Presiden Soekarno belum mengetahui. What is that, saya bertanya. Jawab Presiden Kuwatly, Salahuddin inilah yang mengobarkan api semangat Islam, api perjuangan Islam dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan maulid nabi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi sejak Salahuddin tiap-tiap tahun umat Islam memperingati lahirnya, dan dikatakan oleh Pak Mulyadi tadi, juga wafatnya Nabi Muhammad saw. peringatan maulid nabi ini oleh Salahuddin dipergunakan untuk membangkitkan semangat Islam, sebab pada waktu itu umat Islam sedang berjuang mempertahankan diri terhadap serangan-serangan dari luar pada Perang Salib. Sebagai strateeg besar, saudara-saudara, bahkan sebagai massapsycholoog besar, artinya orang yang mengetahui ilmu jiwa dari rakyat jelata, Salahuddin memerintahkan tiap tahun peringatilah maulid nabi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam amanat Bung Karno di atas, peringatan maulid nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama "Saladin". Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu dunia Islam sedang mendapat serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja! Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw., 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal. Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjadi atabeg (semacam bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata peringatan maulid nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membuka lembaran sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, perayaan maulid nabi dimanfaatkan oleh para Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan maulid nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga, Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan maulid nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang "pengampunan" yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, "Dia mengampuni").&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan maulid nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata gerebeg artinya "mengikuti", yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan maulid nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idulfitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Iduladha).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keunikan suku Quraisy&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik untuk kita kaji adalah mengapa nabi dan rasul terakhir bagi umat manusia dibangkitkan Allah dari kalangan suku Quraisy di Semenanjung Arabia? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh Allah sendiri dalam Alquran Surat Quraisy ayat pertama dan kedua yang berbunyi, "Karena tradisi suku Quraisy. Tradisi mereka mengembara di musim dingin dan di musim panas". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kota suci Mekah pada mulanya bernama Baka atau Bakkah, sebagaimana tercantum dalam Ali Imran 96. Dalam bahasa Arab, kata baka mempunyai dua arti, "berderai air mata" dan "pohon balsam". Arti yang pertama berhubungan dengan gersangnya daerah itu sehingga seakan-akan tidak memberikan harapan, dan arti yang kedua berhubungan dengan banyaknya pohon balsam (genus commiphora) yang tumbuh di sana. Oleh karena huruf mim dan ba sama-sama huruf bilabial (bibir), nama Bakkah lama-kelamaan berubah menjadi Makkah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena kota Mekah sangat gersang, orang-orang Quraisy penghuni kota itu tidak mungkin hidup dari sektor agraris (pertanian), melainkan harus mengembangkan sektor bisnis (perdagangan). Dibandingkan suku-suku lain di Semenanjung Arabia, suku Quraisy memiliki watak istimewa, tahan segala cuaca! Mereka memiliki tradisi (ilaf) gemar mengembara baik di musim dingin maupun di musim panas untuk berniaga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya sebagian besar suku Quraisy memusuhi Islam sehingga Nabi Muhammad saw. dan para pengikut beliau harus meninggalkan kampung halaman berhijrah ke Madinah. Akan tetapi akhirnya seluruh orang Quraisy memeluk agama Islam, terutama setelah Rasulullah menguasai Mekah. Tradisi gemar mengembara dari suku Quraisy merupakan salah satu faktor yang ikut mempercepat penyebaran agama Islam. Hanya satu abad sesudah nabi wafat, pada pertengahan abad ke-8 kekuasaan Islam membentang dari Spanyol sampai Xinjiang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rupanya sudah menjadi sunnatullah (hukum Ilahi) bahwa suatu ide atau ajaran akan cepat berkembang luas apabila disebarkan oleh orang-orang yang gemar mengembara. Dalam sejarah tanah air kita, organisasi Muhammadiyah memiliki pengalaman serupa. Pada zaman pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan, organisasi dakwah yang lahir di Yogyakarta ini baru tersebar di Pulau Jawa. Muhammadiyah segera berkembang cepat ke seluruh Nusantara setelah disebarkan oleh dua suku pengembara, orang-orang Minangkabau dan orang-orang Bugis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gersangnya daerah Mekah membawa hikmah lain, dua kekuatan adikuasa pada zaman Nabi Muhammad saw., yaitu Romawi dan Persia, tidak berminat untuk menguasai Mekah. Demikian pula ketika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 kolonial Inggris dan Prancis berbagi kekuasaan di Timur Tengah, daerah Mekah sama sekali tidaklah mereka jamah. Dari zaman nabi sampai sekarang, Kakbah (Rumah Allah) tidak pernah berada di bawah dominasi kekuasaan kelompok non-Muslim.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Ibrahim a.s. dan putera beliau Nabi Ismail a.s. mendirikan Rumah Allah, yaitu Kakbah sekarang, Nabi Ibrahim a.s. berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman sentosa, dan anugerahkanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhirat." (Surat Al-Baqarah 126). Doa Nabi Ibrahim a.s. tersebut dikabulkan oleh Allah secara kontinu sampai hari ini! Meskipun tanah Mekah gersang dan tidak memproduksi buah-buahan, para jemaah haji dapat menyaksikan sendiri bahwa buah-buahan apa pun jenisnya dapat kita jumpai di Mekah, mulai dari anggur Prancis sampai pisang Ekuador.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Air pun kini berlimpah di Mekah. Di samping sumber telaga Zamzam yang tidak pernah kering, pemerintah Arab Saudi menggunakan teknologi modern dalam menyediakan air bersih dari hasil penyulingan (destilasi) air laut. Dengan teknologi tinggi yang disebut flash distillation, tekanan diturunkan sedemikian rupa sehingga air laut mendidih pada suhu 50 derajat Celsius, lalu uap air yang sudah terpisah dari garam-garam dilewatkan melalui alat pengembun (kondensor) supaya cair kembali. Proses ini cukup murah sebab hemat energi. Di Jeddah pabrik penyulingan air laut semacam ini memproduksi 50 juta liter air bersih per hari, dan sebagian besar disalurkan ke Kota Mekah untuk keperluan para jemaah haji.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup uraian, ada tiga kesimpulan yang patut kita petik. Pertama, perayaan maulid nabi kita selenggarakan untuk meningkatkan semangat juang dan sebagai alat dakwah. Kedua, Nabi dan rasul terakhir Muhammad saw. sengaja dibangkitkan Allah dari kota Mekah yang gersang, yang penduduknya bersifat gemar mengembara, untuk efektivitas penyebaran agama Allah. Ketiga, Allah senantiasa menganugerahi Mekah bahan makanan dan air yang berlimpah, serta melindungi kota suci itu dari dominasi kekuasaan kelompok lain. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-8566930770439174030?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/8566930770439174030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=8566930770439174030' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/8566930770439174030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/8566930770439174030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/04/maulid-nabi-dan-semangat-perjuangan.html' title='Maulid Nabi dan Semangat Perjuangan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-1289065388649004072</id><published>2007-03-29T23:57:00.000Z</published><updated>2007-03-30T00:00:15.008Z</updated><title type='text'>Meneladani Insan Pilihan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh :Husnul Amal Mas’ud&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;لَقَدْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 15pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.&lt;/i&gt; (QS. Alu Imran : 164)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sebuah Kelahiran Yang Agung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Para penulis &lt;i&gt;sirah&lt;/i&gt; (biografi) Nabi SAW pada umumnya sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di Tahun Gajah 570 M. Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Nabi SAW lahir di bulan Rabiul Awal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Dan dalam akidah Ahlussunnah dipercayai bahwa beliau lahir pada hari Senin 12 Rabiul Awal (2 Agustus 570 M)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Tanda-tanda yang mengiri saat kelahiran seseorang, seringkali menjadi bukti akan keagungan orang yang dilahirkannya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ahli sejarah mengabadikan dua peristiwa penting yang terjadi pada saat kelahiran Nabi SAW :&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saat Muhammad lahir singgasana Raja Kisra sebagai      raja terbesar saat itu digoncang oleh gempa dan sebagian bangunan      istananya runtuh. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Api besar yang konon telah menyala lebih dari 1000      tahun dan selalu disembah dan dijadikan tuhan oleh bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;persia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;      saat itu padam seketika.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Peristiwa besar pun terjadi di angkasa; langit bergoncang menyambut kelahirannya, setan-setan dilempari oleh panah api dan batu panas agar mereka tidak lagi dapat mencuri dengar wahyu yang diturunkan Allah dari atas langit sejak saat itu sebagaimana pernah terjadi pada masa sebelumnya. Fenomena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kejadian di luar angkasa dalam menyambut kelahiran manusia agung ini disaksikan sendiri oleh para Jin yang diungkapkan dalam Alquran dan diabadikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;وَأَنَّا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَساً شَدِيداً&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;وَشُهُباً، وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَاباً رَصَداً&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjaganyang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya”&lt;/i&gt; (QS. Al Jin: 8-9)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dengan kelahiran Nabi yang mulia ini pula, pintu-pintu surga ditutup dan tidak akan masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang mengikuti petunjuk dan syariatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;والذي نفسي محمد بيده&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;! &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;لا يسمع بي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;أحد من هذه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;الأمة يهودي ولا نصراني ، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به ، إلا كان من أصحاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;النار&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaanNya, tidak ada seseorangpun yang beragama Yahudi dan Nasrani yang telah mendengar seruanku, lalu dia mati dan tidak beriman terhadap apa yang aku bawa, kecuali dia itu adalah termasuk dari penghuni neraka.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dimensi kehidupan Nabi SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Nabi adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Kemuliaan Nabi tersirat dari seluruh dimensi perjalanan hidupnya. Sehingga bilamana Aisyah ra. ditanya seorang badui tentang akhlak Nabi SAW, beliau tidak dapat menggambarkannya, hanya jawaban kecil penuh makna yang diungkapkan Aisyah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;كان خلقه القرآن&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;“Akhlak Nabi adalah Al-Quran”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Dimensi ibadah (Solat, Puasa dan Jihad).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa kaki Nabi SAW sampai pecah karena begitu lamanya beliau berdiri dalam setiap solatnya. Beberapa riwayat menceritakan bahwa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sering dibaca dalam solatnya ketika sendiri adalah Al-Baqarah An-Nisa dan Alu Imran. Dan apabila ditanya oleh sahabat bagaimana sampai Rasul menyakiti dirinya dengan solat yang panjang itu sampai kakinya pecah, beliau hanya menjawab :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;أفلا أكون عبدا شكورا؟&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;“&lt;/span&gt;Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang senantiasa bersyukur?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Nabi juga seringkali melaksanakan puasa berhari-hari dan berturut-turut sehingga suatu saat sahabat menyaksikannya dan meminta untuk dapat mengikuti sunnahnya. Namun beliau menjawab dengan lembut dan bijaksana : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 15pt; color: black;" lang="AR-SA"&gt;إني لست مثلكم، إني أبيت عند ربي يطعمني ويسقيني&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 17pt;" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya aku bukanlah seperti kalian. Sesungguhnya aku sedang singgah bersama Tuhanku yang senantiasa akan selalu memberiku makan dan minum.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Beliau adalah panutan seorang pemimpin dan panglima perang. Selalu berada di barisan terdepan menghadapi kaum musyrikin dalam setiap pertempuran. Keberanian beliau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam setiap peperangan digambarkan oleh sahabat Ali ra :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Apabila kami telah dihampiri kecemasan ketika bertemu antara kaum (muslimin) dengan kaum (musyrikin), kami berlindung dibelakang Rasulullah SAW sehingga tidak ada seorangpun yang posisinya lebih dekat dengan musuh kecuali beliau.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Dimensi Zuhud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Suatu hari Umar ra. Memasuki rumah Nabi dan ia tidak menemukan atau melihat ada sesuatu pun di dalam rumah Nabi kecuali tikar tempat tidur Nabi. Maka Umar Menangis sambil berkata : &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Wahai Rasulullah, lihatlah Raja Kisra dan Caesar yang berlimpahan segala macam kenikmatan, sedangkan engkau lebih dari mereka, kau adalah utusan Allah, sementara kondisi kehidupanmu seperti ini adanya? Nabi menjawab : Apakah engkau ragu denganku wahai (Umar) Ibn Khattab?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apakah kau tidak ridho jika mereka mendapatkan apa yang ada di dunia sedangkan kita mendapatkan segala nikmat diakhirat?!.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan Hasan Al-Basri menceritakan bagaimana kondisi di dalam rumah Nabi yang sangat sederhana: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Aku memasuki kamar Nabi SAW. Dan seandainya aku ingin menyentuh atap rumahnya, aku pasti akan dapat menyentuhnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Nabi pun seringkali berpuasa hanya karena tidak mendapatkan apa yang dia makan untuknya dan untuk keluarganya. Aisyah menceritakan kepada keponakannya Urwah bin Zubair perihal ini: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Adalah Nabi telah melewati 3 hilal (2 bulan) dan beliau tidak mendapatkan dapurnya menyala (karena tidak ada makanan). Kemudian Urwah bertanya : Lalu apa yang kalian makan wahai bibiku? Aisyah menjawab : kurma dan air.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nabi SAW. Pun tidak meninggalkan harta benda warisan untuk keluarganya ketika beliau wafat. Karena segala yang beliau punya diberikan untuk orang yang meminta dan membutuhkan. Dan hanya ungkapan mulia yang diucapkannya : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;نحن معاشر الأنبياء لا نورث ما تركناه صدقة&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Kami para Nabi tidaklah mewariskan. Segala apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dimensi Akhlak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Firman Allah adalah saksi dari betapa mulianya Akhlak Nabi SAW. Sehingga sahabat umar pun menangis tidak dapat melukiskan indahnya Akhlak Nabi yang dilukiskan Allah SWT dalam firmannya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="AR-SA"&gt;وإنك لعلى خلق عظيم&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi perkerti yang agung”&lt;/i&gt; (QS. Al Qalam : 4)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Beliau adalah contoh dalam kedermawanan, selalu menutupi kebutuhan para fakir miskin dan selalu memberi tanpa pamrih. Sampai-sampai kedermawanan beliau disaksikan sendiri oleh musuh-musuhnya hingga musuh tersebut memeluk islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adalah Safwan bin Umayyah, seorang pembesar Quraisy yang sangat benci kepada islam, menceritakan kisah kedermawanan Nabi saat dia menjadi tawanan dalam perang Hunain : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Nabi senantiasa memberiku (makan&amp;minum) sewaktu perang Hunain. Dan sungguh beliau adalah manusia yang paling ku benci saat itu, namun ia tetap memberiku hingga hatiku luluh dan akhirnya beliau menjadi manusia yang paling aku cintai.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kesabaran beliau pun menjadi teladan bagi umat islam. Sejarah mengisahkan, ketika beliau meminta perlindungan kepada kaum Thaif dan kemudian dilempari oleh bebatuan oleh penduduknya hingga berdarah, Jibril kemudian mendatanginya mendatangi Nabi dan berkata : Apakah kau ingin aku azab mereka dengan membalikkan seluruh isi kampung tersebut. Nabi malah menjawab tawaran Jibril tersebut dengan menengadahkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tangan sambil berdoa : &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Semoga Allah SWT melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan beriman dan menyembah kepada-Nya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Keagungan akhlak Nabi pun tersirat dari sikap tawadunya. &lt;/span&gt;Beliau selalu berpesan kepada umatnya agar jangan berlebihan dalam memujinya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 15pt; color: black;" lang="AR-SA"&gt;لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Janganlah kalian memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji (Isa) Ibn Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka cukup panggillah aku dengan Abdullah (hamba Allah) dan Rasul (utusan) Nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dimensi berkeluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Nabi Muhammad pernah membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. Ia terkejut bukan kepalang melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Padahal Nabi selalu mengingatkan, &lt;b&gt;&lt;i&gt;"berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Puncak Suri Teladan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bagaimanapun kita memuji dan menggambarkan kehidupan Nabi, rasanya tidak cukup segala kata-kata dan pujian untuk menyatakan betapa mulia dan tingginya pribadi dan akhlak Nabi SAW. Tulisan singkat ini pun rasanya hanya setetes gambaran dari lautan pribadi agung Nabi SAW. Sungguh seluruh dimensi kehidupan Nabi adalah panutan dan suri tauladan bagi kita sebagai umat islam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”&lt;/i&gt; (QS. Al Ahzab : 21)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Semoga momen peringatan Kelahiran (Maulid) Nabi tahun ini dapat kita jadikan ajang untuk benar-benar meningkatkan cinta kita kepada Nabi SAW sebagai bukti keimanan kita kepada Nabi SAW. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="AR-SA"&gt;لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Tidaklah termasuk orang beriman seorang di antara kamu sehingga aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada orangtuanya dan anaknya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-1289065388649004072?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/1289065388649004072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=1289065388649004072' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1289065388649004072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/1289065388649004072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/03/meneladani-insan-pilihan.html' title='Meneladani Insan Pilihan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-5491609254272361955</id><published>2007-03-23T08:31:00.000Z</published><updated>2007-03-30T00:13:33.554Z</updated><title type='text'>Meneladani Rasulullah s.a.w</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;Oleh: Nasrullah Djasam&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Gemuruh sholawat di depan makam Rasulullah s.a.w. bersahutan yang dikumandangkan oleh para jamaah haji dari pelosok dunia, ada sholawat yang berdialek India, Pakistan, Turki dan tentu saja ada yang bedialek Melayu yang keluar dari mulut jamaah haji Indonesia, Malaysia, Thailand dan Negara Asia Tenggara lainnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang melambai-lambaikan tangannya sambil mengucapkan salam kepada Rasulullah s.a.w, rasanya begitu dekat hati mereka dengan Rasulullah s.a.w seolah Rasulullah s.a.w ada dihadapan mereka untuk menyambut sambil tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kecintaan yang luar biasa terhadap sosok Rasulullah s.a.w membuat mereka tidak lagi memperdulikan betapa besar usaha dan tenaga yang mereka keluarkan untuk sekadar berdiri sesaat dihadapan makam beliau &lt;i&gt;shallalahu alaihiwasalam,&lt;/i&gt; Segala kelatihan, kepayahan dan tempat yang terbatas seolah sirna. penjagaan ketat para &lt;i&gt;askar&lt;/i&gt; makam Rasulullah s.a.w bukan penghalang untuk memberikan penghormatan kepada sang &lt;i&gt;uswah hasanah&lt;/i&gt; (teladan baik), yang menyelamatkan ummat manusia dari jurang kehancuran, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seraya berkata &lt;i&gt;assalamu alaika ya rasulullah, assalamu alaika ya habiballah. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;Muhammad s.a.w bukanlah sosok yang asing dimata ummat Islam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Al qur'an secara jelas mengatakan bahwa beliau adalah suri tauladan bagi ummat manusia (&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;لقد كان لكم في رسول لله أسوة حسنة&lt;/span&gt;), Al qur'an menjelaskan bahwa beliau adalah sosok yang berakhlak luhur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;span dir="rtl" style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;; direction: rtl; unicode-bidi: embed; font-size: 12pt;"&gt;وإنك لعلى خلق عظيم&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seluruh nilai nilai yang ada dalam Al qur'an tercermin dalam prilaku beliau sehari hari (&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;كان رسول اله صلى الله وسلم قرآنا يمشي على الأرض&lt;/span&gt;). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beliau adalah sosok pemimpim yang sangat humanis, menghargai sesama, tegas, adil, berpihak kepada yang lemah, menegakkan supremasi hukum. Beliau bukan type pemimpin arogan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang, beliau bukan pemimpin egois yang memikirkan kesejahteraan diri dan keluarganya sementara rakyat hidup penuh keprihatinan di tenda-tenda pengungsian dengan sarana yang jauh dari layak akibat bencana alam dan luapan lumpus panas LAPINDO. Tidak ada harta berbentuk materi yang beliau wariskan kepada keturunannya, bahkan sebagai seorang rasul beliau telah menegaskan : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;نحن الأنبياء لا نورث ما تركنا&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Kami para nabi tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Yang beliau wariskan kepada keluarga, sahabat dan pengikutnya hanyalah nilai-nilai luhur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang bisa menyelamatkan ummat manusia di dunia dan di akhirat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak diragukan lagi bahwa membaca sholawat kepada Rasulullah s.a.w dengan penuh khidmat mengandung nilai ibadah yang sangat tinggi, banyak riwayat yang menyatakan betapa besar pahala bagi orang yang membaca sholawat kepada Rasulullah s.a.w. Akan tetapi sungguh sayang jika kecintaan kita kepada Rasulullah s.a.w hanya diekspresikan dengan membaca sholawat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang beliau inginkan tentu bukan hanya itu, beliau ingin agar kecintaan kita terhadapnya dibuktikan dengan meneladani akhlak beliau, dengan begitu kecintaan kita tidak hanya kecintaan kulit akan tetapi sudah menyentuh substansi dan itulah bentuk kecintaan yang hakiki.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kita yakin jika seluruh jamaah haji &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang datang berziarah kemakam Rasulullah s.a.w. mengekspresikan cintanya kepada Rasulullah s.a.w dengan mengamalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan beliau &lt;i&gt;Sallalahualaihiwassalam&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pasti akan membawa perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mengingat jamaah haji &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; merupakan jamaah haji yang paling banyak jumlahnya setiap tahun. Bukankah setiap amal ibadah yang dilakukan seorang muslim bertujuan untuk memperbaiki diri, jika masing masing individu sudah baik akan terbentuk komunitas yang juga baik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Madinah, 18 Desember 2007.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-5491609254272361955?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/5491609254272361955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=5491609254272361955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5491609254272361955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5491609254272361955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/03/meneladani-rasulullah-saw.html' title='Meneladani Rasulullah s.a.w'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-717860093299742942</id><published>2007-03-23T08:27:00.000Z</published><updated>2007-03-23T08:30:17.444Z</updated><title type='text'>Al Qur'an Yang Dilafalkan Burung</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;Oleh: Asep Sutisna&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika alam semesta menjadi tanda kebesaran Allah s.w.t dan kisah umat terdahulu sebagai teladan tentu akan membawa kita kepada sebuah hakikat kebenaran baik yang telah dikabarkan al quran maupun yang telah disaksikan kehidupan manusia. Dan iman yang kuat adalah buah dari hidayah (petunjuk) dan hikmah dari apa yang kita pelajari.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mendengar berita tentang seekor burung yang bisa belajar melafalkan dan menghafal beberapa ayat al quran mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayainya apalagi dengan didasari oleh pemahaman bahwa burung dan hewan lainnya hanya mampu bersuara yang tidak bisa dipahami manusia, kalaulah kisah tentang percakapan Nabi Sulaiman a.s dengan burung hud hud itu tidak dikabarkan al quran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Si makhluk bersayap yang istimewa diatas adalah seekor burung beo asal &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang dilatih pemiliknya dalam tempo sembilan bulan ternyata mampu melafalkan beberapa ayat al quran, basmalah dan shalawat. Ketika dia memulai bicara layaknya suara manusia dia mulai dengan &lt;i&gt;bismillahirrahmanirrahim&lt;/i&gt; ( dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) kemudian diikuti oleh &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt; al ikhlas dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; al fatihah dan diakhiri dengan shalawat kepada Rasulullah s.a.w. seperti yang telah diberitakan TV al jazirah dan belakangan videonya sudah beredar di situs youtube.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, bagi saya itu adalah sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suaranya yang khas dan alami sangat menggetarkan hati, dan jujur saja, kalau boleh saya gambarkan perasaan saya ketika pertama kali mendengar suaranya, saya merasa sedikit takut, ada penyesalan dan malu. Saya jadi ingat masa kecil yang nakal, setiap sore selalu dicari orang tua agar pergi ke surau untuk belajar al quran tapi saya selalu bersembunyi di bawah meja atau di bawah ranjang dan kadang dibalik pintu, kemudian saya malu karena dengan kemalasan itu saya menjadi termasuk orang yang lambat bisa membaca al quran, dan saya merasa takut itu akan waktu kosong saat ini yang saya habiskan begitu saja di depan layar computer, layar Hp dan layar TV akan menjauhkan saya dari al quran, &lt;i&gt;naujubillahimindzalik&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semoga kisah ini bisa kembali menyegarkan khususnya saya sendiri akan gairah membaca al quran dan pembaca bulletin umumnya untuk bersama-sama kembali kepada al quran dan jalan lurus yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibawa al quran menuju tali agama Allah s.w.t. dan tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca al quran dan bagi yang telah menguasainya mari kita hiasi dan perindah lidah kita dengan mengamalkannya, semoga kita semua termasuk orang yang diberikan syafaat (pertolongan) al quran oleh Allah ta’ala di akhirat kelak, &lt;i&gt;amien ya rabbal alamin&lt;/i&gt;…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Rabat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, 23-3-2007. 07.28am&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-717860093299742942?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/717860093299742942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=717860093299742942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/717860093299742942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/717860093299742942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/03/al-quran-yang-dilafalkan-burung.html' title='Al Qur&apos;an Yang Dilafalkan Burung'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-3110810465280817645</id><published>2007-03-15T22:36:00.000Z</published><updated>2007-03-15T22:42:17.218Z</updated><title type='text'>Ratu Saba' : Kisah Dan Ibrah</title><content type='html'>Oleh : Iman Mursalin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Burung Hudhud berkata kepada Nabi Sulaiman): &lt;strong&gt;Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang megah.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak kisah yang bisa diambil sebagai pelajaran -‘ibrah- juga hikmah di setiap lembar halaman Al-Quran. Sebagian besar bercerita tentang kaum terdahulu yang ingkar terhadap penyembahan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Lalu bagaimana kaum itu dimusnahkan oleh adzab Allah setelah datang kepada mereka risalah keimanan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara sekian banyak kisah dalam Al-Quran, tersebutlah kisah Ratu Saba dan masyarakatnya yang hidup di zaman kenabian Nabi Sulaiman. Kisah ini agak unik mengingat kaum ini merupakan satu di antara segelintir kisah tentang orang-orang yang mau beriman kepada Allah dengan sepenuh hati. Dan lebih jauh lagi, banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerajaan Saba&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Saba merupakan salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang hadir pada jauh sebelum Masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ibu kotanya adalah Ma’rab, sebuah kota di dekat Sana’a. Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Etiopia dahulunya masuk ke dalam kawasan kekuasaan kerajaan Saba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan kerajaan ini masuk ke dalam catatan sejarah Al-Quran adalah adanya salah satu ratu yang memerintahnya. Walaupun Al-Quran tidak secara pasti menyebutkan siapa nama ratu tersebut, di kalangan sejarawan dan umat Islam pada umumnya dikenal sebuah nama: Balqis. Namun banyak di antara ahli tafsir yang mengatakan bahwa nama tersebut masuk ke kalangan umat Islam dengan media israiliyyaat, dongeng turun temurun orang Israel yang mereka akui bersumber dari kitab Taurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ratu Saba’&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari hal itu, Balqis menjadi orang ketujuh-belas yang memerintah kerajaan Saba’. Yang memerintah sebelumnya adalah ayahnya, raja Hadhad bin Syarhabil. Para sejarawan berasumsi bahwa Balqis menaiki tahta menggantikan ayahnya disebabkan tidak adanya anak putra yang dilahirkan untuk menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa pemerintahannya sebagai kepala kerajaan, Balqis banyak menerima cobaan dan ujian berat. Semua itu kelak membuktikan kepiawaiannya sebagai ratu yang berhak dan berkompeten untuk memimpin kaum dan rakyatnya. Pada awal diangkatnya sebagai ratu, para ahli dan pembesar kaumnya meingingkari kepemimpinan seorang wanita. Belum lagi hasrat yang dipendam oleh raja-raja di sekitar Saba untuk menaklukkan dan menguasai kerajaan ini. Salah satunya adalah raja ‘Amr bin Abrahah yang dijuluki dengan Dzul Adz’ar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka datanglah Dzul Adz’ar dengan segenap bala tentaranya untuk menaklukkan kerajaan Saba’ dan menawan ratunya. Namun berkat kelihaian dan pengawasan yang tajam yang dimiliki Balqis, dia berhasil lolos dan kabur dengan penyamaran dalam pakaian orang badui. Pada point ini para sejarawan berbeda pendapat mengenai lanjutan kisahnya. Namun mereka semua sepakat bahwa dengan kecerdikan, kematangan jiwa dan ketabahan yang terdapat dalam dirinya, Balqis akhirnya dapat merebut kembali kerajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzul Adz’ar tewas dengan gorokan pisau di lehernya. Dan semenjak itu Balqis memerintah kaumnya dengan penuh hikmah, adil dan bijaksana. Dalam kekuasaannya, Saba meraih kegemilangan. Salah satu capaian yang diukir oleh Balqis adalah direnovasinya bendungan yang terkenal sad Ma’rab. Nama kerajaan ini menjadi terkenal di kawasan Arabia dan sebagian Eropa. Dalam sejarah Yunani kuno disebutkan bahwa pada zamannya terjadi transaksi perdagangan di antara tajir-tajir Saba dan Yunani. Bahkan para pedagang Yunani yang telah mengunjungi kerajaan Saba menyebutkan bahwa masyarakat Saba merupakan masyarakat berperadaban paling maju di era itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ratu Saba dan Nabi Sulaiman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kerajaan Saba di bawah pemerintahan ratunya sedang berada dalam puncak kegelimangan, Nabi Sulaiman alaihissalam telah menjadi salah satu raja terkenal di antara bani Israil di kawasan Palestina (Syam). Sulaiman dikaruniai Allah kemampuan untuk berkomunikasi dan menaklukkan golongan hewan dan jin. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dari skala bala tentara, jumlah yang dimiliki Sulaiman lebih besar daripada bala tentara Saba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini tersebut dalam firman Allah surat An-Naml ayat 20-44. Alkisah –dalam sebuah penafsiran- bahwa pada suatu kesempatan Nabi Sulaiman mengutus burung Hudhud untuk mencari sumber air tambahan. Lama tak jua kembali ternyata Hudhud sampai ke daerah Yaman dan menemukan sebuah kaum (rakyat Saba) yang diperintah oleh seorang ratu. Yang menarik perhatian Hudhud adalah ketika dilihatnya kaum ini musyrik dengan menyembah matahari seraya berkorban sesajen kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sulaiman naik pitam sebab keterlambatan ini dan berjanji akan menghukum Hudhud sesegeranya ia tiba, kecuali Hudhud terlambat dengan alasan yang masuk akal. Maka berkata Hudhud sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“&lt;strong&gt;Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini”&lt;/strong&gt; Q.S. An-Naml: 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kematangan akal dan hikmahnya tidak merespon kecuali dengan berkata: "&lt;strong&gt;Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta&lt;/strong&gt;”. Lalu Nabi Sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada Balqis ratu Saba yang berisi ajakan untuk hanya menyembah Allah S.W.T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi surat Nabi Sulaiman ini tertera dalam Quran sebagai berikut:  “&lt;strong&gt;Dari SuIaiman dan sesungguhnya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Balqis dan Musyawarah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manakala ratu Balqis menerima dan membaca surat dari Sulaiman, segera ia kumpulkan para menteri dan para pembesar di antara kaumnya. Balqis meminta agar mereka memusyawarahkan perihal surat Sulaiman ini. Hal ini diabadikan oleh Al-Quran sebagaimana Balqis berkata: "&lt;strong&gt;Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)&lt;/strong&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kerajaan Saba telah terkenal di antara raja-raja lainnya sebagai salah satu kerajaan terkuat dengan bala tentaranya yang tangguh. Maka para menteri ketika membaca surat itu menganggap bahwa Sulaiman meremehkan mereka. Maka para menteri itu berkata: "&lt;strong&gt;Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan&lt;/strong&gt;". Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih perang daripada berserah diri kepada kekuasaan Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata Balqis memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan, tatkala dia berkata bahwa raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya. Dan mereka menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Disini letak kepiawaian dan kecerdasan Balqis. Dia lebih menganjurkan untuk terlebih dahulu mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, dengan harapan semoga Sulaiman bisa lunak hatinya bahkan berubah pikiran sama sekali. Para pembesar menyetujui usulan Balqis. Maka diutuslah beberapa pembesar untuk menghadap Sulaiman seraya membawa persembahan hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya para utusan di depan Sulaiman, utusan Allah ini berkata: "&lt;strong&gt;Apakah patut kamu mengulurkan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala Balqis mendengar jawaban yang disampaikan para utusannya, tahulah ia siapa dan betapa kuatnya Sulaiman dan bala tentaranya. Maka dikumpulkannyalah seluruh tentara dan pengawal pribadinya untuk menuju Syam demi menemui Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ketika Sulaiman mengetahui bahwa Balqis akan dating, beliau kumpulkan semua pembesarnya seraya meminta untuk mendatangkan singgasana Balqis ke Syam sebelum mereka datang. Alhasil, seorang pembesar yang memiliki pengetahuan mendalam akan Taurat menyanggupi untuk mendatangkannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip. Setelah itu dimintanya agar singgasana itu dirubah sedemikian rupa agar Balqis tidak mengenalinya. Hal ini untuk menguji sejauh mana kecerdikan dan ketajaman Balqis sehingga ia memang patut untuk memerintah kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Balqis dan tentaranya sampai dan telah duduk di singgasananya sendiri, Nabi Sulaiman bertanya: “&lt;strong&gt;Seperti inikah singgasanamu?”&lt;/strong&gt; Maka Balqis menjawab: "&lt;strong&gt;Seakan-akan singgasana ini singgasanaku&lt;/strong&gt;” Dan ini bukti lain dari kecerdikan Balqis, sebab ketika ia menjawab dengan pertanyaan itu sesungguhnya dia tidak yakin bahwa bagaimana mungkin singgasana dapat berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat. Namun dalam keraguan itu dia tidak memungkiri bahwa singgasana itu mirip dengan kepunyaannnya. Dan memang sesungguhnya singgasana adalah miliknya hanya telah dirubah atas perintah Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama Balqis segera teringat akan sebuah kenabian yang menyebutkan bahwa akan datang padanya seorang nabi Allah yang sanggup memindahkan singgasananya dalam sekejap mata. Pada saat itulah Balqis segera sadar bahwa dirinya dan kaumnya telah berlaku zalim dengan mempersekutukan Allah. Saat itu pula Balqis menyeru seluruh kaumnya untuk memeluk agama yang dibawa oleh Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatalah Balqis: "&lt;strong&gt;Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam&lt;/strong&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kisah ratu Saba dan Nabi Sulaiman ini akan selalu abadi di dalam Al-Quran hingga ke akhir zaman. Hal ini tidak lain agar setiap ulil albab yang membacanya bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran-pelajaran berharga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-3110810465280817645?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/3110810465280817645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=3110810465280817645' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/3110810465280817645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/3110810465280817645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/03/ratu-saba-kisah-dan-ibrah.html' title='Ratu Saba&apos; : Kisah Dan Ibrah'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-5303821806132786443</id><published>2007-03-02T23:31:00.000Z</published><updated>2007-03-02T00:04:23.659Z</updated><title type='text'>Angka Dan Hari Kiamat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Med Hatta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;‎“&lt;strong&gt;Bilakah Hari Qiamat Itu?...”&lt;/strong&gt; Kalimat sederhana ini tentu bukan sekedar sebuah ‎pertanyaan sambil lewat saja melainkan ungkapan Al-Qur'an pada ‎‎14 abad lalu yang menegaskan tentang eksistensi waktu‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah peradaban manusia bahwa angka pertama yang dikenal manusia ‎dalam kehidupan adalah “waktu”. Seorang ilmuawan berkebangsaan Turki, ‎Harun Yahya, menegaskan bahwa "&lt;em&gt;penemuan-penemuan ilmu pengetahuan ‎modern telah membuktikan bahwa waktu bukanlah kenyataan mutlak seperti ‎yang diyakini para materialis, melainkan hanya merupakan persepsi relative&lt;/em&gt;…"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk disimak bahwa fakta waktu yang ‘&lt;em&gt;dijahili&lt;/em&gt;’ oleh sains hingga abad ‎kedua puluh satu ini diproklamirkan Al-Qur’an kepada manusia empat belas ‎abad yang lalu. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an menegaskan mengenai ‎relativitas waktu ini‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fakta ilmiah membuktikan bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang ‎bergantung pada peristiwa, latar, kondisi. Dan hal ini dapat disaksikan di banyak ‎tempat dalam Al-Qur’an, Misalnya seperti yang diilustrasikan oleh Allah SWT, ‎seluruh kehidupan seseorang sangat singkat, Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk&lt;/strong&gt;”. (QS: 10/ 45).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an juga menjelaskan dibeberapa ayat yang lain bahwa manusia melihat ‎waktu berbeda-beda satu sama lainnya. Dan terkadang manusia menganggap ‎waktu yang sangat singkat ini terasa lama. Dialog antara Tuhan dan hamba ‎di akhirat kelak sebagaimana diceritakan dalam ayat berikut menjadi cerminan ‎dalam kasus ini‎:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah bertanya: "&lt;strong&gt;Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung&lt;/strong&gt;". Allah berfirman: "&lt;strong&gt;Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui&lt;/strong&gt;." (Q.S: 23/ 112-114).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini dan masih banyak lagi ayat yang lain di dalam Al-Qur’an ‎merupakan ungkapan manifestasi yang real tentang relativitas waktu. Fakta ‎bahwa informasi yang baru saja disadari oleh ilmuwan abad kedua puluh satu ‎ini telah diinformasikan kepada manusia 1428 tahun yang lalu di dalam al-‎Qur'an, merupakan tanda bahwa wahyu ini adalah dari Allah, yang meliputi ‎keseluruhan waktu dan ruang. Dia-lah (Allah) Yang menciptakan waktu, dan ‎tidak dibatasi oleh waktu itu sendiri‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada indikasi, waktu yang sungguh menakjubkan ‎tersurat di dalam Al-Qur’an tentang hari kiamat; tanda-tandanya, dan bahkan ‎secara inplisit Al-Qur’an mengisyaratkan angka dengan digit tertentu kapan ‎datangnya kiamat‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu telah mengumumkan kepada manusia ‎umur dunia telah berjalan selama 18.000.000.000 (delapan belas milyar) tahun ‎dan fakta ini telah dibenarkan pula oleh seorang ilmuawan Perancis, JC. Batler, ‎tahun 1982. (Lihat: Sayyidul Ayyaam Nomor 12/Edisi IV/Th. I)‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan, Subhanallah kalau tesis ini benar, Ternyata Al-Qur’an juga sejak jauh-jauh hari telah ‎mengumumkan kepada manusia akhir perjalanan bumi fana ini yang disebut ‎dengan hari kiamat. Dalam sebuah ayat Allah menceritatakan bahwa ‎sekelompok manusia bertanya tentang bila datangnya kiamat, lalu Allah ‎menjawab dalam Al-Qur’an pada surat Al Qiyamah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?; Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan&lt;/strong&gt;...” (Q.S: 75/ 6-9).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sepintas ayat ini hanya bercerita tentang tanda-tanda datangnya kiamat besar ‎saja, tetepi kalau dicermati secara mendalam bahwa ayat ke-9 dari surat Al ‎Qiyamah diatas menyingkapkan sebuah simbol ajaib yang paling rumit ‎disimpulkan oleh manusia selama ini‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah mengisyaratkan bahwa pada hari itu matahari dan bulan dikumpulkan jadi ‎satu, tetapi tidak dijelaskan secara detail dalam ayat tersebet bagaimana dua ‎gejala alam itu dikumpulkan, disatukan dan kapan waktunya?‎&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, simbol super rumit ini dijabarkan oleh Allah pada ‎ayat yang lain di dalam Al-Qur’an, surat Al Kahfi secara gamblang menjelaskan ‎sebagai berikut‎:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“..&lt;strong&gt;Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)&lt;/strong&gt;.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah rahasia dari kalimat tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun? Kenapa Allah tidak menyebutkan langsung bahwa mereka berdiam di dalam gua selama 309 tahun? Ternyata dalam konteks Al Qur’an menyingkap rahasia dua penanggalan yang lumrah dipakai oleh umat manusia sekaligus yaitu Hijriyah dan Miladiyah (Baca: kalender islam dan kalender Masehi).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika dihitung dalam kalender Miladiyah, maka Asshabul Kahfi (penghuni gua) berdiam di dalam gua selama 300 tahun. Sementara kalau dihitung dalam kalender Hijriyah, maka mereka berdiam di sana selama 309 tahun. Penjelasannya adalah :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;• 300 tahun Miladiyah = 300 x 365,2422 hari = 10.9572,66 hari&lt;br /&gt;• 300 tahun Hijriyah = 300 x 354,36056 hari = 10.6310,11 hari&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;perbedaan jumlah hari keduanya adalah 3262,55 hari, maka jumlah tahun bagi keduanya adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;@ 3262,55 : 354,36056 = 9,20669 tahun Hijriyah (9 Tahun)&lt;br /&gt;@ 3262,55 : 365,2422 = 8,93256 tahun Miladiyah (88,9 atau 9 tahun).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain tahun Hijriyah lebih maju 10 hari dibandingkan dengan tahun Miladiyah setiap tahunnya, lebih sederhana lagi bahwa sitiap 33 tahun Miladiyah sama dengan 34 tahun Hijriyah. Dan jika tahun Miladiyah dimajukan 330 tahun kedepan, maka tahun Hijriyah akan menjadi 340 tahun…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aneh bin ajaib&lt;/em&gt;… Bahwa jikalau kedua calendar ini dimajukan secara parallel ‎kedepan, misalnya 2007 + 330 dst… dan 1428 + 340 dst… maka keduanya akan ketemu pada angka mistik yaitu "21114"‎.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Maha Benar Allah dalam Firmannya: “&lt;strong&gt;dan matahari dan bulan dikumpulkan&lt;/strong&gt;..”, bahwa kiamat akan datang ketika matahari dan bulan dikumpulkan jadi satu…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya Bahwa kelak tahun 21114 Miladiyah akan berkumpul dengan ‎tahun 21114 Hijriyah (21114 M/ 21114 H)‎... "&lt;strong&gt;Selamat Menyambut Hari Kiamat&lt;/strong&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Subhana Ka Ya Allah, kami tidak memiliki pengetahuan sedikitpun kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, Kalau indikasi ini benar adanya, maka ini adalah dari Allah. Kalau salah, maka ini adalah dari syaithan dan dari diriku sebagai manusia yang serba kekurangan. &lt;em&gt;Wallahu'alam bisshawab&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Blog Penulis : &lt;a href="http://bukukuningku.blogspot.com/"&gt;http://bukukuningku.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-5303821806132786443?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/5303821806132786443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=5303821806132786443' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5303821806132786443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/5303821806132786443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/03/angka-dan-hari-kiamat.html' title='Angka Dan Hari Kiamat'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116630111123785405</id><published>2006-12-16T20:22:00.001Z</published><updated>2011-03-25T07:58:51.225Z</updated><title type='text'>SARIPATI KISAH ASHABUL KAHFI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Syariful Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ashabul kahfi&lt;/em&gt; merupakan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WJ-NlsmWUBw/TYxLHGgDu-I/AAAAAAAAABY/CTUE7beGSBc/s1600/ashabul-kahfi-15.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WJ-NlsmWUBw/TYxLHGgDu-I/AAAAAAAAABY/CTUE7beGSBc/s320/ashabul-kahfi-15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587923823036185570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; sebuah cerita teladan yang disebutkan di dalam al-Quran pada surat al-Kahfi ayat 9 sampai dengan ayat 26 dari 110 jumlah ayatnya. Cerita ini mengkisahkan beberapa penghuni gua yang mengandung i’tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini bermula dari sebuah kota, terletak di antara dataran luas yang sangat subur.Kebanyakan mata pencaharian penduduk negeri ini adalah bercocok tanam dan perkebunan dengan menanam pohon kurma, buah-buahan jeruk, anggur dan semangka. Sebagian penduduk yang lainnya beternak hewan seperti sapi, kambing, biri-biri dan onta, sehingga mereka hidup makmur, mereka makan hasil buminya dengan nikmat dan hidup damai sejahtera.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agama yang dipeluk penduduk ini dan keyakinan mereka, sebagaimana penduduk negeri-negeri lain di dunia ini adalah bermacam-macam. Sebagian mereka ada yang beriman kepada Allah dan RasulNya, tetapi sebagian besar mereka adalah penyembah berhala, patung dan menyembelih hewan kurban untuknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang memerintah negeri yang subur nan makmur ini adalah seorang Raja yang lebih condong kepada agama berhala penyembah patung dan mengajak orang lain dengan paksa agar turut menyembahnya, bila tidak mengikuti kehendaknya, rakyat mengalami penyiksaan yang sangat kejam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keadaan dan kondisi ini telah berlangsung puluhan tahun lamanya di bawah kepemimpinannya, banyak diantara kamu muslimin mendapatkan siksaan yang luar biasa, sehingga tiada satu haripun bila ada berita yang sampai kepadanya tentang keberadaan seorang mukmin atau mukminah, pasti ditegakkan hukuman dengan menyiksanya atau menyembelihnya di depan umum, sehingga ia yakin benar dapat mencabut benih-benih iman dari dada penduduknya yang telah lama beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi politik &amp;amp; sosial yang sangat menyudutkan kaum yang beriman kepada Allah inilah, masih ada beberapa orang yang beriman kepada Allah SWT secara sembunyi-sembunyi, karena mereka lebih takut kepada siksa Allah yang lebih kejam di hari kiamat kelak. Mereka dengan lantang penuh keberanian mendeklarasikan sikap untuk mengabaikan perintah pemimpin mereka. Mereka mampu menguasai diri, sebab mereka memiliki keoptimisan yang dibingkai ruh mas'uliyah (tanggung jawab), ruh isti'la (merasa tinggi) dan sosok kepemimpinan.&lt;br /&gt;Sikap yang mereka lakukan adalah dengan tetap memegang teguh iman kepada Allah SWT dan mengucilkan diri pada sebuah gua sebagai tempat berlindung seraya berdoa : “Wahai tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, kehendak Allah menginginkan lain, Allah menidurkan mereka dan menutup telinga mereka dari segala kebisingan. Lalu setelah 309 tahun (Qomariyah) lamanya, Allah kembali membangunkan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, terbukalah segala keajaiban setelah mereka terjaga, terlebih setelah salah satu diantara mereka meminta kawannya untuk membeli sesuatu untuk mengganjal perut yang kosong, mereka sadar, bahwa mereka berada di alam yang bertolak belakang dengan kenyataan lama, mereka berada di lingkungan masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama islam dan mereka yakin, bahwa mereka adalah pelaku sejarah yang dapat menambah keimanan mereka dan kaum mukminin semua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akhirnya, sesuai dengan janji Allah SWT, bahwa : “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik” (al-Kahfi : 30). Sehingga mereka pun bergabung menjadi bagian dari masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama islam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita tahu, bahwa bukti dan tanda kekuasaan Allah begitu banyak dan menuntut untuk direnungi serta diambil pelajaran ('ibrah). Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Itu dipaparkan dalam berbagai bentuk dan cara, dimaksudkan agar manusia tidak bosan dan agar sadar serta segera mengakui kewahdaniyahan(keesaan)-Nya. Dan Ashabul kahfi adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. yang dipaparkan dalam bentuk kisah yang menarik dan patut direnungi, karena di dalamnya terdapat pelajaran bagi sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita harus sepakat, bahwa sesungguhnya sejarah manusia itu akan terulang dari masa ke masa, meskipun perbedaan waktu, tempat dan pelaku, namun substansinya akan tetap sama seperti yang telah terjadi sebelumnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, Karena pentingnya memahami dan menyadari substansi kisah ini, Allah sendiri tidak menyebutkan siapa nama pelaku-pelakunya, sebagaimana Allah tidak menyebutkan juga jumlah dan kapan terjadinya secara pasti. Yang jelas tujuannya agar manusia mengambil pelajaran, kemudian menjalani kehidupan dengan hidayahNya. Tujuan seperti inilah yang juga melatarbelakangi sebagian besar mufassirin dalam menyikapi kisah ini, semisal Ibnu Katsir, At-Thabari dll.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diantara saripati yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah ashabul kahfi adalah : Tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Menurut para Ulama, tauhid (mengesakan) kepada Allah SWT. terbagi menjadi tiga macam, pertama, tauhid al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah, yaitu meyakini, bahwa beribadah itu hanya ditujukan kepada Allah dan karena-Nya semata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Tauhid ar-Rububiyah, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah lah sang maha pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Tauhid al-Shifat, ialah mengesakan Allah Ta’ala dalam sifat-Nya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Ta’ala dalam Dzat maupun Sifat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, pilihan para Ashabul kahfi untuk mengasingkan diri pada sebuah gua itu merupakan panggilan dari lubuk hati agar senantiasa dapat mempertahankan keyakinannya tentang islam, sekaligus menjalankan keyakinan itu pada tempat yang terhindar dari penglihatan manusia jelata. Sebab mereka yakin, bahwa penguasa yang sebenarnya adalah Allah SWT. bukan seorang raja yang sedang berkuasa di zamannya. Sebagaimana mereka juga sadar, bahwa segala keangkuhan sang raja, hanyalah gertakan sambal goreng yang dapat sirna dengan berlalunya zaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengasingan diri yang mereka lakukan, juga merupakan wujud pengorbanan untuk meninggalkan segala kenikmatan duniawi untuk tujuan ukhrawi. Mereka rela meninggalkan keluarga, harta dan tanah air demi menyelamatkan aqidah serta khawatir akan fitnah. Untuk itu bukan tidak mungkin kisah ini menjadi inspirasi bagi hijrah Rasulullah saw. Bersama Abu Bakar ra ke Madinah dan Hijrah pertama kaum muslimin ke Habsyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengasingan itu pula merupakan metodologi seorang rakyat menolak kebijakan pemimpinnya yang terbukti dengan kedzaliman &amp;amp; kerakusan akan kepemimpinan &amp;amp; kekuasaan. Tentunya, manakala jumlah ashabul kahfi mencukupi, gelombang reformasi pun pasti akan terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, mengikuti kronologi kisah Ashabul Kahfi mengantar kita kepada satu titik tujuan utama kisah tersebut yaitu meyakinkan kepada umat manusia terhadap keimanan kepada hari kiamat, hari bangkit di alam mahsyar. Sebab dalam suatu riwayat, pada saat sebelum ashabul kahfi dibangkitkan, masyarakat setempat terpecah kepada dua kubu. Ada yang meyakini adanya hari bangkit di akhirat nanti dan ada yang tidak percaya sama sekali. Bagi seorang mukmin, aqidah ini merupakan sebuah aksiomatis yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Karena keimanan terhadap keduanya ini memacu kita untuk berbuat kebajikan selama di dunia dan menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi dihadapan mahkamah Allah Swt.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, penggalan kisah ini adalah bagian pertama dari empat kisah lainnya yang terdapat dalam surah Al-kahfi. Semoga dengan kisah ashabul kahfi ini mendorong kita untuk mendalami dan mengkaji kisah-kisah selanjutnya yang terdapat di dalam al-Quran dan tentunya yang teramat penting adalah transformasi nilai ke dalam diri kita lewat skenario kisah tersebut, agar kita menjadi mukmin yang mendapat legalisasi keimanan yang benar dari Allah Swt.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116630111123785405?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116630111123785405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116630111123785405' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116630111123785405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116630111123785405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/12/saripati-kisah-ashabul-kahfi.html' title='SARIPATI KISAH ASHABUL KAHFI'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WJ-NlsmWUBw/TYxLHGgDu-I/AAAAAAAAABY/CTUE7beGSBc/s72-c/ashabul-kahfi-15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116630028898877741</id><published>2006-12-08T20:11:00.000Z</published><updated>2006-12-16T20:18:09.196Z</updated><title type='text'>Mencari Kebagagiaan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Dedy W Sanusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT Berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لإن شكرتم لأزيدنكم و لإن كفرتم إن عذابي لشديد&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&lt;/strong&gt;.” (Ibrahim, 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kebahagiaan telah menjadi bahan pikiran para filosof jauh sebelum agama Islam datang. Ada yang mengatakan, Plato misalnya, kebahagiaan adalah kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang diperoleh dengan menjaga kebersihan jiwa dan menghiasinya dengan kualitas-kualitas terpuji, seperti kemulyaan, keberanian dan kearifan. Bagi kelompok ini, kelezatan material justru mencederai kebahagiaan. Karena kebahagiaan letaknya di jiwa, bukan di badan, maka kebahagiaan hakiki hanya dapat diperoleh ketika jiwa lepas dari badan, setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan, sebagaimana Aristoteles, kebahagiaan adalah proses menuju kesempurnaan. Kebahagiaan yang mengendarai dua kendaraan ; badan dan jiwa. Kelezatan material, bagi kelompok ini, bisa dikondisikan untuk juga mendapatkan kelezatan immaterial, kelezatan jiwa. Menurut kelompok ini, sepanjang manusia hidup di dunia ini, berbuat baik, berpikir benar, terus berusaha mendapatkan sifat-sifat terpuji, baik untuk dirinya maupun keluarganya dan berusaha untuk membumikan perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah dalam masyarakatnya, maka orang ini adalah orang yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini merinci kebahagiaan pada lima tempat : Pertama, kesehatan badan dan kelengkapan fungsi panca indera. Kedua, harta yang digunakannya untuk berbuat kebaikan. Ketiga, memiliki citra yang baik dihadapan orang lain, karena perbuatannya yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Keempat, sukses dalam cita-citanya. Kelima, memiliki pikiran dan keyakinan yang benar dan lurus, baik dalam agamanya maupun urusan-urusan yang lain, selamat dari kesalahan dan kekeliruan dan pikiran-pikirannya menjadi rujukan orang lain dalam memutuskan segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya : al-Wabil as-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib mengemukakan tiga cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Menurut beliau, kehidupan ini tidak lepas dari tiga kondisi : &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, kita mendapat kenikmatan. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kita mendapat musibah. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, kita kadang-kadang tergelincir berbuat dosa. Seorang hamba Allah, bisa mendapatkan kebahagiaan dalam tiga kondisi ini, asal dia tahu bagaimana cara menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Al Quran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لإن شكرتم لأزيدنكم و لإن كفرتم إن عذابي لشديد&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&lt;/strong&gt;.” (Ibrahim, 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi pertama, ketika kita berhadapan dengan nikmat, kita mesti menghadapinya dengan bersyukur. Sebab jika tidak, nikmat ini tidak lagi memberi kita kebahagiaan, tetapi bahkan menjadi sumber kesengsaraan. Syukur adalah cara kita menjadikan nikmat yang kita peroleh tetap berada dalam jalur yang benar. Jalur yang diterangi oleh akal yang sehat dan petunjuk agama yang benar dan lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur tersusun dari tiga bagian. Pertama adalah kesadaran bahwa segala nikmat yang kita peroleh adalah semata-mata karunia Allah SWT. Kenikmatan ini, mencakup seluruh sumber kebahagiaan, baik yang material maupun immaterial. Kalau Allah mengambil kesehatan kita misalnya, betatapun harta kita banyak, kita tidak akan bisa menikmatinya. Maka kesadaran bahwa kenikmatan dari Allah, adalah sikap mental yang harus kita bangun di hadapan kenikmatan tak habis-habis yang Allah berikan kepada kita. Kedua, kalau kita mesti menyatakan, karena kita berinteraksi dengan orang lain, setidaknya lidah kita berucap Alhamdulillah terhadap nikmat yang kita peroleh. Ketiga, menggunakan kenimatan yang kita dapatkan untuk mendapatkan ridla Allah SWT. Kita keluarkan hak badan dan harta kita sesuai dengan dengan perintah Allah. Ayat di atas sangat jelas mengecam kita untuk jangan coba-coba menggunakan kenikmatan yang kita peroleh untuk semata-mata memenuhi hawa nafsu kita. Azabnya amat pedih, cepat atau lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang dengan senang hati menyembah Allah dalam kondisi lapang dan serba ada. Tetapi tidak banyak dari mereka yang tetap menyembah Allah dalam kondisi sulit dan serba kekurangan. Padahal, dalam kondisi terakhir ini, Allah memberikan keistimewaan kepada hambanya, kalau ia tetap mempertahankan bahkan menambah kekuatan hubungannya dengan Allah SWT. Maka kewajiban kita ketika kita berhadapan dengan cobaan, ujian dan musibah adalah bersabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabar mengajarkan kita untuk memutus hubungan hati dengan selain Allah. Betapapun kita mencintai harta dan keluarga, akan tiba saatnya, kita mesti berpisah dengannya. Tetapi kapan dan dimanakah kita bisa berpisah dari Allah?. Oleh karena itu, sabar menjadi sarana bagi kita untuk tetap dalam rel agama ketika kita ditimpa bencana. Sabar tersusun dari tiga unsur, pertama: menahan diri untuk tidak menyalahkan keputusan Allah atas musibah yang menimpa kita. Kedua, manahan lidah untuk tidak mengeluh. Ketiga, menahan badan untuk tidak berbuat dosa. Kalau kita dapat berlaku sabar dengan tiga unsur ini, insya Allah, --sebagaimana kata Ibnu al-Qayyim—kita bisa merubah cobaan menjadi anugerah, ujian menjadi pemberian dan sesuatu yang kita benci menjadi sesuatu yang kita cintai. Contoh gampangnya adalah seorang petinju mau mukanya sakit dan benjol biru, demi mendapatkan hadiah uang yang banyak. Bukankah dalam ayat al-Qur’an Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang  dicukupkan pahala mereka tanpa batas&lt;/strong&gt;”. (az-Zumar, 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap disiplin beribadah kepada Allah, baik dalam kondisi lapang atau sempit, senang atau susah. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116630028898877741?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116630028898877741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116630028898877741' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116630028898877741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116630028898877741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/12/mencari-kebagagiaan.html' title='Mencari Kebagagiaan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116493480182172169</id><published>2006-12-01T00:53:00.000Z</published><updated>2006-12-01T01:00:02.056Z</updated><title type='text'>Haruskah Ku Mengingat Ajalku…</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Oleh: Firmansyah Waruwu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian&lt;/em&gt;." (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita mengingat dan bercermin serta meratap selama satu hari berapa kali kita teringat dengan kematian yang pasti akan kita jalani nantinya, Allah berfirman “ &lt;strong&gt;Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati&lt;/strong&gt;.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Betapapun bencinya manusia dengan kematian, tidak satupun yang sanggup mengelak darinya. Kematian laksana pintu yang setiap orang akan memasukinya. Kenyataan bahwa sebab kematian begitu mudah, seringkali tak menggugah kesadaran bagi orang yang sedang mabuk kepayang dengan hiasan dunia. Kita menyaksikan dan mendengar sebab kematian orang-orang, ada yang mati di usia muda, ada yang mati di saat sedang tidur, terpeleset atau bahkan ketika makan bakso, Betapa ajal begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Faedah Mengingat Mati&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Ad-Daqaaq berkata, "&lt;em&gt;Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu bersegera untuk bertaubat, qanaahnya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa tiga musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang menyadari bahwa kematian akan menjemputnya, niscaya ia akan mengingat pula persiapan untuk menghadapinya, dia akan segera ingat dengan dosa-dosa yang nantinya akan dimintai tanggung jawabnya. Hal ini mendorongnya untuk segera bertobat. Ia juga akan berbuat qanaah, tidak serakah terhadap dunia karena dia sadar bahwa itu tidak akan dibawa mati. Selanjutnya dia akan mengalihkan perhatiannya untuk mempersiapkan kematian dengan beribadah. Kalaupun dia mencari harta, tujuannya adalah untuk memuliakan akhiratnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Berbeda halnya dengan orang yang malas mengingat mati. Dia akan sibuk mencari kenikmatan dunia, bernafsu melampiaskan syahwatnya dan bergelimang dengan dosa-dosa. Karena dia tidak sadar bahwa kelak kematian akan menghampirinnya dengan tiba-tiba, di saat ia belum memikirkan bekal untuk menghadapinya. Tak terpikir olehnya untuk bertaubat, atau dia merasa masih punya banyak waktu untuk menebusnya sehingga dia berangan untuk menunda taubatnya hingga waktu yang dia sendiri tidak tahu apakah nyawa masih setia bersamanya. Dia juga tidak merasa perlu untuk bersegera melakukan ibadah karena merasa belum saatnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah: "&lt;em&gt;Tiada seorang pun yang panjang angan-angannya melainkan pastilah buruk amal-amalnya.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengingat mati adalah obat mujarab untuk melunakkan hati yang keras dan membersihkan karat hati. Telah datang seorang wanita kepada ibunda ummul mukminin Aisyah RH mengadukan akan kerasnya hati yang ia rasakan. Maka Aisyah RH berkata, "&lt;em&gt;Perbanyaklah mengingat mati niscaya hilang penyakit di hatimu&lt;/em&gt;!" Akhirnya wanita itupun mengerjakan wejangan itu dan hilanglah penyakit di hatinya, lalu ia datangi kepada ibunda Aisyah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang Diingat Dalam Kematian&lt;/strong&gt;:&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengetahui faedah mengingat mati, lalu peristiwa manakah yang perlu kita ingat? Banyak peristiwa mengerikan yang dapat kita renungkan dalam peristiwa kematian, yang dengannya hati menjadi lembut, rasa takut bermaksiat semakin bertambah dan semangat ibadah semakin memuncak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bahwa kematian datang secara mendadak. Malaikat maut datang tanpa bisa dicegah, tanpa permisi dan tanpa peduli apa yang sedang dan akan kita kerjakan., baru selesai membangun rumah mewah namun belum sempat menempatinya, atau telah bekerja keras dan hampir saja mendapatkan upahnya, ajal datang tanpa ampun dan tanpa kompromi, atau baru lulus kuliyah tapi tidak dapat menikmati keberhasilannya, itulah kematian. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak kita dapatkan seseorang berangkat ke kantor naik mobil mewah, namun siangnya harus naik keranda roda manusia? Betapa banyak orang yang paginya memakai pakaian indah berdasi lalu siangnya harus orang lain yang melepaskan bajunya untuk diganti dengan kafan? Betapa banyak orang tua yang pagi harinya memandikan anaknya namun siang harinya dia harus dimandikan orang lain sebelum dikafan dan dishalatkan?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah realita yang setiap hari kita dengar dan saksikan, namun keadaan kita seperti yang digambarkan Ar-Rabi bin Barrah: "&lt;em&gt;Aku heran dengan manusia, bagaimana mereka lupakan kejadian yang pasti terjadi? Mereka lihat dengan matanya, mereka menyaksikannya, dan hatipun meyakininya, mengimaninya, dan membenarkan apa yang dikabarkan oleh para Rasul, namun kemudian mereka lalai dan mabuk dengan senda gurau dan permainan&lt;/em&gt;."&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hendaknya kita juga mengingat bahwa kematian itu ada masa sakaratnya. Seperti yang difirmankan Allah "&lt;strong&gt;Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.&lt;/strong&gt;" (Qaaf: 19)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika kematian menjemput Amru bin ‘Ash RA, putranya berkata, "&lt;em&gt;Wahai ayah, Anda pernah berkata, "Sesungguhnya aku heran terhadap seseorang yang di ambang kematiannya, sedangkan akalnya masih lekat, lisannya pun masih sehat namun bagaimana dia tidak mau bercerita?" Maka Amru bin ‘Ash berkata, "Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk dikatakan! Akan tetapi baiklah, aku ceritakan sedikit tentangnya, demi Allah seakan-akan di atas pundakku ada gunung Radhwa dan Tihamah…Seakan aku bernafas dengan lubang jarum...Seakan di perutku ada duri yang runcing…Dan langit seakan menghimpit bumi, sedangkan aku berada di antara keduanya&lt;/em&gt;..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka marilah kita memperbanyak doa:&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Ya Allah, tolonglah aku untuk menghadapi penderitaan tatkala mati dan sakar&lt;/em&gt;atnya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kapan mengingat Mati dilakukan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dzikrul maut&lt;/em&gt; (mengingat mati) dapat dilakukan ketika kita mengantar jenazah. Dengan melihatnya kita membayangkan bagaimana jika jenazah yang diusung itu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar bin Abdul Aziz mengurus jenazah, mayat sudah dikubur, diapun berbalik kepada orang-orang sembari berkata: "&lt;em&gt;Seakan kubur itu berkata kepadaku, wahai Umar maukah kuberitahu apa yang aku perbuat terhadap orang ini? Aku bakar kafannya, ku robek badannya, ku sedot darahnya, ku kunyah dagingnya, aku cabut telapak dari tangannya, tangan dari lengannya dan lengan dari pundaknya. Lalu ku cabut pula lutut dari pahanya dan betis dari lututnya dan telapak kaki dari betisnya&lt;/em&gt;" kemudian Umar pun menangis.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dzikrul maut bisa juga dilakukan di keheningan malam, dan bisa juga dengan ziarah ke kuburan, banyak hal yang harus dipahami batas-batasnya. Tidak boleh menentukan waktu tertentu, atau mengkhususkan kuburan tertentu, tidak ada amal tertentu selain ucapan salam, mendoakan si mayit atau untuk mengingat mati.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengingat mati kita akan lebih terkendali. Dan memiliki rem untuk tidak melakukan maksiat. Kita pun akan lebih terarahkan untuk melakukan hanya yang bermanfaat saja. Kalau kita lihat para 'arifin dan salafus shalih, mengingat mati bagi mereka, seperti seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Di mana seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Menjelang kematiannya, Sahabat Hudzaifah berkata lirih, "&lt;em&gt;Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemuimu&lt;/em&gt;”, jadi kita di anjurkan tuk mengingat kematian yg akan kita alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan tema kematian pada jumat ini lebih mendekatkan diri kita kepada sang pemilik Alam dan seisinya Amin&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116493480182172169?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116493480182172169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116493480182172169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116493480182172169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116493480182172169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/12/haruskah-ku-mengingat-ajalku.html' title='Haruskah Ku Mengingat Ajalku…'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116433515958504765</id><published>2006-11-24T02:16:00.000Z</published><updated>2006-11-24T02:25:59.763Z</updated><title type='text'>Keseimbangan Antara Dunia Dan Akhirat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Med Hatta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masalah ekonomi umat Islam rata-rata pada saat sekarang belum menggembirakan, meskipun terdapat banyak negara Islam yang dianugerahkan sumber daya alam yaitu minyak dan gas bumi yang berlimpah-ruah, terutama di Timur Tengah, belum ada satu negara Islam pun yang layak digolongkan dalam kategori negara maju. Hanya ada lima negara Islam, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 6 juta jiwa yang saat ini dikategorikan sebagai negara yang berpendapatan tinggi akan tetapi masih jauh dari kategori negara maju. Sedangkan lebih dari 20 negara Islam dengan jumlah penduduk melebihi 600 juta jiwa, tergolong dalam kategori negara berpendapatan rendah dan terbelenggu dalam kemiskinan. Ini mengindikasikan bahwa cuma setengah persen dari total 1200 juta umat Islam saja yang bisa dikatakan kaya sementara lebih dari 50 persen umat Islam berada dalam garis kemiskinan. Kemudian pertanyaan, adakah fenomena ini sejalan dengan ajaran Islam? atau apakah Islam itu sendiri menginginkan umatnya hidup dalam keadaan &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita kembali membuka lembaran sejarah Islam masa lalu, sungguh kita akan tercengang betapa Islam telah mampu merubah nasib umatnya yang dahulunya mundur, naik pada peringkat teratas hingga menjadi sebuah masyarakat yang sangat tinggi tamaddunnya. Masyarakat Islamlah yang telah mencapai puncak kemajuan di berbagai bidang, terutama dalam memperluas dan mendalami berbagai disiplin ilmu, misalnya sains, matematika, astronomi, kedokteran, sastra, filsafat, mantik, ilmu politik, kemiliteran, pembangunan ekonomi dan sebagainya. Masyarakat Islam jugalah yang telah berjaya dalam mengarungi samudera dan menjelajahi bumi bukan sekedar memperluas wilayah dan daerah jajahan saja akan tetapi lebih dari itu menyebarkan Islam dan ilmu pengetahuan di bumi Allah dimana saja mereka berpijak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi apa yang telah terjadi pada umat Islam saat sekarang, terutama setelah dijajah selama berkurun waktu yang mengakibatkan pudar keunggulannya. Masyarakat Islam menjadi loyo, letih dan lesu, bagaikan seekor burung yang sayapnya patah yang tidak mampu lagi untuk bangkit dan mengepakkan sayapnya, tidak mampu untuk mengembangkan apa yang pernah diraihnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang faktor apa yang paling dominan menyebabkan kemunduran umat Islam pada saat sekarang ini? Apakah hanya faktor penjajahan saja – seperti disebut di atas - atau ada faktor lain? Mungkinkah karena umat Islam hanya lebih mementingkan kehidupan akhirat saja dan sudah melupakan kehidupan duniawinya? Apakah umat Islam sudah melalaikan ajaran Islamnya sendiri yang notabene sebagai agama atau cara hidup yang sempurna?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawabnya mari kita berpijak dari firman Allah SWT "&lt;strong&gt;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniwi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan&lt;/strong&gt;" (QS. Al-Qashash: 77).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjelaskan ayat di atas saya akan mencoba menguraikannya ke dalam 3 kategori utama sesuai dengan makna kandungan ayat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kehidupan Akhirat Adalah Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "&lt;strong&gt;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat&lt;/strong&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sini terlihat dengan jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman:  "&lt;strong&gt;Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya&lt;/strong&gt;" (QS. Al-Ankabut: 64).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa arti kita hidup di dunia?... Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat. Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan. Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi. Bila demikian tabiat dunia, mengapa kita terlalu banyak menyita hidup untuk keperluan dunia? Diakui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya bisa dipastikan terkuras habis oleh kegiatan yang berputar-putar dalam urusan dunia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Tapi mengapa kita lalaikan itu semua. Detakan jantung tidak pernah berhenti. Kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati. Tapi kita sengaja atau tidak selalu melupakan hal itu. Kita sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanja kita dengan nikmat-nikmatNya, kita sering kali memalingkan ingatan. Akibatnya kita pasti akan lupa akhirat. Dari sini dunia akan selalu menghabiskan waktu kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia dibangun semata sebagai keperluan. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan. Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu. Begitu juga sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sementara akhirat dikesampingkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bagaimana mensinkronkan atau menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat? Mari kita ikuti kategori ke dua sebagai sambungan penjelasan ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Berusaha Memperbaiki Kehidupan Dunia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman: ”&lt;strong&gt;Dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu&lt;/strong&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas dengan jelas bahwasannya Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat, tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia ini. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara tetapi tetaplah penting dan agar tidak dilupakan, sebab dunia adalah ladangnya akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masa depan — termasuk kebahagiaan di akhirat — kita, sangat bergantung pada apa yang diusahakan sekarang di dunia ini. Allah telah menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat. Allah juga telah menjadikan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling baik hati dan niatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah mengingatkan perlunya manusia untuk mengelola dan menggarap dunia ini dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan kehidupan manusia dan keturunannya. Pada saat yang sama Allah juga menegaskan perlunya selalu berbuat baik kepada orang lain dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Allah mengingatkan: ”&lt;strong&gt;Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah menurunkan untuk kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin&lt;/strong&gt;” (QS. Luqman: 20).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengelola dan menggarap dunia dengan sebaik-baiknya, maka manusia memerlukan berbagai persiapan, sarana maupun prasarana yang memadai. Karena itu maka manusia perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, setidaknya keterampilan yang mencukupi dan profesionalisme yang akan memudahkan dalam proses pengelolaan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, karena adanya sunatullah, hukum sebab dan akibat, tidak semua manusia pada posisi dan kecenderungan yang sama. Karena itu manusia apa pun; pangkat, kedudukan dan status sosial ekonominya tidak boleh menganggap remeh profesi apa pun,  yang telah diusahakan manusia. Allah sendiri sungguh tidak memandang penampakan duniawiah atau lahiriah manusia. Sebaliknya Allah menghargai usaha apa pun, sekecil apa pun atau sehina apa pun menurut pandangan manusia, sepanjang dilakukan secara profesional, baik, tidak merusak dan dilakukan semata-mata karena Allah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah hanya memandang kemauan, kesungguhan dan tekad seorang hamba dalam mengusahakan urusan dunianya secara benar. Allah SWT menegaskan bahwa:”&lt;strong&gt;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kedudukan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah kondisi, kedudukan yang ada pada diri mereka sendiri (melalui kerja keras dan kesungguhannya&lt;/strong&gt;” (QS. Ar-Ro’d: 11). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah juga mengingatkan manusia karena watak yang seringkali serakah, egois /sifat ananiyah dan keakuannya, agar dalam mengelola dunia jangan sampai merugikan orang lain yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah (perang) antar sesamanya. Manusia seringkali karena keserakahannya berambisi untuk memiliki kekayaan dan harta benda, kekuasaan, pangkat dan kehormatan dengan tidak memperhatikan atau mengabaikan hak-hak Allah, rasul-Nya dan hak-hak manusia lain. Karena itu Allah mengingatkan bahwa selamanya manusia akan terhina dan merugi, jika tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah (hablun minallah) dan dengan sesamanya-manusia (hablun minannaas).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah landasan yang penting bagi terciptanya harmonisme kehidupan masyarakat. Ia juga merupakan landasan penting dan prasyarat masyarakat yang bermartabat dan berperadaban menuju terciptanya masyarakat madani yang damai, adil, dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Menjaga Lingkungan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sarana hidup, Allah SWT melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Mereka boleh mengelola alam, tetapi untuk melestarikan dan bukan merusaknya. Firman Allah dari sambungan ayat di atas: "&lt;strong&gt;Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan&lt;/strong&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menyindir kita tentang sedikitnya orang yang peduli pada kelestarian lingkungan di muka bumi, firmanNya; "&lt;strong&gt;Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil&lt;/strong&gt; " (QS. Huud ayat 116).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaidah Ushul Fikih dikatakan, &lt;em&gt;Ad-dlararu yuzalu&lt;/em&gt;: segala bentuk kemudharatan itu mesti dihilangkan. Nabi SAW bersabda : "&lt;em&gt;La dlarara wala dlirara&lt;/em&gt;", artinya ialah tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat dibuat peraturan teknis untuk mencegah kerusakan lingkungan yang pada akhirnya membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Pelanggaran terhadap hal itu, di samping berdosa juga harus dikenai hukuman &lt;em&gt;ta'zir&lt;/em&gt;; mulai dari denda, cambuk, penjara, bahkan hukuman mati tergantung tingkat bahaya yang ditimbulkannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bila kita ingin terhindar dari berbagai bencana harus ada revolusi total tentang pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Cara pandang kapitalistik dan individualistik yang ada selama ini harus diubah. Ini karena menganggap alam sekitarnya sebagai faktor produksi telah membuat orang rakus, serakah, dan sekaligus oportunis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pandangan hidup untuk berkompetisi berdasarkan pada teori &lt;em&gt;Survival on the fittes&lt;/em&gt; membuat manusia merusak harmoni kehidupan. Ketidak percayaan pada nikmat Allah yang tiada terhitung membuat manusia membunuh sesama makhluk Allah demi memuaskan kebutuhannya.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116433515958504765?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116433515958504765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116433515958504765' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116433515958504765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116433515958504765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/keseimbangan-antara-dunia-dan-akhirat.html' title='Keseimbangan Antara Dunia Dan Akhirat'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116372389294105046</id><published>2006-11-17T00:32:00.000Z</published><updated>2006-11-17T01:33:48.606Z</updated><title type='text'>Islam dan Solidaritas Sosial</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Muhammad Nasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologi arti solidaritas adalah kesetiakawanan atau kekompakkan. Dalam bahasa Arab berarti &lt;em&gt;tadhamun&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;takaful&lt;/em&gt;. Islam adalah agama yang mempunyai unsur syariah, akidah, muamalah dan akhlak. Kejayaan Islam juga sudah terbukti membentang dalam peradaban manusia. Nilai-nilai Islam yang terpancar dan dirasakan oleh umat manusia, adalah suatu hal yang tidak bisa diukur dengan harta benda, karena dia berasal dari Yang Maha Kuasa. Solidaritas salah satu bagian dari nilai Islam yang humanistik-transendental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana solidaritas bersipat kemanusiaan dan mengandung nilai adiluhung, tidaklah aneh kalau solidaritas ini merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi !. Memang mudah mengucapkan kata solidaritas tetapi kenyataannya dalam kehidupan manusia sangat jauh sekali. Kita sebagai bangsa Indonesia yang didera multi krisis jangan berkecil hati untuk memperbaiki ke arah yang lebih baik lagi. Perjuangan solidaritas ala Islam salah satu wahana untuk meningkatkan ketakwaan dan keshalehan sosial. Di alam yang serba komplek ini untuk menuju tangga ketakwaan (solidaritas) memang membutuhkan perjuangan yang tidak remeh karena berkaitan dengan hati dan kesiapan. Tapi tidaklah kita memperhatikan teladan nabi Muhammad SAW dan sebagian para sahabat nabi yang dijamin masuk surga, mereka melakukan amalan-amalan yang terpuji karena mengharap ridha Allah SWT?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keshalehan sosial bukan milik kiyai, konsultan, tukang cukur, bankir, tukang baso, peneriak reformasi dsb. Tapi setidaknya keshalehan sosial ini bisa diukur dengan parameter orang bersangkutan berbuat amal shaleh dan proyek kebaikan lainnya. Karena iman dan amal menjadi mata rantai yang harus sinergis, oleh karena itu keduanya tampil menjadi mainstream (&lt;em&gt;unsur, indikator. Pen&lt;/em&gt;) dalam sebuah perubahan sosial. Akan sulit kiranya, sebuah perubahan jika iman hanya disandarkan pada keshalehan vertikal (&lt;em&gt;mahdhah&lt;/em&gt;) tanpa dibarengi dengan keshalehan sosial (&lt;em&gt;amal shleh&lt;/em&gt;) yang lebih memihak kepada persoalan kemanusiaan. Inti dari iman tidak cukup percaya kepada Tuhan, namun iman bisa berfungsi untuk memerangi ketidakadilan dan pembebasan manusia (Abdus Salam, Waspada online, 7-6-2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai kebaikan solidaritas dalam Al-Quran berbunyi: &lt;strong&gt;“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”&lt;/strong&gt; (QS. Al-Maidah: 2). Inilah pondasi nilai Islam yang merupakan sistem sosial, dimana dengannya martabat manusia terjaga, begitu juga akan mendatangkan kebaikan bagi pribadi, masyarakat dan kemanusiaan tanpa membedakan suku, bahasa dan agama. Solidaritas juga tercermin dalam Hadits: “&lt;em&gt;Saya (Rasulullah SAW) dan pengayom, pelindung anak yatim di surga seperti dua ini, lalu Rasulullah SAW memberikan isarat dengan jari telunjuk dan tengah”&lt;/em&gt; (HR At-Tirmidzi). Maksudnya orang yang suka memberikan pertolongan kepada anak yatim, nanti di surga akan berdekatan dengan Rasulullah SAW, seperti jari telunjuk dan tengah. Dalam Hadis lain dijelaskan juga (solidaritas) selain kepada anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mampu melakukan aksi solidaritas tetapi tidak melaksanakannya, maka orang tersebut telah mendustakan agama seperti terungkap dalam firman Allah SWT : “&lt;strong&gt;Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ?. Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan barang berguna (tolong menolong)&lt;/strong&gt;. (QS. Al-Maauun : 1-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal solidaritas juga, Rasululllah SAW telah membuat ilustrasi yang bagus sekali : &lt;em&gt;« Perumpamaan orang-orang mumin dalam cinta dan kasih sayangnya seperti badan manusia, apabila salah satu anggota badan sakit maka seluruh anggota badan merasakannya ».&lt;/em&gt; (HR Al-Bukhari). Dalam redaksi lain ada tambahan yang berbunyi : « &lt;em&gt;Allah akan menolong seseorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya”&lt;/em&gt;. Solidaritas tidak hanya dalam perkara benda saja tetapi meliputi kasih sayang, perhatian, dan kebaikan lainnya. Agama Islam sangat menganjurkan pada solidaritas kebersamaan dan sangat anti yang berbau perpecahan, menghembuskan sipat permusuhan di masyarakat. Karena titik kekuatan suatu komunitas atau negara terletak pada solidaritas kebersamaan dan persatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solidaritas Islam dan Bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, solidaritas terdiri dari: (1) Solidaritas Sosial seperti disinggung diatas, (2) Solidaritas Keadilan, yaitu seorang hakim menegakkan keadilan terhadap rakyat dan negerinya, karena Allah SWT memerintahkannya. (QS. An-Nahl:90), (3) Solidaritas Ilmu, yaitu keharusan seorang Alim atau kiyai mengajar orang yang tidak tahu dan kewajiban orang yang tidak tahu belajar kepada Alim. (QS. At-Taubah:122) dan (4) Solidaritas dalam Perlawanan, yaitu kewajiban kaum Muslimin membela agama dan negaranya.(QS. At-Taubah:41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang bangsa Indonesia sudah merdeka 61 tahun. Dalam hal solidaritas, bangsa Indonesia telah terpayungi oleh sila ketiga: Persatuan Indonesia dan sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Solidaritas sosial merupakan hal yang penting, tidak aneh apabila Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional diabadikan dari peristiwa sejarah tanggal 20 desember 1948, yaitu ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda. Dua kekuatan milik bangsa Indonesia yaitu TNI dan rakyat bahu-membahu dalam perjuangan bersenjata untuk mengenyahkan penjajahan Belanda. Kesetiakawanan yang tulus, dilandasi rasa tanggung jawab yang tinggi kepada tanah air (&lt;em&gt;pro patria&lt;/em&gt;) menumbuhkan solidaritas bangsa yang sangat kuat untuk membebaskan tanah air dari cengkraman agresor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai solidaritas adalah sangat mahal sekali dan tidak bisa diukur dengan uang juga tidak akan terukur, karena solidaritas (dalam hal ini bangsa Indonesia) telah diterjemahkan oleh pahlawan-pahlawan kita berupa harta, pikiran, pengorbanan dan juga nyawa. Semoga Allah SWT membalas dengan surgaNya di akhirat nanti !. Karena tanpa ruh pahlawan mustahil negara Indonesia akan terwujud. Sayang seribu kali sayang generasi setelahnya tidak setangguh pejuang kemerdekaan. Dengan kata lain berarti “kita” telah mengkhianati solidaritas adiluhungnya para pahlawan-pahlawan terdahulu. Rupanya sebagian pemimpin negeri ini tidak menghayati dan mengamalkan nilai solidaritas “yang maha suci itu”. Sampai sekarang kehidupan sebagian pemimpin-pemimpinnya penuh dengan kemewahan di tengah kemiskinan rakyat dan kemerosotan akhlak bangsanya yang akhirnya melemahkan solidaritas sosial antara pemimpin dan rakyatnya, rakyat dengan rakyatnya, dan akhirnya negara itu hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku pemimpin suatu bangsa, besar sekali pengaruhnya kepada kehidupan masyarakat banyak. Bangsa Indoneia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya beroreintasi ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku pemimpin yang baik maupun yang buruk. Maka mulailah dari keteladanan para pemimpin untuk hidup yang wajar yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Dengan kita membangun solidaritas sosial yang tangguh, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat, maju, demokrtis dan modern. (Dr. H. Nanat Fatah Natsir, harian Pikiran Rakyat, 7-10-2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makasid syariah atau tujuan syariah tidak akan tercapai kecuali kita menapaki tatanan praksis (baca: mengimplementasikan keshalehan sosial disamping keshalehan hati). Tatanan praksis ini telah disinggung oleh pemikir Barat yang bernama Frank Whaling ketika berusaha mendefinisikan agama, menyatakan bahwa sebuah komunitas iman, bisa disebut sebagai agama manakala memiliki delapan unsur pokok di dalamnya. Salah satu unsur pokok itu adalah keterlibatan dalam kehidupan sosial dan politik (&lt;em&gt;Involment in social and poitical context&lt;/em&gt;). (Abdus Salam, 7-6-2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa mengimplementasikan keshalehan sosial ini dalam kehidupan kita sehari hari, dan menjaganya sehingga menjadikan cermin yang baik terhadap kehidupan sosial disekitar kita. &lt;em&gt;wawlahualam bisshawab&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116372389294105046?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116372389294105046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116372389294105046' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116372389294105046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116372389294105046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/islam-dan-solidaritas-sosial.html' title='Islam dan Solidaritas Sosial'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116315783526200303</id><published>2006-11-10T10:16:00.000Z</published><updated>2006-11-10T11:23:56.320Z</updated><title type='text'>Sebab Sebab Masuk Neraka Saqor</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Oleh: Nasrullah Jasam, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bicara surga dan neraka adalah bicara tentang dua hal yang kontradiktif, yang pertama penuh dengan cerita indah, megah dan mewah  sedang yang lain penuh dengan cerita menakutkan, menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding. Sungguhpun demikian, sesungguhnya surga dan neraka adalah "&lt;em&gt;ma laa ainun ra'a,t wa laa udzunun sami'at, wa laa qalbun khatharat&lt;/em&gt;" (sesuatu yang belum pernah disaksikan mata, terdengar oleh telinga atau terlintas dalam hati) jadi bagaimana indahnya surga tidak bisa kita bayangkan, yang jelas sangat indah sekali dan juga bagaimana seramnya neraka tidak bisa kita bayangkan tapi yang jelas siksaanNya sangat dahsyat sekali. Adapun yang Allah gambarkan dalam Al-Qur'an tentang keindahan surga dan seramnya neraka adalah berupa perumpamaan-perumpamaan yang bisa dijangkau manusia, tapi surga dan neraka yang sesungguhnya adalah seperti yang telah disinggung diatas "&lt;em&gt;ma laa ainun ra'a,t wa laa udzunun sami'at, wa laa qalbun khatharat&lt;/em&gt;". Dalam artikel singkat ini saya akan coba menjelaskan penyebab masuknya ke neraka Saqr seperti yang terdapat dalam surat Al- Mudatsir ayat 36-56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebab Turun (&lt;em&gt;Asbab An-Nuzul&lt;/em&gt; )nya Surat Al-Mudatsir&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebab turunnya surat Al-Mudatsir adalah sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab زاد المسير ج: 8 ص: 403 , diceritakan bahwa Al-Walid bin Mughirah salah seorang pemuka Quraisy datang kepada Nabi SAW mendengarkan ayat Al-Qur'an, setelah mendengarkan ayat tersebut ia merasa tertarik dan belum pernah dengar sya'ir seindah itu. Berita ketertarikannya itu terdengar oleh Abu Jahal, kemudian Abu Jahal memerintahkan ia untuk tidak menyampaikan ketertarikannya itu kepada kafir Quraisy yang lain, sampai akhirnya keduanya bersepakat untuk memberikan pernyataan bahwa Al-Qur'an adalah merupakan sihir yang dipelajari oleh orang-orang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Abu Jahal yang melarang Al-Walid bin Mughirah untuk menceritakan ketertarikannya terhadap Al-Qur'an kepada orang kafir Quraisy lain tentunya  tidak lepas dari kekhawatirannya akan pengaruh cerita Al-Walid, karena jika penyair selevel Al-Walid sudah mengakui keindahan Al-Qur'an tentu akan berdampak besar bagi kafir Qurais lainnya, jangan-jangan mereka akan segera mengakui kerasulan Muhammad. Sehingga keduanya bersepakat untuk memberikan pernyataan yang tidak akan membuat kagum kafir Quraisy terhadap Al-Qur'an, yaitu dengan mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah : "&lt;strong&gt;Lalu ia berkata (Al-Qur'an) ini tidak lain adalah sihir yang dipelajari  (dari orang-orang terdahulu&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penghuni Neraka Saqar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Neraka Saqr adalah neraka yang tidak membiarkan orang yang diazab didalamnya menarik nafas untuk beristirahat dari azab, bahkan setelah diazab dengan azab yang pedih ia dikembalikan kepada bentuknya semula untuk diazab lagi, neraka saqr adalah neraka yang membakar kulit manusia : "&lt;strong&gt;Tahukah kamu apa (neraka) saqar itu?  Saqar itu tidak meninggalkan dan membiarkan.  (neraka saqar) adalah pembakar kulit manusia, diatasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu untuk siapakah neraka Saqar itu dipersiapkan? Allah SWT menjelaskan ketika penduduk surga bertanya apa yang menyebabkan mereka menjadi penghuni neraka Saqr, sebagaimana firmanNya: &lt;strong&gt;"Apa yang memasukkan kamu ke (neraka) saqar?" &lt;/strong&gt;Maka para penghuni Saqar itu menjawab : "&lt;strong&gt;Mereka menjawab: "kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sebab-sebab masuk neraka Saqr itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Meninggalkan Shalat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur'an seringkali disebutkan pentingnya ibadah shalat dan ancaman bagi orang yang melalaikan shalat. Seperti kita ketahui ibadah shalat adalah salah satu rukun Islam, ulama menyatakan bahwa seseorang yang mengingkari ibadah ini adalah kafir. Apa sih istimewanya ibadah shalat?,  dalam salah satu hadistnya Rasulullah SAW bersabda; "&lt;em&gt;Tidaklah Aku diutus ke dunia ini kecuali untuk menyempurnakan akhlak&lt;/em&gt;", lalu dalam hadist lain disebutkan "&lt;em&gt;Amal ibadah yang paling pertama diperiksa di hari kiamat nanti adalah shalat&lt;/em&gt;". Sekilas dua hadist ini bertolak belakang disatu sisi. Tujuan Rasulullah diutus ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak namun disisi lain amal ibadah seorang hamba yang pertama kali diperiksa adalah shalat, jika tujuan diutusnya Rasulullah untuk memperbaiki akhlak mestinya yang pertamaka kali diperiksa dari seorang hamba di hari kiamat adalah akhlaknya bukan shalatnya, tapi kenapa yang diperiksa justru ibadah shalat?. Dari sini kita bisa memahami bahwa ibadah shalat jika dilakukan dengan benar maka akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak seseorang, oleh karena itu wajar jika amal ibadah yang pertama diperiksa  hari kiamat nanti adalah shalat, karena jika shalat seseorang baik maka akan baik pula akhlaknya, shalat yang baik adalah shalat yang bisa menjauhkan seseorang dari perbuatann keji dan munkar seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Ankabuut ayat 45 &lt;strong&gt;:"......Sesungguhnya shalat mencegah perbauatan keji dan munkar....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Peduli Terhadap Orang Miskin&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hikmah yang bisa diambil dari ibadah puasa adalah melatih kepekaan sosial kita. Dengan melaksanakan ibadah puasa, kita dapat merasakan sesuatu yang dirasakan orang miskin selama ini, sehingga dengan melaksanakan ibadah puasa ini diharapkan hati kita lebih bisa terketuk lagi terhadap penderitaan orang lain dan lebih care terhadap nasib sesama muslim, dalam Al-Qur'an banyak disebutkan ancaman bagi orang yang tidak peduli terhadap nasib orang miskin, dalam surat ini dijelaskan bahwa cuek terhadap orang miskin bisa menyebabkan masuk kedalam neraka Saqr, dan ini mestinya juga menjadi perhatian para petinggi negara kita dikala bangsa ini dilanda keterpurukan, kemiskinan makin bertambah seharusnya mereka tidak boleh egois memikirkan tunjangan ini itu, tetapi mestinya lebih mengkonsentarsikan diri bagaimana seharusnya memperbaiki nasib mereka, yang jelas nasib mereka tidak akan mudah berubah kearah yang lebih baik dengan hanya memberikan mereka dana konpensasi BBM sebesar 300 ribu rupiah per 3 bulan. Peduli terhadap orang miskin bukan berarti dengan memberikan sejumlah uang kepada mereka kemudian masalah dianggap selesai tapi lebih dari itu bagaimana kita membentuk mereka menjadi tenaga-tenaga yang produktif sehingga mampu untuk hidup mandiri dan keluar dari kemiskinan juga bermanfaat bagi orang banyak, dengan demikian Insya-Allah setiap tahun jumlah orang miskin akan semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkumpul Dengan Ahlul Bathil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak orang yang terpuruk karena teman, oleh karena itu memilih teman menjadi hal yang penting, nabi Yusuf dan nabi Ibrahim pernah berdo'a untuk bisa bergabung dengan orang-orang sholeh baik di dunia maupun di akhirat seperti yang  terdapat dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 101 dan surat Assyu'ara ayat 83.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang sedang kita bahas ini, salah satu penyebab masuknya seseorang ke neraka Saqr adalah berbicara bathil dengan kelompok orang yang membicarakannya. Di zaman sekarang banyak sekali dan dengan mudah kita temukan tempat-tempat untuk melakukan hal tersebut, sebut  saja cafe plus, diskotik dan lain-lainnya yang berkaitan dengan dugem (dunia gemerlap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengingkari Hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kapankah dunia akan berakhir? Atau kah dunia itu tidak akan pernah berakhir? Dari sejak dulu selalu ada sekelompok orang yang tidak percaya akan adanya hari kiamat. Pada zaman terdahulu orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti ajaran para Rasul yang diturunkan oleh Allah SWT menganggap bahwa kiamat tidak akan pernah ada dan demikian juga halnya dengan kehidupan setelah mati, menurut mereka jika mereka mati maka itulah akhir kehidupan dan tidak akan ada kebangkitan lagi. Pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan jelas sekali digambarkan dalam Al-Qur'an surat Yasin ayat 78 &lt;strong&gt;:"ia berkata : Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang juga masih banyak orang yang tidak percaya akan hari kiamat dan kehidupan setelah mati, baru-baru ini majalah Gatra memberitakan bahwa seorang ilmuwan A.S. yang bernama Raymond Kurzweil mengatakan bahwa keinginan manusia untuk dapat hidup abadi itu hanya tinggal 25 tahun lagi tepatnya tahun 2030. Kurzweil yakin dengan bantuan teknologi, manusia bisa menolak kematian!. Menurut Kurzweil, lompatan bioteknologi dan kedokteran bakal mampu menghentikan proses penuaan pada manusia, itu terjadi pada 2030. Kurzweil menjelaskan, ada tiga jembatan proses yang harus dilalui untuk menuju keabadian. Pertama, berterima kasihlah pada nanoteknologi yang mampu menciptakan nanorobot yang ukurannya bisa sekecil sel darah merah, yang dapat memperbaiki berbagai kerusakan tubuh.Jembatan kedua adalah revolusi bioteknologi yang membawa manusia mengatasi keterbatasan tubuh biologisnya. Berbagai penyakit bisa diatasi, proses penuaan dapat dihambat, dan fungsi tubuh jadi lebih optimal. Namun, sebelum kedua jembatan tadi tercipta, sambil menunggu, manusia harus melewati jembatan pendahuluan . Yakni bertahan hidup dengan teknologi "&lt;em&gt;primitif":&lt;/em&gt; diet dan olahraga.Jika ketiga jembatan itu terbentuk, dampaknya sangat besar pada kehidupan manusia. Dalam Singularity, Kurzweil bercerita, jantung manusia di masa depan dapat beristirahat. Sebab tugasnya sudah digantikan oleh nanorobot yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh.Bahkan, pada 2050, Kurzweil percaya, akhirnya teknologi mengizinkan otak manusia untuk meninggalkan tubuh "berairnya" pindah ke tubuh robot. Disitulah kemudian tercipta sebuah "keabadian". Pendek kata, Kurzweil menganggap manusia bakal mampu meraih keabadian dalam genggaman, menghindari sang Malaikat Maut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang beriman tentu kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi akan hancur dan tidak ada yang abadi seperti yang Allah tegaskan dalam surat     Al-Qashas ayat 88&lt;strong&gt;:".....Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dan yang perlu diingat lagi adalah betapapun tingginya ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah bagaikan setetes air di tengah lautan, terlalu banyak hal yang tidak diketahui karena keterbatasan akal kita, kecerdasan tanpa keimanan hanya akan melahirkan manusia-manusia sombong yang lupa akan kebesaran Allah, padahal sesungguhnya semua yang kita miliki adalah berkat anugerah Nya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116315783526200303?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116315783526200303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116315783526200303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116315783526200303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116315783526200303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/sebab-sebab-masuk-neraka-saqor.html' title='Sebab Sebab Masuk Neraka Saqor'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116250990766841401</id><published>2006-11-03T23:24:00.000Z</published><updated>2006-11-02T23:28:01.760Z</updated><title type='text'>Hakikat Fitrah Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Husnul Amal Mas’ud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, 10 hari sudah Ramadan berlalu. Bulan tempat menempa diri, menguji kesungguhan untuk menggapai surga dengan segala kemudahan dan keistimewaan di dalamnya. Mudah karena sepanjang Ramadan, pintu-pintu surga dan rahmat dibuka oleh Allah seluas-luasnya, sehingga terasa ringan badan dan jiwa menjalankan segala macam ibadah. Istimewa karena begitu besar perhatian Allah terhadap segala amalan hambanya di bulan tersebut; amalan yang sunah diberikan pahala seperti amalan wajib, dan amalan yang wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Pintu-pintu ampunan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, bahkan setan pun dibelenggu untuk mengurangi potensinya menyesatkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Syawal ini manusia telah kembali berada pada fitrahnya, asal kejadiannya yang masih suci dan murni. Bulan fitrah yang selalu di awali dengan perayaan Idul Fitri setelah menjalankan ritual puasa dan amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah selama Ramadan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb membagi fitrah kepada dua macam: &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, fitrah manusia, yaitu bahwa potensi dasar yang ada pada manusia adalah untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, fitrah agama, yaitu wahyu Allah yang disampaikan lewat para rasulnya untuk menguatkan dan menjaga fitrah manusia itu. Kedua macam fitrah ini adalah diciptakan dan bersumber dari Allah SWT. Oleh karenanya, antara fitrah manusia dan fitrah agama tidaklah akan pernah terjadi pertentangan karena keduanya mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia kembali dan dekat kepada sang penciptanya, Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“(dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim."&lt;/strong&gt; (QS. Al-A’raf : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dialog Allah SWT dan Adam AS pada ayat tersebut. Allah SWT berbicara kepada Adam dengan menggunakan perkataan “&lt;strong&gt;pohon ini&lt;/strong&gt;” yang mengisyaratkan kepada kedekatan jarak antara Adam dan Rabbnya. Itulah nuansa kedekatan yang dihadirkan ketika Adam dan Hawa patuh kepada ketetapan Tuhan, ketika Adam dan Hawa masih dalam fitrah asal kejadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perhatikan bagaimana Allah menegur Adam AS dan Hawa ketika keduanya terlanjur terbujuk rayuan setan untuk menjamah pohon larangan : &lt;strong&gt;“Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"&lt;/strong&gt; (QS. Al-A’raf : 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika Adam memilih menyalahi fitrah, tidak patuh (maksiat) terhadap perintah Allah, terciptalah jarak yang menyebabkan Adam jauh dari Rabbnnya sehingga Allah memilih kata “&lt;strong&gt;pohon itu&lt;/strong&gt;” pada dialog ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Allah, mereka akan selalu dekat dengan-Nya. Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. Ia akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Allah. Seumpama seorang bintang film yang sedang berada di depan kamera, segala gaya dan mimiknya akan direkam dan hasilnya akan dipertontonkan nanti. Oleh karenanya si bintang film akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan perannya, berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi skenario yang telah digariskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbullah sifat &lt;em&gt;Ihsan&lt;/em&gt; dalam dirinya; serasa ia berada dalam perhatian Allah, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan. Karena ia sadar bahwa setiap perilakunya sedang direkam dan bakal dipertontonkan di &lt;em&gt;Mahkamah Mahsyar&lt;/em&gt; nanti. Inilah kesan dekatnya hamba kepada Tuhannya ketika telah kembali kepada fitrahnya setelah menjalani penempaan selama Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, ketika Allah menjelaskan tentang perintah, hakikat, tujuan dan syariat-syariat yang berkaitan dengan puasa Ramadan, di tengah ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan betapa dekatnya Dia dengan hamba-hambaNya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”&lt;/strong&gt; (QS. Al-Baqarah : 186).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat dan tujuan puasa Ramadan yang telah kita lalui kemarin. Ramadan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah asal kejadian mereka, yaitu dekat dengan Allah SWT. Dengan suasana kedekatan ini, manusia selalu akan merasa sadar akan keberadaan Rabbnya. Dan ini pula yang dimaksudkan juga dengan taqwa yang menjadi tujuan inti ibadah puasa. Sebuah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perilaku dan gerak geriknya karena tempaan Ramadan telah membangkitkan kembali hakikat fitrahnya, yaitu bahwa ia dekat dengan Rabbnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada bulan Syawal ini di mana puasa Ramadan baru saja beberapa hari berlalu, renungkanlah di mana posisi kita telah berada saat ini? Apakah kita sudah semakin dekat kepada Allah, ataukah keadaan kita tidak jauh berbeda ketika sebelum memasuki madrasah puasa Ramadan? Adakah kesan Ramadan dan segala ritual ibadah yang telah kita lakukan dalam Ramadan masih membekas dalam diri pada bulan Syawal ini ataukah nuansa Ramadan malah telah berbalik seratus delapan puluh derajat? Adakah Ramadan tetap membekasi kita di bulan syawal ini, bulan “idul fitri”, ketika kita kembali kepada fitrah, untuk kemudian senantiasa berbuat dan bersikap penuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita karena jarak kita telah kembali begitu dekat dengan-Nya ataukah sebaliknya kita kembali kepada rutinitas kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita merasa termasuk kelompok yang pertama, maka kita adalah orang yang sebenar-benarnya telah “&lt;em&gt;aidin wal faizin&lt;/em&gt;” pada bulan syawal ini, yaitu golongan yang telah kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah kesucian, berada dekat kepada Rabbnya. Dan kita lah orang yang sebenar-benarnya telah mencapai kemenangan di dunia dan akhirat. &lt;em&gt;Wallahu A’lam. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116250990766841401?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116250990766841401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116250990766841401' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116250990766841401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116250990766841401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/hakikat-fitrah-manusia_03.html' title='Hakikat Fitrah Manusia'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116250906556204165</id><published>2006-11-03T23:09:00.000Z</published><updated>2006-11-02T23:11:05.836Z</updated><title type='text'>Do'a Penawar Hati Yang Sedih Dan Duka</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;" Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hambaMU, anak hambaMu (Adam) dan anak Hamba perempuanMU (Hawa). Ubun-ubunku ditanganMu, hukumanMu jatuh kepadaku, qhadaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam KitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu. hendaklah Engkau jadikan Al Quran sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku"&lt;/em&gt;  (HR. Ahmad  1/391 dan Al Albani menyatakan shahih).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116250906556204165?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116250906556204165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116250906556204165' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116250906556204165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116250906556204165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/doa-penawar-hati-yang-sedih-dan-duka.html' title='Do&apos;a Penawar Hati Yang Sedih Dan Duka'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116094490143188832</id><published>2006-10-20T20:28:00.000Z</published><updated>2006-10-15T20:49:00.296Z</updated><title type='text'>Dari Ramadhan Menuju Syawal</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(Menjaga Kesinambungan Ibadah)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Oleh: Nasrullah Jasam, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa yang sedang kita jalani ini sebentar lagi akan berakhir, bulan yang penuh berkah akan segera meninggalkan kita semua, bulan yang disebut oleh salah seorang pujangga Arab sebagai bulan revolusi karena semua aktivitas manusia berubah seratus delapan puluh derajat di bulan itu. Jika di bulan-bulan lain kita sarapan di pagi hari kemudian disusul makan siang dan setelah itu ditutup dengan makan malam, maka pada bulan puasa semuanya berubah total, kita hanya makan saat sahur dan saat berbuka puasa, waktunya pun hanya menjelang subuh sampai terbenamnya matahari. Ditambah lagi jika pada bulan-bulan biasa waktu kita dihabiskan dengan hal-hal seperti menonton televisi, bicara ngalor-ngidul, maka pada bulan puasa kita habiskan dengan membaca Al-Qur'an, beri'tikaf di Masjid, shalat tarawih berjamaah dan mungkin juga dengan shalat tahajjud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian nyatalah bahwa bulan ramadhan bagi seorang muslim adalah bulan penggemblengan dan penempaan diri selama 29/30 hari. Dirinya ditempa sedemikian rupa diajarkan untuk bisa menguasai diri sehingga kelak mampu menghadapi 11 bulan yang akan ia jalani setelahnya. Pada 11 bulan itulah ujian yang sesungguhnya, dimana berhasil tidaknya puasa seseorang bisa dilihat dari ada atau tidaknya perubahan kearah yang lebih baik pada diri orang itu. Jika bulan ramadhan adalah bulan yang sangat agung, bulan yang penuh kebaikan, maka sesungguhnya seluruh bulan adalah merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dan membekali diri untuk di hari akhirat kelak. Ibadah bukan hanya dilakukan di bulan ramadhan saja atau bulan-bulan tertentu tetapi hidup ini seluruhnya adalah ibadah, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 99 "&lt;strong&gt;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sudah merupakan keharusan bagi kita untuk melanjutkan segala bentuk amal ibadah yang kita lakukan dengan giat dan penuh semangat pada bulan ramadhan baik itu ibadah shalat, puasa, berdzikir, shadaqoh dan ibadah-ibadah lainnya pada bulan berikutnya, karena sesungguhnya salah satu ciri diterimanya amal yang baik adalah diikuti dengan amal yang baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita telah tiba di penghujung ramadhan dan akan segera menyambut bulan Syawal, kita tidak ingin amal ibadah kita terhenti dengan berakhirnya ramadhan, untuk itu kita harus terus berupaya memelihara "identitas takwa" yang mudah-mudahan kita dapatkan di bulan ramadhan ini, karena memang demikianlah sesungguhnya tujuan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memelihara Dan Mempererat Tali Persaudaraan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah tradisi yang sangat baik di negara kita yang mungkin jarang kita temui di negara-negara lain, bahkan di Maroko pun saya tidak menemui tradisi ini, yaitu setiap setelah melaksanakan shalat ied orang muslim Indonesia selalu bersalam-salaman satu sama lain dengan penuh haru dan diiringi dengan permintaan maaf, hal ini biasanya dilakukan tidak cukup dengan hanya di Masjid saja setelah shalat ied tapi juga dilanjutkan dengan saling mengunjungi satu sama lain dengan membawa anggota keluarga, dan tukar-menukar makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disalah satu daerah di Jawa Tengah tepatnya kabupaten Banyumas, penduduknya memiliki tradisi membuat ketupat khas lebaran yang mereka sebut ketupat &lt;em&gt;udhar luwar&lt;/em&gt;. Ketupat ini dirasa paling mewakili pengahayatan akan makna lebaran. &lt;em&gt;Udhar luwar&lt;/em&gt; berarti lepas atau bebas, yaitu perasaan lepas dari berdosa terhadap Allah SWT karena telah melaksanakan puasa selama sebulan penuh juga merasa bebas dari rasa dengki, iri, dan dendam terhadap manusia. Semangat semacam inilah yang tersimpan dalam ketupat &lt;em&gt;udhar luwar&lt;/em&gt; itu, oleh karenanya lebaran tidak akan lengkap jika tidak ada &lt;em&gt;udhar luwar&lt;/em&gt; seperti tidak lengkapnya seseorang yang mengakhiri ramadhan karena dalam dirinya masih ada perasaan dengki, iri, dan dendam terhadap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian lebaran bisa dijadikan moment yang tepat untuk membangun rekonsiliasi. Sebagai manusia kita yakin pasti memiliki kesalahan terhadap orang lain baik disengaja atau tidak, mungkin kita pernah berbicara yang dapat menyinggung perasaan orang lain meskipun niatnya tidak demikian atau mungkin juga kita pernah bersikap kurang simpati sehingga menimbulkan rasa tidak suka terhadap orang lain. Kita yakin sebagai manusia yang tidak akan luput dari kealpaan, hal tersebut pernah kita lakukan. Mungkin di bulan-bulan lain kita merasa segan untuk sekedar meminta maaf, maka di saat lebaranlah yang paling tepat untuk melakukan itu. Dalam kontek ke-Indonesia-an, ini bisa tercermin dengan tradisi saling mengunjungi seperti telah disinggung diatas, dengan saling mengunjungi berarti menyambung kembali komunikasi yang pernah terputus dan merajut kembali tali persaudaraan. Bagi kita masyarakat Indonesia yang ada di Maroko mungkin rekonsiliasi ini bisa kita lakukan saat shalat ied berjamaah di KBRI dan acara-acara &lt;em&gt;open house&lt;/em&gt; di kediaman para diplomat, meskipun selama ini kita sering bertemu baik saat acara berbuka puasa bersama ataupun acara-acara lainnya, tetapi hari lebaran tentunya memiliki "rasa" yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, jika puasa bertujuan untuk membentuk manusia bertakwa, maka salah satu ciri orang bertakwa yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 134 adalah "&lt;strong&gt;Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat ideal jika kedua sifat ini ada dalam diri seseorang, tidak mudah marah dan jika marah sekalipun akan mudah memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah. Mungkin banyak orang yang bisa menahan marah tapi berapa banyak yang mudah memaafkan atau sebaliknya mungkin banyak orang yang mudah untuk memberikan maaf tapi berapa banyak yang bisa menahan amarahnya, oleh karena itu orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki dua sifat ini di dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Puasa Sunah Syawal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah disinggung diatas bahwa salah satu ciri diterimanya amal kebaikan ialah dengan diikuti oleh amal kebaikan selanjutnya, setelah Allah mengaruniakan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, Allah SWT memberikan kepada kita amalan lain di bulan Syawal yaitu berupa puasa sunah Syawal selama 6 hari, puasa sunah ini memiliki ganjaran yang sangat luar biasa, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW Bersabda "&lt;em&gt;Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka seperti halnya puasa sepanjang tahun&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadist diatas jelas sekali bahwa seorang muslim yang telah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal (selain tanggal 1 Syawal karena puasa di hari tersebut hukumnya haram) maka pahalanya seperti puasa sepanjang tahun. Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan : hal tersebut dikarenakan setiap amal kebajikan mendapatkan ganjaran 10 kali lipat, puasa satu bulan Ramadhan sama dengan puasa 10 bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan puasa 60 hari (2 bulan), jadi jika dijumlah puasa satu bulan Ramadhan plus 6 hari bulan Syawal sama dengan puasa setahun. Tapi terlepas dari angka-angka yang dijelaskan oleh Imam Nawawi tadi sesungguhnya puasa Syawal banyak memiliki hikmah, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunjukkan bahwa umat Muhammad meskipun usianya secara nominal pendek dibanding umat-umat terdahulu tetapi memiliki amal ibadah dan ganjaran yang banyak sehingga jika dipergunakan dengan sebaik-baiknya secara kualitas akan melebihi umur umat nabi-nabi terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal-hal yang kurang dalam shalat fardhu bisa ditambal dengan sholat sunnah rawatib, demikian juga dengan puasa ramadhan, mungkin dalam mengerjakan puasa ramadhan ada hal hal yang kurang atau berbuat sesuatu yang bisa mengurangi puasa maka hal tersebut bisa ditambal oleh puasa sunnah Syawal. Karena amalan sunnah bisa menyempurnakan amalan fardlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa sunnah Syawal adalah sarana untuk menumbuh kembangkan iman serta memperkokoh taqwa yang merupakan tujuan puasa seperti yang Allah firmankan &lt;strong&gt;Wahai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas ummat ummat sebelum kamu supaya kamu sekalian menjadi orang orang yang bertaqwa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya membiasakan diri untuk berpuasa setelah melaksanakan puasa Ramadhan adalah salah satu ciri diterimanya puasa Ramadhan. Karena seperti disebutkan diatas tadi bahwa salah satu cirri diterimanya amal kebajikan adalah melanjutkannya dengan amal kebajikan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah betapa banyak anugerah Allah kepada para hambanya, Anugerah Allah tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja tetapi juga di bulan bulan lain, oleh karena itu jika ingin berbuat baik tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan tapi sejak berakhirnya Ramadhan tahun ini sampai Ramadhan tahun depan kita bertekad untuk selalu berusaha mempertahankan nilai nilai puasa kita, berhasilnya dan tidak nya puasa kita tergantung sejauh mana pengaruh ibadah puasa tersebut dalam kehidupan kita di luar Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sepakat bahwa setiap perintah Allah SWT. Kepada hamba Nya seperti sholat, haji, zakat Mengandung hikmah yang semuanya bertujuan untuk membentuk muslim yang kamil, begitu juga dengan ibadah puasa, jika kita melaksanakannya dengan penuh keimanan dan kekhusyu'an maka puasa tersebut akan memberikan ekses yang baik bagi kita tapi sebaliknya jika tanpa keimanan dan penghayatan Rasul menegaskan : "&lt;em&gt;berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa2 dari puasanya kecuali lapar dan haus&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita tidak ingin puasa yang kita lakukan sia sia. Semoga Allah SWT. Menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan semoga mempertemukan kita dengan Ramadhan yang akan datang….Amiiin&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116094490143188832?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116094490143188832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116094490143188832' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116094490143188832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116094490143188832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/10/dari-ramadhan-menuju-syawal.html' title='Dari Ramadhan Menuju Syawal'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116076809739733158</id><published>2006-10-13T19:28:00.000Z</published><updated>2006-10-13T23:54:47.893Z</updated><title type='text'>Keutamaan dan hikmah ibadah I’tikaf</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Muhammad Nasir&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji kepunyaan Allah, dan dunia-langit serta isinya juga adalah kepunyaan Allah. Shalawat dan salam dengan tiada hentinya mari kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, utusan terakhir dan pilihan Tuhan yang &lt;em&gt;uswatun hasanah&lt;/em&gt; dan berakhlak mulia. Tidak lupa juga, doa keselamatan kita haturkan kepada para sahabat, &lt;em&gt;tabiin, tabit-tabiin&lt;/em&gt;, ulama-ulama dan seluruh kaum muslimin. Semoga dalam proses ibadah puasa yang sedang kita jalani ini benar-benar menjadi ajang latihan sehingga keluar menjadi "alumni ramadhan" yang berkualitas. Latihan beribadah yang merupakan kesempatan emas yang tinggal 16 hari lagi mari kita evaluasi, cek dan renungkan apa yang kurang, bagaimana agar lebih efektif, efisien dan menghasilkan sesuatu yang berharga bagi kita kaum muslimin. Dalam buletin jumat kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itikaf secara bahasa adalah tinggal di masjid dengan niat tertentu karena taat kepada Allah SWT. Itikaf yang hukumnya sunnah muakkadah adalah bagian ibadah di bulan ramadhan. Azam berkata : sebetulnya disunahkan bagi kaum muslimin semampu dan semaksimalnya mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah guna meminta pahalaNya dan mengikuti jejak Rasulallah-Nya, karena beliau telah terus-menerus melaksanakan itikaf di setiap bulan ramadhan. Dalilnya adalah pertama, telah sepakat para ulama bahwasannya itikaf itu telah disyariatkan. Kedua, dari Aisyah RA bahwasannya nabi SAW beritikaf di sepuluh terakhir bulan ramadhan, itu dilakukan sampai akhir hayatnya. Sepeninggalan nabi, istri-istrinya dan para sahabat melanggengkan ibadah itikaf ini (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah kepada Allah, apapun macam dan namanya mempunyai aturan dan petunjuk sebagaimana yang disuritauladankan nabi Muhammad SAW. Agar ibadah itikaf ini sesuai apa yang diharapkan, maka paling tidak kita mesti mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan nabi. Langkah-langkah itu adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Rukun itikaf, ini terdiri dari: Satu, niat adalah sesuatu yang urgen dan asasi karena kekokohan niat akan berimplikasi atau berefleksi berbanding lurus dengan niat itu sendiri. Segala rencana dan tujuan di dunia ini tergantung niat, makanya Rasuluallah SAW bersabda: "&lt;em&gt;Sesungguhnya segala perbuatan atau amal itu tergantung pada niat....(HR. Bukhari). Kedua, berdiam di masjid, ini sesuai dengan firman Allah&lt;/em&gt;: "....Dan telah Kami perintahkan kepada Ibarahim dan Ismail: "&lt;strong&gt;Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud&lt;/strong&gt;". (QS. Al-Baqarah 125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tempat dan waktu. Tempatnya seperti disinggung di atas adalah di masjid, adapun waktunya adalah sepuluh terakhir bulan ramadhan, meski demikian boleh juga dari awal sampai akhir ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Etika itikaf. Itikaf mempunyai etika, disunahkan bagi orang yang beritikaf memegang etika ini agar amalannya diterima. Tatkala orang tersebut menjaga etika maka pahala akan diperoleh dari Allah SWT. Disunahkan juga kepada orang yang beritikaf menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran, berdoa dan berdikir kepada Allah, menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak berguna dan ketaatan-ketaatan lainnya. Hal yang penting lagi adalah jangan dijadikan ajang ngerumpi yang membuang-buang waktu. Begitu juga ada orang yang meninggalkan pekerjaannya demi melaksanakan itikaf, dalam hal ini boleh apabila telah mendapatkan izin dari istri misalnya. Hanya saja menjadi kurang bijak apabila meninggalkan tanggung jawabnya, misalnya dengan meninggalkan pekerjaan. Karena menafkahi istri wajib dan itikaf hukumnya sunah, maka dahulukan menafkahi istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Larangan itikaf. Pertama, itikaf gugur apabila keluar dari masjid kecuali untuk buang air kecil, bersuci, makan dan kebutuhan lainnya. Kedua, mencampuri wanita, firman Allah SWT : "...... &lt;strong&gt;janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid&lt;/strong&gt;....." (Al-Baqarah 187). Ketiga, apabila perempuan yang beritikaf haid atau nifas maka wajib baginya keluar dari masjid untuk menjaga kebersihan masjid. Keempat, wanita yang sedang beritikaf yang ditinggal suami meninggal dunia maka menunaikan ibadahnya adalah di luar mesjid. Keenam, orang murtad tidak sah itikafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam itikaf. Pertama, sosialisasi definisi ibadah secara universal. Itikaf mengoriginalkan kepada yang melakukannya definisi ibadah akan hak Allah Azza wa Jalla, dimana manusia diciptakan tiada lain untuk beribadah, firmanNya: "&lt;strong&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mangabdi kepada-Ku&lt;/strong&gt;. (QS: Adz-Dzaariyat 56), dimana manusia telah menghibahkan diri dan waktu semuanya untuk ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mendapatkan lailatul qodar, yaitu salah satu tujuan dari itikafnya Rasulallah SAW dimana beliau memulai itikafnya di awal ramadhan kemudian memasuki pertengahan guna mendapatkannya. Tatkala beliau mengetahui bahwasannya lailatul qodar di sepuluh terakhir ramadhan, maka beliau hanya beritikaf di sepuluh terakhir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membiasakan tinggal di masjid. Orang yang beritikaf diharuskan tinggal di masjid dengan waktu yang ditentukan. Terkadang orang yang beritikaf secara kemanusiaan merasa tidak betah di permualaan itikaf, akan tetapi rasa tidak betah ini dengan cepat akan jungkir balik secara pembelajaran dimana jiwa seorang muslim akan merasakan nyaman dan tumaninah berdiam di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, lebih jauh pentingnya tinggal/itikaf di masjid berimplikasi pada: &lt;strong&gt;a&lt;/strong&gt;-Orang yang mencintai tinggal di masjid dan mengetahui kapasitas rumah Allah, dimana ini mempunyai nilai di sisiNya; yaitu golongan yang dilindungi Allah di hari yang tidak ada lindungan kecuali lindunganNya. &lt;strong&gt;b&lt;/strong&gt;-Orang yang tinggal di masjid sambil menunggu shalat, menunggunya sama dengan pahala mengerjakan shalat dan malaikat meminta ampunan kepada Allah untuknya. Nabi SAW bersabda: "&lt;em&gt;Sesungguhnya malaikat mendoakan kalian selama di masjid dan dalam keadaan suci; Ya Allah ampunilah dan kasihanilah&lt;/em&gt;......(HR. Bukhari). &lt;strong&gt;c&lt;/strong&gt;-Jauh dari kehidupan mewah dan zuhud dalam urusan dunia. &lt;strong&gt;d&lt;/strong&gt;-Mengenyahkan kebiasaan-kebiasaan yang non produktip. &lt;strong&gt;e&lt;/strong&gt;-Pembelajaran sabar yang terus-menerus, sabar dari mengekang diri, makanan, istri, kasur empuk dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuan itikaf&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya antara lain untuk mendapatkan lailatul qadar, bersama dengan Allah Azza wa Jalla dan sebisa mungkin sedikit hubungan dengan banyak manusia sehingga hatinya jinak dengan Allah SWT, memperbaiki hati, memaksimalkan untuk ibadah: membaca Al-Quran, shalat, berdoa dan berdikir, menjaga kualitas puasanya dari hawa nafsu, meminimalisir dalam keduniaan dan mampu berinteraksi dengan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Universitas ruhani tertinggi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dunia pesantren dikenal nama tirakat, yaitu menjalani kehidupan dengan sesederhana mungkin. Kata tirakat bahasa tempatan yang pada mulanya adalah tarekat. Itikaf yang sesuai dengan aturan akan menghasilkan pribadi-pribadi tanggguh dan unggul. Kita ambil contoh kecerdasan emosional/akhlak ini menempati point paling tinggi daripada cara berpikir dan adat bawaan seseorang. Seperti baru-baru ini pemilihan hakim agung dari 49 orang calon yang terjaring hanya beberapa orang, yang lainnya tidak masuk kategori karena cacat akhlak. Jadi disini terlihat sekali biasnya nilai akhlak sangatlah penting bahkan mempunyai skor 35 point, lainnya 20-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Madhab falsafah&lt;/em&gt; juga menyinggung masalah ruhani ini, dimana hakekat tertinggi manusia ditentukan oleh akhlaknya, artinya sehebat apapun orang itu bila ahklaknya minus tidak mustahil akan lebih hina daripada hewan. Memang tidak mudah untuk mencapai maqom itu (universitas ruhani tertinggi) dan memang tidak sembarang orang bisa melakukan itikaf dengan baik dan benar. Mudah di teori, butuh perjuangan dan kesabaran dalam tataran praktek. Tapi bukan tidak mungkin apabila kita sering riyadhah latihan sedikit demi sedikit akan mencapai maqomnya. Riyadhah yang intensif juga tidak ada artinya kalau makanan yang kita makan dari barang haram. Alangkah dahsyatnya apabila zat halal menyatu dan bertemu dengan zat/nilai-nilai yang maha luhur dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan itikaf yang baik dan benar seperti diterangkan di atas, seorang mutakif akan mendapatkan hikmah dan keutaman tentunya. Semoga kita meraih menejmen qalbunya ala Rasul, amien. &lt;em&gt;Wallahu Alamu Bishawab&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116076809739733158?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116076809739733158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116076809739733158' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116076809739733158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116076809739733158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/10/keutamaan-dan-hikmah-ibadah-itikaf_13.html' title='Keutamaan dan hikmah ibadah I’tikaf'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-116025516379783983</id><published>2006-10-07T21:01:00.001Z</published><updated>2011-03-25T08:08:41.252Z</updated><title type='text'>Nuzul Al-Quran (Turunnya Al-Quran)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh : Rachmat Morado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;1- Pe&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;mbagian turun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;nya Al-Quran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Turunnya seluruh Al-Quran dalam&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt; satu waktu&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(daf’ah wahidah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;Maks&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6yyvoTAo_Rs/TYxNWRGIMAI/AAAAAAAAABo/JgQUmCdl54E/s1600/al-quran-turun2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 210px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6yyvoTAo_Rs/TYxNWRGIMAI/AAAAAAAAABo/JgQUmCdl54E/s320/al-quran-turun2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587926282601508866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;udnya adalah turunn&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;ya seluruh Al-Quran dari &lt;i&gt;lauh mahfuzh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;(papan taqdir)&lt;span dir="rtl"&gt; &lt;/span&gt;dalam satu waktu ke langit dunia. Turunnya Al-Quran dengan cara ini turun pada 10 akhir bulan Ramadhan yang kita kenal dengan &lt;i&gt;Lailatul Qadar&lt;/i&gt; (malam penghargaan/ kemuliaan). Allah berfirman: “&lt;b&gt;Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu kesejahteraan sampai terbitnya fajar&lt;/b&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;Qadhi Iyyadh mengatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam &lt;i&gt;Syarah Muslim&lt;/i&gt; bahwa &lt;i&gt;lailatul qadar&lt;/i&gt; terjadi setiap tahun dari turunnya ayat ini pada zaman Rasulullah di hari 10 akhir bulan ramadhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai hari kiamat nanti. Dalilnya sabda Rasulullah SAW: “&lt;i&gt;Carilah lailatul qadar pada hari 10 akhir bulan ramadhan&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;b. Turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur &lt;i&gt;(munajjaman). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Maksudnya adalah turunnya Al-Quran ayat per-ayat atau surat per-surat dalam waktu 23 tahun: yaitu masa diutusnya Rasulullah, Al-Quran turun secara berangsur-angsur dari langit dunia kepada Rasulullah SAW. Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan bahwa awal surat turun kepada nabi Muhammad SAW adalah surat &lt;i&gt;Al-‘Alaq&lt;/i&gt;, ayat satu sampai lima yang artinya: “&lt;b&gt;Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang maha Pemurah. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Yang mengajar dengan perantaraan qalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Surat&lt;i&gt; Al-‘Alaq&lt;/i&gt; ini turun pada hari senin malam 17 ramadhan. Berarti kita sekarang memperingati awal turunnya Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;2- Keutamaan Al-Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Al-Quran sebagai Kitab Suci bagi orang Islam mempunyai banyak keutamaan. Diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;a. Al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Itu berarti perkataan yang paling benar dan tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Allah berfirman: ”&lt;b&gt;Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari perkataan Allah? &lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt; QS;An-Nisa 87,122)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;b. Petunjuk dan kasih sayang (rahmat) bagi orang yang bertakwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Allah berfirman: ”&lt;b&gt;Sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa&lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt; QS: Al-Baqarah 2)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. Dalam ayat lain “&lt;b&gt;Sebagai petunjuk dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman&lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt; QS : Yunus 57)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. Kasih sayang dalam arti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak mau menyia-nyiakan hambanya dan jatuh dalam kesesatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;c. Obat dan penenang hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Allah berfirman: ”&lt;b&gt;Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang mengobati dan kasih sayang bagi orang yang beriman&lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt; QS: Al-Isra 82)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Dalam ayat lain Allah befirman: ”&lt;b&gt;Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu &lt;i&gt;mauizha &lt;/i&gt;(nasihat) dari Tuhanmu dan Penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman&lt;/b&gt;”( QS : Yunus 57).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;d. Al-Quran mencakup segala sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Allah berfirman: ”&lt;b&gt;Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab ini (Al-Quran), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan&lt;/b&gt;”( QS: Al-An’am&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;38). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Maksudnya Al-Quran mencakup hukum (halal dan haram), kisah, berita gaib, nasihat-nasihat, perumpamaan-perumpaan, bahkan mencakup kaidah-kaidah ilmiyah yang tetap (pasti). &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;Seperti teori yang mengatakan bahwa manusia semakin berada jauh di langit semakin kekurangan oksigen. Allah berfirman “&lt;b&gt;Baran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;g siapa yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehendaki untuk diberi petunjuk maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan tenangkan hatinya dan barang siapa yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehendaki untuk disesatkan maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan jadikan hatinya sempit seperti dia ketika naik ke langit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;QS:Al-An’am 125. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Allah juga berfirman: ”&lt;b&gt;Dan Kami turunkan kepadamu Muhammad&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kitab (Al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu&lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt; QS: An-Nahl 89)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Ini adalah sebagian keutamaan Al-Quran. Banyak lagi keutamaan-keutamaan lain yang belum teruraikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;3- Sikap Muslim terhadap Al-Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;a- Membaca Al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Rasulullah SAW bersabda: ”&lt;i&gt;Bacalah Al-Quran maka sesungguhnya Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat untuk ahlinya (pembacanya) di hari kiamat. Beliau juga bersabda&lt;/i&gt;: “ Akan dikatakan kepada Ahli Al-Quran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di hari kiamat: Bacalah Al-Quran dan naiklah tingkatan-tingkatan (tangga-tangga) surga serta bacalah dengan &lt;i&gt;tartil&lt;/i&gt; (membaca dengan cepat dan memperhatikan hukum bacaan Al-Quran) sebagaimana kamu membacanya di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu berada di akhir ayat yang kamu baca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;b- Menghafal Al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;Wajib bagi orang Muslim untuk menghafal Al-Quran baik seluruhnya atau sebagiannya. Rasulullah SAW bersabda: “&lt;i&gt;Sesungguhnya orang yang tidak ada didalam hatinya sedikitpun dari Al-Quran seperti rumah yang roboh&lt;/i&gt;”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;c- Tadabbur Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;Artinya merenungi kandungan Al-Quran ayat per-ayat dengan tujuan memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;protect&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diri dari segala apa yang dilarang . &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Allah Berfirman: “&lt;b&gt;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, atau hati mereka telah terkunci&lt;/b&gt; ”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt; QS:Muhammad 24)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Allah berfirman dalam ayat lain: ”&lt;b&gt;Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran?, Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya&lt;/b&gt;”(&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:10pt;"&gt; QS:An-Nisaa 82)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;d- &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;Mengamalkan Al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"&gt;Setelah membaca, menghafal dan &lt;i&gt;mentadabbu&lt;/i&gt;r Al-Quran langkah terakhir yang harus ditempuh adalah mengamalkan Al-Quran. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Dengan mengamalkan Al-Quran berarti mengamalkan ajaran islam itu sendiri. Aisyah berkata: ”&lt;i&gt;Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran&lt;/i&gt;”. Al-Quran yang kita pelajari dan baca tidak akan lengkap kecuali mengamalkannya karena Al-Quran di hari kiamat bisa menjadi penolong atau penghujat kita, dalam artian Al-Quran yang kita baca, kita fahami dan tidak kita amalkan akan menjeremuskan kita ke neraka. Rasulullah bersabda: “&lt;i&gt;Dan Al-Quran akan jadi penolong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kamu atau penghujat kamu&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:10pt;"&gt;Empat sikap ini harus dimiliki oleh orang Islam agar Al-Quran selalu menjadi panutan dan tuntunannya. Memperingati nuzul Al-Quran berarti memperingati diri kita terhadap Al-Quran. Sejauh mana kita telah membaca Al-Quran, sejauh mana kita telah menghafal Al-Quran, sejauh mana kita mentadabburi Al-Quran, sejauh mana kita mengamalkan Al-Quran. Memperingati nuzul Al-Quran berarti men-introspeksi diri, apakah perbuatan kita sesuai dengan apa yang diperintahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam Al-Quran. Marilah tingkatkan iman dan sikap kita terhadap Al-Quran semoga juga kita menjadi orang yang diridhai. &lt;i&gt;Wallahu’alam bisshawab&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-116025516379783983?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/116025516379783983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=116025516379783983' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116025516379783983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/116025516379783983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/10/nuzul-al-quran-turunnya-al-quran.html' title='Nuzul Al-Quran (Turunnya Al-Quran)'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6yyvoTAo_Rs/TYxNWRGIMAI/AAAAAAAAABo/JgQUmCdl54E/s72-c/al-quran-turun2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115957315083560190</id><published>2006-09-29T23:32:00.000Z</published><updated>2006-09-30T00:42:28.950Z</updated><title type='text'>Hikmah Puasa Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Med Hatta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagian hikmah puasa bisa dilihat dalam firman Allah yang artinya: "&lt;strong&gt;Agar kalian bertakwa&lt;/strong&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa adalah buah yang diharapkan dan dihasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan perisai baginya agar tidak terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata tentang pengaruh takwa bagi kehidupan seorang muslim; “&lt;em&gt;Dengan bertakwa, para kekasih Allah akan terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Allah sehingga senantiasa terjaga dari perbuatan dosa, pada malam hari mengisi waktu dengan kegiatan beribadah, lebih suka menahan kesusahan daripada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan&lt;/em&gt;". Takwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya ketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: "&lt;strong&gt;Wahai orang-orang yang beriman&lt;/strong&gt;" dan diakhiri dengan: "&lt;strong&gt;Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa&lt;/strong&gt;". Jadi jelaslah bagi kita bahwa puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama bulan Ramadhan: melatih diri dari menahan hawa nafsu, makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan umat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya. Rasullah SAW bersabda:"&lt;em&gt;Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong kosong dan kata-kata kot&lt;/em&gt;or." (HR. Ibnu Khuzaimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan saja dapat membersihkan ruhani manusia, tapi juga akan membersihkan jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak pernah istirahat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat mengistirahatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan ruhani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak, maka hasilnya tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman "&lt;strong&gt;Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan&lt;/strong&gt;." (QS. Al-A'raf:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW juga bersabda "&lt;em&gt;Kita ini adalah kaum yang makan apabila merasakan lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang)&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi sesuai keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudarat kepada kesehatan kita. Bisa menyebabkan badan menjadi gemuk, efek lainnya adalah mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Dengan demikian maka puasa bisa dijadikan sebagai media diet yang paling ampuh dan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa tidak diwajibkan sepanjang tahun, juga tidak dalam waktu yang sebentar melainkan pada hari-hari yang terbatas, yaitu hari-hari bulan Ramadan, dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Karena, jika puasa diwajibkan secara terus menerus sepanjang tahun atau sehari semalam tanpa henti, tentu akan memberatkan. Begitu juga jika hanya untuk waktu separuh hari, tentu tak akan memiliki pengaruh apa-apa, akan tetapi puasa diwajibkan untuk waktu sepanjang hari mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dan dalam hari-hari yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keringanan dalam masalah waktu, Allah juga membuktikan kasih sayang-Nya kepada hamba dengan memberikan keringanan-keringanan yang lain, di antaranya kepada: orang sakit (yang membahayakan dirinya jika berpuasa) dan orang yang menempuh perjalanan jauh (yang memberatkan dirinya jika melaksanakan puasa) diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya pada hari yang lain, sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kalam-Nya Allah telah menegaskan kepada manusia, keutamaan puasa di bulan suci Ramadhan sebagai bulan keberkahan, dimana Allah memberikan nikmat sekaligus mukjizat yang begitu agung kepada hamba-Nya berupa turunnya Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al-Qur'an juga menjelaskan betapa Tuhan begitu dekat dengan hambanya, Ia selalu menjawab do'a mereka di mana dan kapan pun mereka berada, tidak ada pemisah antara keduanya. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim, untuk selalu berdo'a, memohon ampunan kepada Tuhannya, beribadah dengan tulus-ikhlas, beriman, dan tidak menyekutukan-Nya, dengan harapan Allah akan mengabulkan semua do'a dan permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang pedalaman bertanya kepada Nabi SAW : "&lt;em&gt;Wahai Muhammad! Apakah Tuhan kita dekat, sehingga kami bermunajat (mengadu dan berdoa dalam kelirihan) kepada-Nya, ataukah Ia jauh sehingga kami menyeru (mengadu dan berdoa dengan suara lantang) kepada-Nya?"&lt;/em&gt; Maka turunlah ayat: "&lt;strong&gt;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat&lt;/strong&gt;. (QS. Al-Baqarah/2: 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah memberikan beberapa pengecualian bagi umat Muhammad dalam menjalankan ibadah puasa, seperti dibolehkannya seorang suami untuk memberikan nafkah batin kepada isterinya pada malam bulan Ramadhan, kecuali pada waktu I'tikaf di masjid, karena waktu tersebut adalah waktu di mana manusia seharusnya mendekatkan diri kepada Allah tanpa disibukkan dengan perkara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hikmah puasa yang dapat dicatat juga adalah sebagai wijaa, perisai atau pelindung:&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menyuruh orang yang kuat "syahwatnya" dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa (memutuskan syahwat jiwa) bagi syahwat ini, karena puasa eksistensi dan subtansialnya adalah menahan dan menenangkan dorongan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol serta seluruh kekuatan (dorongan dari dalam) sampai bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang nyata/dhahir dan kekuatan bathin. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda "&lt;em&gt;Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba'ah (mampu menikah dengan berbagai persiapannya) hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya&lt;/em&gt;". (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi (seperti menahan syahwat dsb), dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian, sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang berpuasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rasulullah SAW "&lt;em&gt;Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim&lt;/em&gt;". (HR. Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry. Ada redaksi lain yaitu telah bersabda Rasulullah SAW : "&lt;em&gt;tujuh puluh musim&lt;/em&gt;", yakni : perjalanan tujuh puluh tahun, demikian dijelaskan dalam kitab Fathul Bari 6/48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda "&lt;em&gt;Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka&lt;/em&gt;" (HR. Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dari Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda "&lt;em&gt;Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir/redaksi hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan ridha Allah SWT, ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;itulah beberapa hikmah yang bisa dipetik selama ramadhan, semoga bermanfa'at. &lt;em&gt;wallahu'alambisshawab.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115957315083560190?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115957315083560190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115957315083560190' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115957315083560190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115957315083560190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/hikmah-puasa-ramadhan.html' title='Hikmah Puasa Ramadhan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115894654803078859</id><published>2006-09-22T17:33:00.000Z</published><updated>2006-09-22T17:37:57.823Z</updated><title type='text'>Sebulan Penuh Mencari Jati Diri</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Syariful Hidayat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengarungi kehidupan maya ini, kita sebagai makhluk yang paling sempurna dari yang lainnya, memerlukan suatu masa untuk menyegarkan sekaligus merenungkan untuk memulai dan menata kembali alur dan arah kehidupan kita yang sebenarnya. Hanya saja, keidealismean masing-masing manusia dapat menyatukan dan pada saat yang sama dapat pula menceraiberaikan jalur menuju arah yang sebenarnya sama. Karena, cara dan mekanisme manusia dalam mencari jati dirinya cenderung diluar rel kebenaran, baik disebabkan karena hadirnya masa penyegaran yang terlalu lama, atau karena terlupa atas khitah perjalanannya, Tak pelak, segala macam perkumpulan dan persatuan yang ditata rapi merupakan bukti nyata betapa keidealismean manusia itu terarah pada satu jalur yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam waktu yang relative singkat dan masih dalam hitungan jari, masa penyegaran dan perenungan sekaligus penyucian jati diri akan segera kita hadapi, akan kita lakoni dan bahkan akan segera kita nikmati, yaitu masa di mana pintu surga dibuka dan masa ditutupnya pintu neraka, serta masa yang tidak diberikan kepada setiap insan, tak lain ia adalah Ramadan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ramadan adalah momen berharga bagi setiap insan, bukan hanya untuk membersihkan harta lewat zakat fitrah (Q.S. Alan'am: 141), namun juga penggemblengan jiwa melalui puasa sebulan penuh untuk selanjutnya dijadikan sebagai penataan karakter jati diri manusia. Sebab betapa sifat-sifat tidak terpuji seperti emosi, mengumbar kejelekan orang, mencaci maki bawahan dan sifat kurang hormat pada orang lain terbina secara otomatis oleh keadaan perut lapar, lemah badan dan mulut kering dari makanan serta lingkungan yang bermerk RAMADAN. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aroma Ramadan senantiasa akan kita hirup di waktu siang dan malam yang menandakan kerahmatan dan keberkahan tidak hanya bagi orang beriman, namun juga bagi mereka yang berada di lingkungan di mana syariat islam dijalankan. Di waktu siang tanpa kita pungkiri, ketika emosi dan amarah sedang membelenggu, lingkungan akan bilang, "Pak … Ramadan… Ramadan, tidak boleh marah". Sementara di waktu malam, komitmen untuk menepati waktu terus teraplikasikan, karena tanpa menepatinya, shubuh tiba, perut kosong tanpa dukungan (makanan). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah lika liku kehidupan dalam rangka mendidik jiwa, raga dan harta. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa pendidikan itu, raga dan harta tidak bisa menjadi andalan, karena sebesar apapun tubuh manusia, tidaklah mudah mempertahankan perut yang hidup tanpa dukungan, bahkan sekaya apapun, harta tidaklah mudah untuk membangunkanmu di malam yang bisu itu. Maka kehadiran jiwa atau jati diri menduduki pada posisi utama guna menjadikan hati, raga dan harga berada pada rotasi kesinambungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam menciptakan masa pendidikan berkesinambungan, hal utama yang perlu dicari adalah jati diri. Jati diri adalah kunci utama, sedang yang lainnya bias mengikutinya, tetapi, apakah jati diri itu dan bagaimana cara menemu-kenali jati diri? Itulah yang hendak disampaikan oleh Vatsyayana, penyusun buku Kamasutra. Melalui refleksi yang dilakukan atas momen-momen dalam kehidupannya yang diperkuat oleh berbagai pemahaman tentang pentingnya karakter dan jati diri dari berbagai bacaan, ia tiba pada suatu kesimpulan bahwa proses pembentukan dan pengembangan karakter pada hakikatnya adalah suatu kebutuhan bagi setiap pribadi manusia yang menyadari eksistensi kehidupannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ada empat upaya untuk menemukan jati diri, pertama, adalah kama (keinginan), keinginan kuat, tunggal untuk menemukan jati diri. Sebagai manusia, kadang segala keinginan kita terdorong oleh hawa nafsu, nafsu untuk menguasai manusia lain, nafsu untuk mengumpulkan dan memiliki berbagai kekayaan dan nafsu untuk mencari serta memperistri wanita idaman. Nah solusi yang ditawarkannya adalah kita harus mengklarifikasi segala keinginan kita, menulisnya dalam satu buku keinginan, dan selanjutnya menyandingkannya pada ajaran agama, untuk dideteksi kehalalan dan keharamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, artha (makna atau arti), temukan makna dan arti hidup dengan cara pertama, yaitu mengklarifikasi segala keinginan dalam satu buku keinginan, selanjutnya mencari makna dan arti sebuah kehidupan. Jika harta adalah hasilnya, maka carilah harta dengan hasil klarifikasi point pertama, yaitu harta yang didapat sesuai dengan ajaran agama. Dan jika wanita juga menjadi arti kehidupan bagi anda, maka carilah wanita dengan hasil spesifikasi point pertama, yaitu wanita yang direstui oleh agama. Sebab sesugguhnya, harta yang didapat dengan cara biadab, tidaklah ada rasa kepuasan untuk menikmatinya, dan sesungguhnya wanita yang memberi makna pada hidup kita ialah wanita yang yang direstui oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah dharma (kebajikan). Dalam bahasa sufi di sebut syariat, pedoman perilaku. Pedoman perilaku inilah yang selanjutnya membersihkan jiwa manusia dari kekotoran budi pekerti, itulah dharma, jangan berbuat baik hanya karena kita dijanjikan sebuah kapling disurga, itu bukan kebajikan, tapi perdangangan belaka, jual beli berbuat baik tiak pelu di paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat adalah moksha, kebebasan mutlak, kebebasan mutlak berarti "kebebasan dari" sekaligus "kebebasan untuk". Kita bebas dari segala ancaman atau gangguan, sebagaimana kita bebas untuk berekspresi dan berkreasi. Artinya, manusia sebagai kholifah tuhan di muka bumi ini, diberi kepercayaan untuk sebaik mungkin menata dan melindungi bumi ini dari segala kerusakan untuk dijadikan bumi yang bersahabat, bukan bumi yang keramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kama, artha, dharma dan moksha harus bertemu dan titik temu keempat upaya itulah tujuah hidup, itulah jati diri kita, titik temu itu adalah antara pasangan yang berseberangan, jangan mempertemukan kama dengan artha, karena kedua titik itu masih segaris, pertemuan antara kama dan artha itulah yang selama ini terjadi, kita hanya berkeinginan untuk mengumpulkan uang, mencari keuntungan dan menambah kepemilikaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kama harus bertemu dengan moksha, itulah titik di seberangnya, berkeinginan utk meraih kebebasan mutlak. Kemudian, artha harus bertemu dengan dharma, carilah harta sehingga anda dapat berbuat baik dan pat berbagi dengan mereka yang kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, pemantapan dan pencarian jati diri di bulan suci ini adalah modal pembentukan dan pengembangan karakter yang pada hakikatnya adalah suatu kebutuhan bagi setiap pribadi manusia yang menyadari eksistensi kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kinilah saatnya, satu-satunya kesempatan bagi kita untuk dapat menjadikan bulan Ramadan ini penuh dengan pencarian jati diri, Selamat berramadan ria.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115894654803078859?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115894654803078859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115894654803078859' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115894654803078859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115894654803078859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/sebulan-penuh-mencari-jati-diri.html' title='Sebulan Penuh Mencari Jati Diri'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115894638124281982</id><published>2006-09-22T17:31:00.000Z</published><updated>2006-09-22T17:33:02.460Z</updated><title type='text'>Bacaan Setelah Tasyahud Akhir</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;اللهم أعني على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allahumma a’innii ‘alaa azikrika, wasyukrika, wahusni ‘ibaadatika.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur KepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud 2/86 dan an Nasa’I 3/53)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115894638124281982?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115894638124281982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115894638124281982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115894638124281982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115894638124281982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/bacaan-setelah-tasyahud-akhir.html' title='Bacaan Setelah Tasyahud Akhir'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115840836010788418</id><published>2006-09-16T12:12:00.000Z</published><updated>2006-09-16T13:33:25.493Z</updated><title type='text'>Menyambut Bulan Suci</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Mukhlas aL Bastami&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ubadah Bin Somit RA. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda pada suatu hari ketika Ramadhan hampir menjelang: &lt;em&gt;"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, di mana Allah melimpah ruahkan di dalamnya dengan keberkatan, menurunkan rahmat, mengampuni dosa-dosa kamu, memakbulkan doa-doa kamu, melihat di atas perlumbaan kamu untuk memperolehi kebaikan yang besar dan berbangga mengenaimu di hadapan malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah Ta’ala kebaikan dari kamu. Sesungguhnya orang yang bernasib malang ialah dia yang dinafikan daripada rahmat Allah pada bulan ini." &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan hadir kembali dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan hanya berumur 29 atau 30 hari itu sangatlah rugi jika kita membiarkanya berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang berarti dalam peningkatan kualitas keimanan dan amal kebaikan untuk bekal kita kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan penyemangat, bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai ”Shahrul Ibadah” (bulan ibadah) harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai “Shahrul Fat”' (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ramadhan sebagai "Shahrus-Salam" (bulan keselamatan) harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai “Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. bahawa Rasulullah SAW bersabda: &lt;em&gt;"Umatku telah dikurniakan dengan lima perkara yang istimewa yang belum pernah diberikan kepada sesiapa pun sebelum mereka. Bau mulut daripada seorang Islam yang berpuasa adalah terlebih harum di sisi Allah daripada bau haruman kasturi. Ikan-ikan di lautan memohon istighfar (keampunan) ke atas mereka sehinggalah mereka berbuka puasa".&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam menyambut bulan suci Ramadhan hal yang juga penting adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, bukan hanya terus memikirkan menu untuk berbuka puasa dan sahur saja, namun kita sangat perlu menyusun menu rohani dan strategi ibadah kita, karena kalau kita renungkan, menu buka dan sahur justru sering lebih istemawa dibanding dengan makanan keseharian kita, tentunya kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci ini dengan kualitas yang lebih baik daripada hari-hari biasa, dengan begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini dengan lebih membahagiakan rohani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bulan Ramadhan ini nantinya akan menjadi penentu dan control kita dalam menempuh sisa bulan-bulan yang akan kita jalani hingga datang lagi bulan ramadhan yang akan datang, berikut beberapa langkah dalam menghadapi bulan suci ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bertaubat nasuha. Allah SWT. berfirman &lt;strong&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.”&lt;/strong&gt; ( QS. at-Tahrim: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak adam memang tidak luput dari dosa, baik itu dosa besar atau dosa kecil, akan tetapi dosa itu akan dihapus dengan toubat nasuha, makna tobat nasuha menurut Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya "adalah tobat yang sebenarnya dan sepenuh hati, yaitu tobat yang akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya dan mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertobat”. Dan kesungguhan untuk menjalankan puasa di bulan Ramadhan memang harus didasarkan oleh hati yang bersih dan perbuatan yang bersih. Kalu kita masih suka lalai menjalankan ibadah, maka segeralah untuk bertobat dan menjalankan ibadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bersungguh-sungguhlah dalam bertaubat dan kembali kepada Allah. Dalam artian kita dapat melaksanakan kembali semua perintah suci yang telah diperintahkan oleh Allah dan rosulnya serta tidak kembali pada lembah kemaksiatan atau meninggalkan segala kewajiban yang telah diwajibkan kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dengan meyakinkan diri kita bahwa kemuliaan, derajat tinggi dan kejayaan yang haqiqi tidak akan tercapai kecuali dengan iman dan hanya bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah &lt;strong&gt;“Janganlah kamu merasa hina diri dan bersedih hati, kamu semua adalah orang-orang yang berpangkat tinggi jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jiwa dan raga yang istiqamah, lurus dan konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, anjuran untuk memperbanyak dzikir. Rasulullah s.a.w. bersabda, &lt;em&gt;“Tidakkah aku memberitahukan pada kalian tentang amal yang paling mulia disisi Tuhan kalian (Allah), derajatnya tertinggi di antara amal kalian. Amal tersebut lebih mulia dibanding menginfakkan emas dan perak, lebih mulia dari pertempuran dengan musuh kalian, hingga kalian meninggal secara syahid?”.&lt;/em&gt; Para sahabat menjawab: &lt;em&gt;“Dengan senang hati, ya Rasulallhoh”&lt;/em&gt;. Maka Rasulullah s.a.w. berkata: &lt;em&gt;“Amal tersebut adalah dzikir kepada Allah Yang Mulia”. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tiada dosa yang tak berampun, tiada salah yang tidak ditimbang dan tiada pahala yang tidak terhitung, dengan kita sungguh-sungguh, suci, ikhlas dan tawakal dalam menunaikan segala ibadah. Insyaallah kita akan tergolong orang yang beruntung amien. Marhaban ya Ramadhan. Mari kita saling membuka pintu maaf diantara kita…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nomor 02/Edisi I/Th. II&lt;br /&gt;22 Sya’ban 1427 H./ 15 September 2006 M. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115840836010788418?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115840836010788418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115840836010788418' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840836010788418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840836010788418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/menyambut-bulan-suci.html' title='Menyambut Bulan Suci'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115840850470491484</id><published>2006-09-16T12:03:00.000Z</published><updated>2006-09-16T12:08:33.860Z</updated><title type='text'>Do'a Ketika Melihat Awal Bulan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;الله أكبر، اللهم أهله علينا بلأمن، والإيمان  والسلامة والإسلام، والتوفيق لما تحب وترضى ربنا وربك الله&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allahu Akbar, Allahumma ahillahu ‘alainaa bilamni wal iimaan wassalaamati walislaam wattaufiiq lima tuhibbu watardha robbunaa waraobbuka Allahu.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allah Maha Besar, ya Allah, tampakan bulan tanggal satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(HR. Tirmidzi 5/204 dan ad Darimi 1/336)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115840850470491484?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115840850470491484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115840850470491484' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840850470491484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840850470491484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/doa-ketika-melihat-awal-bulan.html' title='Do&apos;a Ketika Melihat Awal Bulan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115840875672080603</id><published>2006-09-16T12:01:00.000Z</published><updated>2006-09-16T12:16:28.366Z</updated><title type='text'>Do'a Minta Hujan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;اللهم أغثنا، للهم أغثنا، للهم أغثنا&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allahumma Agitsnaa, Allahumma Agitsnaa, Allahumma Agitsnaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berilah kami hujan, Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah hujanilah kami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(HP. Bukhari 1/224 dan Muslim 2/613)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115840875672080603?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115840875672080603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115840875672080603' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840875672080603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115840875672080603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/doa-minta-hujan.html' title='Do&apos;a Minta Hujan'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115774946414693377</id><published>2006-09-08T21:01:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:07:35.086Z</updated><title type='text'>Adil Tidak Selamanya Bijaksana, Benarkah?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Asep Sutisna&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;" Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."&lt;/strong&gt; (Q.S An Nahl. 16 : 90)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:realview(" path="artikel/2004/489/majalah/foto/bahasakita01/bahasakita01-W400.jpg&amp;kata=Ilustrasi:%20Anton%202004','view','100','100');&amp;quot;"&gt;&lt;/a&gt;Alkisah, Raja Salomo dihadapkan pada suatu perkara yang rumit. Seorang bayi sedang diperebutkan dua orang ibu. Mereka masing-masing mengaku sebagai ibu kandung bayi tersebut dan oleh karena itu berhak atasnya. Hakim-hakim seluruh negeri sudah angkat tangan dan kehilangan pegangan dalam memberikan keputusan. Maklum saja, saat itu belum ada teknologi uji DNA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja bersungut-sungut, tapi tetap saja ia berpikir. Sejenak kemudian, tiba-tiba raja menghunus pedangnya dan berseru, "Kalau begitu, mari kita bikin keputusan yang adil! Aku akan membelah bayi ini menjadi dua bagian yang sama, sehingga kalian masing-masing akan memperoleh separuhnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu gadungan bersorak kegirangan, "Hidup Raja Salomo yang adil!" Sedangkan ibu kandung bayi itu langsung memucat wajahnya, lalu buru-buru bersimpuh ke kaki Sang Raja memohon dengan pilu. "Ampun Tuanku Baginda Raja, hamba ikhlaskan putra hamba diserahkan kepada ibu itu seutuhnya. Janganlah Tuanku memainkan pedang ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Salomo terharu, dan tiba-tiba saja tertawa, "Ha ... ha ... ha ..., aku sudah mendapatkan keputusan." Kedua ibu itu terbengong-bengong dan harap-harap cemas. "Aku tetapkan, kaulah wanita mulia, ibu kandung bayi ini!" Raja Salomo menyerahkan sang bayi kepada ibu yang berlutut di hadapannya. Legalah sang ibu kandung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah yang diceritakan oleh Lie Charlie diatas dapat dipahami bahwa sang Raja adalah orang yang bijaksana sehingga dengan kebijaksanaannya bisa menghasilkan suatu keputusan yang adil, jelaslah sudah dengan pendekatan bahasa ternyata makna adil tidak sama dengan makna bijaksana walau tidak bisa dikatakan bertolak belakang, namun alangkah bijaksananya kalau dikatakan bijaksana itu adalah perangkat dan penyempurna dari kata adil itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sederhana kita bisa menemukan contoh, misalnya seorang ayah memiliki uang sepuluh ribu bisa dikatakan adil jika uang tersebut dibagi dua dan masing masing mendapatkan lima ribu, namun lain halnya jika kedua orang anaknya itu berbeda usia, satu 7 tahun dan satunya lagi 19 tahun, tentunya kebutuhan satu sama lainnya berbeda dan dengan bijaksananya sang ayah membagi si kecil mendapat tiga ribu dan ABGnya mendapat tujuh ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh tersebut jelaslah sudah, ketika makna adil itu sama rata dan sama banyak, maka akan sangat berbeda maknanya dengan bijaksana dalam artian bahwa kecenderungan kita dalam memaknainya, dan memang kasus kecil seperti ini sering ditemukan dalam keseharian, di rumah seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu, di kantor seorang kepala staf yang membawahi beberapa stafnya, di sekolah seorang guru yang mengajar banyak murid dan lain lain akan berhadapan dengan tuntutan berbuat adil yang sama rata dan sama banyak walau pada dasarnya itu tidak bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara adil dan bijaksan adalah gambaran dari sikap seorang pemimpin atau pribadi-pribadi yang pada dasarnya seorang pemimpin juga, hadis riwayat &lt;a name="Ibnu_Umar_ra532"&gt;Ibnu Umar RA.:&lt;/a&gt; Dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda: &lt;em&gt;"Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu berbuatlah dan putuskanlah sesuatu itu dengan seadil-adilnya dan pertimbangkanlah itu semua dengan sebijaksana mungkin, insyaallah anda telah bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama dan terhadap Yang Kuasa. Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bijaksana, amien…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebelum saya akhiri (untuk keadilan saja) saya ingin mengatakan bahwa belakangan ini, apa-apa yang digolongkan bijaksana ternyata lebih sering berpretensi negatif. Tidak percaya? Kalau ada orang yang mendatangi Anda dan berkata, "Minta kebijaksanaan dong Pak/Bu, supaya ada uang kebijaksanaan gitu ...." Positifkah niatnya? Belum tentu, karena seorang yang adil nan bijaksana akan menilai perkataan ini dengan adil dan bijak juga dan akan memikirkan subyektif dan objektifnya antara haq dan kewajiban orang tersebut secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan surat an Nahl diatas Allah SWT. memerintahkan kepada kita untuk berlaku adil serta diikuti dengan berbuat kebaikan dan memberi kepada saudara-saudara kita, intinya seorang yang adil itu akan dihiasi oleh perilaku selanjutnya yaitu perbuatan yang baik-baik. seperti bijaksana adalah bagian darinya. &lt;em&gt;wallahu'alam bisshawwab…&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 01/Edisi I/Tahun II&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;15 Sya'ban 1427 H/ 08 September 2006 M. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115774946414693377?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115774946414693377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115774946414693377' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115774946414693377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115774946414693377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/adil-tidak-selamanya-bijaksana.html' title='Adil Tidak Selamanya Bijaksana, Benarkah?'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115774979068285224</id><published>2006-09-08T21:00:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:09:50.960Z</updated><title type='text'>Bacaan Di Waktu Pagi Dan Sore.</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;" Kami telah memasuki waktu sore, kerajaan milik Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Baginya kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Tuhan, aku mohon kepadaMu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari siksaan di neraka dan kubur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Bila Nabi SAW. Menginjak waktu pagi, beliau membaca: " kami telah masuk waktu pagi dan kerajaan hanyalah milik Allah…" (HR. Muslim 4/2088)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMU kami Mati. Dan kepadaMU kebangkitan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu sore:&lt;br /&gt;" Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMU kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadamulah tempat kembali." (HR. Tirmidzi 5/466).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115774979068285224?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115774979068285224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115774979068285224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115774979068285224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115774979068285224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/09/bacaan-di-waktu-pagi-dan-sore.html' title='Bacaan Di Waktu Pagi Dan Sore.'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353488166707282</id><published>2006-06-09T02:18:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:12:35.466Z</updated><title type='text'>Hakikat Musibah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Husnul Amal Mas'ud&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata inna lillah wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”. (QS. al-Baqarah ayat 155-156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sementara orang, seakan tidak merasa berdosa, membuat istilah yang kurang proporsional atau tidak ada kaitannya dengan musibah yang menimpa. Mereka menyatakan bahwa musibah terjadi akibat alam sudah bosan, atau karena Allah telah murka. Bahkan mereka tidak risih memvonis bencana sebagai azab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus bijak dan arif dalam merespon dan menyikapi apapun peristiwa yang terjadi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah apapun yang menimpa umat Rasulullah, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; sebagai ujian keimanan. Allah berfirman dalam al-Quran Surat al-Ankabut ayat 1-2, “Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji?! Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang benar (dengan keimanannya) dan orang-orang yang berdusta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 31, “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benarberjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan kepadanya. Dalam al-Quran, Hadis dan Sirah Nabawiyah (sejarah nabi) banyak kita temukan kisah musibah yang menimpa para nabi. Nabi Nuh misalnya, selama 950 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdakwah hanya mendapatkan sedikit orang yang beriman, sementara kebanyakan umatnya kufur bahkan memperoloknya (QS. Al-Ankabut ayat 14), Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrudz (QS. Al-Anbiya` ayat 57-70), Nabi Ayub yang diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (QS. Shad ayat 41), dan Rasulullah yang diejek dan disakiti orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah ditanya oleh Shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya, beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi”. (HR. al-Hakim dan al-Thabrani).&lt;br /&gt;Dalam hadis lain Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim terkena duri, atau lebih dari itu, kecuali Allah mengangkat baginya satu derajat, dan menghapuskan darinya satu dosa”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, sebagai bukti cinta Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Allah bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabdanya yang lain, “Umatku umat yang dirahmati, di mana tidak ada atas mereka siksaan di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa dan pembunuhan”. (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sebuah Hadis yang dari Ummul Mukminin Aisyah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika dosa seorang hamba sudah sedemikian banyak, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghapusnya, maka Allah mengujinya dengan kesusahan agar dosanya terhapuskan”. (HR. al-Bazzar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, Dia mengujinya dengan bala (musibah). Dan ketika Allah menguji hambanya, Dia memberatkannya”. Saat para sahabat bertanya maksud dari memberatkannya”, Rasulullah bersabda, “Allah tidak meninggalkan baginya keluarga dan harta”. (HR. al-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima,&lt;/strong&gt; sebagai teguran atau peringatan. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian melanggar ketentuan (Agama) kemudian disegerakan siksaannya (sebagai hukuman), kecuali siksa itu menjadi kafarah (penebus dosanya). Dan siapa yang siksanya diakhirkan, maka urusannya dikembalikan kepada Allah; Kalau Allah menghendaki, Dia merahmatinya (mengampuni kesalahannya). Dan kalau Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya” . (HR. Ibn Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah Hadis yang yang lain Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka disegerakan baginya hukuman (di dunia ini) atas dosanya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan hukuman dosanya di dunia, sehingga disiksa-Nya pada hari Kiamat.” (HR. al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keenam&lt;/strong&gt;, sebagai siksa Allah di dunia. Dalam al-Qur`an Allah menjelaskan bahwa ketika kemaksiatan dan kejahatan merajalela, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar, maka siksa Allah (musibah) akan menimpa mereka secara keseluruhan, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. al-Anfal ayat 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabdanya yang lain, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sungguh kamu akan menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, atau kamu akan dikirimkan siksa dari Allah, kemudian kamu berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan” (HR. al-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan hamba-hambanya yang senantiasa bertaqwa dan bersabar menghadapi segala musibah. Amiin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 30/Edisi VIII/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353488166707282?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353488166707282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353488166707282' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353488166707282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353488166707282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/06/hakikat-musibah.html' title='Hakikat Musibah'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353517556326556</id><published>2006-06-09T02:17:00.000Z</published><updated>2006-07-22T02:26:15.703Z</updated><title type='text'>Cintailah Saudaramu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah e dari Rasulullah e, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana diamencintai dirinya sendiri.(Riwayat Bukhori dan Muslim) &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anjuran untuk menyatukan hati.                        &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353517556326556?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353517556326556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353517556326556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353517556326556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353517556326556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/06/cintailah-saudaramu.html' title='Cintailah Saudaramu'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353531385110018</id><published>2006-06-09T02:16:00.000Z</published><updated>2006-07-22T02:28:33.986Z</updated><title type='text'>Do'a</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;menjenguk atas kelahiran bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بارك الله لك فى الموهوب وشكرت لك الواهب&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;“ Baarokallaahu laka fil mauhuubi wa syakartul waahib”&lt;br /&gt;Semoga Allah memberkati apa yang diberikan kepada engkau, dan aku bersyukur kepada dzat Yang Memberinya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353531385110018?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353531385110018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353531385110018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353531385110018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353531385110018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/06/doa_09.html' title='Do&apos;a'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353368591289178</id><published>2006-06-02T01:57:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:15:20.993Z</updated><title type='text'>Belajar Dari Gempa</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Dedy W. Sanusi &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA kita dihadapkan dengan panorama bencana: mayat-mayat berserakan, rumah-rumah runtuh, orang-orang terluka dan para pengungsi ‘kleleran’, apa yang berjumpalitan di benak kita?. Apakah yang kita rasakan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi berulang-ulang di tanah air kita dua tahun belakangan ini: sejak gempa di Nabire, Tsunami di Aceh dan Nias, --kini—gempa di Yogyakarta dan Gunung Merapi yang masih mengeluarkan asap panas. Ketika panorama itu diputar berulang-ulang, apakah yang kita rasakan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan gempa, hempasan Tsunami dan gelegak lahar itu terus-menerus menggempur hati kita, meninggalkan luka yang masih menganga. Apakah kita mesti mengeluh, “mengapa yang terus datang adalah derita demi derita, gelap di atas gelap?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap --yang seperti pakaian-- membalut tubuh bangsa kita. Gelap yang kita sendirilah penyebab pekat dan ketakberanjakannya. Hutan-hutan kita tebangi tanpa keseimbangan; tambang-tambang kita gali habis-habisan; korupsi jadi kebanggaan; moral bangsa hanyut dibawa banjir bandang. Tindak aniaya adalah kegelapan. Demikian pesan al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, gelap adalah juga tempat melatih kebeningan, mempertajam perenungan dan –dengan jujur—mengakui kesalahan-kesalahan. Malam menjelang subuh adalah saat terintim manusia dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANTAS, bagaimana kita mesti belajar dari gempa?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihatnya hanyalah sekedar peristiwa alam, ilmu pengetahuan memberikan jawaban. Akal yang bekerja disini –mengutip Dr. Taha Abdurrahman, filosof Maroko-- disebut akal mulki ; akal yang menghasilkan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal macam ini memberi kita pengetahuan bagaimana gempa bumi terjadi; bagaimana membuat sistem peringatan dini sebelum ia terjadi; bagaimana mengkonstruk bangunan tahan gempa; bagaimana menyiapkan masyarakat untuk tepat bertindak menjelang, ketika dan setelah gempa terjadi; bagaimana menyiapkan capacity building sistem penangananbencana yang kokoh-efekif ; dan seterusnya. Pemerintah dengan segala perangkat dan fasilitas yang dimilikinya paling bertanggung jawab menyediakan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara sekuler dan lembaga-lembaga internasional biasanya melihat bencana dari perspektif ini. Dalam konteks bencana alam, reaksi mereka bisa dirunut: ikut belasungkawa, memberi bantuan kemanusiaan (barang atau uang), memperingatkan negara korban agar membangun early warning system dan membantu negara bersangkutan untuk rekonstruksi pasca bencana. Selepas itu, kondisinya kembali ke status quo: aktivitas mereguk habis-habisan kenikmatan dunia kembali dibuka; struktur dunia yang tidak adil tetap lestari dan dunia kembali berputar dengan segala perangkat dan nilainya yang berlaku de facto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau kita melihat gempa dari perspektif nilai (akal malakuti), persoalannya menjadi lain. Akal macam ini mengantarkan seseorang pada keimanan. Bahwa segala peristiwa di dunia ini adalah ayat (tanda yang mengandung nilai) Allah SWT untuk mengajar manusia yang mau menggunakan kecerdasan otak dan hatinya (ulul albab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa –dalam perspektif ini—bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan alam terhadap keserakahan dan kezaliman manusia; sebagai warning system proteksi Allah SWT terhadap manusia --bahwa dengan kekuasaan-Nya manusia bisa diserang kehancuran kapan saja, oleh banjir, angin topan, gunung meletus dan lain-lain--; sebagai media untuk menguji kesabaran dan kekokohan mental sebuah komunitas untuk meraih masa depan yang lebih baik. Semakin dalam perenungan dengan akal malakuti, semakin banyak makna dan kearifan yang bisa digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang beriman melihat musibah sebagai ujian. Ia akan keluar menjadi sosok yang lebih kuat setelah musibah berlalu. Kalau ia harus kembali menghadap Penciptanya sekalipun, semboyannya adalah innalillah wa inna ilahi raji’un, segalanya berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Musibah yang menjadi ujian itu memberikan kesempatan kepada orang beriman untuk introspeksi; jangan-jangan ada yang salah dengan dirinya. Bisa jadi ia kurang bersyukur, kurang serius mengabdi kepada Allah, banyak melabrak larangan-larangan-Nya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenungan macam ini mau tidak mau akan mengantarkan sang empunya untuk kembali kepada-Nya, bertaubat, meneguhkan keimanan dan beramal saleh. Ini adalah perlajaran paling berharga yang bisa dipetik orang beriman dari bencana yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP mental dan perilakunya pasca bencana pasti lebih baik dari sebelumnya. Karena bisa jadi gempa adalah medium revolusi spiritual baginya untuk menapaki tangga demi tangga menuju puncak nilai keluhuran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kita, bangsa Indonesia, belajar serius dengan mata nurani dari rentetan bencana yang menghantam negeri kita tahun-tahun belakangan ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah setelah subuh, gelap pasti berlalu digantikan cahaya mentari; membuka hari baru yang cerah dan menjanjikan?. Bisakah kita merengkuhnya?. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 30/Edisi VIII/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353368591289178?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353368591289178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353368591289178' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353368591289178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353368591289178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/06/belajar-dari-gempa.html' title='Belajar Dari Gempa'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353393248012640</id><published>2006-06-02T01:56:00.000Z</published><updated>2006-07-22T02:05:33.846Z</updated><title type='text'>Do'a</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Adab ketika terkena bala’ atau bencana&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;بسم الله الرحمن الرحيم  ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bismiiaah rahmaanir rahiim, walaahaula wala quwwata ilaa billaahil ‘aliyyil ‘adhim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;انا لله وانا إليه راجعون اللهم أجرني في مصيبتى واخلف لي خيرا منها&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raajiun allaahuma jurnii fii mushiibatii akhliflii khairan minhaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan kembali padanya. Ya Allah berilah pahala padaku dalam musibahku dan berilah ganti untukku yang lebih baik dari padanya. (H.R Muslim)&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353393248012640?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353393248012640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353393248012640' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353393248012640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353393248012640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/06/doa.html' title='Do&apos;a'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353337770272703</id><published>2006-05-19T01:33:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:22:01.560Z</updated><title type='text'>Pendidikan Manusia Yang Seutuhnya</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Irwansyah Asa&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ي&lt;strong&gt;أ يّها الذين أمنوا أستجيبواللّه ولرّسول إذادعاكم لمايحييكم واعلمواأنّ الّله يحول بين المرء وقلبه وأنّه إليه تخشرون&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hai orang- orang yang beriman , penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadanyalah kamu akan dikumpulkan. ( Q.S al Anfal 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah Pendidikan manusia itu seutuhnya? Pertanyaan ini sangat lazim dilontarkan oleh para mahasiswa, juga para audiens yang ketika berada didalam ruangan, atau didalam suatu seminar, yang ditujukan kepada para dosen ataupun kepada para nara sumber, mungkin juga pertanyaan ini sudah dilontarkan kepada kita semua, yang mana para penanya mungkin sudah menganggap kita mampu untuk menjawab pernyataan ini. Maka untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan menguraikan beberapa argumen tentang masalah seputar pendidikan yang saat ini menuntut agar kita selalu bersiap siaga menghadapi Era- global, yang semakin membawa kita kepada zaman yang serba modren dan canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rasional–filosofis tentang pendidikan yang sudah berkembang semenjak beberapa abad yang lalu, maka sistem pendidikan untuk membentuk manusia yang seutuhnya harus diarahkan kepada dua dimensi, yakni, pertama ;dimensi dialektikal horisontal , dan yang kedua ; dimensi ketundukan vertikal. Pada dimensi pertama pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan yang konkret, yakni kehidupan manusia dalam hubunganya dengan alam ataupun lingkungan sosialnya. Dalam dimensi inilah manusia dituntut untuk mampu mengatasi berbagai tantangan dan kendala dunia konkretnya , melalui pengembangan teknologi dan sains. Sedangkan dalam dimensi kedua, yakni ketundukan vertikal, pendidikan sains dan teknologi, selain menjadi alat untuk memanfaatkan, dan melestarikan sumber daya alam juga menjadi jembatan untuk memahami fenomena dan misteri kehidupan dalam mencapai hubungan yang hakiki juga abadi dengan sang khalik . berarti bagaimanapun pesatnya perkembangan sains dan teknologi ia harus disertai dengan pendidikan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah dalam Surah al- Anfal ayat 24 diatas menjadi landasan yang sangat kuat, yang intinya ialah Allah mengingatkan kita supaya disamping kita beriman kepada-Nya kita juga harus mampu hidup yang bermakna secara horisontal sekaligus vertikal, itulah manusia yang seutuhnya, dari hasil sistem pendidikan yang kita kehendaki pada saat ini. Didalam diri manusia seutuhnya terdapat kesatuan kualitas iman kepada Allah, Ilmu, dan amal shaleh. Keseluruhan aspek yang tercakup dalam konfigurasi tersebut merupakan dataran bagi pembentukan kerangka ideal manusia seutuhnya yang digapai melalui sistem pendidikan, yakni manusia yang bertakwa kepada Allah , yang cerdas, kereatif, inovatif, trampil, dan jujur, (shiddiq, amanah, istiqomah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, manusia seutuhnya adalah yang menjadi rahmatan lilàlamin. Yang mempunyai kemampuan cipta, rasa, kan karsa, atau manusia yang kognitif, efektif, dan konatif-psikomotorik pada zamanya. Itulah blue print manusia masa depan yang memiliki zikir, fikir dan amal saleh. Di samping itu ada beberapa causa pertanyaan yang harus mampu kita menjawabnya, yang mana dengan causa inilah nantinya kita akan mentransfer ke dalam proses pendidikan manusia dalam konteks ruang serta waktu. Causa pertanyaan itu adalah ¨ 1. Causa eficiens (bagaimana), 2.Causa formalis (menurut rencana apa), 3. Causa materialis (dengan apa), dan Causa finalis (untuk apa kita di didik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jawab terlebih duhulu causa eficiens, bagaimanakah kita memperoleh pendikan?, pertanyaan ini sangat mudah untuk kita jawab, yang mana pendidikan itu sebenarya sudah kita dapatkan pertama sekali semenjak ada didalam kandungan ibu kita, hal ini apabila kedua orang tua kita mengerti pokok-pokok ajaran agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad s.a.w. Yang ketika itu ia menyerukan kepada para seluruh umatnya melalui sebuah sabda yang intinya ialah; “menuntut ilmu itu semenjak dari ayunan sampai keliang lahat”. Yang kita garis bawahi disini ialah menuntut ilmu semenjak dari ayunan. Sebenarnya kalau kita menterjemahkan kata-kata ayunan disini tentunya masa yang dimaksud adalah (masa didalam rahim seorang ibu) atau didalam kandungan ibu kita. Disinilah seorang ibu harus mampu mendidik seorang bakal anak yang akan meneruskan generasinya, dengan berbagai cara yang sehingga anaknya itu nanti akan menjadi seorang yang benar-benar berakhlak mulia dan menjadi rahmatan lilàlamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh pendidikan dalam fase ini adalah : seorang ibu hendaknya mampu mengajak dan memberitahu selalu isi kandunganya kepada semua hal kebaikan, misalnya pergi beribadah kepada Allah. Disinilah janin yang dikandungnya itu akan merekam semua aktifitas induknya yang selalu mengingatkan juga sekaligus mengajaknya. Di samping itu juga kedua orang tuanya, jangan sekali-kali mengkonsumsi makanan yang haram dan subhat, karna ditakutkan janin ini akan tercipta dari darah daging yang haram dan subhat, na’ujubillahi mindjalik. Hal inilah sebenarnya pendidikan yang pertama sekali harus benar-benar kita perhatikan bersama, karna menyangkut moral dan aqidah seorang anak nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selanjutnya Causa formalis, menurut rencana apa kita melakukan pendidikan ?. jauh sebenarnya sebelum seseorang melakukan hal ini, ia sudah mempunyai planing yang jitu dan matang sebelumnya, baik bercita-cita atau berangan untuk menggapai masa depan yang cerah serta gemilang. Tapi banyak diantara kita perencanaan itu sudah menjurus kebanyak hal yang kurang positif, misalnya mereka dengan mendapatkan pendidikan hanya semata-mata untuk memperoleh pekerjaan yang layak nantinya, hal itulah yang sebenarnya membuat manusia menjadi dialis, karna ia merasa tinggi dan ditinggikan. Menurut kaca mata Islam sebenarnya tidak demikaian, karna ia banyak memberikan konsep tentang perencanaan yang semestinya benar-benar menjadi cermin bagi kita. Diantara konsep itu ialah; carilah pendidikan (ilmu) itu karena ia merupakan pembeda antara orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang jahl (bodoh) disekelilingmu. Jadi perencanaan kita semestinya ialah, kita harus mampu mengarahkan diri kita dahulu dalam memperoleh pendidikan tersebut, tujuannya untuk dapat membedakan kita dengan orang yang tidak berpendidikan baik dari segi pengetahuan, akhlaq, (hablumminallah juga hablumminas). Singkatnya, kita harus mampu tampil beda didalam kehidupan masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga Causa materialis, dengan apa kita memperoleh pendidikan tersebut?. Disini baru kita merasa agak kesulitan, karna banyak diantara kita yang hendak mencari ilmu atau pengetahuan yang tinggi, namun terhambat bahkan tidak sedikit yang gagal. Penyebab utamanya ialah karna kekurangan modal sebagai penunjang pendidikan tersebut, sehingga membuat mereka tidak bersemangat dan tidak jarang diantara mereka yang sampai berputusasa. Sebagai flash back kendala seperti diatas sering terjadi, ketika semasa di SMU dahulu saya pribadi merasa bingung hendak kemana sebenarnya setudi dan pendidikan ini akan saya lanjutkan? Karna melihat kondisi dan situasi materi kedua orang tua jauh dari apa yang saya perkirakan, disamping itu juga banyak kendala-kendala lainya yang masih belum terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinalah kita harus benar-benar mengerti apa makna dari perkataan orang bijak, “hilangkan dari kehidupanmu rasa keputus asaan, bangun dan sing-singkan lengan bahumu, dekatkan dirimu selalu padanya, bekerjakeraslah untuk mencari sesuatu yang kau inginkan, sebagai pedoman yang nyata bahwa dunia itu tidak hanya selebar daun kelor”. salah satu pesan moral yang dapat kita petik yaitu, sebenarya dalam mencari ilmu atau pendidikan itu kita jangan hanya berpikir akan materi, karna ternyata semangat, berusaha, dan kerja keras itu lebih diutamakan. Disinilah mungkin banyak yang salah persepsi, karna hanya dibayangi persaan was-was dan takut (khasyiah wa khauf) bila tidak mempunyai materi tersebut bagaimana nantinya pendidikan itu akan berhasil, perlu kita ingat masing-masing materi dalam pendidikan itu adalah kebutuhan primer juga, tetapi kita jangan mudah merasa takut dan putus asa karna ketiadaannya, yang perlu adalah usaha, kerja keras, ikhtiar, dan diiringi do,a insya Allah ia akan datang dalam mengiringi apa yang kita maksud dan yang kita tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir ialah Causa Finalis untuk apa kita sebenarnya di didik? Kalau kita menjawab secara simple dan singkat, tantu saja kita di didik untuk mengurangi kebodohan dan menghindari buta hurup di sekeliling atau disekitar kita. Dalam kaca mata Islam hal inilah yang terutama menjadi problematik besar sehingga benar-benar harus menjadi pusat perhatian bersama khususnya kepada para pemimpin bangsa dan negara, karna sangat banyak rakyat jelata yang buta huruf, dan tidak mengerti sedikitpun tentang pokok-pokok ajaran agama Islam. Disamping itu, disinalah kita harus mampu terjun kelapangan sebagai salah satu diantara merekayang terpilih sebagai pendidik, dengan tidak merasa rendah diri dan tidak tinggi hati, karna ilmu yang kita dapatkan atau titel yang diperoleh lebih tinggi dari mereka. mudah-mudahan dengan beberapa jawaban dan causa pernyataan di atas bermanfaat bagi penulis khusunya dan kepada para pembaca secara umumnya. Wallahu’alam bisshawab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 28/Edisi VI/Th. I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353337770272703?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353337770272703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353337770272703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353337770272703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353337770272703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/05/pendidikan-manusia-yang-seutuhnya.html' title='Pendidikan Manusia Yang Seutuhnya'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353177448415728</id><published>2006-05-12T01:27:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:25:32.143Z</updated><title type='text'>Lakukan, Dan Capailah Dengan Niat Ikhlas</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;oleh : M Ali Hanafi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang muslim dalam artian sebenarnya, seyogianya yakin dengan niatnya. Niat adalah pemicu benar tidaknya suatu perbuatan, suci dan bersinya suatu amalan. Dan sangat mendasar sekali, sebagai landasan di setiap amalan, baik amalan dunia atau amalan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat adalah perbuatan hati yang diselaraskan dengan amalan. Dan suatu amalan akan mencapain tujuan yang dikira jika niatnya telah dipatrikan sejak awal dilancarkan suatu amalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihyaa Ulumuddin niat adalah “sifat egaliter berupa keinginan, yang tumbuh dari hati kemudian diatur oleh kingingan dan kecenderungan kepada hal yang selaras dengan tujuan, baik spontan atau pun yang akan datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, masih pada hakikat niat yang diutarakan oleh Imam Al Ghazali, bahwa tidak ada suatu perbuatan yang diinginkan (terpilih) kecuali perbuatan itu akan melingkupi tiga hal, pertama dengan pengetahuan, keinginan dan kekuatan (kemampuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan silogisnya, tidak ada suatu perbuata yang dilakukan kecuali perbuatan itu sudah diketahui, dan jika keinginan akan suatu pekerjaan tidak ada maka tidak akan ada pula pekerjaannya, maka dari itu dua komponen inilah yang sangat urgen dalam berniat dan ketika kedua komponen niat tadi sudah ada maka komponen ketiga menjadi pelengkap yaitu komponen kekuatan atau kemampuan dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan niat, tentunya tidak terlepas dari dasar-dasar yang sangat autentik, dan harus diimani oleh setiap muslim, dalam AL qur’an Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ولا تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشى يريدون وجهه&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“dan janganlah kalian mengusir orang-orang yang berdoa meminta kepada Tuhannya pagi dan petang, karena menginginkan ridaNya”, dan yang dimaksud dengan iradah (keinginan) yang terletak pada kata yuriduna (menginginkan) itulah niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sallallahualaihiwasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إنما الأعمال بالنيات ولكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai dengan niat, dan setiap manusia memiliki niat, barang siapa berniat hijrah kepada Allah dan rasulNya niscaya hijrahnya itu kepada Allah dan RasuluNya, dan barangsiapa hijrahnya adalah dunia maka dia akan mencapainya, dan barangisapa niatnya adalah perempuan yang akan dinikahinya niscaya dia akan menuju kepada apa yang ditujuan untuk dicapainya”. (Hadis muttafaqun alaihi, diriwayatkan bukhari di bidiil wahyi hadis 1, dan Muslim di al Imarah hadis 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu dalam berbuat hendaknya landasan niat menjadi hal yang utama apalagi juka sudah mengetahui pekerjaan dan tujuannya, karena jika suatu pekerjaan tanpa niat maka amal itu akan sia-sia, niat adalah milik orang yang sadar akan perbuatannya dan memiliki knowledge akan detail perbuatan itu, meski kedua komponen itu belum bisa mencapai tujuan akhir kecuali dilandasi dengan syarat berniat yaitu tulus dan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga amat tepat ungkapan umum “lakukanlah suatu perbuatan dengan niat iklas”, disini tersirat betapa kedua sifat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, dan disini pula, kita bisa melihat betapa suatu perbuatan setelah niat mesti disertai dengan ke iklasan, bak iklas ini adalah filter untuk mengeluarkan sesuatu (baca:amalan) yang murni “saafi lillahita’ala”. Lebih tegas lagi Allah s.w.t berfirman: &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“dan kalian tidak diperintahkan menyembah Allah kecuali dengan tulus ikhlas”. Maksud dari perintah menyembah disini adalah dengan pengetahuan, keinginan dan kemampuan dan diperkaya dengan nilai iklas, sebagai titik tolak dari suatu perbuatan itu sendiri. Iklas lillahita’ala, terlepas dari rasa dunia (baca materi) dan merasuki kepada yang lebih dalam, yaitu ruhi maknawi, dan diatas segalanya, yaitu Al Khaliq, Allah Maha Besar (Allahu Akbar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang baik ada yang dilakukan secara individu dan ada juga yang bersifat team (kelompok), untuk amalan baik yang individualis itu akan diganjar bagi person yang melakukannya dengan niat iklas, dari semua amalan yang akan dan telah dilakukannya itu hal ini sudah sangat benar dan sudah dapat dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk pekerjaan yang bersifat team akan diganjar kepada semua anggota team, namun disinilah kebesaran Sang pemberi nafas (Allah) kepada makhluknya untuk berkarya sebaik mungkin, dan bagi-Nya tidak ada Rahasiah yang bias tersembunyi. Dalam konteks keislaman, niat orang pada amalan yang bersifat team ternyata bisa tersampaikan kepada semua orang, dengan syarat yang simple, dimana orang yang tidak sempat ikut andil secara langsung pada amalan team itu hendaknya meniatkan secara murni ingin ikut melakukannya, karena dengan itulah maka dia akan dianggap telah ikut dalam amalan tersebut, kita simak hadis Nabi Rasulullah Sallallahualaihiwasallam “tidak dari perbuatan kita merentas walang-walang, menggegerkan suatu daerah kafir, dan kita tidak ada modal dibelanjakan serta tidak ada point yang dicapai kecuali masyarakat Madinah ikut andil sementara mereka ketika berada di Madinah, lalu ada yang bertanya “bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah? Beliau menjawab “karena halangan yang menahan mereka untuk ikut andil, namun niat baik mereka telah menjadikan mereka ikut andil”. (Diriwayatkan Muslim di : alimarah, hadis 159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah barangkali, niat ini dipandang secara umum, berikutnya bisa lebih dirasakan dalam pendalamannya pada saat suatu amalan itu dilaksanakan, dan untuk tidak dilupakan bahwa niat ini senantiasa harus pada amalan yang baik dan untuk sebuah ketaatan, karena amalan yang bukan untuk ketaatan adalah amalan yang abas (sia-sia), semoga Allah senantiasa menghidayai kita kepada amalan yang baik dalam rangka mencapai ridha-Nya, dan dalam rangka mengimplementasikan niat dan keiklasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup untuk memantapkan nilai niat kita marilah sama-sama merenungkan kembali tiga hal ini:&lt;br /&gt;- amalan dengan niat yang ikhlas tidak perna menuggu balasan yang indrawai, hasil dunianya adalah hikmah dari niat ikhlas itu sendiri.&lt;br /&gt;- penuhi sekitarmu dengan amalan niat yang ikhlas sebagai pancaran dari jiwa.&lt;br /&gt;- untuk mencapai niat yang ikhlas bersihkanlah hatimu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Walahualam bisshawab.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 27/Edisi VI/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353177448415728?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353177448415728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353177448415728' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353177448415728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353177448415728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/05/lakukan-dan-capailah-dengan-niat.html' title='Lakukan, Dan Capailah Dengan Niat Ikhlas'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353193090725595</id><published>2006-05-12T01:26:00.000Z</published><updated>2006-07-22T01:32:10.986Z</updated><title type='text'>Do'a</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila meninggalkan tempat pertemuan bacalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سبحانك اللهم وبحمدك، اشهد ان لا إله الا انت استغفرك واتوب اليك&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Subhaanakallaahumma wabihamdik, Asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Engkau Ya Allah dan dengan pujiMu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada Engkau dan bertaubat kepada Engkau.                            ( H.R At Turmudzi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353193090725595?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353193090725595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353193090725595' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353193090725595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353193090725595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/05/doa.html' title='Do&apos;a'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353074282417261</id><published>2006-05-05T01:10:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:30:43.433Z</updated><title type='text'>Mukjizat Penciptaan Manusia Dalam Al Qur'an</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Firmansyah Waruwu&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari tanah, kemudian kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara (rahim) kemudian kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging kami jadikan tulang-tulang, maka kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha suci Allah sebaik-baik pencipta”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kejadian manusia berawal dari dalam kandungan selama lebih kurang sembilan bulan. Selama di dalam kandungan kejadian manusia mengalami beberapa proses: Dari setetes air mani. Setelah beberapa lama, menjadi segumpal darah. Allah berfirman di dalam surat Al-Alaq: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah"&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Kemudian setelah beberapa lama menjadi segumpal daging. Kemudian dari segumpal daging tadi dijadikan tulang-tulang yang dibungkus oleh daging-daging tersebut. Kemudian dijadikanlah bentuk rupa yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tafsir Mafatihul Gaib dijelaskan: “kami ciptakan seorang makhluk dalam penciptaan pertama yang akan nantinya menjadi manusia akan tetapi dia kami non aktifkan. Dia memiliki mulut tetapi bisu. Dia memiliki telingga tetapi tuli, memiliki mata tetapi buta”. (Tafsir Fakhrurozi, 85/23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits Bukhari Muslim, masa tiap-tiap perubahan adalah 40 hari dan setelah sempurna maka Allah mengutus malaikat untuk menulis empat ketentuan: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Menuliskan amal perbuatannya selama hidupnya&lt;br /&gt;2. Menuliskan rizkinya kaya atau miskin&lt;br /&gt;3. Menuliskan nasibnya baik atau buruk&lt;br /&gt;4. Menuliskan ajalnya kapan, dimana dan bagaimana ia mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini penulis kemukakan juga proses penelitian para ahli yang sejalan dengan Qur`an tentang proses kejadian manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset dan penelitian ilmiah kontemporer membuktikan bahwa Al-Quran banyak memiliki tanda-tanda ilmiah (sains). Hal ini diperkuat dengan banyaknya lahir buku-buku yang membahas korelasi antara Al-Quran dan sains modern. Meskipun Al-Quran bukanlah buku sains, namun jika ia sarat dengan sinyal-sinyal sains; hal ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disinyalir oleh Dr. Dzakir Abdul Karim (2003) bahwa Al-Quran bukanlah buku sains, tetapi ia adalah buku yang memuat tanda-tanda (sains) saja. Di dalamnya terdapat 6.000 ayat lebih dan sekitar 100 ayat lebih berbicara masalah sains tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjary (2000) menyatakan bahwa masalah reproduksi (al-tanâsul) dan pertumbuhan embrio (nasy’ah al-janîn) merupakan salah satu rahasia ilmiah yang sangat kompleks. Ia begitu rahasia bagi manusia hingga ditemukannya mikroskop yang canggih, seperti mikroskop elektron yang mampu membesarkan benda hingga mencapai 200.000 kali. Hal ini tidak ada sebelumnya, kecuali pada abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga disinyalir oleh Dr. Zakaria Hamîmiy di dalam bukunya al-‘I`jâz al-`Ilmiy fî al-Qur’ân al-Karîm bahwa hingga mendekati abad ke-19 para ahli embrio (ulamâ` al-‘ajinnah) terbagi dua kubu; kubu pertama kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah menjadi makhluk (tercipta) dengan sempurna di dalam sperma dalam bentuk yang hina dan kelompok kedua adalah kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah tercipta dengan sempurna di dalam sel telur (ovum) seorang wanita. Beliau kemudian menjelaskan bahwa di saat para ilmuwan itu belum mampu untuk mengetahui kebenaran tersebut, kita melihat bahwa Al-Quran sejak empat belas abad silam telah memastikan hal itu…&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tidak diragukan lagi merupakan salah satu mukjizat ilmiah dalam Islam yang dikemas dalam Al-Quran sebagai wahyu pamungkas bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhamu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Zagloul Najjar, surat tersebut dinamakan dengan surat "Al-`Alaq” karena di dalamnya terdapat fase penciptaan manusia. Dimana bentuk dan cara makan embrio itu menyerupai lintah (dûdah al-`alaq)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adalah Dr. Keith L. Moore, seorang ilmuwan Barat kontemporer pertama yang menulis tentang kelebihan Al-Quran yang lebih maju dalam embriologi. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul The Developing Human. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diajarkan di berbagai fakultas kedokteran di Amerika, Jepang, Jerman dan seluruh negara-negara di dunia sebagai referensi embriologi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ketih L. Moore sendiri belum memiliki informasi bahwa awal dari jadinya embrio berbentuk seperti segumpal darah (`alaqah). Untuk menguji kebenaran tersebut, beliau melakukan riset fase awal embrio dalam sebuah mikroskop di laboratorium pribadinya. Beliau melakukan komparasi catatannya dengan bentuk segumpal darah tersebut. Setelah itu beliau sangat tercengang ketika melihat kesamaan bentuk antara keduanya. Akhirnya, beliau memperoleh berbagai informasi (pengetahuan) yang belum diketahuinya dari Al-Quran. Terbukti bahwa Al-qur`an telah menceritakan salah satu kemukjizatanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy (mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Quran bukan hanya sebagai kitab suci yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini semakin membuktikan bahwa Al-Quran itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad SAW. Fakta ini telah banyak dibuktikan oleh para ilmuwan Barat, seperti Maurice Bucaille, Moris Bokay dan yang lainnya. Dan akhirnya mereka mengakui keagungan agama Islam lalu memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan machluk yang lainya, termasuk diantaranya Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dll. Tetapi kita sendiri sebagai manusia tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Untuk itu marilah kita pelajari diri kita ini sebagai manusia, Siapa diri kita ini? Dari mana asalnya? Mau kemana nantinya? Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menempuh kehidupan di dunia ini supaya selamat di dunia dan akhirat nanti?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; QS. Al Mu'minun: 12-15&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; QS. Addahr: 2&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; QS 96. Al-'Alaq: 2&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dr. Zakaria Hamîmiy, 2002: 92&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; QS. Al-`Alaq: 1-2&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31461565#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Harian Ahram, 11/10/2004&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 26/Edisi VI/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353074282417261?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353074282417261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353074282417261' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353074282417261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353074282417261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/05/mukjizat-penciptaan-manusia-dalam-al.html' title='Mukjizat Penciptaan Manusia Dalam Al Qur&apos;an'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353091091789880</id><published>2006-05-05T01:09:00.000Z</published><updated>2006-07-22T01:15:11.023Z</updated><title type='text'>Berdzikirlah sebelum tidur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;             Dari Aisyah, "Sesungguhnya Nabi saw jika akan tidur, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya, lalu membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Sesudah itu beliau mengusap kedua tangannya ke badan, bermula kepala, wajah, lalu bagian depan badan. Demikian itu beliau lakukan 3x" (HR Bukhari).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;             Dari Abu Mas'ud ra, ia berkata,"Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka hal itu telah mencukupinya." (HR Bukhari)                                  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353091091789880?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353091091789880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353091091789880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353091091789880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353091091789880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/05/berdzikirlah-sebelum-tidur.html' title='Berdzikirlah sebelum tidur'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353015682384880</id><published>2006-04-28T00:59:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:33:39.436Z</updated><title type='text'>Sederhana Sebagai Sebuah Life Style</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Bayu Subekti&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan dan minumlah dan jangan melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas". (al-A'raf, 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian". (al-Furqan, 67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang yang sederhana adalah cita-cita setiap muslim. Sayangnya, cita-cita yang mudah untuk digapai ini sangat sulit diwujudkan. Hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat merealisasikannya. Sedangkan sebagian besar kita, seolah terlena dengan hiruk pikuknya aktivitas dunia. Kesederhanaan seolah permata yang hilang di tengah padang pasir sahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana atau bersahaja adalah sebuah pilihan. Sebab, Rasulullah SAW telah menjalaninya. Seharusnya kita melakukanya, bila menginginkan menjadi pengikut sejatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bersahaja bukanlah hidup dalam serba kekurangan. Bukan pula hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Sederhana adalah hidup di tengah-tengah, tidak berlebihan. Hidup bersahaja tidak identik dengan kemiskinan. Tetapi bisa jadi dalam gelimang harta kekayaan. Di sana ada sifat qanaah (menerima dengan rela apa yang ada) yang selalu berlaku adil dan bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan Allah. Di sana pula ada sikap zuhud (melepaskan ketergantungan hati dengan dunia) yang menempatkan harta kekayaan di tangan, bukan di hati. Tidak risau bila suatu waktu sang pemilik yang sebenarnya mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana adalah hidup yang istiqamah mengikuti ajaran Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia tergambarkan dengan jelas dalam perilaku sehari-hari. Orang-orang yang sederhana hidupnya tidak berlebih-lebihan. Mereka juga tidak kikir, tidak bakhil, berperilaku moderat, berperilaku propfesional. Kesederhanaan tidak identik dengan sikap hidup yang malas dan negatif. Bukan pula sikap hidup yang membawa kemelaratan, kefakiran, atau kepapaan. Kesederhanaan justru identik dengan sikap hidup yang terus berikhtiar mencari rezeki yang terbaik hingga kita bisa berinfak dan berzakat. Dengan berinfak atau berzakat sebagai ungkapan rasa syukur, Allah akan melipatgandakan rezeki kita. Harta atau rezeki yang dilipatgandakan itu nantinya akan dipergunakan kembali sebanyak-banyaknya untuk infak, zakat, dan membantu sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap hidup sederhana yang dilandasi dengan keimanan akan menjauhkan kita dari penyimpangan-penyimpangan, termasuk penyimpangan ekonomi yang menjadi akar timbulnya korupsi. Orang yang sederhana akan terlihat dalam pakaiannya. Walaupun mampu membeli pakaian yang harganya jutaan rupiah, ia tidak melakukannya. Ia hanya memakai pakaian yang sesuai dengan standar di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana adalah hidup dalam proporsionalitas. Maksudnya sikap hidup yang pertengahan, tidak berlebihan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Orang yang sederhana akan mengukur sikap dan perilakunya secara proporsional. Ini tercermin dalam pembicaraannya, dalam ibadahnya dan dalam sikap hidupnya secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposionalitas berkaitan dengan kondisi masing-masing setiap orang. Misalnya seseorang pebisnis yang sukses, menjadi kaya raya, akan sangat berbeda implementasinya dengan orang yang tidak sukses dalam bisnisnya. Seorang pebisnis yang sukses tentu akan menggunakan pakaian, mobil, atau fasilitas hidup lainnya yang lebih mahal saat ia menggunakannya untuk bergaul dengan rekan bisnisnya. Tetapi pada saat bergaul dengan masyarakat, ia menyesuaikanya dengan kondisi masyarakat. Ia tidak memamerkan kekayaannya. Ia tampil bersahaja tanpa meremehkan orang-orang yang kurang mampu di sekitarnya. Perbedaan implementasi hidup sederhana antara si kaya dan si miskin tidaklah menjadi masalah manakala semuanya dibingkai dengan sikap qanaah dan zuhud terhadap semua rezeki yang dianugerahkan Allah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyiasati keinginan dan kebutuhan hidup sederhana adalah seni dalam menjalani kehidupan. Realisasinya bisa mudah dan sulit tergantung kita dalam menikmati seni itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang muslim, keberhasilannya bisa dengan mudah tercapai berbanding lurus dengan tingkat keimanannya. Semakin kokoh imannya terhadap hari akhir dan hari pembalasan, semakin mudah ia mengendalikan nafsu serakahnya. Sebaliknya, semakin lemah imanya, ia akan semakin sulit mengendalikan nafsu serakahnya. Bila iman semakin menipis, setan akan dengan mudah menggelincirkan kehidupannya. Yang dituruti adalah keinginan yang tidak pernah terputus. Tak peduli cara yang digunakannya, apakah benar atau salah. Karenanya, kita harus dapat menyiasati setiap keinginan yang timbul apakah sesuatu yang dibutuhkan atau tidak. Bila tidak mampu mengendalikan keinginan, selamanya kita akan menjadi makhluk yang diperbudak keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Kebutuhan bila tidak dipenuhi akan berdampak negatif bagi kita. Sedangkan, keinginan bila tidak dipenuhi belum tentu membawa dampak negatif. Memiliki keinginan adalah sesuatu yang wajar dan bukanlah masalah. Yang mennjadi masalah adalah manakala kita diperbudak keinginan. Orientasi hidup kita menjadi tertuju hanya kepada keinginan tersebut. Ujung-ujungnya kita akan menjadi orang yang boros. Bisa jadi kebutuhan yang prioritas akan kehabisan anggaran karena dananya terambil oleh kebutuhan yang tidak terlalu penting akibat terlalu menuruti keinginan. Menjadi muslim yang sederhana akan sulit diwujudkan bila kita tidak dapat menyiasati setiap keinginan. Oleh karena itu, sudah tugas kita untuk mengendalikan setiap keinginan agar hidup sederhana dapat terealisasi dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari hidup sederhana yang membawa bagi kita rasa aman bin sentosa, berfikir sederhana juga dianjurkan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi bahkan bicaranya pun terkadang sulit di pahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya, ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang mengharapkan pasangan hidup seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan bathin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Allah SWT mengajar manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect memenuhi semua idealisme kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 25/Edisi V/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353015682384880?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353015682384880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353015682384880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353015682384880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353015682384880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/sederhana-sebagai-sebuah-life-style.html' title='Sederhana Sebagai Sebuah Life Style'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115353029297989675</id><published>2006-04-28T00:58:00.000Z</published><updated>2006-07-22T01:04:53.256Z</updated><title type='text'>Do'a</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memohon Ampunan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم اغفرلى خطيئتي وجهلى واسرافى  في امرى كله  وما انت اعلم به منى&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Allaahumagfirlii khotiiatii wajahlii waisraafii fi amrii kullihi wamaa anta alamu bihi minnii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan dan keterlaluanku dalam segala urusan, dan ampuni pula segala dosa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku."  (H.R Bukhori dan Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115353029297989675?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115353029297989675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115353029297989675' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353029297989675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115353029297989675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/doa_28.html' title='Do&apos;a'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115352966995684998</id><published>2006-04-21T00:50:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:40:59.386Z</updated><title type='text'>Tawakkal</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Syariful Hidayat&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;" Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (Ath-Thalaq : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup merupakan rangkaian dari peristiwa dan kejadian. Manusia diciptakan sebagai pelaku aktif dalam merespon kejadian dan peristiwa itu. Ada hal-hal yang harus diupayakan dan ada pula yang merupakan “jatah” kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa memilih dilahirkan dimana dan pada keluarga apa. Tetapi kita selanjutnya diminta untuk melakukan banyak pilihan hidup yang pada akhirnya menentukan perbedaan. Begitu pula realita kehidupan lainnya. Baik atau buruk, harus kita hadapi dengan emosi yang matang. Tanpa emosi yang matang, apa yang selama ini kita kehendaki hanya akan menjadi harapan tanpa kenyataan. Apalagi apatis dengan kenyataan, tak mungkin merubah keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, seorang muslim yang telah memahami hakikat hidupnya di dunia dengan benar, menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat merupakan sebuah konsekuensi. Dalam menjalani hidup, selalu dia orientasikan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia akan selalu meningkatkan nilai keunggulannya dan kompetensi dirinya. Ia terus bergerak bak aliran air yang terus mengalir menuju muara idealismenya. Seraya menghasilkan percikan-percikan nan indah. Percikan yang mampu menelurkan “semangat baru” dan energi dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, tak ada kamus menyerah dalam jiwanya. Ia senantiasa husn ad-dzan (baik sangka) terhadap apa yang Allah gariskan. Sabar, tawakal dan ikhtiar merupakan potensi rahasia kesuksesan hidupnya. Baginya, standar kebahagiaan hanya ridla Allah.. Komitmennya adalah selalu berbuat yang terbaik dan tabah dengan segala konsekuensinya (baik atau buruk). Inilah buah dari kematangan emosi yang digali dari pemahaman hakikat diri secara Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis apabila seorang muslim menyerah dan berputus asa dalam menjalani kehidupannya. Padahal konsepsi yang benar (akidah Islam) terhadap alam, manusia dan kehidupan ada dalam genggaman mereka. Akidah yang mampu melejitkan potensi manusia demi menggapai kebahagian dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kenapa kita mesti apatis dan menyerah dengan keadaan? Padahal Allah SWT. berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS:2:216).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal dapat kita lakukan untuk mengembangkan dan melejitkan kemampuan diri. Usaha pertama adalah menancapkan motivasi kuat untuk berbuat. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS: al-Hasyr, 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini memberikan peringatan bahwa sesungguhnya kita memiliki kewajiban untuk bertakwa (sepanjang waktu) kepada Allah SWT dengan memperhatikan amal-amal perbuatan, demi kesuksesan hari ini dan eksistensi kebaikan esok hari (dunia dan akhirat). Dengan adanya motivasi berbuat yang kuat, insya Allah kita akan selalu berfikir untuk berbuat yang terbaik. Sebab dalam Islam, ada balasan pahala di setiap benih amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah tawakkal. Makna tawakkal adalah tsiqah billah (percaya penuh kepada Allah) dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Kita berikhtiar sekuat tenaga dengan keyakinan penuh bahwa usaha-usaha yang telah kita lakukan akan menghasilkan manfaat atau mudarat hanya dengan izin Allah. Tawakkal akan melahirkan sikap positif. Dan sikap inilah yang akan mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sikap optimis mesti hadir di tengah penggalian potensi diri. Tanpa sikap optimis, kita akan tetap menjadi pecundang. Larut dalam kegagalan dan terbelenggu oleh “tirani” pesimistis. Sebaliknya, orang yang bersikap optimis, motivasi untuk berbuat yang terbaik sangat kuat. Kegagalan tak membuatnya kecut. Baginya, kegagalan merupakan awal kesuksesan dan dapat memicu pematangan emosi positifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal di atas, merupakan kriteria sosok sejati. Sosok yang terus belajar dengan mendalami ilmu tanpa menyerah dengan keadaan. Apa jadinya ketika umat Islam menyerah dengan realita keterpurukan umat selama ini? Apa jadinya ketika umat Islam pesimis dengan kebangkitan Islam yang telah Allah janjikan? Umat Islam akan terus terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya umat Islam optimis dan bersabar dalam menapaki perjuangan. Tidak ada kata frustasi untuk berjuang. Begitu pula dalam hal pencapaian target akademis ke-ilmuan, wawasan, bahkan dalam menyukseskan agenda-agenda ke-PPI-an. Segala daya upaya kita dalam meretas jalan kesuksesan tersebut mesti dibarengi dengan semangat, optimisme, motivasi dan penuh kesabaran. Jika hal ini kita tinggalkan, perjuangan hanya akan berujung kegagalan, kerugiaan dan kehinaan layaknya pecundang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 24/Edisi V/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115352966995684998?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115352966995684998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115352966995684998' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352966995684998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352966995684998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/tawakkal.html' title='Tawakkal'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115352982862308849</id><published>2006-04-21T00:49:00.000Z</published><updated>2006-07-22T00:57:08.730Z</updated><title type='text'>Masuk Surga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan  yang haram (1) dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga ?. Beliau bersabda : Ya.  (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;* Seseorang yang bertanya dalam riwayat diatas adalah : An Nu’man bin Qauqal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penghalalan dan pengharaman merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah ta’ala. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Amal saleh merupakan sebab masuknya seseorang kedalam syurga. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keinginan dan perhatian yang besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya mereka dalam mencari jalan untuk sampai kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1 Maksud mengharamkan yang haram adalah: menghindarinya dan maksud menghalalkan yang halal adalah : mengerjakannya dengan keyakinan akan kehalalannya .&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115352982862308849?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115352982862308849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115352982862308849' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352982862308849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352982862308849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/masuk-surga.html' title='Masuk Surga'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115352994358962981</id><published>2006-04-21T00:48:00.000Z</published><updated>2006-07-22T00:59:03.680Z</updated><title type='text'>Mari Bershalawat</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;ا&lt;strong&gt;للهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على ابراهيم في العالمين انك حميد مجيد&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ya Allah, wahai Tuhanku muliakan oleh-Mu akan Muhammad dan akan keluargaya sebagaimana Engkau memuliakan keluarga Ibrahim dan berilah berkat olehmu kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, bahwasanya Engkau sangat terpuji lagi sangat mulia diserata alam." (HR.Muslim dan Abî Mas'ûd).&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115352994358962981?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115352994358962981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115352994358962981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352994358962981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352994358962981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/mari-bershalawat.html' title='Mari Bershalawat'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06423185984085443835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='30' src='http://1.bp.blogspot.com/_V6JhUc-USzU/SN51jSjPKHI/AAAAAAAAAAM/zFSuB50bS3Q/S220/LOGO+WARNA.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31461565.post-115352932048535709</id><published>2006-04-07T00:45:00.000Z</published><updated>2006-09-08T21:49:47.236Z</updated><title type='text'>Mencintai Nabi</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh : Nasrulloh Afandi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa umat Islam seantero dunia. Mereka bereaksi keras bahkan sampai sekarang belum juga reda. Sebabnya, pada 30 September 2005 lalu, koran Jyllands-Posten, Denmark, memuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang digambarkan sebagai sosok bersurban bom yang siap menebar teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Benarkah Mereka Mencintai Nabi ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Reaksi keras ini hendak menyatakan, ''Pemuatan karikatur itu menginjak-injak martabat muslim sedunia dan menodai kehormatan Islam. Karena Muhammad adalah Nabi sekaligus Rasul yang sangat mereka cintai''. Sekilas, pernyataan ini sungguh meyakinkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya: benarkah kemarahan muslim sedunia itu adalah bukti kecintaan mereka kepada Nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya meragukan kecintaan mereka!. Nabi Muhammad sendiri tidak pernah marah kalau ada yang menghina dan mencacinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pahami, semua itu adalah luapan emosi semata; kemunafikan yang dikemas bingkai “cinta Nabi”. Kecintaan mereka yang mengamuk itu, menurut saya cukup diragukan. Buktinya, mereka tidak mengindahkan ajaran sang Rasul dengan fenomena semakin keroposnya pengamalan agama dalam totalitas kehidupan mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah penyakit “egoisme dan sok suci” yang telah kronis menjangkit umat Islam dewasa ini. Mereka cenderung mudah terprovokasi dan ringan menyalahkan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka asyik membanggakan simbol-simbol agama. Kalimat ''Allahu Akbar'' gemuruh diteriakkan, sementara amaliah individual apalagi komunitasnya sangat tidak religius. Mereka gemar melakukan kerusakan di muka bumi ini, memprovokasi orang lain untuk membakar gereja atau diskotik yang jelas merugikan hak komunitas lain, tindakan yang dilarang oleh justru oleh syariat Islam itu sendiri. Begitukah anjuran Nabi SAW?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naifnya lagi, mereka jarang sekali mengintrospeksi diri, bertanya kepada diri sendiri: sejauh manakah kecintaan mereka kepada sang Nabi yang diagungkan dan tidak boleh “disentuh” oleh orang lain itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Esensi Cinta Rasul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim haji tahun ini (beberapa bulan lalu). Sebagaimana setelah atau sebelum puncak ibadah haji (Arafah-Mina), jamaah haji dari berbagai negara, tak terkecuali Indonesia, silih berganti memasuki masjid Nabawi dengan tujuan utama makam Nabi Muhammad SAW : Raudhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit jamaah haji yang sengaja saling “menyakiti” dengan saling dorong karena padat berdesakan hanya demi melaksanakan sunnah berziarah kepada sang Nabi yang bukan merupakan kewajiban Islam, bukan pula rukun haji. Katanya demi ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara rutinitas di masjid nabawi, ada pengajian setelah shalat Maghrib sampai dengan shalat Isya. Pengajian diisi oleh seorang seikh dan terbuka untuk umum. Beberapa pengajian dengan beberapa syeikh bisa ditemukan sekaligus. Siapapun jamaah haji yang berminat, diperbolehkan duduk di sekeliling syeikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat. Ketika jamaah haji berdesakan (bahkan banyak yang saling dorong) untuk mendekat ke makam Rasulullah SAW, tiba-tiba di tengah-tengah menyampaikan materi pengajian, syeikh itu berkata dengan lirih kepada hadirin di sekitarnya, “Tindakan jamaah haji itu kurang tepat. Tidak perlulah memaksakan diri, apalagi saling dorong untuk mendekat ke makam Rasulullah itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, spontan saya memberanikan diri untuk bertanya, “bagaimana syeikh, kalau hal itu muncul dari kecintaan mereka yang telah lama mengimani kebesarannya, namun baru sekarang mendapat kesempatan untuk menziarahinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh itu menjawab, “ziarah kepada Rasulullah cukup sekali saja. Cinta kepada Rasul, tidak harus beribu-ribu kali berziarah ke makamnya atau meletup-letup di muka umum mengumandangkan namanya. Yang terpenting adalah menjalankan ajarannya dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya. Itulah bukti cinta sejati umat Islam kepada Nabi Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Renungan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang di muka umum, mulutnya berbusa-busa bahkan meletup-letup mendengungkan nama Nabi Muhammad SAW, mudah menyalahkan orang lain karena dianggap melecehkan Nabi junjungannya, namun dalam kehidupan sehari-hari, jarang disadarinya sering bahwa ia sering melanggar ajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, mudah menghujat golongan lain; terbiasa mengoreksi kesalahan orang lain dan jarang mengoreksi diri sendiri; menyerbu markas-markas Islam yang dianggap tidak sefaham; meledakkan bom membunuh ribuan orang yang tak berdosa dengan alasan jihad; terbiasa mengganggu aktivitas orang lain dengan mengerahkan massa turun jalan yang juga sering tidak jelas sebab-tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu semua bukti pencinta sang Nabi termulia yang membawa misi rahmatan lil alamin (kedamaian untuk semuanya) ?. Begitukah sikap orang yang “jatuh cinta” untuk meraih cinta dari kekasih (Nabi)nya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah diantara tanda cinta sejati adalah mengindahkan segala perintah dan larangan kekasihnya?. Bukankah tidak memenuhi anjuran kekasihnya, sama dengan tidak mencintai atau melecehkan pribadi sang kekasih itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Nabi diejek-dihina tidak pernah membalasnya, bahkan dengan bijaksana berbaik hati pada musuh-musuhNya; dengan ramah diajak ke jalan yang benar? Bukankah Nabi berdakwah dengan arif–bijaksana sehingga lebih mengena, daripada dakwah dengan arogansi berdemonstrasi yang sering tanpa fungsi dan menyebabkan banyak kerugian materi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah melenceng dari eksistensi “cinta Nabi” (ajaran Nabi Muhammad), bila ummat-Nya sekarang sangat egois (dalam beragama) dan mudah terprovokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah kita benar-benar komunitas pencinta Nabi Muhammad yang berakhlak mulia dalam berbagai sendi kehidupan dengan melangitkan misi: rahmatan lil alamain, pastilah kita pun segera merenung untuk introspeksi diri, karena kita sangat malu kalau tidak “sehati” dengan segala sikap dan moralitas “sang kekasih” (Rasul kita). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nomor 23/Edisi V/Th. I&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31461565-115352932048535709?l=sayyidulayyaam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/feeds/115352932048535709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31461565&amp;postID=115352932048535709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352932048535709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31461565/posts/default/115352932048535709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/04/mencintai-nabi.html' title='Mencintai Nabi'/><author><name>Deptartemen Media Informasi</name><uri>http://www.blogg
